
Mentari Minggu pagi itu tampak malu malu untuk menampakkan dirinya. Awan yang sedikit gelap itu menghalangi kehangatan yang dipancarkannya. Membuat siapapun akan malas untuk beranjak dari kasur empuk dan selimut tebal yang hangat.
Tapi tidak untuk Dini, hari Minggu bukanlah waktu untuknya bermalas malasan. Ia segera bangun dari kamar kos kecil yang ia tempati. Setidaknya, meski kecil ia tak harus mengantre untuk mandi, karena setiap kamar memiliki kamar mandi pribadi masing masing dengan satu dapur besar di lantai satu.
Ya, setelah ia di terima di Universitas favoritnya, ia dan Andi memutuskan untuk tinggal di salah satu tempat kos yang tak jauh dari kampus mereka.
Tempat kos itu terdiri dari 2 lantai, lantai bawah untuk laki laki dan lantai atas untuk perempuan. Tak hanya mahasiswa atau mahasiswi yang menempatinya, ada juga beberapa dari mereka yang sudah bekerja.
Dengan rambut kuncir kudanya, Dini menuruni anak tangga dengan berlari kecil.
"Kemana Din?" tanya Andi yang baru keluar dari dapur.
"Misi penting!" jawab Dini dengan mengambil 1 gelas air dari tangan Andi dan meminumnya.
"Ikut!"
"Jangan, aku sama Rio!"
"Hmmmm, ya udah kalau gitu, kalau ada apa hubungin aku ya!"
"Iya Andi sayaaang, kamu selalu bilang kayak gitu tiap aku pergi," balas Dini dengan mengembalikan gelas yang sudah kosong pada Andi.
"Ya udah ya, bye!" lanjut Dini dengan melambaikan tangannya meninggalkan Andi.
Andi hanya menggeleng gelengkan kepalanya melihat sikap Dini.
"Kamu mau kemana sih pagi pagi gini?" tanya Rio pada Dini.
Dini tak menjawab, hanya mengeluarkan sebuah map dari tasnya dan menunjukkannya pada Rio.
"Kamu mau kerja?" tanya Rio yang melihat surat lamaran kerja pada map yang dibawa Dini.
Dini mengangguk dengan senyum manisnya.
"Kenapa? kamu kan harus fokus kuliah sayang, aku pasti bisa kok penuhin semua kebutuhan kamu!"
"Kamu pikir aku matre'?"
"Kapan aku pernah mikir kayak gitu!"
"Aku harus kerja Rio, kerja apapun aku mau, apa lagi kalau gajinya gede hahaha.....!"
"Jadi istriku aja!" ucap Rio dengan mengedipkan sebelah matanya.
Dini hanya melirik tajam mendengar ucapan Rio.
"Ya udah, jadi sekarang kita ke mana?"
"Ke restoran X, Cika bilang di sana ada lowongan, jadi aku mau coba ke sana!"
"Oke, semoga beruntung ya sayang!" ucap Rio dengan mengusap lembut rambut Dini.
Tak lama kemudian, mereka sampai di restoran itu.
"Aku harus ke mana ya?" tanya Dini.
"Tanya satpam aja tuh!"
Dini dan Riopun menghampiri satpam yang berjaga dan bertanya.
"Wah, udah telat mbak, lowongannya terakhir hari sabtu kemarin, ini aja udah ratusan yang daftar, padahal yang dibutuhin cuma 50 orang!" jelas satpam itu pada Dini.
"Oh, gitu ya pak, makasih ya Pak!"
Dini meninggalkan tempat satpam itu dengan raut wajah yang kecewa.
"Udah, kita cari ke tempat lain aja ya!" ucap Rio berusaha menenangkan kekasihnya itu.
Dini mengangguk lemah, semangatnya sudah hilang.
Ketika hendak masuk ke dalam mobil, tanpa sengaja ia melihat seorang lelaki yang tak asing di matanya.
Dini segera mendekat dan menyapanya.
"Om Tama!" panggil Dini.
"Eh Dini, kamu ngapain di sini?"
"Mau ngasih surat lamaran om, ternyata udah telat hehehe...." jawab Dini menahan malu.
"Kamu sama......" Pak Tama mengehentikan ucapannya begitu melihat seorang laki laki yang mendekati Dini.
"Siapa sayang?" tanya Rio pada Dini.
"Oh, kenalin om ini Rio, Rio ini om Tama!" jawab Dini memperkenalkan.
"Rio, pacarnya Dini!" ucap Rio dengan mengulurkan tangannya pada Pak Tama.
"Tama," balas Pak Tama singkat dengan menjabat tangan Rio.
"Din, kalau kamu ada waktu, bisa kita ketemu lagi?" tanya Pak Tama pada Dini.
"Bisa om, nanti tinggal kabarin Dini aja!"
"Eh bentar, ada apa ya kok om ngajak Dini ketemu?" tanya Rio penuh selidik.
"Saya mau nawarin kerjaan, barangkali Dini tertarik!"
"Waaahh, makasih banyak om," balas Dini dengan menggenggam tangan Rio, sebagai isyarat agar diam.
"Tapi kenapa......."
"Kalau gitu kita pamit dulu ya om, permisi!" ucap Dini memotong ucapan Rio yang sudah pasti akan banyak bertanya.
Pak Tama tersenyum dan segera kembali ke mobilnya.
__ADS_1
Selama perjalanan, Rio hanya diam dengan raut wajah kesal.
"Kamu kenapa sih?" tanya Dini pada Rio.
"Siapa om om itu?"
"Namanya om Tama, kan udah kenalan tadi!"
"Maksud aku dia siapa kamu? adik ibu kamu? atau om om genit yang......."
"Huuuusssttttt, jangan bilang gitu!"
"Awas aja ya kalau kamu macem macem di belakangku!"
Dini hanya terkekeh melihat sikap Rio. Rio baru menjadi kekasihnya selama 2 minggu, dalam 2 minggu itu Dini tau betul betapa posesifnya Rio padanya.
*******************
Senin, hari yang membuat sebagian orang kesal karena harus kembali pada kesibukan mereka, bekerja, sekolah ataupun kuliah.
Dini dengan penuh semangat keluar dari kamar kosnya dengan tas ransel yang menempel di punggungnya.
"Loh, kamu ada kelas pagi?" tanya Dini yang melihat Andi sudah siap berangkat ke kampus.
"Jam 9 sih!"
"Ini kan baru jam setengah 8 Ndi!"
"Nggak papa, ayo berangkat!"
Merekapun berangkat bersama sama. Hanya membutuhkan waktu 10 menit mereka sudah sampai di kampus dan segera menuju ke fakultas masing masing.
"Gimana Din, lancar?" tanya Cika pada Dini.
"Apanya yang lancar, lowongannya terakhir hari Sabtu dan kamu kasih tau aku hari Sabtu malam, yang bener aja!" gerutu Dini kesal.
"Hahaha, ya sorry deh, nanti aku cariin lowongan lagi, oke?"
"Hemm!"
Bela yang mendengar percakapan Dini dan Cika segera berjalan menghampiri mereka.
"Lo mau cari kerja Din?" tanya Bela.
"Apa urusan lo nanya nanya!" balas Cika yang sudah tau maksud dari pertanyaan Bela.
"Ya gue heran aja, ngapain kerja, bukannya dia selalu dapet apa aja dari cowoknya!"
"Emang," balas Dini santai.
"Cewek murahan kayak lo, nggak pantes sama Rio!"
"Kalau kamu mau, ambil aja, bekasku!" ucap Dini lalu berlalu meninggalkan Bela begitu saja.
"Ambil tuh, ambil hahaha......" seloroh Cika yang membuat Bela semakin kesal.
Ketika hendak keluar dari kampus, Dini menghentikan langkahnya begitu ia mendengar seseorang memanggilnya.
"Om Tama, kok bisa di sini?"
"Iya, kebetulan rektor kampus ini temen om, kamu kuliah di sini?"
"Iya om!"
"Kebetulan sekarang kita ketemu, kamu masih ada kelas?"
"Udah selesai kok om, ini mau pulang!"
"Kita mampir ke kafe depan bentar ya, ada yang mau om bicarain sama kamu!"
"Oh iya om!"
Dini dan Pak Tama masuk ke sebuah kafe yang tak jauh dari kampus.
Mereka memilih duduk di samping dinding kaca yang membuat mereka dapat melihat keramaian jalanan di depannya.
"Maaf ya om, kemarin nggak sempet minta kontaknya om, maaf juga kalau sikap Rio kemarin kurang sopan," ucap Dini pada Pak Tama.
"Nggak papa Din, kalian udah lama pacaran?"
"Eh, mmmm, baru om, baru 2 mingguan!"
Pak Tama mengangguk anggukkan kepalanya.
"Om ngajak kamu ketemu bukan cuma buat kasih kamu kerjaan, ada hal lain yang mau om sampe'in sama kamu!" ucap Pak Tama serius.
"Ada apa om?"
"Om harap kamu nggak keberatan denger penjelasan om, ini soal Dimas!"
"Maaf om, Dini udah lupain dia, Dini......."
"Om tau, om nggak maksa kamu buat deket ataupun jauh sama Dimas, om cuma mau kasih tau kamu yang sebenarnya, sebelum kesalahpahaman ini akan semakin besar!"
"Maksud om?"
"Din, sebenarnya Dimas nggak pindah sekolah, dia kecelakaan tepat 3 hari sebelum ujian nasional, Dimas koma berhari hari, om sama tante mutusin buat nutup hal itu dari semua orang, itu kenapa kepindahan Dimas dari sekolah om jadiin alasan selama Dimas koma di rumah sakit, sampai akhirnya om sama tante bawa Dimas ke Singapura," jelas Pak Tama membuat air mata Dini memenuhi kedua sudut matanya.
3 hari sebelum ujian nasional, ia ingat betul saat itu, itu adalah hari dimana mereka bertengkar hebat di sekolah, hari dimana ia meminta Dimas untuk pergi dari hidupnya.
Ia tak menyangka jika Dimas mengalami hal yang begitu buruk saat itu. Air mata yang sudah mengering kini kembali mengalir deras dari kedua mata Dini, ia sudah tak sanggup untuk membendungnya.
"Dimas masih di Singapura om?" tanya Dini.
"Dia di sini sekarang, tapi......."
__ADS_1
"Tapi apa om?"
"Dia hilang ingatan Din, dia menderita Transient Global Amnesia karena kecelakaan itu, dia lupa semua masa lalunya, bahkan setiap pagi dia melupakan semua hal yang terjadi kemarin, dia......." Pak Tama mengehentikan kata katanya, ada sesak di dadanya ketika ia menjelaskan keadaan Dimas pada Dini.
"Maafin Dimas ya Din, dia nggak pernah ninggalin kamu gitu aja, om tau gimana perasaannya sama kamu, jadi om harap kamu jangan membencinya," lanjut Pak Tama.
Dini masih terdiam mendengar penjelasan Pak Tama, pandangannya kosong menatap jus jeruk yang belum tersentuh sama sekali. Air matanya masih menetes dari kedua sudut matanya.
"Apa ingatan Dimas akan kembali om?" tanya Dini dengan suara serak karena menangis.
"Om harap itu akan segera terjadi, tapi om mohon sama kamu, jangan paksa dia buat ingat masa lalunya, om takut itu akan semakin membahayakan sistem sarafnya, biarkan dia perlahan lahan mengingat masa lalunya sendiri, om yakin dia akan segera kembali seperti dulu lagi dan maaf karena om baru ceritain ini sekarang, waktu itu bener bener waktu yang sulit buat om!"
"Iya om, Dini mengerti, Dini permisi dulu ya om," ucap Dini lalu segera berdiri.
"Din, Dimas sayang sama kamu, om yakin kalau kamu juga masih sayang sama dia," ucap Pak Tama sebelum Dini pergi.
Dini berbalik dan mendekat pada Pak Tama.
"Apa Dini punya harapan om?"
Pak Tama tersenyum dan memeluk Dini hangat, pelukan seorang ayah kepada anaknya.
"Harapan itu selalu ada Din, bagi siapapun yang mau berusaha, kamu harus semangat, tetap jadi Dini yang ceria, lanjutin cerita hidup kamu sama Dimas walaupun dengan alur yang tak sesuai dengan harapan kalian!"
"Makasih om!"
Sebelum Dini pergi, Pak Tama memberikan kartu namanya pada Dini.
Cekreekk cekreekk cekreekk
Bela tersenyum penuh kemenangan dari sudut kafe, lalu segera pergi mencari Rio.
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Dini dan Andi berada di teras kos mereka. Dini ingin menceritakan pada Andi mengenai Dimas, tapi ia ragu.
"Mmmm, Ndi, aku mau bilang sesuatu!" ucap Dini yang membuat Andi penasaran.
"Apa? jangan bilang kamu mau nembak aku, jangan Din, aku belum siap hahaha," balas Andi dengan candanya.
"Iiihh, apaan sih, GR banget, aku cerita soal........"
Tiiiiiiiinnnnnnn
Suara klakson mobil tiba tiba membuat riuh tempat kos Dini. Sebuah mobil terlihat sengaja membunyikan klaksonnya untuk menganggu seseorang yang sudah diintainya.
"Berisik woy!" teriak salah seorang penghuni kamar kos.
"Norak!" ucap yang lain menimpali.
"Pacar kamu?" tanya Andi pada Dini.
Sebelum Dini sempat menjawab, Rio sudah keluar dari mobilnya.
"Ngapain kamu di sini?" tanya Rio penuh kemarahan di wajahnya.
"Ya kamu yang ngapain, aku kan kos di sini, gimana sih!"
"Kemana aja kamu tadi siang, hah?"
"Kamu ini kenapa sih dateng dateng marah kayak gini, ngomong baik baik nggak bisa, malu diliatain orang!"
"Persetan sama orang orang, yang aku tanyain, kamu tadi siang kemana?"
"Nggak jelas kamu!" ucap Dini kesal, lalu berbalik hendak meninggalkan Rio, namun Rio segera mencegahnya, menarik tangan Dini dengan kasar.
"Aaww, sakit!" pekik Dini membuat Andi segera berdiri dari duduknya.
"Jawab aku Din, kamu....."
"Lepas!" ucap Andi memegang kuat kuat tangan Rio yang mencengkeram lengan Dini.
"Lo nggak usah ikut campur Ndi, ini urusan gue sama Dini!"
"Urusan Dini, urusan gue juga, lepas atau lo bakal abis sama penghuni kos ini!" ucap Andi memberi ancaman.
Rio melihat ke sekitarnya, banyak mata memandangnya tak suka, pandangan yang siap untuk menerkamnya.
Rio pun melepaskan Dini dan mengambil ponselnya, menunjukkan sebuah foto yang memperlihatkan Dini yang sedang berpelukan dengan Pak Tama.
"Apa ini Din?" tanya Rio.
"Kamu salah paham, apa yang kamu pikirin salah Rio!"
"Dari awal aku udah curiga sama kamu Din, ini om om yang mau kamu temui itu kan? yang katanya mau kasih kamu kerjaan, kerjaan apa Din? jadi sugar baby nya?"
PLAAAKKKK
Satu tamparan keras mendarat di pipi Rio.
"Pergi kamu!" ucap Dini dingin.
"Sebelum kamu suruh, aku pasti pergi, aku nggak sudi ketemu cewek murahan kayak kamu!" balas Rio yang langsung berbalik meninggalkan Dini.
"Abisin nggak nih?" tanya Andi pada Dini.
"Terserah!" jawab Dini lalu pergi, masuk ke kamarnya.
"Gaass yoookk!" ucap Andi pada teman temannya.
Andi dan teman teman kosnya mulai mendekati Rio yang hendak masuk ke mobilnya. Tanpa perlu di beri aba aba, mereka sudah tau apa yang harus mereka lakukan. Salah satu dari mereka membawa tali tambang dan memaksa Rio untuk berjalan ke bawah pohon.
"sialan, mereka mau gantung gue? gila, nggak bener ini!"
Mereka mengikat Rio pada sebuah pohon besar dengan posisi berdiri. Mereka pun mulai menjalankan aksinya, menggelitiki Rio hingga ia menyerah.
"Hahaha, kegelian sampe' mampus nggak lo hahaha....." ucap salah seorang teman Andi.
__ADS_1
Dini yang melihat hal itu dari lantai dua, hanya terkekeh melihat kelakuan Andi dan teman temannya.