Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Mentari Kembali Bersinar


__ADS_3

Pesta telah selesai, semua yang ada di sana membereskan sisa pesta yang begitu menyenangkan. Tak tampak kesedihan bahkan diantara hati yang tengah patah, hati yang masih menyimpan luka yang sangat dalam. Dengan tegar ia menyembunyikannya, menyembunyikan kesedihan dan kerapuhan hatinya.


Senyum indah selalu tergaris dari bibir manisnya, senyum palsu yang terpaksa harus ia lukiskan demi kebaikan bersama. Semua bahagia, tapi tidak dengan hatinya. Hatinya yang terluka, hatinya yang hancur, hatinya yang kini terasa mati.


Hampa dunia mulai terasa setelah kepergian seseorang dari hidupnya, seseorang yang telah membuatnya kembali mengenal cinta. Seseorang yang telah memberinya banyak hal indah. Seseorang yang telah membawanya pergi dari jurang derita masa lalu.


Aletta menarik napasnya dalam dalam dan menghembuskannya pelan, ia lalu duduk di teras bersama Dini, Dimas dan Nico, sedangkan temannya yang lain sudah masuk ke kamar masing masing setelah membereskan sisa pesta.


Karena terlalu banyak makan pedas, perut Nico mulai bermasalah, membuatnya harus segera ke toilet. Sedangkan Dini dan Dimas pergi ke atas, ke kamar Dini, meninggalkan Aletta yang hanya duduk memandang malam tanpa bintang.


"Aletta kuat, Aletta tegar, malam tanpa bulan dan bintangpun masih berani terbentang luas, aku tanpa Andi juga harus berani bahagia dong, semangat Aletta, dunia memang tak seindah drama korea, apa lagi gentabuana hehe semangaattt," batin Aletta menguatkan dirinya sendiri.


"Minum Ta!" ucap Andi yang tiba tiba datang dan menyodorkan satu botol minuman pada Aletta.


"Thanks," balas Aletta sambil menerima minuman yang Andi berikan.


"Liatin apa sih? kan nggak ada bulan, nggak ada bintang," tanya Andi yang memperhatikan Aletta melihat ke atas, menembus gelap malam yang tak berujung.


"Emang kalau nggak ada bulan sama bintang langit nggak boleh diliat? justru karena nggak ada bulan sama bintang, kamu bisa liat langit malam yang sesungguhnya, langit malam yang kesepian, langit malam yang......"


"Aletta....."


"Eh, sorry sorry, malah jadi melow hehe...."


"Kamu baik baik aja Ta?"


Aletta mengangguk.


"Aku baik baik aja, bisa jadi lebih baik, karena aku nggak mikirin kamu lagi hehe...."


"Aku minta maaf Ta," ucap Andi yang masih merasa bersalah karena sudah memberikan Aletta harapan.


"Nggak ada yang salah Ndi, justru dengan kayak gini kita bisa jujur tentang perasaan kita sebenernya, nggak ada yang memaksa dan dipaksa, kamu nggak perlu merasa bersalah, aku bahagia dengan semua yang udah terjadi diantara kita, aku bahagia karena sempat menjadi bagian dari hidup kamu," balas Aletta.


"Aku juga bahagia Ta, aku bahagia karena udah kenal kamu, cewek barbar yang selalu bikin aku ketawa," ucap Andi dengan mengacak acak rambut Aletta.


"Tetep ya, kebiasaannya nggak ilang," balas Aletta dengan merapikan kembali rambutnya.


"Itu kan udah jadi hobi baru aku Ta hehe....."


Andi dan Aletta melewati malam berdua, di bawah langit tanpa bintang dan bulan, di bawah langit yang tampak bersedih dan kesepian.


**


Sinar mentari yang dirindukan telah datang, menyapu seluruh alam dengan sinar yang menghangatkan.


Seperti biasa, Aletta berangkat terlebih dahulu dengan seseorang yang kemarin menjemputnya. Tak ingin kesempatannya hilang, Nico sengaja menunggu laki laki yang menjemput Aletta datang. Ia sudah membuka matanya lebar lebar agar ia dapat melihat plat nomor dari kendaraan yang digunakan oleh si laki laki.


Tak butuh waktu lama setelah Nico mengirimkan plat nomor itu pada si A, Nico segera mendapat informasi lengkap mengenai identitas pemilik kendaraan itu. Namun yang membuat Nico heran adalah identitas itu bukanlah laki laki, melainkan perempuan yang seusia dengannya dan sedang menempuh pendidikan S1 nya di tempat yang sama dengannya, tepatnya dia berada di fakultas sastra, sama seperti Aletta.


"apa itu bukan motor nya? apa dia dibeliin? kalau dibeliin masak yang beliin masih seumuran juga sama gue? siapa sih sebenarnya, bikin penasaran aja!"


"Hayoo looo, masih pagi udah ngelamun aja, kesambet loh!" ucap Andi dengan memukul pelan punggung Nico.


"Apaan sih Ndi, bikin kaget aja!" balas Nico kesal.


"Hahaha.... Aletta udah berangkat ya?"


"Udah barusan."


Tak lama kemudian Dimas datang, bersamaan dengan Dini yang baru saja turun dari lantai dua.


"Kalau jodoh gini ya, datengnya barengan!" ucap Nico pada Dimas dan Dini.


Seperti biasa, greeting morning Dimas pada Dini selalu dibarengi dengan pelukan dan ciuman yang mendarat di kening Dini.


Mereka lalu berangkat ke kampus bersama sama.


Sesampainya di kampus, mereka berpencar. Nico segera pergi ke fakultas Sastra untuk mencari Aletta. Setelah beberapa lama mencari, akhirnya ia menemukan Aletta sedang duduk di bawah pohon bersama dengan beberapa teman laki laki dan perempuannya.


Pandangan Nico tertuju pada seorang perempuan yang duduk di sebelah Aletta, jaket, tas dan sepatu yang dipakainya mengingatkan Nico pada laki laki yang menjemput Aletta tadi pagi.


"apa iya dia cewek? tapi gue yakin banget itu jaket, tas sama sepatu yang dipake cowok tadi, masak bisa sama persis gitu? apa jangan jangan....."


"Nico!" panggil Aletta yang melihat Nico berdiri tak jauh darinya.


"Eh, iya Al!" jawab Nico yang terkejut dengan panggilan Aletta.


"Sini, ngapain di situ?"


Nico lalu berjalan ke arah Aletta dan teman temannya. Dari 5 orang yang ada di sana, 2 laki laki dan 3 perempuan termasuk Aletta, Nico tak berhenti memperhatikan perempuan dengan jaket, tas dan sepatu yang ia kenal.


"Lo ngapain ke sini? nyari gue?" tanya Aletta pada Nico.


"Mmmm... iya.... sebenernya....."


"apa gue nanya langsung ya sama Aletta daripada gue makin penasaran, tapi apa alasannya gue nanya kayak gitu, apa nggak berlebihan kalau gue nanyain itu? bodo amat deh daripada gue mati penasaran," batin Nico dalam hati.

__ADS_1


"Al, gue bisa minta waktu lo bentar?" tanya Nico pada Aletta.


"Ciiieee Aletta, udah ada yang baru nih," goda salah satu teman Aletta.


"Jangan lupa makan makan ya Al, biar langgeng hehe...." sahut yang lain.


"Jangan gitu dong, Aletta kan masih dalam masa iddah hahaha...." ucap yang lain.


"Kalian apa apaan deh, dia temen gue," balas Aletta lalu berdiri dan menarik tangan Nico untuk menjauh dari teman temannya.


"jleb banget rasanya, 'dia temen gue' hahaha, kok nyesek yaa," batin Nico menertawakan dirinya sendiri.


"Ada apa sih? tumben banget lo ke sini?" tanya Aletta pada Nico setelah mereka menjauh dari teman teman Aletta.


"Ada yang mau gue tanyain Al, daripada gue berprangsaka yang enggak enggak, mending gue tanyain langsung kan?"


"Emang lo mau nanya apa?"


"Cowok yang sering jemput lo itu temen kampus lo?" tanya Nico.


"Cowok? cowok yang mana sih? gue nggak pernah di jemput cowok!" balas Aletta tak mengerti.


"Yang tiap pagi jemput lo Al, pake motor!"


"Lo gila? itu cewek kali Nic, yang duduk di sebelah gue tadi!"


"Serius?"


"Serius lah, sini gue kenalin!" balas Aletta sambil menarik tangan Nico.


"Eh, enggak enggak, gue nggak mau!"


"Hai guys, kenalin temen gue, namanya Nico," ucap Aletta memperkenalkan Nico pada teman temannya.


Merekapun satu satu per satu menjabat tangan Nico dan memperkenalkan diri mereka.


"Dia liat lo jemput gue dan dia pikir lo itu cowok hahaha...." ucap Aletta pada teman yang menjemputnya.


"Pasti karena style gue ya? maklum lah saudara gue cowok semua jadi ikut ikutan kayak gini hahaha...."


"Sorry ya sebelumnya, gue bener bener nggak tau," ucap Nico yang merasa bersalah.


"It's okay, gue udah biasa hahaha...."


**


"Andini, ikut aku ketemu Toni sama Tiara ya!"


Dini mengangguk, Dimas segera melajukan mobilnya ke arah mini market tempat Toni dan Tiara bekerja. Sesampainya di sana, Dimas dan Dini segera masuk.


Dimas mengambil troli dan mulai memasukkan beberapa makanan ringan ke dalamnya, begitu juga Dini. Mereka membeli beberapa keperluan bulanan mereka.


"Kamu yakin Toni sama Tiara di sini?" tanya Dini pada Dimas.


"Yoga sih ngasih tau aku di sini," jawab Dimas.


"Tapi dari tadi nggak keliatan!"


"BOOSS!!" panggil seseorang yang sangat dikenal Dimas.


Dini dan Dimas kompak menoleh ke arah sumber suara. Meski tidak memanggil nama "Dimas", tapi Dimas dan Dini sangat mengenal suara itu.


Toni pun menghampiri Dimas dan Dini.


"Apa kabar bos?" tanya Toni dengan mengulurkan tangannya.


Dimas menjabat tangan Dimas dan memeluknya (pelukan antarlelaki).


"Baik Ton, lo gimana?"


"Baik bos, kak Dini baik?"


"Baik Ton!"


"Gue izin sama pak kepala dulu bos, kita ngobrol di depan!"


"Boleh?"


"Boleh, tadi bang Yoga udah bilang sama pak kepala kalau gue mau ada tamu, tamu besar hehehe...."


"Terus belanjaan gue gimana?"


"Sini gue simpen!" jawab Toni dengan mengambil alin troli yang dipegang Dimas.


"Belanjaan lo banyak banget bos, udah kayak pengantin baru aja hahaha...." goda Toni.


"Nggak cuma pengantin baru kali yang belanja banyak!" balas Dimas.

__ADS_1


"Lo tunggu depan aja bos, gue izin pak kepala dulu!" ucap Toni pada Dimas.


"Oke!"


Dimas dan Dini pun keluar dan duduk di bangku yang ada di depan mini market. Tak lama kemudian Toni datang dengan membawa 3 botol minuman dan memberikannya pada Dini dan Dimas.


"Thanks Ton," ucap Dimas dibalas anggukan kepala Toni.


"Jadi, apa yang bawa lo ke sini? bang Yoga bilang lo lagi persiapan skripsi!"


"Iya, do'ain lancar ya Ton!"


"Pasti bos!"


"Gue ke sini mau minta maaf sama lo, sama Tiara juga, dia ada?"


"Tiara lagi di ambil barang di cabang bos, lagian lo minta maaf buat apa, justru gue yang minta maaf karena nggak bisa bantu apa apa," balas Toni.


"Lo udah banyak bantu gue Ton, sorry karena gue nggak bisa kasih ending yang baik," ucap Dimas.


"Nggak papa bos, gue makasih banget sama lo sama bang Yoga juga karena udah kasih gue kerjaan ini," balas Toni.


"Bos lo sekarang Yoga Ton, bukan gue jadi jangan panggil gue kayak gitu, gue bukan siapa siapa lagi sekarang," ucap Dimas.


"Lo tuh inspirasi buat gue bos, gue belajar banyak selama gue kenal lo sama bang Yoga, panggilan gue ini sebagai bentuk rasa hormat dan terima kasih gue sama lo bos, gue yakin suatu saat nanti lo akan lebih sukses dari sekarang, lo juga harus yakin itu!"


"Iya Ton, gue akan belajar lebih giat lagi, berusaha lebih baik lagi," balas Dimas.


"Kak Dini kapan nih di lamar beneran? hehehe...." tanya Toni pada Dini.


"Abis wisuda Ton, do'ain ya!" jawab Dimas mendahului Dini yang akan menjawab.


"Pasti bos, gue do'ain semoga hubungan kalian langgeng!"


"Makasih Ton," ucap Dini pada Toni.


Tak terasa sudah 30 menit Toni meninggalkan pekerjaannya, ia pun berpamitan pada Dini dan Dimas untuk kembali bekerja.


Dini dan Dimas segera membayar belanjaan mereka kemudian meninggalkan mini market.


"Ke apartemenku ya!" ajak Dimas pada Dini.


"Terserah kamu aja," balas Dini.


Tak lama kemudian mereka sampai. Ketika baru saja keluar dari lift, Dini dan Dimas berpapasan dengan Anita.


"Anita....."


Anita segera masuk ke dalam lift dan memencet tombol cepat cepat agar lift segera tertutup. Ia sengaja menghindari Dimas dan Dini. Arah hidupnya masih terasa terombang ambing sejak kepergian Ivan yang begitu mendadak.


"Aku cuma mau tanya keadaannya," ucap Dini pada Dimas.


"Biarin aja, dia keliatan baik baik aja kok!"


"Kamu nggak pernah ngobrol sama dia sejak kejadian kemarin?"


"Jangankan ngobrol, ketemu aja nggak pernah, baru tadi dan kayaknya dia udah nggak mau kenal kita lagi," jawab Dimas.


"Apa menurut kamu dia pacaran sama Ivan?"


"Aku nggak tau sayang, aku juga nggak mau tau, cukup aku tau kalau mereka berdua punya rencana jahat buat keluarga ku itu udah cukup buat aku benci sama mereka," jawab Dimas.


"Ya udah lupain aja, fokus sama skripsi aja, oke!"


"Oke sayang!"


Dimas dan Dini pun mulai sibuk dengan laptop dan buku buku di hadapan mereka.


**


Di sisi lain, Anita berjalan ke arah mini market dengan pikiran kosong. Sejak Ivan meninggal, ia sering menghabiskan waktunya bersama mama Ivan. Anita berusaha membantu mama Ivan untuk kembali bangkit dan tegar atas kepergian Ivan.


Meski apa yang di lakukan Ivan padanya sangatlah buruk, Anita masih bisa merasakan kasih sayang yang Ivan berikan padanya. Selain itu Ivan juga membantunya untuk kembali dekat dengan Dimas meski dengan cara yang tak dimengerti oleh Anita.


Jauh dalam hatinya, ia merasa kehilangan. Kini ia hanya sendiri, tanpa arah dan tujuan. Ia bahkan tak mempedulikan Dimas lagi. Namun setelah melihat Dimas beberapa waktu lalu, ia kembali ingat akan tujuan hidupnya. Ya, Dimas adalah satu satunya tujuan hidup baginya.


"aku akan dapetin kamu Dimas, apapun caranya akan lakukan buat bisa sama sama kamu," ucap Anita dalam hati.


Karena Anita tidak terlalu fokus di jalan, tanpa sengaja ia menabrak seorang perempuan, membuat makanan yang dibawa perempuan itu terjatuh.


"Maaf maaf, aku nggak sengaja, aku ganti ya!" ucap Anita dengan membuka dompetnya, hendak mengambil uang.


"Lo pikir gue nggak mampu buat beli lagi?" balas perempuan itu.


"Aku cuma mau tanggung jawab kok," ucap Anita dengan memberikan beberapa lembar uang pada perempuan yang tampak emosi itu.


"Gue nggak butuh," balas si perempuan dengan mendorong tubuh Anita hingga Anita jatuh tersungkur, membuat sikunya terluka.

__ADS_1


"Kamu nggak papa?" tanya seorang laki laki yang tiba tiba datang dan membantunya berdiri.


__ADS_2