
Dimas menutup matanya erat, berharap esok akan segera tiba. Ia ingin bertemu dengan Andi untuk menjelaskan semuanya, tentang cintanya pada Dini, tentang masalahnya dengan Anita, tentang perjanjian yang dengan terpaksa harus ia lakukan.
Toookk toookk toookk
Pintu kamarnya diketuk oleh seseorang.
"Dim, papa masuk ya!" ucap seorang laki laki dari luar pintu kamarnya.
"Iya pa," jawab Dimas dengan masih terbaring di tempat tidurnya.
Papa Dimaspun masuk, membawa sebuah map yang berisi semua yang diperlukan Dimas untuk daftar kuliah.
"Papa udah siapin semuanya," ucap papa Dimas sambil memberikan map itu pada Dimas.
Dimas menerimanya tanpa berkata apapun.
"Sepertinya kamu yang belum siap," lanjut papa Dimas.
Dimas bangkit dari posisi tidurnya dan duduk menghadap papanya.
"Makasih banyak pa udah bantuin Dimas," ucap Dimas pada papanya.
"Ini bukan apa apa Dim, kamu kenapa? ada masalah lagi?"
"Dimas udah inget semuanya pa, tapi Dimas masih nggak bisa dapetin apa yang seharusnya jadi milik Dimas," ucap Dimas lirih.
"Dini?"
Dimas mengangguk.
"Papa yakin dia juga masih sayang sama kamu, apa dia masih marah?"
Dimas menggeleng pelan.
"Jadi masalahnya?"
" Dimas udah ngelakuin kesalahan besar pa, besar banget sampe' Dimas nggak bisa lari dari masalah itu!"
"Masalah itu buat dihadapi Dim, bukan buat kamu hindari, hadapi dan jangan lari!"
"andai papa tau apa yang udah Dimas lakuin sama Anita, papa pasti kecewa banget sama Dimas, maafin Dimas karena udah kecewain papa, maaf karena nggak bisa jaga kepercayaan yang udah mama dan papa kasih buat Dimas," batin Dimas dalam hati.
"Dimas, kalau kamu ragu, ikuti kata hati kamu, biarkan hati kamu yang menuntun langkah kamu, walaupun logika dan hati sering bertentangan, tapi hati nggak pernah kasih jalan yang salah, meskipun jalan yang kamu lalui susah sekalipun kalau kamu melangkah bersama hati kamu, kamu akan menemukan akhir yang indah dalam semua kesulitan kamu," ucap papa Dimas.
Dimas mengangguk pelan.
"ikuti kata hati,"
"Ya udah papa keluar dulu, kamu jangan lupa belajar besok mau tes kan?"
"Iya pa!"
"Oh ya salam sama rektor kampus kamu, dia temen baik papa."
"Iya pa."
Dimas pun melangkah turun dari ranjangnya dan mulai membuka halaman demi halaman buku yang bertumpuk di meja belajarnya.
*********
Esok paginya, Dimas sudah bersiap siap untuk berangkat ke kampus setelah kemarin melakukan pendaftaran online. Meski mendapat bantuan dari papanya, ia tetap harus melaksanakan tes sebelum benar benar sah menjadi mahasiswa Universitas X.
"Mama udah siapin apartemen buat kamu tinggal di deket kampus kamu, biar kamu nggak kejauhan kalau harus pulang berangkat dari rumah setiap hari," ucap mama di sela sela sarapan pagi.
"Makasih ma," balas Dimas.
"Kalau kamu mau, mbak Sri bisa bantuin kamu bersih bersih di sana," lanjut mama.
"Nggak perlu ma, Dimas bisa sendiri," tolak Dimas.
"Kamu yakin?"
"Yakin, mama tenang aja," jawab Dimas meyakinkan.
"Kamu harus sering sering pulang ya sayang, mama pasti bakalan kangen banget sama kamu," ucap mama Dimas yang mulai terdengar sendu.
"Ma, Dimas kan kuliah di sana, masak disuruh sering sering pulang!" ucap papa Dimas pada istrinya.
"Mama kan nggak biasa jauh sama Dimas pa, lagian jarak dari sini ke sana cuma beberapa jam, mama bisa sering sering ke sana kalau Dimas nggak mau ke sini,"
"Mama ganggu kuliah Dimas itu namanya," ucap papa Dimas.
"Enggak lah, kamu nggak keberatan kan sayang kalau mama sering main ke apartemen kamu?"
"Sama sekali enggak, Dimas juga akan sempetin waktu buat pulang, mama nggak perlu khawatir," jawab Dimas menenangkan mamanya.
"Maaf, Sintia telat!" ucap Sintia yang berlari ke arah meja makan.
"Makanya jangan tidur malem malem," ucap Dimas dengan menjitak kepala Sintia.
__ADS_1
"Aduuuhh, Sintia sibuk belajar tau', kakak anterin Sintia ke sekolah ya kak!"
"Nggak bisa, kakak sibuk!"
"Ayo lah kak, home schooling nya kan libur hari ini!"
"Justru itu, kakak mau ke kampus buat tes!"
"Ke kampus X? kakak beneran kuliah di sana? itu kan jauh kak, kenapa nggak di deket sini aja sih, di sini kan juga banyak universitas negri yang bagus, kayak kampusnya kak Yoga tuh, bagus juga kan, Sintia....."
Haappp
Dimas sengaja memasukkan potongan telur dadar ke dalam mulut Sintia ketika Sintia masih memprotesnya, membuat Sintia segera menghentikan omelannya dan mengunyah telur dadar dalam mulutnya lalu memukul keras lengan Dimas.
"Udah, lanjutin sarapannya, jangan bercanda terus!" ucap mama Dimas.
"Siap tante," jawab Sintia.
"Emang mobil kamu kenapa sih?" tanya Dimas.
"Nggak papa sih, tapi nanti pulang sekolah Sintia mau keluar sama kak Yoga, kalau Sintia juga bawa mobil kan ribet," jelas Sintia.
"Kamu berangkat sama tante aja kalau gitu," ucap mama Dimas.
"Makasih tante," balas Sintia cepat.
"Cepet selesaiin makannya, keburu telat!"
*Di kampus X
Setelah menyelesaikan tesnya, Dimas berjalan pelan ke arah tempat parkir, saat itulah dia melihat Andi dan Nico. Ia segera berjalan cepat ke arah Andi.
"Gue mau ngomong sama lo," ucap Dimas pada Andi.
Andi menghentikan langkahnya, namun diam tak menjawab apapun.
Nico yang merasakan suasana tegang itu segera mengundurkan diri dari keduanya.
"Gue duluan ya, bye!" ucap Nico di susul anggukan kepala Dimas dan Andi.
"Gue ada kelas," ucap Andi dengan melangkahkan kakinya mengabaikan Dimas.
"Jam berapa?"
"Jam 9," jawab Andi singkat.
"Masih ada waktu satu jam, gue perlu ngomong sama lo, please kasih gue kesempatan," ucap Dimas memohon, persis seperti seorang pacar yang sedang memohon pada pacarnya.
"Gue minta maaf, buat semua kesalahan gue sama lo ataupun sama Dini, keadaan ini bener bener bikin gue terpojok Ndi, gue sayang sama Dini, tapi keadaan ini maksa gue buat nggak bisa ninggalin Anita, gue....."
"Kak Yoga udah cerita semuanya," ucap Andi memotong penjelasan Dimas.
"Thanks udah tolongin Dini dan sorry kalau gue masih emosi sama lo," lanjut Andi.
Dimas tersenyum tipis, ia sangat berharap hubungannya dengan Andi akan kembali baik baik saja.
Mereka berdua pun duduk di kursi lorong fakultas Seni.
"Keadaan Dini gimana Ndi? gue bisa tau dimana dia di rawat?"
"Dia di rumah sakit X, Dim, gue minta sama lo jangan kasih Dini harapan palsu, dia udah bahagia sama kehidupan barunya tanpa lo dan sekarang lo balik lagi dan kacauin semuanya!"
"Izinin gue mulai semuanya dari awal, gue nggak akan lanjutin hubungan yang udah rusak, gue akan mulai semuanya dari awal, please lo percaya sama gue!"
"Apa lo bener bener nggak bisa ninggalin Anita?"
Dimas menghembuskan napasnya pelan, lalu menjawab.
"Kalau gue bisa, gue udah ninggalin dia bahkan sebelum ingatan gue balik Ndi, gue......."
"Gue percaya sama lo!" ucap Andi sambil menepuk pundak Dimas.
"Thanks Ndi, gue janji akan lebih berusaha lagi buat bahagiain Dini, thanks Ndi!" ucap Dimas penuh semangat sambil memeluk Andi.
Andi menepuk nepuk pundak Dimas yang memeluknya, membuat beberapa temannya yang lewat memperhatikan dengan tatapan aneh.
"Ganteng ganteng belok," seloroh salah seorang temannya.
"Orang cakep sekarang doyannya laki, pantesan gue di tolak mulu," lanjut yang lain.
"Itu mah nasib lo aja hahaha," balas temannya yang lain.
Andi dan Dimas yang baru menyadari hal itu segera melepaskan diri dari pelukan dan menggeser duduknya dengan cepat lalu tertawa bersama.
"Gue masuk kelas dulu ya!" ucap Andi sebelum pergi meninggalkan Dimas.
"Oke!"
Andi pun pergi, melangkah menuju ke kelasnya, sedangkan Dimas segera ke tempat parkir untuk menyelesaikan pekerjaanya di kafe.
__ADS_1
"aku emang nggak bisa ninggalin kamu gitu aja Nit, tapi aku pasti bisa bikin kamu ninggalin aku, aku tau aku pengecut di mata kamu, tapi kamu juga harus tau kalau apapun yang udah kita lakuin itu di luar kesadaran aku, sekeras apapun kamu coba jauhin aku sama Dini, aku akan berjuang lebih keras lagi buat dapetin Dini,"
Sebelum pergi ke kafe, Dimas terlebih dahulu pergi ke rumah sakit X, tempat Dini di rawat. Ketika ia menanyakan ruangan Dini, ia tak mendapat jawaban apapun karena Nico memang sengaja menyembunyikannya.
Akhirnya Dimas kembali pada rencana awalnya, ke kafe. Ia harus menyelesaikan beberapa pekerjaannya sebelum ia fokus kuliah dan kembali menyerahkan kafe pada Yoga.
*Di depan sekolah, Sintia menunggu kedatangan Yoga. Tak lama kemudian mobil Yoga sampai, Sintia segera masuk dan mendaratkan satu kecupan kilat di pipi Yoga.
"Ucapan selamat siang," ucap Sintia dengan senyum manisnya.
Ketika Yoga hendak membalasnya, klakson mobil di belakang membuatnya harus mengurungkan niatnya itu.
"Kita mau kemana kak?"
"Kamu mau kemana?"
"Kakak maunya ngajak ke mana?"
"Kamu maunya diajak kemana?"
"Iiihhh, kak serius dong!"
"Hahaha, kamu mau kemana aja pasti kakak setuju kok,"
"kalau Sintia mau ke tempat mahal gimana? kak Yoga kan pengangguran sekarang," batin Sintia.
"Kamu mau kemana sayang?" tanya Yoga membuyarkan lamunan Sintia.
"Terserah kakak aja!"
Yoga melajukan mobilnya ke festival ice cream yang diadakan di tengah kota. Mereka bisa menikmati berbagai macam ice cream gratis di dalamnya, namun tentu saja untuk masuk ke sana membutuhkan tiket yang harganya bisa di bilang mahal.
"Kakak yakin mau ngajak Sintia ke sini?"
"Yakin dong, ayo!" Yoga melangkah dengan menggandeng tangan Sintia, namun Sintia masih membeku di tempatnya.
"apa kak Yoga nggak tau berapa harga tiket masuknya?"
Sintia merogoh tasnya untuk mencari dompet, sayangnya dompetnya tertinggal di kamar karena ia terburu buru tadi pagi.
"Kamu cari apa sih?"
"Eh, bukan apa apa, kita ke tempat lain aja ya kak!"
"Kenapa? kamu bisa bebas makan ice cream loh nanti di dalam, ada macam macam ice cream yang jarang kamu temui juga!"
"Mmmm, pasti tiket masuknya mahal kak," ucap Sintia pelan, takut menyinggung Yoga.
Yoga tersenyum tipis, ia tau maksud dari pertanyaan Sintia.
"Kalau kamu mau, kakak bisa beliin kamu tiket buat satu bulan penuh, mau?"
"Enggak, nggak gitu, Sintia....."
"Kamu mikirin apa sih sayang, nggak biasanya kamu kayak gini!"
Sintia menarik napasnya dalam dalam dan menghembuskannya pelan. Ia harus membicarakan hal itu pada Yoga, hal yang sempat mengganggu pikirannya beberapa hari ini. Ia tau jika Yoga selalu melakukan apapun untuk membahagiakannya, tapi ia tidak mungkin membiarkan Yoga menghabiskan sisa tabungannya hanya untuk itu, Sintia takut jika Yoga tidak bisa lulus tepat waktu karena kendala biaya, karena ia sangat tau bagaimana Yoga selalu menolak uang pemberian dari orangtuanya. Sintia harus bersikap dewasa, mengerti keadaan Yoga yang sedang susah saat itu, jadi ia tidak akan membiarkan Yoga menghabiskan banyak uangnya untuk hal hal yang tidak penting. Setidaknya itulah yang dipikirkan Sintia saat itu.
"Kak, kakak jangan tersinggung ya sama ucapan Sintia, janji ya?"
"Emang kamu mau ngomong apa?"
"Pokoknya janji dulu jangan marah, Sintia lagi belajar buat bersikap dewasa sekarang!"
"Hahaha, oke oke, kakak janji!"
"Mmmm, kak, Sintia nggak mau masuk ke festival itu karena harga tiketnya mahal dan Sintia lupa nggak bawa dompet, Sintia nggak mau kakak habisin uang tabungan kakak cuma buat bikin seneng Sintia, Sintia ngerti keadaan kakak sekarang gimana, Sintia nggak akan minta apa apa kok, kakak simpen aja tabungan kakak buat biaya kuliah kakak," ucap Sintia dengan hati hati.
"Kamu ini ngomong apa sih, kakak kan udah bilang, kalau kamu mau kakak bisa beliin kamu tiket masuk sampai satu bulan, uang kakak nggak akan habis cuma buat itu sayang, kakak......"
"Kak, Sintia tau kakak sekarang pengangguran kan? gara gara kak Dimas udah balik jadi kakak nggak kerja lagi di kafe, posisi kakak digantiin sama kak Dimas, iya kan? padahal kakak masih harus biayain kuliah kakak sendiri tapi sekarang malah jadi pengangguran!"
Yoga mengeratkan kedua bibirnya mendengar ucapan Sintia, ia menahan tawanya yang ingin meledak saat itu juga. Tapi melihat raut wajah Sintia yang tampak sedih, ia tak mungkin melepaskan tawanya begitu saja. Gadis kecil itu sangat mengkhawatirkannya, bahkan gadis manja itu memikirkan begitu jauh tentangnya, membuatnya semakin mencintai gadis kecil di hadapannya.
Yoga mendekat dan memeluk Sintia.
"Sayang, dengerin kakak baik baik, kakak emang udah nggak kerja lagi di kafe, tapi kakak masih punya penghasilan, sebenarnya ini rahasia, tapi karena kamu sebegitu khawatirnya sama kakak, kakak akan cerita sama kamu,"
"Cerita apa? kakak nggak jual narkoba kan? kakak nggak jadi penyelundup barang haram itu kan?" tanya Sintia dengan melepaskan dirinya dari pelukan Yoga.
"Mana mungkin kakak ngelakuin itu Sintia, kamu ini ada ada aja,"
Yoga memegang kedua pundak Sintia dan menatapnya dalam dalam.
"Kakak punya mini market yang udah ada di beberapa kota, nggak besar memang, tapi itu cukup buat biaya hidup kakak dan juga kamu nanti, selama ini kakak jalanin semuanya via online, kalau ada masalah yang berat baru kakak datang ke sana, jadi kamu jangan khawatir oke?"
"Kakak serius?"
"Kalau kamu nggak percaya, kakak ajak kamu ke mini market yang deket dari sini," ucap Yoga meyakinkan.
__ADS_1
"Sintia percaya sama kakak," ucap Sintia lalu memeluk Yoga dengan erat.
Penjelasan Yoga membuat kekhawatirannya lenyap.