
Dimas memilih untuk mengajak Andi ke lantai dua, karena di sana lebih sepi, tidak banyak pengunjung yang duduk di sana.
"Lo ngapain ngajak gue kesini sih?" tanya Andi pada Dimas.
"Ada yang mau gue tanyain."
"Tanya apa? kenapa harus di sini?" tanya Andi tak mengerti.
"Biar nggak ada yang denger Ndi, penting ini!" jawab Dimas serius.
Tak berapa lama kemudian Yoga datang membawa 2 gelas minuman untuk Dimas dan Andi.
"Nih, varian baru yang gue ceritain kemarin, perpaduan alpukat sama jeruk plus madu, seger banget pastinya!" ucap Yoga menjelaskan minuman yang dia bawa.
"Lo dapat dari mana sih ide2 gila kayak gini?" tanya Dimas pada Yoga.
"Orang-orang sekarang suka sama hal-hal yang gila Dim, jadi kita harus bisa berpikir gila juga, hal normal sekarang malah keliatan tabu di mata orang," jelas Yoga.
"Terserah lo deh, eh kenalin ini temen sekolah gue, Andi," ucap Dimas memperkenalkan Andi pada Yoga.
"Andi," ucap Andi sambil menjabat tangan Yoga.
"Yoga, anak buahnya Dimas," balas Yoga memperkenalkan diri.
"Liat aja lo, bentar lagi udah masuk perusahaan papa lo!" ancam Dimas pada Yoga.
"Hahaha, ampun tuan besar," balas Yoga yang masih meledek Dimas lalu pergi meninggalkan lantai dua.
"Anak buah lo Dim?" tanya Andi pada Dimas.
"Bukan, nggak usah di dengerin, ngaco dia!"
"Tapi ini bener cafe punya lo sendiri?" tanya Andi memastikan.
"Bukan sepenuhnya punya gue sih, gue bangun cafe ini dari 0 sama Yoga, dibantu modal dari papa juga."
"Keren lo Dim, masih sekolah udah punya usaha sendiri."
"Papa gue maniak bisnis Ndi, jadi dari kecil hidup gue nggak jauh dari dunia bisnis, tapi gue ngajak lo kesini bukan buat bahas itu."
"Mau bahas apa sih sampe jauh-jauh ke sini?"
"Soal Anita, gue......"
"Kakaaaak" panggil seorang perempuan yang tiba-tiba datang dan memeluk Dimas lalu mencium pipinya.
Andi yang melihat itu hanya diam tak mengerti. Beribu tanya memenuhi kepalanya saat ini.
"Sintia kangeeeenn," ucap perempuan itu manja sambil tetap memeluk Dimas.
__ADS_1
"sialan Yoga, pasti dia yang ngasih tau kalau aku di sini," batin Dimas kesal.
"Aku juga kangen sama kamu, bunny honeyku," ucap Dimas dengan menarik hidung mancung perempuan itu.
Meski Dimas tidak suka dengan kedatangannya, Dimas harus tetap bersikap baik padanya.
"siapa lagi ini? pacar Dimas? kenapa panggil kakak? apa adiknya? mana mungkin, dia kan anak tunggal, tapi kenapa mereka sedeket itu? awas aja lo Dim, sampe' lo nyakitin Dini, habis lo sama gue!" ucap Andi dalam hati.
Ia begitu risih melihat kedekatan Dimas dengan perempuan itu. Dia terlihat begitu manja, dandanannya yang menor, pakaiannya yang terbuka membuat Andi berpikir jika usia perempuan itu diatasnya.
"Gue balik aja Dim!" ucap Andi kesal.
"Eh, Ndi tunggu!" cegah Dimas sambil berusaha melepas pelukan Sintia.
"Biarin aja kak, Sintia jauh-jauh ke sini cuma buat ketemu kakak loh!" ucap Sintia memegang tangan Dimas, mencegahnya untuk mengejar Andi yang sudah turun meninggalkan Dimas begitu saja.
"Itu temen kakak Sin, dia ke sini sama kakak masak dia pulang sendiri," balas Dimas yang masih berusaha menghindari keganasan Sintia.
"Ya udah, sana pergi, biar Sintia disini sendirian," ucap Sintia dengan bibir mengerucut karena kesal.
"Ya udah, kakak temenin kamu disini, tapi kakak ambil snack dulu ya dibawah," balas Dimas mengalah.
"Oke, jangan lama-lama kak!"
Dimas mengangguk dan segera turun mengejar Andi, namun Andi sudah tidak ada di sana. Ia melihat Andi berdiri di halte sebrang cafe, menunggu bus yang akan mengantarnya pulang.
Iapun segera menemui Yoga dan meminta Yoga untuk mengantarkan Andi pulang dengan mobilnya.
"Apaan sih Dim!"
"Anterin Andi pulang, dia di halte depan, buruan!" ucap Dimas tegas sambil melemparkan kunci mobilnya ke meja di depan Yoga.
"Lah kok gue yang nganterin, lo kan......."
Yoga tak melanjutkan ucapannya, melihat Dimas yang menatapnya tajam membuatnya segera keluar dari cafe dan mengantarkan Andi pulang.
Dimas memang jarang terlihat marah, ia selalu berusaha menjadi seseorang yang menyenangkan untuk orang-orang di sekitarnya. Tapi jika sudah marah, semua yang di sekitarnya akan takut melihatnya.
******************
Andi yang saat ini sedang bersama Yoga di mobil Dimas, hanya diam dengan rasa kesal yang membuncah di dadanya.
Ia ingin menanyakan pada Yoga tentang perempuan yang bersama Dimas tadi, tapi ia urungkan niatnya itu, mengingat ia belum terlalu dekat dengan Yoga.
"Kenapa pulang duluan Ndi?" tanya Yoga memulai percakapan.
"Mmmm, ada urusan mendadak kak," jawab Andi menutupi kekesalannya.
"Jangan panggil gue kak biar gue nggak merasa tua hahaha...."
__ADS_1
"Panggil Yoga aja kayak Dimas, biar lebih akrab," lanjut Yoga.
Andi mengangguk meski rasanya segan jika memanggilnya "Yoga" karena usia Yoga memang lebih tua dibanding dirinya.
Setelah mengantar Andi sampai ke rumahnya, Yoga segera kembali ke cafe. Ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri tentang sikap Dimas yang terlihat marah tadi.
"kesambet setan pojokan kali tu anak hehehe," batin Yoga terkekeh.
******************
Dini yang melihat Andi baru pulang, segera menghampirinya. Ia penasaran apa yang Andi lakukan dengan Dimas sepulang dari mall tadi.
"Baru pulang Ndi?" tanya Dini pada Andi.
"Iya Din, kamu tadi langsung pulang kan?"
Dini mengangguk.
"Kamu dari mana aja?" tanya Dini.
"Nggak kemana-mana, ngikutin Dimas aja!"
"Kalian mulai main rahasia ya, aku nggak dkasih tau!" ucap Dini dengan memalingkan mukanya.
"Nggak ada rahasia apa-apa Din, kamu jangan ngambek dong!"
"Bener?"
"Iya bener, kapan aku bohong sama kamu Din!"
"Ya udah aku percaya."
"Gitu dong, anak manis!" ucap Andi sambil mengusap kepala Dini.
"Andi, aku mau tanya sesuatu sama kamu."
"Tanya apa Din?"
"Kenapa kamu tiba-tiba baikan sama Dimas?"
"Sebelum aku jawab, kamu harus jawab pertanyaanku ya!"
"Kok gitu sih, kan aku yang duluan tanya, harusnya kamu jawab dulu baru kamu tanya aku!" protes Dini.
"Ya udah kalau nggak mau tau jawabannya."
"Ya udah aku pulang aja!" ucap Dini sambil berdiri meninggalkan Andi.
Andi segera menarik tangan Dini, berniat mencegahnya pulang, namun hal itu membuat Dini terjatuh menindih tubuh Andi.
__ADS_1
Dini menjatuhkan kepalanya tepat di dada bidang Andi. Terdengar detak jantung Andi yang tiba-tiba berdetak sangat kencang membuat Dini mengangkat kepalanya dan melihat wajah Andi yang saat ini begitu dekat dengan wajahnya.
Andi yang merasa jantungnya akan lepas hanya bisa pasrah dengan keadaan itu. Matanya tak berpaling sedikitpun dari mata Dini.