
Waktu berlalu bersama terbit dan tenggelamnya sang mentari. Rasa dalam hati yang tak bisa diraba masih menyimpan jutaan misteri tentang akhir dari segalanya. Bagai hamparan kerlip bintang di malam hari, tak ada yang bisa menerka kepastian akan apa yang ada di dalam hati.
Di rumah Dimas, Dini sedang mengemasi barang barangnya di kamar, begitu juga Dimas. Mereka sudah siap untuk kembali menggeluti dunia perkuliahan setelah cuti selama satu minggu lamanya.
Setelah mereka selesai bersiap, mereka segera turun untuk sarapan bersama mama dan papa Dimas untuk yang terakhir kalinya sebelum mereka kembali tinggal di tempat mereka masing masing.
"Kamu yakin nggak mau tinggal di apartemen sayang?" tanya mama Dimas pada Dini.
"Yakin ma, di tempat kos Dini aman kok, banyak temen temen yang baik juga, kita udah kayak keluarga di sana," jawab Dini yang masih kekeh dengan pendiriannya, karena beberapa hari kemarin mama Dimas selalu memintanya untuk tinggal di apartemen agar lebih dekat dengan Dimas.
"Kalau ada apa apa jangan sungkan buat hubungin papa atau mama Din, termasuk kalau Dimas nakal haha...." sahut papa Dimas yang hanya dibalas anggukan kepala dan senyum manis Dini.
Sebelum Dini dan Dimas pergi, mereka semua saling berpelukan.
"Makasih ma, pa, Dini udah diterima dengan baik di sini," ucap Dini sebelum ia masuk ke dalam mobil.
"Kamu udah kami anggap sebagai bagian dari keluarga kami Din, jadi jangan pernah sungkan buat minta tolong atau sekedar cerita sama mama atau papa," balas papa Dimas.
Dimas dan Dini lalu masuk ke mobil dan meninggalkan rumah Dimas. Mereka segera menuju ke tempat kos Dini.
"Nggak sabar buat balik ke kampus lagi, dari kemarin Cika nggak berhenti hubungin aku," ucap Dini yang tampak bersemangat.
"Kamu harus bisa jaga diri baik baik sayang, selalu hubungin aku atau Andi kalau ada apa apa, jangan pernah keluar sendirian, kamu bisa ajak Andi kalau aku nggak bisa, kamu juga bisa hubungin papa biar ada yang anterin kamu kemana mana kalau aku sama Andi lagi sibuk, pokoknya kamu......"
"Ssssttttt..... iya Mr bawel, aku ngerti," ucap Dini sengaja memotong kebawelan laki laki yang dicintainya itu.
"Bentar lagi kita bakalan lebih sibuk buat siapin skripsi sayang, aku sama Andi juga pasti sibuk, aku cuma nggak mau kalau sampe kejadian kemarin terulang lagi, aku....."
"Kamu bisa percaya sama aku, aku akan selalu baik baik aja!" ucap Dini dengan menggenggam tangan Dimas.
Kekhawatiran di raut wajah Dimas menunjukkan bahwa yang dia ucapkan bukan hanya sekedar "kebawelannya" saja, tapi itu karena dia benar benar khawatir akan keselamatan gadis yang berada dalam genggamannya itu.
Setelah mereka sampai di depan kos, Dini segera turun dari mobil dan berlari menghampiri Andi yang baru saja keluar dari dapur. Sedangkan Dimas mengambil barang barang Dini dan membawanya ke teras.
Andi yang melihat Dini segera berjalan ke arah Dini, mereka saling bertemu, menatap dengan kerinduan yang memenuhi ruang hati mereka. Tanpa ada aba aba, mereka saling memeluk. Dini memeluk Andi dengan erat, begitu juga Andi memeluk sahabat yang dicintainya itu dengan begitu erat.
Jeritan rindu yang lama tertahan kini telah terlampiaskan. Entah kerinduan seperti apa yang mereka rasakan sebagai sahabat, hanya mereka sendiri yang tau.
"Aku kangen banget sama kamu!" ucap Dini tanpa melepaskan dirinya dari pelukan Andi.
"Aku lebih kangen lagi sama kamu," balas Andi dengan mengangkat tubuh Dini dan berputar beberapa saat.
Dunia seperti hanya milik mereka berdua saat itu, rindu yang lama mereka simpan membuat pertemuan itu menjadi hal yang begitu membahagiakan bagi sepasang sahabat yang satu minggu tidak berjumpa.
Dimas yang melihat hal itu hanya tersenyum kecil. Ia tau Andi dan Dini tak pernah berpisah sejak mereka kecil. Ia berusaha memahami situasi saat itu.
Tapi tidak dengan gadis yang berdiri di balkon lantai dua. Matanya menatap adegan di bawah dengan pandangan sendu. Ada kebahagiaan yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Tapi yang ia rasakan hanyalah getaran rasa yang menyakitkan hatinya dan mematahkan harapannya.
Sejak Andi kembali ke kos beberapa hari yang lalu, ia sudah tak pernah menemui Andi lagi. Ia selalu berusaha untuk menjauhi Andi dengan bantuan Nico. Sedangkan Andi selalu berusaha untuk menemui Aletta, mulai dari bangun lebih awal, menghampiri Aletta ke fakultas Sastra, ke kamarnya bahkan mencarinya ke komunitas komunitas yang diikuti Aletta. Namun semuanya tak membuahkan hasil, Aletta selalu berhasil menghindari Andi.
Kini hubungan Andi dan Aletta seperti ada dan tiada. Hubungan mereka seperti angin, hanya dapat dirasakan namun tak bisa terlihat.
Dimas membawa pandangannya ke arah balkon lantai dua. Ia melihat dengan jelas pandangan menyedihkan dari gadis yang berdiri di atas sana. Dimas lalu duduk di teras dengan beberapa barang Dini yang sudah ia ambil dari bagasi mobilnya.
"Hai Dim, apa kabar?" sapa Nico yang kemudian duduk di sebelah Dimas.
"Baik Nic," jawab Dimas.
"Maksud gue hati lo, apa kabar? nggak panas? hahaha...."
"Udah bisa adaptasi jadi nggak panas hahaha...."
Setelah puas meluruhkan rindu yang mengikat kuat dalam hati, Andi dan Dini lalu berjalan ke arah Dimas dan Nico. Raut wajah bahagia tak bisa mereka sembunyikan lagi. Mereka sudah seperti sepasang kekasih yang telah lama berpisah dan baru berjumpa.
"Bahagia banget sih lo!" ucap Nico dengan menyenggol lengan Andi yang duduk di sebelahnya.
"Bahagia lah, udah seminggu gue nggak ketemu Dini, iya kan Din?"
__ADS_1
"Betul," jawab Dini dengan menganggukkan kepalanya.
"Gimana keadaan kalian, udah baikan kan?" tanya Andi pada Dini dan Dimas.
"Baik, besok udah mulai kuliah," jawab Dimas.
"Besok aku berangkat sama Andi nggak papa ya?" tanya Dini pada Dimas.
"gila nih cewek, terang terangan banget, ajaib sih kalau Dimas ngebolehin," batin Nico dalam hati.
"Besok aku kesini, nitip mobil, kita berangkatnya jalan bareng, gimana?" balas Dimas.
"Oke, kalau gitu jangan telat ya!"
"Iya sayang," balas Dimas.
Dimas lalu berpamitan pulang ke apartemennya. Tak lupa ia memeluk dan mencium kening Dini sebelum ia masuk ke dalam mobil, membuat Nico dan Andi seketika mengalihkan pandangan mereka.
"Panas Ndi?" tanya Nico yang sengaja menggoda Andi.
"Enggak, udah biasa," jawab Andi.
Setelah Dimas pergi, Andi membantu Dini untuk membawa barang barang Dini masuk ke kamarnya. Mereka tak berhenti bercanda dan tertawa, membuat Aletta hanya bisa menahan perih di hatinya ketika ia mendengarnya dari dalam kamarnya.
"Taruh sini aja dulu," ucap Dini dengan menunjuk sudut kamarnya.
Dini lalu merebahkan badannya di ranjang yang sudah satu minggu tidak ia tempati.
"Akhirnya aku balik lagi ke sini," ucap Dini sambil berguling guling di ranjangnya.
"Cika tiap ketemu aku nanyain kamu terus Din!" ucap Andi sambil merebahkan badannya di samping Dini.
"Aku juga kangen sama dia, aku kangen duniaku yang biasanya dan yang pasti aku kangen banget sama kamu!"
"Kamu baik baik aja kan selama di rumah Dimas? mereka perlakuin kamu dengan baik kan?"
"Mamanya Dimas gimana?"
"Mereka semua baik banget Ndi, kamu nggak perlu khawatir, kamu gimana sama Aletta?"
"Aku sama Aletta? kita..... kita baik baik aja," jawab Andi berbohong. Ia sadar hubungannya dengan Aletta tidak sedang baik baik saja saat itu.
"Kamu ajakin Aletta ke bukit nggak?"
"Enggak lah, tempat itu cuma buat aku sama kamu," jawab Andi.
"Aletta berapa lama di rumah kamu? ibu sama ayah kamu kapan pulangnya? kalian nggak berduaan aja kan di rumah?"
"Satu satu aja dong Din kasih pertanyaannya, aku kan bingung jawabnya!" protes Andi.
"Hehehe, jawab aja!"
"Ibu sama ayah cuma sehari kok di rumah saudara, aku juga cuma beberapa hari di rumah, jadi aku lebih banyak ngabisin waktu di sini, luka ku kan nggak separah kamu sama Dimas Din dan yang paling penting, aku nggak berduaan sama Aletta di rumah!"
"Ibu sama ayah kamu apa kabar Ndi?"
"Mereka baik baik aja, ibu kangen sama kamu, ibu mau kita pulang bareng kalau ada waktu!"
"Aku juga kangen sama ayah ibu kamu, mereka udah kayak orangtuaku sendiri, aku juga kangen sama ibu," ucap Dini yang mulai sedih ketika mengingat ibunya.
Andi lalu duduk dan menarik tangan Dini agar ikut duduk.
"Ibu kamu pasti baik baik aja di sana, kamu harus yakin itu!" ucap Andi dengan menggenggam tangan Dini.
Dini lalu melepaskan tangannya dari Andi dan memeluk Andi. Ia menangis dalam pelukan Andi, ia merindukan ibunya.
"Mau aku temenin ke tempat ibu kamu?" tanya Andi yang masih memeluk Dini.
__ADS_1
"Ibu nggak mau ketemu aku sebelum aku wisuda Ndi, kamu kan tau itu!"
Ya, Dini dan ibunya sudah membuat kesepakatan jika mereka akan bertemu ketika Dini wisuda, sebelum itu ibu Dini meminta Dini agar fokus kuliah dan tidak terlalu memikirkan hal lainnya.
"Kalau gitu kamu harus lebih semangat dong, nggak lama lagi kita akan wisuda Din," ucap Andi memberi semangat.
**
Hari berganti, Dini dengan penuh semangat keluar dari kamarnya dan segera turun ke lantai satu. Sudah ada Andi, Dimas dan Nico di sana.
"Pagi sayang," sapa Dimas dengan menarik pinggang Dini dan mencium keningnya.
"Pagi juga," balas Dini dengan senyum manisnya.
Mereka lalu berangkat bersama dengan berjalan kaki. Dini dan Dimas berada di belakang, sedangkan Andi dan Nico berada di depan.
"Aletta mana?" tanya Dimas pada Dini.
"Oh iya, aku belum ketemu Aletta dari kemarin, aku tanyain Andi ya!"
Dimas mengangguk, ia menyesal dengan basa basi yang dilontarkannya. Dini lalu berjalan menghampiri Andi, membiarkan Dimas di belakang seorang diri.
Karena trotoar yang tidak terlalu lebar, Nico memilih untuk mundur ketika Dini menghampiri Andi. Alhasil, Dini dan Andi berjalan di depan, sedangkan Nico dan Dimas di belakang.
"Aletta udah berangkat?" tanya Dini pada Andi.
"Akhir akhir ini dia banyak kegiatan di kampus, jadi berangkat lebih pagi," jawab Andi.
Sebenarnya pagi itu Andi tidak menghampiri kamar Aletta. Sebelum Dini datang, Andi selalu menghampiri kamar Aletta sebelum ia berangkat ke kampus, meskipun ia tau jika Aletta sudah berangkat terlebih dahulu, ia selalu memastikannya.
Andi bahkan sering ke kamar Aletta dengan harapan mereka bisa bertemu dan menyelesaikan masalah yang sedang mereka hadapi, masalah yang Andi sebenarnya tidak mengerti asal muasalnya.
Andi dan Dini lalu membicarakan banyak hal, mereka tampak begitu seru saat mengobrol. Dimas dan Nico yang berada di belakang hanya bisa meperhatikan kedekatan Andi dan Dini.
"Lo oke Dim?" tanya Nico pada Dimas yang hanya dibalas anggukan kepala Dimas.
"Wajar kok kalau lo cemburu, mereka emang udah kyak orang pacaran!"
Lagi lagi Dimas hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Nico. Dimas benar benar tidak bersemangat hari itu. Ya, ia sedang cemburu, lebih tepatnya menahan cemburu. Ia menekan kuat kuat rasa cemburu dalam hatinya.
Tak lama kemudian mereka sampai di kampus, Andi tak sengaja melihat Aletta bersama teman temannya di dekat gerbang kampus, namun mereka hanya saling diam. Baik Andi maupun Aletta tidak saling menyapa, mereka malah mengalihkan pandangan mereka.
"aku akan coba mengerti kamu Ta, mungkin kamu butuh waktu buat sendiri, mungkin kamu emang nggak mau ketemu sama aku, aku akan nunggu, aku tunggu sampai kamu mau ketemu dan ngomong sama aku," ucap Andi dalam hati.
"sejak Dini dateng kamu nggak pernah lagi cari aku, tanpa kamu tau aku selalu nunggu kamu cari aku Ndi walaupun aku emang mau menghindar dari kamu, liat kamu yang beberapa hari kemarin cariin aku kemana mana bikin aku bahagia karena ternyata kamu emang masih peduli sama aku, tapi sekarang kayaknya semua udah beda, apa kamu udah nyaman dengan jarak di antara kita?" batin Aletta dalam hati.
"Eh, lo percaya nggak sih kalau Dini sama Andi itu cuma temen?" tanya salah seorang teman Aletta pada temannya yang lain.
"Mana ada sih persahabatan antara cewek dan cowok, pasti salah satu diantara mereka ada yang suka!" jawab teman yang lain.
"Tapi Dini kan udah sama Dimas!"
"Dimas yang anaknya pak Tama itu? serius?"
"Iya, masak lo nggak tau sih, kudet banget deh!"
"Gila, beruntung banget Dini, pacaran sama Dimas, anak orang paling kaya di sini, bisnisnya di mana mana, ganteng, pinter, baik banget lagi, paket komplit Dimas ini!"
"Kalau gue sih lebih pilih Andi, udah pinter, anaknya sederhana nggak aneh aneh, cool, tapi sekalinya senyum langsung bikin meleleh hati gue tau nggak!"
"Mereka emang dua cowok yang nyaris perfect dan dua duanya deket sama Dini, apa Dini pake dukun ya hahaha....."
"Ada ada aja kalian ini, mana ada kayak gituan sekarang!" sahut Aletta.
"Ada loh Al, masak iya dua cowok paling populer bisa luluh dua duanya sama Dini!"
"Andi sama Dini itu sahabat dari kecil, itu kenapa mereka keliatan deket banget dan Dimas itu pacarnya Dini dari SMA, Dimas setia banget loh sama Dini, jadi kalian jangan coba coba cari masalah ya!" balas Aletta.
__ADS_1
Aletta sengaja mengucapkan hal itu karena ia tidak ingin ada orang lain yang berbicara buruk tentang Dini.