Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Sendiri


__ADS_3

Langit mulai gelap, cahaya mentari telah tergantikan oleh sang bulan yang hadir bersama bintang bintang. Di bawah keindahan langit malam itu, cinta tengah bersanding pada pemiliknya. Menebarkan aroma kemesraan yang telah lama hilang tak tercium.


"Kenapa kamu beli dua?" tanya Dini yang melihat Dimas sedari tadi mengotak atik ponsel di tangannya.


"Satu buat aku, satu buat kamu!" jawab Dimas tanpa meninggalkan pandanganya dari ponsel baru yang ia pegang.


"Buat aku? HP ku kan masih bisa, kenapa harus ganti?"


"Andini sayang, HP kamu udah retak layarnya, udah sering lowbatt juga kan? jadi pake' ini aja, biar kita samaan," ucap Dimas sambil memberikan ponsel yang telah di setting nya pada Dini.


"Tapi ini masih bisa dipake' Dimas!"


"Anggap aja ini hadiah buat kamu, terserah kamu mau pake', mau buang atau apapun terserah kamu," balas Dimas.


Dini hanya menghembuskan napasnya pelan, lalu memasukkan ponsel baru itu ke dalam tasnya.


**


Di sisi lain, Andi dan Aletta masih membereskan barang barang Aletta. Mereka menata kembali barang barang Aletta ke tempat semula.


"Oh ya, kamu udah hubungin tante kamu kalau nggak jadi ikut?" tanya Andi pada Aletta.


"Ya ampun, lupa!"


Aletta segera mencari ponselnya dan menghubungi tante Rosa.


"Halo Al, kamu udah siap siap belum?"


"Mmmmm, maaf tante Aletta nggak jadi ikut."


"Kenapa Al? apa ada masalah?"


"Nggak ada tante, tapi Aletta mau tetep di sini aja, Aletta minta maaf tante," ucap Aletta yang merasa tidak enak hati.


"Nggak papa Al, tante juga nggak maksa kamu kok, tapi kamu harus janji ya kalau ada apa apa hubungin tante!"


"Iya tante, Aletta pasti hubungin tante!"


"Ya udah kalau gitu, kamu jaga diri baik baik ya!"


"Iya tante, sekali lagi Aletta minta maaf."


"Nggak papa sayang."


"Terima kasih tante."


Setelah menghubungi tante Rosa, Aletta menaruh ponselnya di meja belajar lalu merebahkan badannya di ranjang.


"Huuuffttt, selesai juga, makasih ya Ndi," ucap Aletta pada Andi.


Andi yang duduk di samping Aletta hanya mengangguk. Ia tidak tau apakah keputusannya untuk menahan Aletta itu adalah keputusan yang tepat tapi setidaknya ia tidak akan menyesal karena telah membiarkan Aletta pergi.


**


Di apartemen, Anita menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal. Ia merasa sedang tidak baik baik saja saat itu. Beberapa kali ia mencoba menghubungi Dimas namun tak pernah terhubung.


Biiippp Biiippp Biiippp


Ponselnya berdering, nada panggilan terdengar dari ponsel miliknya. Ia segera menggeser tanda hijau di layar ponselnya tanpa melihat si pemanggil.


"Dimas, kamu dimana? aku....."


"Dimas?"


Menyadari jika itu bukan Dimas, Anita segera melihat layar ponselnya. Ternyata itu adalah panggilan dari nomor yang tak dikenalnya.


"Halo, Anita, are you there?"


"Ini siapa?"


"Kamu nggak kenal sama suaraku? apa perlu kita video call biar kamu liat wajah tampanku?"


Klik. Sambungan terputus. Anita sengaja mematikan panggilan laki laki itu.


"Kenapa dia bisa tau kontak ku? Oh iya, pasti dari mamanya, dasar anak mama!"


Ponselnya kembali berdering, dengan cepat ia menggeser tanda merah setelah melihat nomor tak dikenalnya lagi yang menghubunginya.


Anita beranjak dari tidurnya, ia ingin mengambil minum, tapi tiba tiba badannya ambruk. Ia merasa sangat pusing, ia berusaha untuk tetap sadar. Ia meraih ponselnya yang berada di atas kasur, berusaha menghubungi Dimas lagi namun tetap tak bisa. Tak ada pilihan lain, dengan terpaksa ia menghubungi nomor tak dikenal tadi.


"Halo sayang, aku tau kamu pasti......."


"Ba.... bantuin... a.... aku.....," ucap Anita terbata bata. Keringat dingin sudah membasahi tubuhnya dari tadi. Badannya panas dan kepalanya berdenyut hebat membuatnya tak bisa lagi menahan kesadaran dirinya.


"Anita, kamu kenapa? ada apa?"


.............


Tak ada jawaban, hening, namun panggilan belum terputus.


"Anita ini nggak lucu, jawab aku Anita!"


.............


Tanpa pikir panjang, laki laki itu segera keluar dari kamarnya dan menanyakan pada mamanya tempat tinggal Anita. Dengan segera ia pergi ke sana. Ia meminta pihak keamanan untuk menemaninya menemui Anita, selain itu ia juga tidak bisa masuk ke dalam apartemen jika tidak dibantu dengan pihak apartemen. Ia menjelaskan kepada mereka jika sesuatu yang buruk sedang terjadi pada Anita dan ia hanya tinggal sendiri di sana.


Setelah beberapa kali memencet bel dan tak ada jawaban, ia semakin yakin jika Anita sedang tidak baik baik saja. Pihak keamanan dan pihak apartemen segera membuka pintu apartemen Anita. Mereka menemukan Anita yang sudah tergeletak pingsan di samping ranjangnya. Merekapun membawa Anita ke rumah sakit.


Setelah beberapa menit menunggu, Dokter akhirnya keluar dan menjelaskan jika Anita baik baik saja, ia hanya kelelahan dan hanya perlu minum obat, vitamin dan istirahat.


Laki laki itu lalu masuk dan duduk di samping ranjang Anita.

__ADS_1


"Ada yang sakit?" tanyanya pada Anita yang sudah siuman.


Anita menggeleng.


"Aku boleh pinjem HP kamu?" tanya Anita.


"Boleh, nih!" jawab laki laki itu sambil memberikan ponselnya pada Anita.


Anita lalu menghubungi Dokter Dewi, beruntung ia sudah hafal di luar kepala nomor Dokter Dewi.


"Halo mbak, ini Anita," ucap Anita setelah Dokter Dewi menerima panggilannya.


"Ada apa Nit? ini nomor kamu?"


"Bukan, Anita pinjem HP nya temen, Anita mau minta tolong kalau mbak Dewi nggak sibuk."


"Mbak lagi senggang kok, kamu mau minta tolong apa?"


"Tolong hubungi Dimas mbak, Anita di rumah sakit sekarang."


"Di rumah sakit? kamu kenapa? mbak ke sana sekarang!"


"Jangan mbak, Anita nggak papa kok cuma demam biasa, mbak Dewi hubungin Dimas aja biar Dimas ke sini!"


"Ya udah kalau gitu, mbak hubungin Dimas sekarang, kalau ada apa apa cepet hubungin mbak ya!"


"Iya mbak, makasih!"


Setelah selesai menghubungi Dokter Dewi, Anita mengembalikan ponsel lelaki di hadapannya itu.


"Makasih," ucap Anita.


"Kamu nggak mau tau nama ku?" tanya laki laki itu.


Anita menggeleng.


"Kamu pulang aja, bentar lagi tunanganku dateng!"


"Emang kenapa kalau aku di sini?"


"Aku nggak mau dia salah paham, kamu pulang aja sana!"


"Aku udah bantuin kamu loh Anita, kayak gini aja nih balasannya?"


"Kamu mau apa?"


"Aku mau kamu hahaha......"


Anita hanya memutar bola matanya, lalu kembali merebahkan badannya, berbaring membelakangi laki laki itu.


"Kamu yakin tunangan kamu dateng?"


"Seratus persen yakin!"


Tak ada jawaban, Anita hanya memejamkan matanya tak bergeming.


Laki laki itu pun berdiri dan pergi meninggalkan Anita.


"aku yakin kamu pasti dateng Dimas, kamu masih peduli sama aku, aku yakin itu," ucap Anita dalam hati.


**


Biiippp Biiippp Biiippp


Ponsel Dimas berdering, ada panggilan dari Dokter Dewi. Ia sudah menduga jika Dokter Dewi akan membicarakan tentang Anita.


Dimas masih duduk bersama Dini, menikmati malam malam yang telah lama tidak mereka rasakan. Hanya duduk berdua saja sudah menjadikan malam terasa indah baginya.


Tapi panggilan dari Dokter Dewi membuatnya terganggu. Tidak hanya sekali atau dua kali Dokter Dewi menghubunginya. Akhirnya ia menyerah, ia menerima panggilan Dokter Dewi.


"Halo Dok, maaf Dimas lagi sibuk," ucap Dimas beralasan.


"Oh, maaf kalau saya ganggu, Anita di rumah sakit Dim, kalau kamu udah nggak sibuk, tolong kamu ke sana ya!"


"Di rumah sakit? Anita kenapa Dok?"


"Saya juga nggak tau, dia nggak bilang apa apa, dia cuma mau kamu ke sana, saya minta tolong ya, dia nggak punya siapa siapa di sana selain kamu."


"Baik Dok, abis ini saya ke sana!"


"kamu kenapa lagi Nit?"


Dimas memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, ia harus menemui Anita, bagaimanapun juga ia tidak ingin hal buruk terjadi padanya.


"Ada apa Dim?" tanya Dini.


"Anita di rumah sakit," jawab Dimas.


"Dia kenapa?"


"Aku juga nggak tau, Dokter Dewi nggak bilang apa apa, aku......"


"Nggak papa, kamu kesana aja, aku bisa pulang sendiri," ucap Dini dengan tersenyum, ia cukup memahami posisinya saat itu.


"Aku anterin kamu pulang, baru aku ke sana!"


"Nggak usah Dimas, kamu ke rumah sakit aja, aku masih mau di sini!"


"Aku nggak mungkin ninggalin kamu sendirian, aku....."


"Aku nggak papa, aku bisa jaga diri baik baik," ucap Dini dengan menggenggam tangan Dimas, meyakinkannya.

__ADS_1


"Kamu yakin?"


Dini mengangguk.


Dimas lalu memeluk Dini dan mencium keningnya. Ia lalu pergi meninggalkan Dini.


Dini hanya tersenyum tipis. Ia memandang langit dengan air mata yang ia tahan.


"jangan cengeng Dini, jangan!" ucapnya menguatkan dirinya sendiri.


Dini lalu berjalan pelan, menyusuri malam seorang diri. Hatinya terluka, tapi ia masih bisa tersenyum. Ia memaksakan bibirnya untuk tetap tersenyum.


"pada kenyataannya yang bersama ku hanya bayangan kamu Dimas, kamu bukan lagi milikku, kamu......"


Grepp....


Seseorang tiba tiba datang dan menggandeng tangan Dini.


"Dimas!"


"Aku anter kamu pulang!" jawab Dimas.


Dini hanya diam, bibirnya kini benar benar tersenyum bahagia, bukan karena paksaannya.


"apapun yang terjadi, aku nggak akan ninggalin kamu Andini, nggak akan!" ucap Dimas dalam hati.


Dimas lalu melajukan mobilnya ke arah tempat kos Dini. Setelah mereka sampai, Dimas segera pergi.


Dini lalu masuk ke kamarnya. Ia melewati kamar Aletta dan mendengar suara Andi di sana. Mereka tampak sedang bersenda gurau di dalam kamar yang sedikit terbuka pintunya.


Dini lalu masuk ke kamarnya dan merebahkan dirinya di ranjang.


"apa kamu bahagia Ndi? apa dia memang pilihan hati kamu? apa sebentar lagi aku akan kehilangan kamu? pada akhirnya nanti apa aku akan kehilangan semuanya? Dimas atau kamu, kalian sama sama berarti buat aku, aku egois karena nggak bisa memilih satu diantara kalian dan ini adalah balasan dari keegoisanku, sendirian tanpa siapapun yang menemaniku,"


**


Di kamar Aletta.


Aletta dan Andi berbaring di ranjang, membicarakan banyak hal dan tertawa dengan bahagia.


Andi meluruskan tangannya ke samping dan membawa kepala Aletta untuk bersandar pada lengan tangannya. Kini mereka sangat dekat, Aletta bahkan mampu mencium aroma tubuh Andi.


Andi membelai rambut Aletta dan mengusap pipinya.


"Kamu bahagia Ta?"


"Iya, sangat bahagia," jawab Aletta.


"Ada sesuatu yang mau aku tanyain," ucap Andi serius.


"Apa?" tanya Aletta dengan mendongakkan kepalanya menatap Andi.


"Tapi kamu jangan salah paham ya, apapun jawaban kamu itu sama sekali nggak berpengaruh sama hubungan kita, perasaan aku ke kamu nggak akan berubah karena jawaban kamu nanti, jadi aku harap kamu jawab jujur!"


Senyum di wajah Aletta mulai memudar, ia yakin jika Andi akan menanyakan tentang masa lalunya bersama Rizki, membuatnya takut jika Andi akan menjauh darinya.


Melihat raut wajah Aletta yang berubah, Andipun mengurungkan niatnya untuk bertanya.


"Lupain aja, maaf kalau ucapan aku jadi merusak suasana," ucap Andi dengan menggenggam tangan Aletta.


"Apa yang mau kamu tanyain Ndi?" tanya Aletta.


Andi menggeleng.


"Nggak ada, aku akan nunggu sampe' kamu siap buat ceritain semuanya sama aku, aku nggak akan maksa kamu," jawab Andi.


"Nggak ada yang indah dari masa laluku setelah kepergian mama Ndi, kepergian mama seperti kepergian dari rasa bahagia di hidupku," ucap Aletta.


Ia lalu duduk dan bercerita.


"Kamu tau kenapa aku takut ketinggian?"


Andi lalu ikut duduk dan menggeleng.


"Aku nggak tau waktu itu umur berapa, mama ngajak aku naik ke sebuah menara, aku bahkan nggak inget dimana tempat itu, di menara itu aku lihat senyum terakhir mama sebelum mama..... mama bunuh diri dan jatuh dari menara itu," ucap Aletta dengan menahan sesak di dadanya.


"Sejak saat itu, aku selalu histeris tiap malem, aku bahkan nggak bisa tidur sampe' beberapa hari, aku emang masih kecil waktu itu, tapi perasaan sakit itu masih terasa sampe' sekarang, udah beberapa kali tante Rosa ngajak aku ke psikiater, aku minum obat dan terapi tiap hari sampe' akhirnya aku bisa ngendaliin diriku sendiri, tapi rasa sakit itu masih ada, rasa yang bikin aku masuk ke lubang yang sangat dalam dan gelap, rasa yang bikin aku nggak sanggup buat tetep berdiri tegak menghadapi jalan hidupku, ketakutanku, rasa sakitku, masih ada sampe' sekarang," lanjut Aletta dengan mata berkaca kaca.


Andi lalu mendekat dan memeluk Aletta. Ia menyesal karena ucapannya membuat Aletta kembali menguak masa lalu yang mengoyak hatinya. Tidak hanya tentang Rizki, bahkan masa lalu Aletta bersama keluarganya juga begitu kelam. Andi semakin erat memeluk gadisnya, ia ingin menghapus semua ketakutan dan kesedihan yang di rasakan gadisnya, memberinya banyak kebahagiaan dalam hidup gadisnya.


**


Di rumah sakit, Dimas segera masuk ke ruangan Anita. Dia berdiri di sebelah ranjang Anita. Anita yang melihat Dimas datang segera bangun dan memeluk Dimas.


"Aku hubungin kamu dari tadi nggak bisa, kamu kemana?" tanya Anita.


"Kamu kenapa bisa di sini? Dokter bilang apa?" tanya Dimas tanpa menjawab pertanyaan Anita.


"Aku nggak papa, cuma demam biasa," jawab Anita.


Dimas lalu melepaskan Anita dari pelukannya dan duduk di sebelah ranjang Anita.


"Jaga kesehatan kamu Nit atau kamu balik aja ke rumah," ucap Dimas.


"Kenapa? apa aku terlalu nyusahin kamu? apa aku ganggu kamu?"


"Aku nggak mau kamu sakit," jawab Dimas.


"Tapi kamu udah sering nyakitin aku Dimas!"


"Jauhin apa yang bikin kamu sakit Nit, termasuk aku!"

__ADS_1


"Setelah apa yang kamu lakuin?"


Dimas mengacak acak rambutnya kasar. Ia selalu kalah setiap Anita membahas kejadian di Singapura itu. Membuatnya sudah tak sabar lagi untuk mengetahui yang sebenarnya terjadi.


__ADS_2