
Yoga membawa Sintia ke apartemennya. Sebelumnya, ia sudah "bekerja sama" dengan Dimas agar orangtuanya tidak mencari Sintia. Dengan begitu, mereka bisa bebas kemanapun malam itu.
"Kakak mandi bentar ya!" ucap Yoga sambil melepas kemejanya di depan Sintia.
"Iya, kakak jangan mesum ya, lepas bajunya di kamar mandi aja!"
"Hahaha, iya iya!"
Sintia menyalakan televisi dan memakan ice cream yang sudah mereka beli sebelum ke apartemen. 1 cup besar ice cream itu sengaja Yoga beli untuk mengembalikan suasana hati Sintia yang kacau karena Anita.
Setelah Yoga selesai mandi, Sintia masih memakan ice cream dengan mata yang tak berpaling dari sinetron kesukaannya.
Yoga duduk di sampingnya. Melihat sisa ice cream di ujung bibir Sintia membuat Yoga gemas. Ia segera menjilatnya begitu saja.
"Kakak!" pekik Sintia kaget.
"Kamu makan belepotan sih!"
Sintia memukul pelan lengan Yoga namun Yoga segera menahan tangan Sintia. Ia memegang kedua tangan Sintia dengan erat, mendorong tubuh Sintia pelan agar ia berbaring di sofa. Yoga mendekatkan wajahnya. Menghembuskan napasnya pelan di telinga Sintia dan menggigit kecil daun telinganya.
Napas mereka berdua memburu. Hembusan napas Yoga yang turun ke leher Sintia terasa begitu hangat. Sintia memejamkan matanya. Membiarkan Yoga mendaratkan bibirnya di bibir Sintia.
Yoga menyibakkan bagian bawah mini dress yang dikenakan Sintia. Tangannya berjalan jalan pelan di sana.
Sintia merasa sudah diujung kegilaannya, ia menarik tangan Yoga, mengarahkannya semakin dalam. Namun Yoga menolak, ia bangun dari posisinya yang menindih Sintia, lalu mengacak acak rambutnya kasar.
Sintia ikut terbangun dan memeluk Yoga.
"Kenapa kak?"
"Maafin kakak Sin!"
"Kenapa minta maaf?"
Yoga lalu berdiri dan menggendong Sintia lalu diturunkan di ranjangnya dengan kasar. Hempasan Sintia di ranjang membuat pakaiannya tersingkap naik, menampakkan paha putih dan mulusnya di hadapan Yoga.
Sintia sengaja membiarkannya terbuka, ia memberikan senyumannya yang menggoda pada Yoga.
Dengan perlahan, Yoga menaiki ranjangnya dan berbaring di samping Sintia dengan menutup tubuh mereka menggunakan selimut.
"Tidur sayang!" ucap Yoga sambil membelai rambut Sintia.
"Kakak nggak mau........."
"Sssttttt, kakak sayang sama kamu," ucap Yoga setengah berbisik lalu menarik kepala Sintia agar mendekat padanya.
Malam itu mereka tertidur di dalam 1 selimut hingga pagi tiba.
***********
Setelah selesai sarapan, Dimas segera bergegas ke kafe, memeriksa kembali rekaman CCTV di kafenya.
"Kamu buru buru banget sayang?"
"Iya ma, ada masalah di kafe!"
"Apa papa harus turun tangan Dim?"
"Nggak perlu pa, Dimas pasti bisa selesaiin sendiri!"
Berhari hari Dimas duduk di depan monitor, memperhatikan dengan jeli siapapun yang tampak mencurigakan. Ia ingin melaporkan hal itu pada polisi, tapi Anita selalu melarangnya tanpa memberinya alasan yang jelas.
Sore itu, Yoga dan Sintia datang kafe. Sintia melihat ke sekeliling dan tak menemukan Dini di sana. Ia masih belum mengetahui jika Dini sudah resign dari kafe.
"Kamu duduk dulu, kakak masuk bentar!" ucap Yoga sambil menarik kursi untuk Sintia duduk.
"Kak, Sintia mau milk tea dong!"
"Oke, kakak pesenin!"
Tak berapa lama, Tari membawa milk tea pesanan Yoga untuk Sintia.
"Kak Dini kemana ya kak?" tanya Sintia pada Tari.
"Dini udah resign kak, ada yang bisa saya bantu?"
"Resign?" tanya Sintia meyakinkan.
Ia segera meninggalkan kursinya sebelum mendengar jawaban dari Tari. Ia berjalan cepat ke arah ruangan Dimas. Lalu membuka pintunya dengan kasar tanpa permisi.
"Dimana sopan santunmu adik kecil?" tanya Dimas pada Sintia.
"Kakak pecat kak Dini ya?" tanya Sintia tanpa basa basi.
"Enggak!" jawab Dimas cepat.
"Kakak maksa kak Dini resign?"
"Enggak!"
"Jangan bilang gara gara Anita!" ucap Yoga ikut memojokkan Dimas.
"Enggak, dia resign karena keinginannya sendiri, emang kamu kenal sama Andini?" tanya Dimas pada Sintia.
"Kenal lah, kita kan satu sekolah!"
"Kamu keluar aja dulu, ada hal penting yang harus kakak bicarain sama Yoga!"
"Nggak mau, kakak harus balikin kak Dini ke sini, HARUS!" balas Sintia dengan menekankan kata "harus".
"Kamu keluar dulu ya, kita bicarain ini nanti," ucap Yoga dengan membawa Sintia keluar dari ruangan Dimas.
Dengan kesal Sintia kembali duduk di bangku kafe dan menyeruput minumannya.
__ADS_1
Di ruangan Dimas, Yoga masih menanyakan tentang Dini pada Dimas.
"Gue juga nggak mau dia keluar Ga, gue udah coba nahan dia tapi nggak bisa!"
"Gue udah pernah bilang kan, dia bisa kerja di sini karena om Tama yang minta, nggak mungkin dia keluar gitu aja kalau nggak ada apa apa!"
"Ga, gue minta lo ke sini bukan buat bahas itu, ada hal lain yang lebih penting dari itu!"
"andai lo tau Ga, gue juga berat nglepas Andini dari kafe, tapi gue bisa apa, gue bukan siapa siapa," batin Dimas dalam hati.
"Ada apa?" tanya Yoga malas.
"Ada CCTV yang rusak."
"CCTV rusak? Dim, lo minta gue ke sini cuma mau bilang ada CCTV yang rusak? ayo lah Dim, jangan main main, gue......"
"Nggak cuma itu Ga, CCTV yang ngarah ke tempat parkir kayak sengaja di rusak, kayak ada seseorang yang mukul CCTV itu sampe' pecah dan lagi, 3 jam sebelum CCTV itu rusak semua CCTV eror, nggak ada yang bisa nangkap rekaman apa pun, monitor item semua tapi setelah itu semuanya normal kecuali CCTV tempat parkir yang emang rusak," jelas Dimas dengan serius.
"Mungkin emang eror aja Dim, lo tinggal beli baru apa susahnya sih!"
"Ga, lo tau kenapa Anita di rumah sakit?"
"Enggak!"
"Pak satpam nemuin dia pingsan di tempat parkir dengan kepala yang udah penuh darah, Dokter bilang ada beberapa pukulan dari benda tumpul di kepala Anita dan itu terjadi waktu semua CCTV eror, gue yakin pasti ada seseorang yang udah rencanain ini!"
"Lo serius? kenapa nggak lapor polisi aja?"
"Anita ngelarang gue, dia takut nama kafe akan jadi buruk kalau kejadian ini bocor ke media."
"Apa nggak ada seseorang yang mencurigakan sebelum CCTV mulai eror Dim?"
"Gue belum nemuin siapapun yang mencurigakan Ga, itu kenapa gue minta lo ke sini, gue bingung harus gimana, gue takut keselamatan Anita terancam!"
"Yang bisa selesaiin masalah lo ini cuma pihak kepolisian Dim, tapi terserah lo, lo mau tetep jaga nama baik kafe atau cari orang yang udah celakain tunangan lo!"
"Oh ya satu lagi, pikirin baik baik soal Dini, gue yakin dia nggak bener bener mau keluar dari kafe, gue pergi dulu!" lanjut Yoga sebelum meninggalkan ruangan Dimas.
Dimas mengacak acak rambutnya kasar. Ia mencoba untuk fokus pada masalah yang menimpa Anita tapi Yoga malah membuatnya semakin bingung dengan keluarnya Dini dari kafe.
Jam 8 malam, Dimas keluar dari kafe. Dia menjemput Anita di rumah sakit.
"Kamu yakin mau pulang?"
"Yakin, aku udah baik baik aja kok!"
Setelah menyelesaikan biaya administrasi, Dimas segera mengantar Anita pulang.
Di sisi lain, Dini dan Dika sedang duduk di kursi panjang depan tempat kos Dini. Mereka baru pulang setelah mencari lowongan pekerjaan yang menerima pekerja paruh waktu seperti Dini.
"Sayang, apa aku boleh tau apa alasan kamu keluar dari kafe?" tanya Dika pada Dini.
"Maaf, ada masalah yang nggak bisa aku ceritain sama kamu!"
"Enggak kok, aku emang nggak nyaman kerja di sana!"
"kenapa kamu nggak mau jujur sama aku Dini, aku tau dia nampar kamu sebelum kamu keluar dari kafe!" batin Dika dalam hati.
Dika mendekatkan tubuhnya dan berniat memeluk Dini, namun Dini segera menggeser posisi duduknya dan sedikit mendorong tubuh Dika.
"Kenapa?"
Dini hanya diam dan menunduk.
Dika bangkit dari duduknya dan berdiri tepat di depan Dini.
"Kenapa Din? kenapa aku nggak boleh peluk kamu?"
Dini kembali diam.
"Jawab Din, kenapa?" tanya Dika dengan suara meninggi.
"Dika, kamu udah tau semuanya sebelum kita pacaran dan sekarang kamu tanya kenapa? apa kamu masih nggak tau jawabannya?" balas Dini yang langsung berdiri dan berniat meninggalkan Dika namun Dika mencengkeram tangan Dini dengan kuat.
"Lepasin!" ucap Dini dengan menarik tangannya, namun tangan Dika sangat erat memegang tangannya.
"Enggak, kamu pacar ku Din, kenapa aku nggak bisa peluk kamu, aku tau ada orang lain di hati kamu, tapi kamu pacar ku sekarang!"
"Lepasin Dika, sakit!"
Andi yang baru saja pulang segera berlari begitu melihat Dini dan Dika yang tampak bersitegang.
"Ada apa?" tanya Andi, membuat Dika segera melepaskan tangan Dini dari cengkramannya.
"Nggak ada apa apa, kamu baru pulang?" balas Dini dengan menutup pergelangan tangan kirinya menggunakan tangan kanannya.
"Kalian berantem?" tanya Andi tak menghiraukan pertanyaan Dini.
"Biasa, salah paham!" jawab Dika.
"Besok pagi aku jemput ya sayang," ucap Dika dengan membelai lembut rambut Dini.
Dini hanya mengangguk dengan masih memegangi pergelangan tangannya yang terasa sakit karena perbuatan Dika.
"Gue balik dulu Ndi!" ucap Dika lalu meninggalkan Dini dan Andi.
Andi hanya mengangguk, membiarkan Dika pergi.
Dini segera berjalan menuju ke kamarnya namun Andi mencegahnya, tanpa sengaja Andi memegang pergelangan tangan Dini yang memerah karena cengkraman Dika.
"Aawwww!" pekik Dini ketika Andi menahannya.
"Tangan kamu kenapa?" tanya Andi yang baru menyadari pergelangan tangan Dini yang merah.
__ADS_1
"Nggak papa, tadi......"
"Dika?"
"Cuma salah paham kok, aku nggak papa, dia juga nggak sengaja."
"Nggak sengaja gimana, itu tangan kamu sampe' merah gitu, aku harus ketemu dia!" ucap Andi lalu melangkah pergi meninggalkan Dini, namun Dini segera menahannya dengan memeluknya dari belakang.
"Jangan Ndi, aku baik baik aja, dia temen kamu kan, dia baik kok, ini beneran cuma salah paham jadi jangan diperbesar lagi kesalahpahaman ini, ya?"
Andi menghembuskan napasnya pelan. Ia berbalik dan memeluk Dini dengan erat.
"Aku nggak bisa biarin siapapun nyakitin kamu Din, nggak bisa!"
"Aku tau, makasih karena selalu ada buat aku!"
Tanpa Dini dan Andi tau, di bawah remang cahaya lampu jalan, ada sosok yang berdiri tegak memperhatikan mereka dengan pandangan tak suka.
*********
Esok harinya, Dika sudah menunggu Dini di depan tempat kosnya. Mereka berangkat ke kampus bersama.
"Sayang, aku minta maaf soal kemarin," ucap Dika ketika Dini sudah duduk di sampingnya.
"Nggak papa, aku juga minta maaf kalau......."
"Aku yang salah, aku terlalu maksain ego ku sendiri, harusnya aku bisa lebih sabar dan berusaha, bukan maksa kamu, aku minta maaf ya!"
Dini mengangguk dengan senyum manisnya.
Di tempat lain, Sintia dan Yoga sedang merencanakan misi untuk kembali mendekatkan Dimas dan Dini. Jika saja mereka bisa, mereka sangat ingin memberi tahu Dimas apa yang sebenarnya terjadi, namun mereka sudah memiliki janji pada mama Dimas dan jika mereka mengingkarinya mereka sangat tau bagaimana nasib mereka selanjutnya, nasib buruk akan selalu menghantui hidup mereka.
"Gimana kalau kak Dini kerja di sini aja?" usul Sintia.
Saat itu mereka berada di D'First Cafe, bersama Toni.
"Dini pasti nggak mau, terlalu jauh sama kampusnya!" balas Yoga.
"Apa Sintia minta om Tama aja ya buat bujuk kak Dini biar balik ke kafe!"
"Kamu yakin?" tanya Toni meyakinkan.
"Yakin banget, om Tama kayaknya ada di pihak kita deh!"
"Boleh juga tuh, kesayanganku ini emang pinter banget!" ucap Yoga sambil mencium pipi Sintia.
"Hmmmm, nggak liat ada yang jomblo di sini?" seloroh Toni yang melihat adegan romantis di hadapannya.
"Hahaha, makanya cari pacar kak, kak Toni kan udah punya pekerjaan tetap, udah punya mobil, udah......"
"Ralat, itu mobil fasilitas dari om Tama Sin, bukan mobilku sendiri!" protes Toni.
"Sintia pikir mobil kak Toni sendiri, kalau gitu betah betahin aja jomblo hahaha......"
"Ya udah lah, gue masuk dulu bang, ada yang harus gue selesaiin, nanti kabarin lagi ya!"
"Oke Ton!"
Toni yang menyadari tali sepatunya terlepas segera berjongkok untuk mengikat tali sepatunya. Tanpa ia tau Tiara yang membawa minuman pesanan pelanggan berjalan ke arahnya dan tanpa sengaja menabraknya hingga minuman yang Tiara bawa jatuh membasahi tubuh Toni.
"Tiara!" ucap Toni sebelum ia melihat siapa pelakunya.
"Ma..... maaf pak, sa.... saya....."
"Apa mata kamu ketinggalan sekarang? kamu nggak liat ada saya di bawah?" tanya Toni dengan nada tinggi. Entah kenapa setiap berhadapan dengan Tiara emosinya selalu memuncak. Ada saja tingkah Tiara yang menyulut emosinya.
"Eh, kamu sendiri ngapain jongkok di bawah? mau mesum ya!" balas Tiara yang tak kalah emosi.
Pertemuan pertamanya dengan Toni, membuatnya memberikan kesan mesum pada semua hal yang dilakukan Toni padanya.
"Kemana sopan santunmu anak gadis, kamu lupa siapa saya di sini?"
Tiara terkesiap mendengar ucapan Toni. Ia sadar ia bisa saja dipecat saat itu juga.
"Ma.... maaf pak," ucap Tiara pelan dengan menunduk.
"Cepat bereskan lalu ke ruangan saya!"
"Bbbaik pak!"
Tiarapun membereskan tumpahan minuman di lantai, membuat yang baru dan memberikannya pada pelanggan lalu segera menemui Toni di ruangannya.
"Duduk!"
Tiara duduk di hadapan Toni dengan berbagai macam pikiran pikiran buruk yang akan Toni lakukan padanya.
"Tolong jangan pecat saya pak, saya janji akan lebih baik lagi, saya....."
"Jangan bicara sebelum saya tanya!"
Tiara menundukkan kepalanya.
"Pulang kerja nanti kamu kemasi barang barang kamu dan keluar dari tempat tinggal saya!" ucap Toni datar.
"Baik pak, besok saya....."
"Saya bilang nanti, bukan besok!"
"Nanti malem?"
"Iya!"
"Jahat banget sih jadi orang, tega banget malem malem ngusir cewek, aku sumpahin kamu jomblo seumur hidup!" ucap Tiara lalu keluar dari ruangan Toni.
__ADS_1