
Malam telah membentang, gelap menyelimuti langit yang tampak menghitam. Sebelum menemui Anita, Ivan merencanakan sesuatu untuk memberikan ucapan "selamat datang" pada Dimas, karena ia yakin jika Dimas sudah mengetahui perbuatannya.
Ia akan melakukan sesuatu yang membuat Dimas berpikir lebih kritis lagi sebelum Dimas melakukan hal yang mengancam dirinya.
"anggap ini peringatan dari gue Dim, gue bisa dengan mudah hancurin orang orang disekitar lo!" batin Ivan dalam hati.
**
Di tempat lain.
Dimas mengendarai mobilnya ke arah tempat kos Dini. Ia ingin menjelaskan semua yang ia tau pada Dini agar tidak terjadi kesalahpahaman lagi jika sewaktu waktu dirinya terlalu sibuk dan tak bisa menyempatkan waktunya untuk Dini.
Sesampainya di sana, Dimas segera turun dari mobilnya. Ia lalu naik ke lantai dua dan melangkah ke arah kamar Dini. Dimas mengetuk pintu kamar Dini beberapa kali namun tak ada jawaban. Ia coba menghubungi Dini juga tak ada jawaban.
"Cari Dini ya?" tanya teman Dini yang kamarnya bersebelahan dengan Dini.
"Iya, dia keluar ya?"
"Iya, dia buru buru tadi!"
"Oh oke, thanks ya!" ucap Dimas yang dibalas anggukan kepala oleh teman Dini.
Dimas lalu turun dari lantai dua untuk menemui Andi. Ia mengetuk beberapa kali pintu kamar Andi namun tak ada jawaban juga.
"Andi nggak ada!" ucap Nico yang baru saja keluar dari kamarnya yang berada di sebelah kamar Andi.
Dimas lalu mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Andi namun tak ada jawaban.
"Andi sama Aletta tadi, jarang bawa HP emang mereka!"
"Sama Andini juga?" tanya Dimas.
"Enggak, Dini keluar udah dari 2 jam yang lalu kayaknya, emang belum balik?"
Dimas hanya menggeleng. Tiba tiba ia mengkhawatirkan Dini. Ia tau Dini bukanlah anak kecil, ia bahkan seorang mahasiswa sekarang, ia pasti bisa menjaga dirinya dengan baik. Namun entah kenapa Dimas merasa gelisah memikirkan keberadaan Dini.
"kenapa perasaanku jadi nggak enak gini sih?" tanya Dimas dalam hati.
"Lo tau Andi sama Aletta kemana Nic?" tanya Dimas.
"Aletta bilang sih ke mini market, bentar lagi juga balik!"
"Thanks Nic, gue cari mereka dulu!" balas Dimas lalu pergi meninggalkan Nico.
Dimas berjalan ke arah mini market yang biasa didatangi Dini, mini market terdekat yang akan lebih dekat jika berjalan melewati gang sempit yang menyeramkan.
Dimas memilih melewati jalan itu agar lebih cepat sampai. Jika tidak ada yang tau kemana Dini pergi, ia yakin Andi pasti tau. Itu sebabnya ia harus cepat bertemu Andi.
Ketika ia berjalan, dari jauh ia melihat seorang gadis yang tampak duduk berjongkok di samping bangunan tua. Temaram lampu di sana membuat suasana menjadi horor.
"itu cewek beneran kan? duuhh, jadi merinding," batin Dimas dalam hati.
Dimas berjalan dengan sangat pelan dan tanpa suara. Ia harus memastikan dulu jika kaki gadis itu menapak di tanah atau tidak. Setelah lebih dekat Dimas sedikit lega karena gadis yang dilihatnya memanglah seorang gadis sungguhan. Gadis itu berjongkok dan menundukkan kepalanya, wajahnya tertutup oleh rambut panjangnya yang tergerai.
Dimas berjalan tanpa mengalihkan pandangannya dari sosok perempuan itu. Hingga akhirnya ia menyadari siapa perempuan di hadapannya itu.
"Andini, kamu ngapain di sini?" tanya Dimas dengan mengangkat badan Dini namun Dini seolah telah kehilangan tenaganya.
Dini mengerjap, ia melihat laki laki tampan di hadapannya dan tersenyum manis.
"Ganteng banget sih," ucap Dini dengan meraba wajah Dimas.
"Andini, kamu kenapa sayang?"
"Andini? mana Andini?" tanya Dini dengan menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Andini kamu mabuk?" tanya Dimas yang mulai memahami situasi saat itu. Ia sedikit mencium bau alkohol dari mulut Dini.
"Kamu mau nggak nikah sama aku? ayo nikah, kita bikin pesta mewah, jangan lupa undang pak presiden Amerika juga ya!" ucap Dini yang mulai melantur karena pengaruh alkohol.
"Siapa yang ngelakuin ini sama kamu sayang?" tanya Dimas dengan masih berusaha menopang tubuh Dini yang tampak akan ambruk.
"aaarrgghhh pertanyaan bodoh!" batin Dimas merutuki dirinya sendiri.
"Kita pulang sekarang ya!" ajak Dimas dengan membantu Dini berjalan.
"Enggak, nggak mau!" balas Dini lalu melepaskan dirinya dari Dimas dan langsung jatuh tersungkur.
"Sayang, kamu nggak papa?" tanya Dimas dengan membantu Dini berdiri.
"Lepas atau aku teriak!" ucap Dini dengan merangkak mundur menjauhi Dimas.
"Sayang, kita pulang sekarang ya," ucap Dimas dengan mendekati Dini perlahan lahan.
"Kamu ganteng tapi mesum, kamu mirip Dimas hehe...."
Dimas hanya terkekeh mendengar ucapan Dini. Ia lalu menarik tangan Dini, membantunya untuk berdiri.
"Aku Dimas sayang, aku cowok kamu yang paling tampan di dunia ini," ucap Dimas pada Dini.
"Apa iya?" tanya Dini dengan meraba wajah Dimas lagi lalu menggeleng.
__ADS_1
"Masih lebih ganteng Dimasku, kamu pasti doppelganger ya?"
"Doppelganger? hahaha.... terserah kamu aja sayang!"
"Aku harus teriak minta tolong, aku diculik doppelganger," ucap Dini dengan berbisik.
"Pelan pelan aja ya teriaknya," balas Dimas dan dibalas anggukan kepala oleh Dini.
"Toolooong.... tooloooong...." ucap Dini dengan berbisik di telinga Dimas, membuat Dimas hanya bisa terkekeh melihat sikap gadisnya itu.
"Kamu minum berapa banyak sih sampe' mabuk gini? padahal bau alkoholnya tipis banget!"
"Tooloooong.... tooloooong...." ucap Dini dengan masih berbisik sangat pelan.
Ia benar benar sudah tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya lagi. Sedikit saja Dimas melonggarkan pegangannya, Dini pasti sudah terjatuh.
"STOP!" teriak Dini tiba tiba yang membuat Dimas terkejut.
"Ada apa sayang?" tanya Dimas dengan menghentikan langkahnya.
Dini lalu melepaskan dirinya dari Dimas dan jatuh terduduk. Ia tiba tiba menangis dengan menutup matanya menggunakan kedua tangannya.
"Andini, kamu kenapa?"
Dini tak menjawab, ia malah semakin terisak.
"Sayang, kita pulang dulu ya!" ajak Dimas dengan menarik tangan Dini namun Dini melepasnya dengan paksa.
"Aku capek, sampe' kapan aku harus jalani hubungan kita kayak gini, kamu pilih aku tapi kamu masih sama dia, apa aku boleh minta kamu buat jadi milikku seutuhnya? apa aku boleh egois sedikit aja? aku sedih Dimas, aku nggak bisa baik baik aja waktu kamu pergi buat cewek lain, aku sakit tapi aku bisa apa?"
Dimas hanya diam, ia menggenggam kedua tangan gadis yang dicintainya itu. Ia benar benar merasa bersalah karena menempatkan Dini di posisi yang menyakitkan baginya.
"Andai Dimas tau kalau aku nggak mau dia pergi, andai Dimas bisa ngerti gimana perasaan ku, gimana sakitnya aku waktu dia pergi buat cewek lain, apa dia bisa tetep sama aku? apa dia bisa nolak cewek itu? aku cinta sama Dimas, tapi kenapa cinta ini bikin hatiku sakit, kenapa?" tanya Dini dengan terisak, membuat Dimas semakin merasa bersalah.
"Maafin aku sayang," ucap Dimas lalu membantu Dini untuk berdiri.
"Kamu mirip Dimas, apa kamu juga jahat kayak dia?" tanya Dini dengan polosnya.
Dimas hanya tersenyum dan membawa Dini kembali ke kosnya. Tepat saat di depan kosnya, Dini merasa perutnya sangat mual.
"Sayang, kamu kenapa?"
Dini hanya menggeleng. Ia lalu mendorong tubuh Dimas dengan kuat dan memuntahkan semua isi perutnya. Dimas lalu kembali membantu Dini untuk berjalan.
"Dini kenapa Dim?" tanya Nico.
"Gue juga nggak tau," jawab Dimas.
"Gemesin banget sih, kayak beruang, perutnya gede hehe...." ucap Dini dengan mengusap perut buncit Nico.
"Din, lo mabuk?" tanya Nico dengan berusaha menjauhkan dirinya dari Dini.
"Beruangnya ngomong," ucap Dini lalu ditarik oleh Dimas dan dibawa ke arah kamarnya.
"Nic tolong bawain sendal Dini ya!" pinta Dimas pada Nico yang hanya berdiri di tempatnya karena terkejut melihat keadaan Dini.
"Eh oke oke!" balas Nico lalu mengikuti Dimas naik ke lantai dua.
Dimas lalu mendudukkan Dini di lantai, ia mencari kunci kamar Dini di kantong celana yang dipakai Dini.
"Perutku......" ucap Dini sebelum ia memuntahkan isi perutnya tepat mengenai pakaian Dimas.
Dimas hanya menghembuskan napasnya pelan lalu melepaskan kemejanya. Setelah ia menemukan kunci kamar Dini, ia pun segera membukanya. Ketika akan membantu Dini berdiri, Dini sudah kehilangan kesadarannya, ia pingsan. Dimas lalu membopong Dini masuk ke kamarnya. Membersihkan wajah dan kaki Dini lalu menyelimutinya.
"Dini kenapa bisa jadi gini sih?" tanya Nico sambil meletakkan sendal milik Dini.
"Gue juga nggak tau Nic, gue liat dia udah kayak gini di gang sempit sebelah!"
Tak lama kemudian terdengar suara Andi dan Aletta di bawah. Dimas lalu meminta Nico untuk meminjamkan baju Andi untuknya.
"Tolong pinjemin bajunya Andi buat gue ya Nic, gue nggak bisa ninggalin Andini dalam keadaan kayak gini!" ucap Dimas pada Nico.
"Oke Dim!" balas Nico lalu turun ke lantai satu untuk menemui Andi. Sedangkan Dimas masih menemani Dini di kamarnya.
Di lantai satu, Andi yang melihat mobil Dimas sudah mengira jika Dimas sedang berada di kamar Dini.
"Lo dari mana Nic?" tanya Andi yang melihat Nico turun dari lantai dua, pasalnya Nico sangat jarang naik ke lantai dua yang hanya di tempati oleh para perempuan.
"Dari kamarnya Dini, Dimas pinjem baju lo tuh, anterin ke kamarnya Dini ya!"
"Pinjem baju gue? buat apa?"
"Udah sana buruan!"
Andi lalu masuk ke kamarnya dan membawa keluar sebuah baju berlengan pendek.
"Lo di sini aja sama gue Al!" ucap Nico pada Aletta yang tampak akan mengikuti Andi menemui Dimas.
"Oke!" balas Aletta.
Andi lalu naik ke lantai dua dan berjalan ke kamar Dini. Di depan kamar Dini ia melihat sebuah kemeja yang tergeletak di lantai.
__ADS_1
"Punya lo Dim?" tanya Andi dengan menunjuk kemeja itu.
"Buang aja, kotor!"
"Kotor di cuci lah Dim, masak dibuang!"
"Cuci aja kalau mau!"
"Kurang kerjaan banget gue nyuci kemeja lo!"
"Makanya buang aja nggak usah bawel!"
"Gue kesini karena gue pikir lo butuh bantuan gue, tapi kayaknya enggak ya!" balas Andi lalu melangkah pergi.
"Iya iya sorry, gue pinjem baju lo Andi Putra Prayoga, boleh?"
Andi lalu kembali menghampiri Dimas, namun ia tidak masuk ke kamar Dini. Ia hanya berdiri di depan pintu yang setengah terbuka.
"Nih!" Andi melemparkan bajunya ke arah Dimas dan ditangkap dengan tepat oleh Dimas.
Dimas lalu membuka bajunya yang kotor karena muntahan Dini.
"Eh lo mau ngapain?" tanya Andi yang melihat Dimas membuka bajunya.
"Lo kalau mau tau masuk!" balas Dimas.
"Lo jangan gila deh Dim, Dini mana?" tanya Andi yang sedari tadi tidak mendengar suara Dini.
"Gue bilang masuk kalau mau tau!"
"Gue nggak mau ganggu kalian!" ucap Andi lalu berlalu pergi. Ia percaya pada Dimas, Dimas tidak akan melakukan hal hal di luar batas pada Dini.
"Andini pingsan!" ucap Dimas yang langsung membuat Andi berbalik arah dan membuka pintu kamar Dini dengan cepat.
"Dia kenapa Dim? kenapa lo nggak bilang dari tadi? kenapa lo...."
"Ssssttttt.... jangan berisik!"
"Dia kenapa?" tanya Andi yang begitu khawatir dengan keadaan Dini.
"Dia mabuk," jawab Dimas.
"Mabuk? lo ngajak dia 'minum'? lo gila Dim?"
"Kenapa lo nyalahin gue sih, gue nggak tau apa apa Ndi, gue ketemu dia waktu dia udah mabuk, gue....."
"Gimana mungkin lo nggak tau kalau dia mabuk padahal lo lagi sama dia? kalau lo nggak bisa jagain dia mending lo pergi aja Dim, gue nyesel percayain dia sama lo!"
"Tunggu tunggu, lo bilang gue lagi sama Andini? sejak kapan? gue baru balik dari kafe langsung kesini tapi Andini udah nggak ada, lo juga nggak ada, makanya gue cari lo buat nanyain keberadaan Andini tapi gue malah nemuin Andini udah mabuk berat di gang sempit itu!" jelas Dimas yang membuat Andi bingung.
"Bukannya lo ngajak Dini ketemu?" tanya Andi pada Dimas.
"Enggak, gue nggak ngajak dia ketemu!"
"Dini bilang sama gue kalau lo ngajak dia ketemu di gang sempit itu, makanya dia kesana, gue sama Aletta pergi ke mini market sengaja nggak lewat situ karena gue pikir lo sama Dini lagi di situ!"
"Gue nggak pernah ngajak Andini ketemu di luar Ndi, kalaupun gue mau ketemu pasti gue ke sini!"
"Berarti........ ada yang jebak dia, lo punya masalah sama siapa Dim?"
"Maksud lo?"
"Nggak ada orang yang bakalan jebak Dini kecuali orang itu punya masalah sama lo dan ngancam lo lewat Dini!"
Dimas diam beberapa saat. Ia berusaha mencerna dengan baik kata kata Andi.
"Anita? Ivan?"
"Gue harus pergi Ndi, tolong jagain Andini sampe' dia bangun, jangan pernah tinggalin dia, oke?"
"Lo mau kemana Dim?"
"Gue tau siapa yang ngelakuin ini, jadi gue mohon jagain Andini di sini!" ucap Dimas lalu bergegas pergi meninggalkan Andi dan Dini. Ia melajukan mobilnya ke arah apartemen.
Sesampainya di apartemen Anita, ia memencet bel beberapa kali sampai akhirnya Anita membuaka pintunya.
"Dimas, ada apa?" tanya Anita setelah ia membuka pintunya.
Dimas lalu masuk dengan mendorong tubuh Anita.
"Sekarang jujur sama aku, ada hubungan apa antara kamu sama Ivan?" tanya Dimas pada Anita.
"Aku..... aku nggak ada hubungan apa apa sama dia, aku......."
"Masalah kamu sama aku Anita, jangan bawa bawa Andini dalam masalah kita!"
"Aku nggak punya masalah apa apa sama kamu Dimas, aku....."
PROOKK.... PROKKK.... PROKKKK
Suara tepuk tangan membuat Anita menghentikan ucapannya. Dimas dan Anita kompak menoleh ke arah sumber suara.
__ADS_1