
Dimas melajukan mobilnya ke arah tempat kos Dini, ia sudah tidak sabar ingin segera memeluk gadis yang dicintainya itu. Alunan melodi cinta terngiang dalam ruang hatinya. Jantungnya berdetak kencang, ia sangat bahagia hingga ia tak mampu menyembunyikan senyum di wajahnya.
Malam itu, langit seperti berpihak padanya. Hujan telah berhenti meneteskan rintik rintik kerinduan. Temaram bulan tersenyum di balik awan gelap, meski begitu sinar temaramnya masih tampak indah.
**
Di tempat kos.
Aletta duduk di teras dengan buku dan laptop di hadapannya. Ia ingin mengerjakan tugas kuliahnya, namun sepertinya otaknya tidak setuju. Ia sama sekali tak bisa fokus pada tugasnya. Bagaimanapun juga ada rasa cemburu yang terselip di hatinya walaupun ia sudah berusaha keras melarang hatinya untuk cemburu.
Tak lama kemudian Nico datang dan duduk di hadapan Aletta.
"Lo ngapain Al?" tanya Nico yang melihat Aletta membaca buku yang terbalik.
"Lo nggak liat gue lagi baca?"
Nico lalu mengambil buku yang dipegang Aletta dan membaliknya.
"Emang anak sastra kalau belajar bukunya di balik?" tanya Nico.
"Eh... ii.... iya.... emang tugasnya gitu kok!" balas Aletta sambil kembali membalik buku yang ia bawa.
Ia merasa otaknya memang sudah terbalik saat itu.
"Aaarrrggghhhh...... gue nggak bisa Nic," ucap Aletta kesal dengan menutup wajahnya menggunakan buku.
"Tugas apaan sih emang? susah banget?"
Aletta mengangguk. Sejujurnya, ia kesal bukan karena tugas kuliahnya, tapi karena hatinya yang tak bisa menahan rasa cemburu itu.
"Andi mana sih? di kamar?"
"Di kamar Dini," jawab Aletta tak bersemangat.
"Di kamar Dini? ngapain?"
Aletta tak menjawab, ia hanya menaikkan kedua bahunya bersamaan lalu kembali sibuk dengan laptopnya.
"Lo nggak cemburu?" tanya Nico.
Aletta menggeleng. Jari jarinya sibuk mengetik.
"Beneran?"
Aletta mengangguk tanpa suara. Tanpa Nico tau, di layar laptop Aletta hanya ada tulisan cemburu cemburu cemburu cemburu. Entah sudah berapa banyak kata itu ia ketik, jari jarinya masih saja mengetikkan kata kata itu.
Tak lama kemudian Dimas sampai di tempat kos Dini. Ia turun dari mobilnya lalu menghampiri Nico dan Aletta.
Aletta yang tidak menyadari kehadiran Dimas masih saja mengetikkan kata cemburu yang memenuhi Ms. Word nya.
"Sama siapa?" tanya Dimas pada Aletta, membuat Aletta segera menutup laptopnya.
"Dimas, kamu dari kapan di sini?" tanya Aletta gugup.
"Dari ketikan kamu yang ke 500 kata mungkin," jawab Dimas dengan tersenyum.
"Lo ngetik apa sih Al, serius banget sampe' nggak sadar ada Dimas?" tanya Nico.
"Tugas lah, gue... gue ngerjain tugas lah," jawab Aletta berbohong.
"Oohh, tugas ya?" balas Dimas dengan mengangguk anggukan kepalanya.
"Hehe... iya tugas, kamu ngapain ke sini? cari Dini? dia di atas sama Andi!"
"Sama Andi? ooohh, pantesan," balas Dimas dengan mengangguk anggukan kepalanya lagi.
"Tenang aja Al, lama lama lo pasti terbiasa, gue naik dulu ya!" lanjut Dimas sambil menepuk nepuk bahu Aletta.
Aletta hanya tersenyum kecut menanggapi ucapan Dimas. Sedangkan Nico, ia tidak mengerti maksud dari ucapan Dimas.
"terbiasa? terbiasa cemburu maksudnya? apa lo juga ngerasain yang gue rasain Dim? apa lo sebenarnya juga cemburu?" batin Aletta bertanya tanya.
Aletta lalu kembali membuka buku dan laptopnya. Ia harus segera mengerjakan tugas kuliahnya.
"Bantuin gue Nic!" ucap Aletta sambil memberikan setumpuk buku pada Nico.
"Cariin apa yang gue tanyain nanti, oke?" lanjut Aletta.
"Ini banyak banget Al, lo nggak ngerti cara pake' google?" protes Nico.
"Jangan banyak protes, bantuin aja, gue maksa hahaha...."
Nico hanya menggeleng gelengkan kepalanya melihat sikap gadis yang dicintainya dengan diam diam itu.
Di lantai dua, Dimas melangkah ke kamar Dini dengan membawa hatinya yang sedang bahagia. Ia tidak peduli jika ada Andi di sana, ia percaya pada mereka, pada Andi juga Dini. Dimas yakin jika Andi dan Dini masih menjaga persahabatan mereka.
Pintu kamar Dini tertutup, Dimas hanya tersenyum kecil melihatnya.
"cowok cewek di satu ruangan tertutup, ngapain? hehe..."
Dimas lalu mengetuk pintu kamar Dini pelan. Tak lama kemudian Andi yang membuka pintu.
__ADS_1
"Kalian lagi ngapain?" tanya Dimas dengan wajah serius.
"Nggak ngapa-ngapain, gue cuma......"
"Menurut lo cewek cowok dalam satu kamar tertutup mau ngapain lagi? emang kalian anak SD?"
"Gue cuma nemenin Dini, dia....."
Dimas lalu menutup mulutnya menahan tawa. Ia berhasil mengerjai Andi. Baginya, itu bukanlah hal yang membuatnya cemburu. Mereka hanya sahabat, ia yakin jika Dini masih mencintainya seperti dulu dan Andi akan menjaga persahabatan mereka meskipun ia memiliki cinta dalam hatinya.
"Serius amat sih Ndi, gue bercanda kali!"
"Sialan lo, Dini lagi tidur jadi jangan berisik!"
"Oke oke sorry, oh ya soal ucapan gue tadi, lupain aja, gue nggak akan pergi hehe...."
"Lo ini kenapa sih Dim, nggak ada angin nggak ada hujan tiba tiba kayak kasih wasiat buat gue, sekarang balik lagi senyum senyum sendiri, sakit lo?"
"Besok besok aja gue cerita, ditungguin Aletta di bawah tuh!"
"Dia cemburu," lanjut Dimas dengan berbisik.
"Iya gue tau, gue ke bawah dulu!" balas Andi lalu keluar dari kamar Dini.
"Inget kata Dokter Aziz Ndi, jangan banyak gerak dulu kaki lo!" ucap Dimas sebelum Andi benar benar pergi.
Andi hanya mengangguk dengan mengacungkan ibu jarinya.
Dimas lalu masuk ke kamar Dini, menutup pintunya dan duduk di samping Dini.
"Maafin aku Andini, maaf karena selalu bikin kamu sedih, setelah semuanya selesai aku janji akan lebih berusaha lagi buat bahagiain kamu, jadi aku harap kamu tetap di sini sama aku dan jangan pernah pergi," ucap Dimas dengan menggenggam tangan Dini.
Perlahan Dini mengerjap, ia membuka matanya dan mendapati Dimas yang duduk di sampingnya. Ia masih diam menatap laki laki yang ia cintai di hadapannya.
"Apa aku mimpi?" tanya Dini pelan.
Dimas menggeleng.
"Iya, aku mimpi, aku terlalu takut kalau kamu bener bener pergi, aku......"
Cuuuppp
Satu kecupan mendarat di bibir Dini, membuat Dini terdiam seketika.
"Masih mikir kalau mimpi?" tanya Dimas.
Dini masih diam dan menyadari jika ia tidak sedang bermimpi. Dimas ada di hadapannya, laki laki yang selalu mengganggu pikirannya sekarang nyata di hadapannya.
"Apa aku harus lakuin yang lebih lagi biar kamu percaya kalau nggak lagi mimpi?" tanya Dimas dengan senyum manisnya.
"Kamu jahat Dimas, kamu jahat, kenapa kamu bilang mau pergi, kenapa kamu bilang mau ninggalin aku, kenapa Dimas?" tanya Dini dengan memukul mukul dada Dimas.
Dimas hanya diam dan semakin memeluk Dini dengan erat. Satu tangannya mengusap air mata yang telah membasahi pipi Dini.
"Aku minta maaf Andini, aku janji setelah ini nggak akan ada lagi air mata kesedihan dari mata kamu, aku janji kita akan bahagia bersama, aku nggak akan pergi lagi dan kita akan selalu sama sama," ucap Dimas lalu mencium kening Dini.
Dini lalu melepaskan dirinya dari pelukan Dimas, ia merasa sangat kacau, ia bahkan tak ingat kapan ia tertidur. Ia menangis setelah Dimas pergi, ia menangis dalam pelukan Andi sampai ia tertidur dan sekarang ia merasa matanya sudah bengkak karena terlalu banyak menangis.
"Besok siang aku jemput kamu, kita ketemu mama sama papa," ucap Dimas sambil membelai rambut Dini.
"Ketemu mama papa kamu? ada apa?"
"Besok kamu akan tau, aku juga ajak Anita," jawab Dimas.
"Anita? kamu gila?"
"Mmmmm.... mungkin, aku terlalu bahagia sampe' jadi gila hehe....."
"Enggak, aku nggak mau ikut!"
"Kenapa? aku udah bilang mama sama papa kalau kamu juga dateng!"
"Ya buat apa aku dateng, tunangan kamu kan Anita bukan aku!"
"Pokoknya besok siang aku jemput kamu, aku nggak akan bikin kamu sedih lagi, percaya sama aku!" ucap Dimas meyakinkan.
"Aku percaya sama kamu, tapi....."
"Nggak ada tapi tapi, besok siang aku jemput kamu harus udah siap, oke?"
Dini menghembuskan napasnya pelan lalu mengangguk. Ia tidak mengerti apa yang sedang Dimas rencanakan, tapi ia percaya jika Dimas tak akan mengecewakannya.
**
Di teras kos.
Andi, Aletta dan Nico duduk bertiga. Hampir 15 menit Aletta sibuk dengan tugasnya dan mengabaikan Andi di sana. Tak ada satupun pertanyaan Andi yang ia jawab. Meski tengah mengerjakan tugas, sejujurnya ia tak bisa fokus seratus persen pada tugasnya. Ia cemburu dan ia tak mungkin mengatakan hal itu pada Andi, ia terlalu gengsi untuk mengatakannya.
Alhasil, Andi hanya mengobrol dengan Nico. Tak lama kemudian, Nico pergi meninggalkan Andi dan Aletta. Nico sadar jika dirinya hanya menjadi "obat nyamuk" di sana.
"Gue pergi dulu deh, kalian lanjutin aja lomba diem diemannya!" ucap Nico lalu berdiri dari duduknya.
__ADS_1
"Eh, mau kemana?" tanya Andi dengan menahan Nico, karena jika Nico pergi suasana akan menjadi sangat canggung antara dirinya dan Aletta.
"Ke WC, mau ikut?" balas Nico lalu pergi tanpa menunggu jawaban Andi.
Andi hanya menghembuskan napasnya pelan. Tinggal ia berdua dengan Aletta di sana. Baginya, suasana malam itu sangat mencekam. Aletta yang selalu banyak bicara kini hanya diam dengan raut wajah yang serius.
"Ta, aku....."
"Udah selesai?" tanya Aletta tanpa menoleh ke arah Andi, matanya masih fokus menatap layar laptopnya.
"Haah, apa yang selesai?" tanya Andi tak mengerti.
"Menurut kamu?" tanya Aletta tanpa menjawab pertanyaan Andi. Ia lalu mengemasi semua buku dan laptopnya, membawanya pergi dari teras.
"Kamu mau kemana?"
Aletta hanya diam, tak menjawab pertanyaan Andi. Ia tidak ingin bertengkar, ia hanya ingin Andi tau bahwa dia sedang cemburu.
"Aaahhhhh, kakiku......" teriak Andi dengan memegang kakinya. Sebenarnya kakinya baik baik saja, ia hanya ingin Aletta kembali dan tidak mengabaikannya lagi.
Dan seperti dugaannya, Aletta segera kembali menghampiri Andi. Ia lalu menaruh laptop dan bukunya di teras.
"Kaki kamu kenapa? apa berdarah lagi?" tanya Aletta khawatir.
"Enggak kok, nggak berdarah, cuma kerasa sakit aja," jawab Andi sambil berpura pura merintih kesakitan.
"Ayo ke kamar, aku ganti perbannya," ucap Aletta sambil membantu Andi berdiri.
Andi hanya bisa menahan senyumnya dan masuk ke kamarnya dengan bantuan Aletta. Dengan telaten Aletta membersihkan luka di kaki dan tangan Andi lalu membalutnya dengan kain kasa setelah sebelumnya diberi cairan antiseptik.
"Aku beruntung," ucap Andi ketika Aletta masih sibuk membalut luka di tangannya.
"Kenapa?"
"Karena aku punya kamu," jawab Andi dengan memamerkan senyum manisnya.
Setelah selesai mengganti perban pada luka di tangan dan kaki Andi, Aletta duduk di sebelah Andi.
"Apa masih sakit?" tanya Aletta.
Andi menggeleng.
"Enggak, emang dari tadi nggak sakit, aku cuma bohong hehe....."
"Iiiihhh, dasar nyebeliiiiin......" balas Aletta dengan memukul muluk lengan Andi.
Pada pukulan yang ketiga, Andi menangkap tangan Aletta, menahannya untuk berhenti memukul.
"Aku minta maaf," ucap Andi dengan menatap mata Aletta.
Aletta hanya diam dengan menundukkan wajahnya. Andi lalu melepaskan tangan Aletta dan membawa pandangan Aletta ke arahnya.
"Aku minta maaf, aku terlalu khawatir sama Dini sampe' aku biarin kamu nunggu lama di bawah," lanjut Andi.
"Nggak papa, aku ngerti, dia emang selalu jadi prioritas kamu kan? aku nggak berhak buat cemburu," balas Aletta.
"Kamu berhak cemburu, maaf karena udah bikin kamu cemburu," ucap Andi dengan menggenggam kedua tangan Aletta.
Aletta hanya diam dan mengangguk. Andi lalu memeluknya, membawanya ke dalam hangat dekapannya.
**
Malam telah berlalu, pagi menyapa dengan hangatnya mentari. Dengan penuh semangat Dimas berangkat ke kampus. Tak lupa ia meminta mama dan papanya untuk datang ke tempat yang sudah ia siapkan siang nanti, begitu juga Dokter Dewi, ia juga meminta Dokter Dewi untuk datang.
Tepat jam 1 siang Dimas menjemput Dini. Ia menggendong Dini untuk masuk ke mobilnya, ia tidak akan membiarkan Dini berjalan dengan tertatih tatih. Setelah menjemput Dini, ia menjemput Anita.
"Kita jemput Anita dulu ya?"
Dini mengangguk. Jantungnya berdebar, ia tidak mengerti rencana apa yang sudah Dimas siapkan hari itu. Anita, Dokter Dewi, mama dan papa Dimas, entah apa yang akan terjadi nanti, Dini hanya berharap semuanya akan baik baik saja.
Dimas mengambil ponsel dari saku celananya dan menghubungi Anita.
"Aku udah di depan!"
"Oke!"
Tak lama kemudian Anita datang dengan senyum mengembang. Ia pikir Dimas akan mengajaknya bertemu dengan kedua orangtuanya untuk membicarakan kelanjutan hubungan mereka.
Ketika ia membuka pintu mobil Dimas bagian depan, ia begitu terkejut karena ada Dini di sana.
"Kamu di belakang ya Nit!" ucap Dimas pada Anita.
"Kenapa aku? dia dong yang harusnya di belakang!" protes Anita.
"Kamu nggak liat kakinya Andini sakit? dia udah terlanjur di depan dan nggak boleh banyak gerak, jadi kamu di belakang, oke?"
Dengan kesal Anita menutup pintu mobil Dimas dan duduk di kursi belakang.
Sesampainya di restoran yang sudah di booking Dimas, Dimas turun dan menggendong Dini untuk masuk ke dalam restoran.
"Dimas, aku bisa jalan," ucap Dini berbisik, ia malu karena banyak mata yang melihat ke arahnya.
__ADS_1
"Kaki kamu masih sakit sayang, jadi jangan banyak gerak," balas Dimas.
Anita yang berjalan di belakang Dini dan Dimas hanya bisa menahan kekesalannya. Ia belum tau jika sebentar lagi semua sandiwaranya akan berakhir. Semua drama yang diciptakannya akan berakhir dengan sad ending untuknya.