Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Kecewa


__ADS_3

Anita yang di abaikan oleh Dimas dan Dini merasa begitu kesal. Ia lalu mengajak Ivan untuk pergi dari kampus itu, sebelum Andi mencegahnya.


"Tunggu," ucap Andi sambil menahan tangan Anita.


Anita menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Andi. Andi lalu melepaskan tangan Anita dan mengambil sebuah credit card dari kantong celananya.


"Pak Sonny nitip ini buat kamu," ucap Andi sambil memberikan credit card pada Anita.


"Papa? kamu ketemu papa?"


"Iya, kalau kamu ada waktu hubungin papa kamu Nit, gimanapun juga Pak Sonny masih papa kamu," ucap Andi lalu melangkah pergi dengan menggandeng tangan Aletta.


Anita hanya diam lalu memasukkan credit card itu ke dalam tasnya.


"papa ngapain ke sini? kenapa harus Andi yang papa temui? bukannya setau papa aku masih punya hubungan sama Dimas?" batin Anita bertanya tanya.


Ia lalu meninggalkan kampus bersama Ivan.


"Sekarang kita kemana?" tanya Ivan.


"Terserah kamu," jawab Anita tak bersemangat.


Ivan pun membawa Anita ke kafe. Sesampainya di kafe, mereka memilih duduk di bangku yang jauh dari keramaian.


"Kamu ada hubungan apa sama cowok tadi?" tanya Ivan pada Anita.


"Siapa? Dimas?"


"Bukan, cowok yang kamu peluk tadi, bukannya kamu tunangan Dimas ya?"


"Kamu kenal Dimas dari mana?"


"Nggak penting, jawab aja pertanyaanku."


"Dia Andi, temen SMA," jawab Anita.


"Cuma temen? dia keliatan deket sama papa kamu!"


"Papa ku kepala sekolah waktu SMA, jadi papa kenal sama Andi, udah, gitu aja."


"Aku nggak percaya, kamu mau tau dari mana aku kenal Dimas?"


"Dari mana?"


"Kamu harus cerita semuanya setelah aku kasih tau kamu, semua masa lalu, semua cerita kamu harus kamu ceritain, oke?"


Anita menggeleng.


"Oke, aku bisa cari tau sendiri tanpa kamu kasih tau aku, aku bahkan tau kalau kamu udah bikin skenario buat jebak Dimas di Singapura!"


"Ma.... maksud kamu apa?" tanya Anita tak percaya dengan ucapan Ivan.


"Aku tau semuanya Anita, jadi terserah kamu, kamu mau cerita atau biarin aku cari tau sendiri cerita masa lalu kamu!"


"Apa sebegitu pentingnya masa lalu aku buat kamu?"


"Semua yang berhubungan sama gadis yang aku suka itu penting, sangat penting!"


"Oke oke, aku cerita, waktu SMA aku, Andi, Dimas sama Dini, kita semua deket, Dini sama Andi udah lama sahabatan dan aku iri sama hubungan mereka jadi aku berusaha buat deketin Andi dan bikin Andi jauh dari Dini, tapi lama lama aku jadi beneran suka sama Andi, tapi itu sebelum Dimas datang," jelas Anita memulai ceritanya.


"Sebelum Dimas datang? Dimas murid pindahan?"


"Iya, dia pindahan dari luar kota, awalnya aku nggak peduli sama dia karena tujuanku cuma buat pisahin Dini sama Andi, tapi lama lama sikap Dimas bikin aku jatuh cinta, perhatiannya, kepeduliannya makin bikin aku nggak mau jauh dari dia walaupun aku tau dia suka sama Dini dan Dini juga suka sama dia, sampe' akhirnya aku mutusin buat lepasin Andi dan berjuang buat Dimas, banyak hal yang udah aku lakuin biar bisa sama sama Dimas, aku cuma mau Dimas jadi milikku, nggak peduli apakah dia juga cinta sama aku atau enggak!"


"Itu yang bikin kamu ngarang cerita itu di Singapura?"


"Iya, apa pun akan aku lakuin buat dapetin Dimas, apapun!"


"Ambisi kami terlalu besar sayang, tapi nggak papa, aku suka itu!"


"Jadi, kenapa kamu bisa tau soal di Singapura itu?"


"Aku mau nanya satu hal, apa HP kamu hilang?"


"Enggak, eh bentar, iya HP ku hilang waktu aku sama Dimas di........" Anita menghentikan ucapannya.


Ia ingat hari itu, hari ketika Dimas mengajaknya makan di sebuah kafe. Sikap Dimas yang manis hari itu tidak membuatnya curiga sama sekali. Bahkan ketika ponselnya hilang, Dimas langsung mengajaknya untuk membeli ponsel baru.


"apa Dimas udah rencanain semua itu? apa dia sengaja ambil HP ku? dan pertemuan kemarin, dia juga pasti sengaja, kamu bener bener licik Dimas, kamu jahat!"


"Kamu bener bener bodoh Anita!" ucap Ivan membuyarkan lamunan Anita.


"Aku kenal Dimas dari Yoga, karena kita satu kampus, Dimas minta aku buat balikin semua data data yang udah terhapus di HP kamu dari satu tahun yang lalu, aku baru tau kalau Dimas tunangan kamu waktu aku liat isi HP kamu, kamu emang licik Anita tapi kamu juga bodoh dan ceroboh!"


"Kenapa kamu bantuin dia? kenapa kamu nggak........"

__ADS_1


"Aku nggak bantuin dia, dia kasih aku uang buat lakuin itu, kalau aku ngasih tau kamu waktu itu, apa aku akan dapet keuntungan juga dari kamu?"


Anita merebahkan kepalanya di meja, ia merasa sangat frustrasi.


"Jangan khawatir, aku akan bantuin kamu, aku selalu siap buat semua rencana rencana kamu!"


Anita lalu mendongakkan kepalanya menatap Ivan.


"Tapi itu nggak gratis sayang," ucap Ivan dengan menyeringai.


"Aku akan kasih semua yang kamu mau," ucap Anita cepat.


"Jangan buru buru sayang, pikirkan baik baik sebelum kamu mengambil keputusan, jangan gegabah!"


"Aku yakin sama keputusanku!"


"Aku udah ingetin kamu ya, jadi jangan pernah menyesal," ucap Ivan sambil menarik tangan Anita dan menciumnya.


Anita hanya diam menerima perlakuan Ivan. Hanya karena obsesi dan ambisinya untuk memiliki Dimas, jalan pikirannya menjadi kacau. Ia tidak bisa lagi berpikir dengan jernih.


Cinta membuat dirinya kehilangan arah. Tanpa ia sadar ambisinya untuk memiliki Dimas lebih besar daripada cinta di hatinya.


Biiiippp Biiippp Biiippp


Ponsel Anita berdering, ada nama Dokter Dewi di layar ponselnya.


"Halo Mbak, ada apa?"


"Kamu di mana Nit? temen Mbak bilang kamu nggak masuk kerja karena sakit, kamu di rumah sakit?"


"Mmmmm.... itu..... Anita di apartemen, cuma pusing biasa kok Mbak, cuma butuh istirahat aja," jawab Anita berbohong.


"Kalau ada apa apa cepet kabarin Mbak ya!"


"Iya Mbak, ini ada Ivan juga kok di sini."


"Ivan? kamu beneran pacaran sama dia?"


"Iya Mbak, Anita berusaha buat lupain Dimas."


"Bagus, Mbak yakin Ivan cowok yang baik, lupain Dimas dan jalani pilihan hati kamu yang sekarang!"


"Iya Mbak, pasti."


"Ya udah kalau gitu, Mbak tutup dulu ya, jaga kesehatan kamu, jangan lupa minum obat!"


Anita memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Jalan menuju Dimas telah terbentang di hadapannya, ia tidak akan menyia nyiakan kesempatan itu. Dokter Dewi telah kembali percaya padanya dan sekarang ia memiliki Ivan yang akan membantunya. Ia juga tidak perlu khawatir tentang keuangannya, selain masih mendapat jatah bulanan yang selalu di transfer sang papa, ia juga mendapat kartu kredit. Ah, hidupnya hampir sempurna saat itu, hanya butuh seorang laki laki yang akan melengkapi kesempurnaan itu, Dimas.


**


Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang. Dini dan Dimas masih berada di perpustakaan, mereka sedang mengerjakan tugas.


"Sayang, pulang yuk!" ajak Dimas.


"Aku belum selesai," jawab Dini tanpa menoleh ke arah Dimas.


Berbeda dengan Dini yang sangat menyukai perpustakaan, Dimas sangat tidak menyukainya. Ia lebih suka belajar di dalam kamar atau di tempat yang terbuka daripada di perpustakaan.


"Aku perhatiin akhir akhir ini kamu kurang fokus, bahkan beberapa kali nilai kamu turun kan? ada apa? apa yang ganggu pikiran kamu?"


"Nggak ada," jawab Dini dengan menggeleng.


"Andini, ayo lah, kamu cerita sama aku!"


Dini hanya menatap Dimas dengan tersenyum. Dalam hatinya banyak hal yang ia pikirkan. Tentang hubungannya bersama Dimas, tentang saran dari mama dan papa Dimas untuk kelanjutan hubungan mereka, tentang Anita yang ia yakin tak akan menyerah untuk mendapatkan Dimas kembali, tentang future planning yang sudah ia siapkan, apakah semua itu akan berjalan dengan semestinya? apakah ia bisa mencapai mimpi mimpinya? apakah ia bisa membahagiakan ibunya? apakah ia bisa menjadi anak yang bisa dibanggakan oleh ibunya? Semua itu terasa menghantui pikirannya beberapa hari terkahir. Di tambah mimpi buruk yang selalu terulang setiap malam, membuatnya takut untuk memejamkan matanya.


"Aku selesaiin ini bentar ya, dikit lagi!" ucap Dini lalu kembali fokus pada tugasnya.


Dimas hanya menghela napasnya dan menuruti ucapan Dini untuk menunggunya.


10 menit kemudian Dini telah selesai. Ia lalu mengemasi barang barangnya dan mengembalikan buku buku yang ia pinjam.


"Selesai, kita kemana sekarang?"


"Ikut aku, aku mau kenalin kamu sama seseorang!"


"Seseorang? siapa?"


Dimas hanya mengedipkan sebelah matanya lalu keluar dari perpustakaan. Dini mengikuti Dimas keluar lalu berjalan bersama ke tempat parkir.


Mobil Dimas sudah melaju meninggalkan kampus. Kini mereka berada di jalan raya yang padat. Dimas membelokkan mobilnya ke arah sebuah kafe dan mengajak Dini untuk masuk ke kafe itu.


Pelayan kafe segera mengarahkan Dimas untuk memasuki sebuah ruangan VIP, di sana sudah ada Dokter Aziz dan Dokter Mela yang menunggu kedatangan Dimas dan Dini.


Dimas dan Dini lalu duduk bersebelahan.

__ADS_1


"Maaf Dok, Dimas telat," ucap Dimas.


"Nggak papa Dim, kita juga baru sampai," jawab Dokter Aziz.


"Gimana keadaan kamu Din?" tanya Dokter Aziz pada Dini.


"Baik Dok," jawab Dini dengan senyum manisnya.


"Oh ya, ini Dokter Mela, beliau yang akan jadi teman baru kamu mulai hari ini," ucap Dokter Aziz pada Dini.


"Teman?" tanya Dini tak mengerti.


"Hai Din, saya Mela," ucap Dokter Mela memperkenalkan diri.


"Salam kenal Dok," balas Dini.


"Panggil kakak aja biar lebih akrab, Dimas udah banyak cerita sama saya tentang kamu, tentang trauma dan mimpi buruk yang kamu alami, anggap saya sebagai teman dekat kamu, bukan sebagai Dokter, saya akan berusaha dengan perlahan untuk memahami kamu jadi saya harap kamu bisa terbuka sama saya," jelas Dokter Mela.


"Dimas, aku nggak ngerti kenapa kamu bawa aku ke sini" ucap Dini berbisik.


Dimas hanya tersenyum dengan menggengam tangan Dini di bawah meja.


"Apa kita bisa pesan makan sekarang?" tanya Dokter Aziz berusaha mencairkan suasana yang tampak tegang.


Sebelumnya, Dimas sudah menjelaskan pada Dokter Aziz dan Dokter Mela jika Dini sangat tertutup pada orang orang baru di sekitarnya, Dini bahkan sulit beradaptasi dengan lingkungan barunya, oleh karena itu Dimas memohon pengertian Dokter Aziz dan Dokter Mela jika kemungkinan besar Dini tidak akan banyak bicara dan cenderung diam atau menutup diri.


Tak lama kemudian, pesanan mereka datang. Dimas sengaja memesan minuman coklat dan dessert coklat untuk Dini. Dokter Mela bilang jika coklat sangat bagus untuk merangsang hormon endorfin dalam tubuh, hormon yang dapat memberikan rasa bahagia.


Mereka kemudian menikmati hidangan di meja dengan percakapan santai yang sesekali terlontar. Namun seperti biasa, Dini lebih banyak diam dan sesekali tersenyum menanggapi Dimas.


"Minggu depan kita ketemu lagi ya, saya harap saya bisa membicarakan banyak hal sama kamu Din, berdua," ucap Dokter Mela.


"Iya Dok," balas Dini.


"Kalau gitu saya sama Dokter Mela permisi ya Dim, Din!" ucap Dokter Aziz pada Dimas dan Dini.


"Iya Dok, terima kasih udah luangin waktu buat Dimas sama Dini," balas Dimas.


"Sama sama Dimas, kamu bisa hubungin saya sewaktu waktu kalau ada yang kamu tanyain," balas Dokter Mela.


"Terima kasih Dok."


Dokter Aziz dan Dokter Mela pun meninggalkan kafe. Tinggal Dini dan Dimas dalam ruangan VIP itu.


"Kenapa kamu kenalin aku sama Dokter Mela? apa yang udah kamu ceritain sama Dokter Mela? apa semua masalah pribadi aku kamu ceritain sama dia? apa kamu pikir kamu punya hak buat ngelakuin itu?"


"Andini, aku......"


"Aku emang sayang sama kamu Dimas, aku cinta sama kamu sebesar cinta kamu buat aku, tapi itu nggak bisa jadi alasan buat kamu ngelakuin semua hal semau kamu, apa semua cerita ku itu kamu anggap lelucon? apa kamu ngerasa kamu berhak sepenuhnya atas diriku? apa kamu ngerasa kalau kamu bisa ngelakuin apa aja sesuka hati kamu?"


"Enggak Andini, dengerin penjelasan aku dulu, aku cuma...."


"Aku pergi, jangan kejar aku!" ucap Dini lalu berdiri dari duduknya, namun Dimas menahan tangannya ketika ia hendak membuka pintu.


Dimas menarik tangan Dini dan memeluknya, namun Dini segera mendorong tubuh Dimas dan berlari.


Dimas mengajar Dini sampai di depan kafe.


"Aku anter kamu pulang," ucap Dimas dengan menarik tangan Dini, namun Dini menarik tangannya dan berjalan berlawanan dengan arah tempat parkir.


Dimas kembali menarik tangan Dini dan kali ini ia menggenggamnya dengan kuat.


"Aku anter kamu pulang Andini!" ucap Dimas penuh penekanan.


Ia lalu menarik paksa tangan Dini dan mendorongnya masuk ke mobil. Dini hanya diam, pergelangan tangannya terasa perih karena genggaman Dimas yang kuat. Ia tau Dimas sedang menahan emosinya saat itu, jadi ia hanya akan diam dan tidak ingin memperkeruh keadaan.


Dimas lalu melajukan mobilnya ke arah tempat kos Dini. Sesampainya di sana, ia tak segera turun, ia sengaja mengunci pintu mobilnya agar Dini tak turun.


"Aku minta maaf, aku ngelakuin ini demi kamu, buat kebaikan kamu, aku mohon jangan persulit keadaan ini sayang," ucap Dimas dengan menggenggam tangan Dini.


"Maaf kalau aku cuma mempersulit hidup kamu," balas Dini dengan menahan air matanya.


"Enggak, bukan itu maksud ku, aku cuma....."


"Buka pintunya, aku mau keluar," ucap Dini memotong ucapan Dimas.


Apa yang sudah Dimas lakukan sudah membuatnya kecewa. Dimas menceritakan masalah pribadi Dini pada orang lain dan itu membuat Dini kecewa.


Tiba tiba Nico, Andi dan Aletta datang. Mereka melihat mobil Dimas dan samar samar melihat Dimas dan Dini masih berada di dalam.


Nico segera mendekat dan mengetuk kaca pintu mobil Dimas.


"Haayoooo, ngapain siang bolong gini!" ucap Nico yang sengaja mengganggu.


Kedatangan Nico membuat Dimas membiarkan Dini keluar sebelum ia sempat menjelaskan apapun.

__ADS_1


Dini lalu keluar dari mobil Dimas dan berlari naik ke kamarnya. Andi yang berada di sana melihat Dini berlari dengan menangis, ia ingin mengejarnya tapi ia urungkan.


Ia akan membiarkan Dimas menyelesaikan sendiri masalahnya dengan Dini.


__ADS_2