
Malam itu menjadi malam yang tak akan pernah Dimas lupakan. Ia akan bekerja keras untuk mencari siapa dalang di balik semua itu. Jika memang ada racun dalam minuman itu, ia yakin itu adalah bagian dari rencana para laki laki itu. Entah apa tujuan mereka, yang pasti ia yakin jika mereka hanya ingin menghancurkan kafe atau mungkin menghancurkan dirinya.
"Kamu yakin nggak akan cerita papa kamu tentang ini?" tanya Dokter Aziz pada Dimas.
"Dimas yakin Dok, tolong jaga rahasia ini ya Dok!"
"Baik Dimas, kalau gitu saya permisi dulu!"
"Terima kasih Dok."
Dokter Aziz lalu meninggalkan kafe. Malam itu Dimas memutuskan untuk menginap di kafe. Setelah bertanya banyak hal pada Tiara, Dimas meminta Toni untuk mengantarkan Tiara pulang.
"Gimana luka lo?" tanya Dimas pada Toni.
"Nggak papa bos, gue masih bisa banyak gerak!"
"Lo anter Tiara pulang ya, lo juga pulang aja siapin laporan yang gue minta," ucap Dimas pada Toni.
"Baik bos," jawab Toni lalu mengajak Tiara pulang, namun Tiara menolak.
"Saya nggak berani tidur sendiri mas," ucap Tiara yang masih tampak ketakutan.
Dimas dan Toni saling pandang seolah menanyakan apa yang harus mereka lakukan.
"Kamu lebih aman di kos Ra daripada di sini," ucap Dimas pada Tiara.
"Tapi saya takut mas, saya......"
"Kamu bisa tidur di rumahku," ucap Toni cepat.
"Kalau kamu mau," lanjut Toni.
"Bener juga, kamu tidur di rumah Toni aja buat sementara waktu sampai kamu udah siap buat tinggal sendiri," sahut Dimas.
"Baik mas, saya mau, tapi gimana sama kafe besok? apa kafe tutup?" balas Tiara sekaligus bertanya.
"Buat sementara kafe tutup dulu Ra, tapi kamu tenang aja, ini nggak akan lama!"
Toni dan Tiara lalu bersiap untuk pulang. Sebelum Tiara meninggalkan kafe, Dimas memeluk Tiara berharap bisa meredakan ketakutan Tiara.
"Lupain kejadian hari ini ya Ra, jangan ingat ingat lagi, aku atau Toni nggak akan tanyain hal ini lagi sama kamu jadi aku harap kamu lupain hal ini dan buang jauh jauh rasa takut kamu itu," ucap Dimas lalu melepaskan Tiara dari pelukannya.
"Iya mas," jawab Tiara.
"sikap lo emang manis banget bos, wajar kalau cewek cewek suka deket sama lo dan gue yakin nggak sedikit dari temen temen cewek lo yang baper sama sikap lo itu," batin Toni dalam hati.
"Besok pagi kita jenguk pak satpam dulu Ton, sekalian tanyain apa yang udah terjadi semalem!"
"Baik bos, kalau gitu kita balik dulu ya, lo jaga diri baik baik bos!"
"Oke Ton, kalian juga jaga diri baik baik!"
Toni dan Tiarapun meninggalkan kafe. Kini hanya tinggal Dimas yang berada di sana. Dimas memeriksa setiap sudut kafe, berharap akan menemukan putunjuk. Ia sudah seperti seorang detektif saat itu. Tak lupa memeriksa rekaman CCTV namun tak ada petunjuk apapun yang ia dapatkan karena memang Toni sudah dipaksa untuk menghapus semua rekaman yang memperlihatkan wajah mereka.
Jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari namun Dimas masih terjaga. Berkali kali ponselnya berdering namun ia abaikan bahkan tak dilihatnya sama sekali. Ia memikirkan banyak kemungkinan tentang siapa dan apa motif dari penyerangan yang terjadi di kafenya.
Tiba tiba terdengar suara kaca yang pecah dari luar. Dimas segera keluar dan mendapati kaca kafenya telah pecah seperti terkena lemparan benda keras. Ia lalu berjalan keluar dan melihat situasi di luar, hening, tak ada siapapun di luar kafenya.
Dimas lalu kembali masuk dan melihat sebuah batu dengan kertas yang membungkusnya. Ia mengambil batu itu dan membaca tulisan yang ada di kertas.
Cepet bikin permintaan maaf secara terbuka di sosial media atau gue akan bawa masalah ini ke jalur hukum!
"Permintaan maaf? lo pikir siapa yang lo serang sekarang? lo salah karena udah berurusan sama gue!" ucap Dimas seolah membalas isi tulisan itu.
Dimas lalu kembali ke ruangan kerja Toni dan melihat rekaman CCTV. Terlihat dua orang berpakaian serba hitam dengan menggunakan topi dan penutup wajah keluar dari sebuah mobil. Mereka lalu melemparkan batu itu dan segera berlari kembali menaiki mobil mereka.
"Hmmmm, lumayan cerdik, kalian sengaja taruh mobil kalian di blind spot CCTV kafe, tapi apa kalian lupa kalau nggak cuma kafe ini yang punya CCTV?"
Jam sudah menunjukkan pukul 3 dini hari, Dimas masih berada di salah satu bangku kafe. Ia sudah merencanakan apa yang harus ia lakukan untuk mengetahui siapa dalang di balik semua kerusakan itu hingga tak terasa ia mulai mengantuk dan tertidur.
**
Di tempat lain, Dini begitu gelisah karena Dimas belum menghubunginya. Ia bahkan berkali kali menghubungi Dimas namun tak pernah ada jawaban.
Dini mencoba menghubungi Toni dan Yoga namun tak ada satupun dari mereka yang menerima panggilannya. Tanpa pikir panjang Dini lalu mengambil jaket dan tas selempangnya lalu keluar dari kos. Ia berniat untuk pergi ke kafe meski jam sudah menunjukkan pukul 3 dini hari.
Ketika ia menuruni tangga, Andi baru saja keluar dari dapur setelah mengambil minum.
"Mau kemana Din?" tanya Andi.
"Mau ke kafe," jawab Dini tanpa menghentikan langkahnya dan tentu saja Andi segera berlari menahannya.
"Ke kafe? ini jam berapa Din?"
"Dimas nggak bisa dihubungi dari tadi, aku harus ke kafe buat pastiin kalau dia baik baik aja!"
"Dimas pasti baik baik aja Din, kamu sekarang balik ke kamar dan....."
__ADS_1
"Nggak bisa Ndi, aku nggak bisa tenang sebelum tau keadaan Dimas sekarang!"
"Emang ada apa sama Dimas?"
"Tadi Toni telfon Dimas dan dia bilang ada masalah di kafe, aku nggak tau masalahnya apa tapi Dimas keliatan panik banget dan buru buru ke kafe, sampe' sekarang dia belum ngabarin aku Ndi, aku nggak bisa diem aja di sini!"
"Kamu udah coba hubungin Toni atau kak Yoga?"
"Udah, tapi mereka nggak ada yang jawab panggilanku, aku harus gimana sekarang?"
Andi lalu menggandeng tangan Dini menuju dapur dan memberinya minum.
"Kamu minum dulu, tenangin diri kamu terus tidur, aku yakin Dimas pasti baik baik aja!" ucap Andi dengan mengusap rambut Dini.
"Tapi......"
"Sekarang udah jam 3 Din, 4 jam lagi aku anter kamu ke kafe, tapi kamu sekarang harus tidur, oke?"
Dini menggeleng. Namun Andi menarik tangannya untuk naik ke lantai dua dan memaksanya kembali ke kamar.
"Percuma Ndi, aku nggak bisa tidur, aku nggak bisa berhenti mikirin Dimas sebelum Dimas kabarin aku," ucap Dini setelah ia masuk ke dalam kamar.
Andi lalu ikut masuk dan menutup pintu kamar Dini. Andi duduk di lantai dan bersandar pada dinding.
"Sini," ucap Andi dengan menepuk nepuk bahunya sendiri.
Dini lalu duduk di sebelah Andi dan menyandarkan kepalanya di bahu Andi. Tak sampai 10 menit mereka mengobrol, Dini sudah tertidur.
"Kamu udah tidur Din?" tanya Andi meyakinkan.
Tak ada jawaban. Andi lalu menggeser badannya dengan perlahan lalu membaringkan Dini di ranjang. Andi kemudian duduk di lantai dengan menggengam tangan Dini sampai ia tertidur.
**
Pagi telah hadir. Dimas mengerjapkan matanya karena mendengar ponselnya berdering. Panggilan dari Toni.
"Halo Ton, sorry gue baru bangun!" ucap Dimas.
"Gue tunggu di depan bos."
"Oke, gue cuci muka bentar!"
Dimas lalu pergi ke kamar mandi dan membasuh wajahnya. Tak lupa ia membawa minuman "bermasalah" yang sudah disimpan Toni lalu segera keluar tanpa membawa ponselnya.
"Pake' mobil lo aja Ton!" ucap Dimas pada Toni.
"Ntar gue ceritain semuanya!"
Toni mengangguk, ia lalu melajukan mobilnya ke arah rumah sakit tempat satpam kafe di rawat. Sesampainya di sana Dimas tak langsung menemui pak satpam, ia terlebih dahulu pergi ke laboratorium untuk bertemu seseorang. Dimas meminta teman papanya yang bekerja di laboratorium itu untuk memeriksa minuman yang ia bawa.
Sembari menunggu hasil pemeriksaan itu keluar, Dimas menuju ke ruangan pak satpam.
"Gimana keadaan bapak?" tanya Dimas pada pak satpam.
"Baik mas, maaf saya nggak bisa kerja dulu hari ini."
"Nggak papa pak, bapak istirahat aja dulu sampe' bener bener sehat."
Setelah menerima banyak informasi dari pak satpam, Dimas dan Toni meninggalkan ruangan pak satpam.
"Abis ini kita kemana bos? gue harus lanjutin ngerjain laporan yang lo minta."
"Kita balik ke kafe, lo keluar dulu aja, gue mau ke lab bentar!"
"Oke bos!"
Setelah menerima hasil dari lab, Dimas begitu terkejut karena memang minuman yang ia bawa mengandung racun yang sangat berbahaya. Racun itu bahkan mampu membuat seseorang meninggal hanya dalam waktu kurang dari lima menit.
Dimas lalu keluar dari lab dan segera menemui Toni.
"Baca Ton!" ucap Dimas sambil memberikan hasil pemeriksaan dari lab.
"Haaaahh, kok bisa? ini nggak mungkin bos, gue selalu pesen semua bahan dari tempat yang sama dan....."
"Lo nggak lapor polisi kan soal ini?"
"Belum bos, gue bahkan belum bilang bang Yoga ataupun om Tama."
"Bagus, biar gue urus semua sendiri."
"Apa nggak sebaiknya kita lapor polisi bos? biar masalahnya cepet selesai dan kafe bisa buka lagi."
"Lo nggak baca hasil dari lab ini? kalau sampe' polisi tau, kita yang kalah Ton, buktinya udah jelas walaupun kita nggak salah, jadi biar gue sendiri yang cari bukti lain buat ungkap siapa sebenarnya yang ngelakuin semua ini dan lo jangan ngelakuin apapun tanpa izin gue!"
"Baik bos!"
Sesampainya di kafe Dimas langsung sibuk dengan laptop di hadapannya. Ia sama sekali tak pernah menyentuh ponselnya selain menerima panggilan dari Toni pagi tadi. Pikirannya hanya fokus pada masalah yang sedang ia hadapi saat itu.
__ADS_1
**
Di tempat lain, Dini bangun dari tidurnya dan mendapati Andi yang tertidur dengan posisi duduk di lantai dan kepalanya yang terbaring di ranjang. Dengan perlahan Dini menarik tangannya yang masih berada dalam genggaman Andi.
"apa bener yang mereka bilang Ndi? apa bener kamu punya perasaan yang lebih sama aku?" batin Dini bertanya tanya.
Andi lalu mengerjapkan matanya dan terbangun.
"Kamu udah bangun Din?" tanya Andi.
Dini mengangguk.
"Kamu balik aja ke kamar, aku coba hubungin Dimas lagi."
"Kalau kamu mau ke kafe aku anter ya, jangan pergi sendiri!"
Dini mengangguk. Andi lalu keluar dari kamar Dini dan kembali ke kamarnya. Sedangkan Dini segera menghubungi Dimas namun tetap saja tak ada jawaban. Ia lalu menghubungi Yoga dan beruntung, Yoga menerima panggilannya. Yoga mengatakan jika Dimas sedang sibuk dan akan menghubunginya setelah kesibukannya selesai. Dini sedikit lega mendengar jawaban dari Yoga. Ia lalu menghabiskan waktunya hanya untuk memandangi ponsel di hadapannya. Ia berharap Dimas segera menghubunginya.
**
Di kafe, Toni memberanikan diri untuk menanyakan perihal Dini pada Dimas.
"Bos, kak Dini telfon gue dari semalem, apa lo belum ngabarin dia?"
"Andini, astaga gue lupa Ton, HP gue mana?"
Dimas lalu mencari cari ponselnya dan segera menghubungi Dini. Tak butuh waktu lama Dini segera menerima panggilannya karena yang ia lakukan dari bangun tidur hanya menatap ponselnya menunggu Dimas menghubunginya.
"Halo sayang, maaf aku....."
"Kamu dimana sekarang? kamu baik baik aja kan?"
"Aku masih di kafe, aku baik baik aja kok, maaf karena baru sempet kabarin kamu," jawab Dimas.
"Aku nanti ke kafe ya?"
"Jangan sayang, besok kan kita ketemu, aku akan selesaiin masalah di sini secepatnya, kamu tunggu aku di sana, oke?"
"Oke, kamu lagi sama kak Yoga sekarang?"
"Enggak, kenapa?"
"Aku tadi telfon kak Yoga dia bilang lagi sama kamu, dia bilang kamu sibuk makanya kamu nggak hubungin aku dari semalem, jadi aku dari pagi cuma nunggu kamu telfon, aku nggak berani ganggu kamu."
"Yoga nggak tanya apa apa sama kamu?"
"Enggak, emang kamu nggak ketemu kak Yoga?"
"Ketemu kok, barusan dia balik ke kafe cabang," jawab Dimas berbohong.
"Aku lanjutin dulu ya sayang, love you!" lanjut Dimas.
"Love you too."
"Andini hubungin Yoga? apa sekarang Yoga tau kalau kafe lagi bermasalah?" batin Dimas bertanya tanya.
Tak lama kemudian, Yoga datang dan segera masuk ke ruang kerja Toni tanpa permisi. Di sana, Toni dan Dimas sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing masing.
"Ada apa ini Dim? kenapa lo nggak ngabarin gue?" tanya Yoga tanpa basa basi.
"Panjang ceritanya Ga!"
"Kalau Dini nggak telfon gue apa lo bakalan cerita sama gue?"
"Sorry Ga, gue cuma nggak mau ngrepotin lo terus!"
"Lo ngomong apa sih Dim, udah lapor polisi?"
Dimas menggeleng. Ia lalu menceritakan semua kejadian yang sudah terjadi pada kafenya secara singkat pada Yoga.
"Ini sih pasti udah di rencanain, lo punya musuh Dim?"
"Setau gue sih gue punya banyak fans, bukan musuh hehe...."
Toni dan Yoga hanya saling pandang lalu menggeleng mendengar kenarisan Dimas.
"Kita harus selidiki ini sendiri Dim, kita nggak bisa gegabah!" ucap Yoga.
"Iya Ga, gue udah minta Toni buat bikin laporan kejadian kemarin secara detail biar kita gampang buat tentuin apa langkah selanjutnya."
"Mmmm.... tapi ada masalah baru bos," ucap Toni tiba tiba.
"Masalah apa lagi Ton?"
"Dua pegawai kita hilang kontak, gue udah ke kos mereka tadi pagi sebelum ke sini tapi mereka nggak ada, pemilik kos bilang mereka udah pulang kampung dari semalem," jelas Toni.
Dimas dan Yoga hanya saling pandang dan tersenyum tipis. Mereka berdua memikirkan hal yang sama. Ya, penyerangan di kafe itu melibatkan orang dalam.
__ADS_1