Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Kecelakaan


__ADS_3

Dini sudah tak mampu berkata kata lagi, lidahnya seakan terasa kelu.


Anita yang baru sampai di lantai dua pun tak kalah terkejutnya melihat Dimas yang sedang bermesraan dengan seorang perempuan cantik di tempat umum.


"Dimas!" panggil Anita setengah berteriak.


Dimas dan Sintia yang sedang asik bercanda secara bersamaan menoleh ke sumber suara. Dimas melihat Dini, Anita dan Andi yang hanya diam terpaku di ujung tangga lantai dua.


Dimas segera mendorong Sintia yang saat itu sedang duduk diatas pahanya dan mengejar Dini yang sudah turun dan meninggalkan cafe.


"Kakaaaakkkk!" panggil Sintia dengan berteriak kencang.


Dimas sudah tak peduli lagi pada Sintia, ia tetap mengejar Dini dan turun dari lantai dua. Sintia yang merasa diabaikan oleh Dimas segera ikut turun dan mengejar Dimas.


Yoga yang mendengar keributan di lantai dua segera naik namun ia menghentikan langkahnya ketika melihat seorang perempuan berlari keluar cafe dengan menangis dan disusul oleh Dimas, tak lama kemudian Sintiapun ikut berlari menyusul Dimas membuat Yoga ikut berlari keluar menyusul Sintia.


Anita berniat untuk ikut mengejar Dini namun Andi mencegahnya.


"Jangan Nit, biar mereka selesaiin sendiri!" ucap Andi dengan menggenggam tangan Anita.


"Tapi Dini......"


"Aku yakin Dini bisa jaga diri, kita tunggu aja di sini!"


Anita menurut dan kembali duduk bersama Andi.


Dini berlari tak tentu arah, ia hanya ingin segera meninggalkan tempat itu. Hatinya seperti tercabik cabik karena Dimas yang selalu bersikap manis di depannya justru melakukan hal yang lebih pada seseorang yang lain.


Air matanya mengalir deras meski ia coba menahan. Sakit di hatinya terus membuatnya meluruhkan air mata yang tak berhenti menetes dari kedua sudut matanya.


Dimas berlari mengejar Dini dan berhasil menarik tangan Dini agar berhenti. Dimas menarik tangan Dini dengan kasar membuat Dini berbalik dan segera di peluk oleh Dimas, namun Dini mendorong tubuh Dimas membuatnya mundur beberapa langkah dengan tetap menggenggam kuat tangan Dini.


"Andini, ini nggak seperti yang kamu pikirin, aku......"


Plaaakkk!


Satu tamparan mendarat di pipi Dimas. Dini sudah sangat emosi saat itu. Ia merasa sudah dipermainkan oleh Dimas. Jika kemarin ia salah paham pada Anita, kali ini ia tak akan salah paham lagi, apapun alasan Dimas tak akan bisa diterimanya.


Dimas tersentak mendapat tamparan dari Dini, tapi hal itu tak membuatnya melepaskan genggamannya pada tangan Dini.


"Lepasin Dim, aku emang salah udah jatuh cinta sama kamu, nggak seharusnya aku biarin kamu masuk lagi di hidupku, kalau aku tau akan kayak gini, mending kita nggak usah kenal dari awal," ucap Dini dengan terisak.


"Aku minta maaf Andini, aku udah mau cerita soal ini tapi aku nunggu waktu yang tepat, aku nggak ada hubungan apa-apa sama dia, dia...."


"Kemarin kamu peluk Anita karena dia temen kamu, sekarang kamu peluk cium cewek lain kamu bilang apa lagi Dimas? kalau aku maafin kamu, setelah ini apa lagi yang akan kamu lakuin sama Anita Anita yang lain?"


"Kaakaakk!" panggil Sintia dengan berteriak.


"Sintia, tolong jelasin sama Andini kalau kita nggak ada hubungan apa apa, jelasin kalau kita cuma...."


"Kenapa kakak masih anggap kita nggak ada hubungan apa apa? kakak lupa sama janji kakak dulu? apa karena cewek ini kakak jadi jauhin Sintia? Sintia sayang sama kak Dimas, Sintia udah gede kak, Sintia nggak bisa jadi adik, Sintia mau lebih dari itu, Sintia sayang, Sintia suka sama kakak!"


"Sadar Sin, kamu itu kakak anggap adik kandung kakak sendiri, kakak janji buat selalu lindungin kamu sebagai adik, kakak udah punya masa depan kakak sendiri, kamu nggak bisa lagi ngelakuin semua hal sesuka kamu, kakak udah milik orang lain Sintia!"


"Apa hebatnya dia dibanding Sintia kak? Sintia punya lebih dari semua yang dia punya, Sintia....."


"Dia punya hati Kakak Sin, kamu nggak bisa maksain semua keinginan kamu!" ucap Dimas dengan menggandeng tangan Dini untuk pergi dari sana.


Dini hanya diam dengan air mata yang masih menetes, ia melepas paksa tangan Dimas yang mengajaknya pergi.


"Dia lebih pantas buat kamu daripada aku," ucap Dini dengan melepas tangannya dari genggaman Dimas.


"Andini, kamu yang terbaik buat aku, nggak ada yang lain," jawab Dimas dengan menarik kembali tangan Dini namun Dini menghindar.


"Lupain aku Dimas, kita emang nggak seharusnya sama-sama," ucap Dini yang langsung berlari ke arah jalan raya.


Dimas hendak mengejar Dini namun segera di tahan oleh Sintia.


"Kakak nggak boleh pergi, kakak nggak boleh ninggalin Sintia kak!" ucap Sintia terisak dengan memeluk erat Dimas dari belakang.


"Lepasin kakak Sintia, udah cukup kesabaran kakak selama ini, jangan paksa kakak buat kasar sama kamu!" ucap Dimas tegas.

__ADS_1


"Sintia sayang kak Dimas, Sintia suka sama kakak," ucap Sintia tanpa mendengarkan ucapan Dimas.


Dimas sudah benar benar hilang kesabaran saat ini, ia melepas paksa pelukan Sintia membuat Sintia jatuh terduduk ke tanah.


Sintia semakin menangis kencang, sedangkan Dimas sama sekali tidak mempedulikannya, Dimas berlari mengejar Dini.


Yoga yang melihat Sintia duduk di tanah dengan menangis segera menghampirinya. Ia membantu Sintia berdiri dan memeluknya. Sintia semakin menangis menjadi jadi di pelukan Yoga.


"Kak Dimas jahat," ucap Sintia di tengah isak tangisnya.


Yoga membelai rambut Sintia dan semakin membenamkan Sintia dalam pelukannya.


"Kenapa kak Dimas jahat kak? Sintia kurang apa dibanding cewek itu, kenapa kak Dimas nggak suka sama Sintia?"


"Perasaan nggak bisa dipaksain Sin, sekeras apapun kamu mencoba dia akan tetap anggap kamu sebagai adik kandungnya," ucap Yoga berusaha menenangkan Sintia.


"Tapi kak Dimas udah janji!"


"Iya, kakak tau dia janji buat selalu lindungin kamu, tapi bukan sebagai pacar atau masa depannya, tapi sebagai adik, kamu nggak bisa maksain hati Dimas buat suka sama kamu, berhenti berharap sama Dimas Sin, masih banyak yang sayang sama kamu lebih dari Dimas."


Sintia masih terisak di pelukan Yoga. Kata kata Yoga memang benar jika cinta tak bisa dipaksakan, tapi ia sudah berjuang dan lama menunggu untuk mendapatkan hati Dimas, ia tidak ingin jika usahanya hanya berbuah kesia siaan.


"Sintia, coba sekali aja lihat kakak, apa kamu nggak pernah ngerasain yang kakak rasain?"


"Maksud kakak?" tanya Sintia dengan melepas pelukan Yoga.


"Kakak sayang sama kamu Sin, kakak suka sama kamu dari pertama kali Dimas kenalin kakak sama kamu, tingkah kamu yang selalu bikin kakak ketawa udah berhasil merubah rasa suka ini jadi sayang, tapi kakak cukup tau posisi kakak, kamu suka sama Dimas dan kakak cuma bisa nunggu kamu berbalik dan lihat kakak yang selalu ada buat kamu," ucap Yoga dengan menatap tajam mata Sintia.


"Kakak......"


"Kakak minta maaf kalau apa yang kakak rasain ini salah, kakak cuma mau kamu tau aja, kakak nggak akan pernah maksa kamu buat bales perasaan kakak, kakak sayang sama kamu, Sintia," ucap Yoga dengan mencium kening Sintia.


Sintia segera mendorong tubuh Yoga agar menjauhinya. Ia sama sekali tidak menyangka jika Yoga yang selama ini sudah dianggapnya seperti kakak kandung malah menyimpan rasa padanya.


"kenapa semua ini jadi rumit," ucap Sintia dalam hati kemudian berlari ke arah jalan raya meninggalkan Yoga.


"Sintia!" panggil Yoga dengan berlari mengejar Sintia.


Brraaaakkk!!


Yoga terpental jauh dengan kepala membentur trotoar. Darah segar mengucur deras dari kepalanya, ia masih sadar, ia melihat orang-orang berlarian kearahnya.


"Kakaaaakkkk!!" teriak Sintia ketika melihat Yoga yang terkapar dengan darah yang sudah menggenang di bawah kepalanya dan itu adalah suara terakhir yang Yoga dengar sebelum ia benar-benar kehilangan kesadarannya.


Tak lama kemudian mobil ambulans datang, beruntung pengendara mobil yang menabrak Yoga mau bertanggung jawab meski Yoga lah yang sebenarnya bersalah karena tidak memperhatikan jalan.


Di rumah sakit, Sintia menangis sejadi jadinya melihat keadaan Yoga yang kritis.


Sintiapun meminjam telepon rumah sakit dan menghubungi Dimas.


"Kaaakkk," panggil Sintia dengan menangis ketika Dimas sudah menerima panggilannya.


"Sintia, kamu dimana, kenapa....."


"Kak Yoga kaakkk," ucap Sintia yang tak bisa menghentikan tangisnya.


"Yoga kenapa? kamu dimana sekarang?"


"Kak Yoga kecelakaan, sekarang di rumah sakit XY," jawab Sintia dengan masih menangis.


"Kamu tunggu kakak, kakak kesana sekarang!" balas Dimas yang langsung mematikan panggilan Sintia.


Dimas yang saat itu masih berdebat dengan Dini menjelaskan apa yang terjadi pada Yoga dan mengajak Dini untuk ikut ke rumah sakit.


"Yoga kecelakaan, kamu mau ikut ke rumah sakit?"


Dini mengangguk, meski ia masih marah dan sakit hati pada Dimas, tapi melihat Dimas yang begitu panik ia khawatir jika Dimas harus mengendarai mobilnya sendiri.


Dini baru sadar jika lelaki yang dilihatnya di cafe bersama Andi adalah lelaki yang sama yang ia lihat mengambil mobil Dimas di sekolah. Ia juga semakin yakin jika lelaki itulah yang dilihatnya di mall ketika Dimas mengajaknya untuk keluar dari mall.


Biiippp biiippp biiippp

__ADS_1


Ponsel Dimas berdering, ia mengambil ponselnya dari saku celananya, karena terburu buru dan panik ponselnya pun jatuh.


Dini mengambil ponsel Dimas dan terlihat nama Toni di layar ponselnya. Ia pun memberikannya pada Dimas ketika lampu lalu lintas menyala merah.


"Bos, cafe rame banget nih!" ucap Toni yang tak mengetahui apa yang sedang terjadi pada Yoga.


"Lo bisa handle sendiri nggak? Yoga kecelakaan, sekarang di rumah sakit, gue lagi berangkat ke sana!"


"Oke bos, bisa, nanti kabarin soal keadaan bang Yoga ya bos!"


"Oke, gue lanjut jalan dulu, titip cafe ya!"


"Siap bos!"


Dini hanya mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Dimas pada Toni.


"titip cafe? apa maksudnya?" batin Dini bertanya tanya.


Dimas sudah tidak peduli jika Dini tau tentang cafe miliknya, ia hanya ingin cepat sampai di rumah sakit. Meski Yoga bukanlah saudaranya, ia sudah menganggap Yoga seperti saudara kandungnya sendiri. Hubungan mereka sudah lebih dari sekedar teman dekat. Apapun yang terjadi pada Dimas, Yoga selalu tau, begitu juga dengan Dimas.


Sesampainya di rumah sakit, Dimas berinisiatif untuk meminta bantuan Andi dan Anita di cafe jika mereka masih berada di cafe. Ia pun menghubungi Andi.


"Halo, lo dimana Ndi?"


"Gue masih di cafe, ada apa?"


"Yoga kecelakaan Ndi, sekarang dia di rumah sakit."


"Lo dimana? udah di rumah sakit?"


"Udah, barusan nyampe' sama Andini, gue mau minta tolong lo sama Anita Ndi."


"Minta tolong apa Dim?"


"Tolong bantuin Toni di cafe ya, kasian dia harus handle kerjaan Yoga, sorry gue ngrepotin!"


"Santai Dim, ya udah gue sama Anita nyamperin Toni dulu, lo kabarin gue ya soal keadaan kak Yoga."


"Oke, thanks Ndi, sampe'in terima kasih gue buat Anita juga!"


"Oke!"


Dimas dan Dini segera menanyakan ruangan Yoga dan segera berjalan cepat kesana.


Di sana sudah ada Sintia yang terduduk lemas seorang diri. Ia tidak tega melihat Sintia yang terlihat kacau saat itu.


Dimas menggenggam erat tangan Dini dan mengajaknya duduk di sebelah Sintia. Dimas memeluk Sintia dengan satu tangannya yang tetap menggenggam tangan Dini.


Sintia menangis hingga tubuhnya bergetar, untuk pertama kalinya ia merasa takut kehilangan seseorang yang bukan keluarganya.


"Udah Sin, kita berdo'a aja buat Yoga, kamu jangan nangis terus," ucap Dimas berusaha menenangkan Sintia.


Sintia tetap menangis dalam pelukan Dimas. Ia menyesal karena pergi meninggalkan Yoga saat itu, jika saja ia tidak pergi, Yoga tak akan mengejarnya dan saat ini mungkin mereka sedang duduk berdua dan bercanda di cafe.


Dini melepaskan tangannya dari genggaman Dimas, Dimas menoleh ke arah Dini, takut Dini akan marah namun Dini hanya tersenyum dan pamit untuk membeli minuman.


"Aku mau beli minum," ucap Dini yang kemudian pergi meninggalkan Dimas dan Sintia di sana.


Ia masih tidak paham dengan keadaan yang terjadi saat itu. Yang dia tau, Sintia adalah anak dari teman orang tua Dimas yang sudah banyak membantu keluarga Dimas. Sintia suka dan menyayangi Dimas layaknya pasangan, sedangkan Dimas hanya menganggapnya adik, bahkan keluarga Dimas sempat ingin mengadopsi Sintia tapi dilarang oleh kakeknya.


Sintia terlihat begitu menyukai Dimas, bahkan mereka sangat dekat. Tapi sekarang, melihat Yoga yang sedang koma, ia seperti seorang perempuan yang akan ditinggal pergi oleh kekasihnya.


"dia suka sama Dimas, dia bahkan lari buat ngejar Dimas, nahan Dimas buat tetap sama dia, tapi sekarang kenapa dia sesedih ini? apa Yoga kakaknya? tapi Dimas bilang dia anak tunggal, huuuffttt, entalah," batin Dini bertanya tanya.


Setelah membeli minuman, ia segera kembali ke tempat Dimas dan Sintia. Ia memberikan minuman yang dibawanya pada Sintia dan Dimas.


Dimas sudah melepaskan pelukannya pada Sintia. Mereka kini duduk berjejer dengan Dimas berada di tengah, antara Sintia dan Dini.


Sintia menerima minuman dari Dini tanpa sepatah katapun. Tatapannya kosong, keadaannya sudah sangat kacau saat itu.


Tak banyak obrolan diantara mereka, begitu juga dengan Dimas dan Dini yang sibuk dengan pikirannya masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2