Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Bertahan


__ADS_3

Di rumahnya, Dini segera masuk ke kamarnya dan mengambil ponsel yang Dimas belikan untuknya.


Ada 15 missed call tertulis di layar ponselnya.


Dini membuka galeri ponselnya, ada beberapa foto dirinya bersama Dimas tersimpan di sana. Dinipun menjauhkan ponsel itu darinya dan mulai membuka buku sekolahnya, berharap materi pelajaran yang ia pelajari bisa membuatnya lupa pada apa yang baru saja dilihatnya.


Tapi naasnya, bayangan Dimas tak bisa hilang dari pikirannya. Air matanya mulai menetes mengingat Dimas yang memeluk erat Anita di hadapannya.


"Aku salah apa sama kamu Dimas? kalau aku tau akan sesakit ini, aku akan lebih pilih untuk nggak kenal kamu lagi, aku nggak tau kenapa rasanya bisa sesakit ini, apa aku yang salah karena tanpa aku sadar aku terlalu berharap sama kamu, apa aku yang salah mengartikan semua sikap kamu ke aku? ini sakit Dimas, sakit," ucap Dini dengan derai air mata yang membasahi pipinya.


Di sisi lain, Andi yang sedang belajar di kamarnya dikejutkan oleh panggilan Anita di ponselnya.


Ia hanya diam mengabaikan ponselnya yang terus berdering menampilkan nama Anita di layarnya. Entah kenapa ada sedikit rasa kesal yang ia rasakan pada Anita.


Meski ia suka jika hubungan Dini dan Dimas renggang, melihat Dini menangis membuatnya ikut merasakan kesedihan yang dirasakan Dini.


"aku nggak akan pernah bikin air mata itu jatuh lagi Din, aku janji," ucap Andi dalam hati.


Andipun menutup bukunya dan berbaring di atas kasur sambil memainkan ponselnya.


Ada banyak missed call dari Anita yang memang sengaja diabaikan oleh Andi.


"Kamu ada hubungan apa sama Dimas Nit? meski aku belum bisa suka sama kamu, aku masih berusaha buat nerima kamu di hatiku, tapi apa yang aku lihat bikin aku berpikir lagi, apa jalan yang aku pilih ini benar? jika hati kamu bisa segampang itu berubah, kenapa aku enggak? kenapa susah buat aku hilangin perasaanku sama Dini, kenapa aku nggak bisa suka sama kamu meski kamu selalu deketin aku?"


Anita yang masih berada di taman merasa sangat kesal saat ini.


"apa yang kurang dari aku Dimas?"


Setelah melihat taxi yang sudah dipesannya datang, ia pun segera pulang.


Ia berusaha menghubungi Andi, untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi karena ia tidak mau jika Andi berpikiran buruk tentangnya.


Namun berkali-kali ia mencoba, Andi seperti tak menghiraukan panggilannya. Ia pun menyerah dan berhenti menghubungi Andi.


Esok harinya, karena sedang libur sekolah, Andi mengajak Dini untuk membeli ice cream lagi, berharap bisa sedikit mengurangi kesedihan Dini.


"Emang masih ada promonya?" tanya Dini.


"Nggak ada sih, tapi nggak papa, gantian aku yang beli."

__ADS_1


Dini mengangkat jempolnya dengan tersenyum manis. Ia berusaha melupakan kejadian kemarin, meski itu tidak mudah untuknya.


"aku bukan siapa-siapa buat kamu dan kamu bukan siapa-siapa buat aku, jadi buat apa aku sedih mikirin kamu, senyum Dini, dunia ini lebih indah dari sekedar cinta," ucap Dini dalam hati berusaha menguatkan dirinya sendiri.


Sesampainya di mini market, Andi segera masuk dan membeli ice cream sedangkan Dini menunggu di depan mini market.


Melihat taman di sebrang mini market, membuat Dini tersenyum kecut mengingat kejadian kemarin.


"Ke taman ya Ndi?" ajak Dini.


"Kamu yakin?" tanya Andi ragu.


Dini mengangguk penuh keyakinan.


Merekapun pergi ke taman dan menghabiskan waktu berdua di sana. Bercerita tentang apapun yang membuat mereka tertawa lepas.


*********


Malampun tiba, langit gelap mulai membentangkan jajaran bintang dan bulan di angkasa.


Dini sibuk membolak balikkan buku sekolahnya, mengerjakan tugas dan memahami beberapa materi yang sudah diajarkan gurunya di sekolah.


Dini hanya melihat, tanpa menyentuhnya sama sekali.


Toookk... toookk.... toookkk...


Suara ketukan pintu membuatnya beranjak dari kursi kebesarannya dan merapikan buku-buku yang sudah ia pelajari.


Dinipun membuka pintu dan segera menutupnya kembali setelah tau jika yang berada di depan pintunya adalah Dimas.


"Andini, tolong buka, aku mau jelasin semuanya sama kamu," ucap Dimas dari balik pintu.


Dini berusaha menguatkan hatinya untuk tidak menangis.


"Kamu pulang aja Dim, aku sibuk!" jawab Dini dengan suara bergetar menahan air mata yang sedikit lagi tumpah.


"Aku akan pergi kalau kamu mau dengerin penjelasanku."


"ayo Dini, kamu bisa, kamu kuat, dia bukan siapa-siapa jadi jangan menangis, oke?" ucap Dini dalam hati.

__ADS_1


Dinipun membuka pintu dengan senyum manisnya.


"Kamu nggak perlu jelasin apa-apa Dimas, kamu berhak ngelakuin apapun yang kamu mau, aku baik-baik aja kok," ucap Dini pada Dimas.


"Kenapa kamu bilang gitu?"


"Aku kan bukan siapa-siapa Dimas, kamu juga bukan siapa-siapa buat aku, jadi terserah kamu mau peluk siapapun aku nggak peduli, itu hak kamu," jawab Dini dengan air mata yang mulai menggenang.


"Kamu pikir apa yang aku ungkapin kemarin cuma omong kosong? kamu pikir semua usahaku selama ini cuma main-main? enggak Andini, aku serius sama ucapanku."


"Tapi apa yang kamu lakuin sama sekali nggak sesuai sama ucapan kamu Dimas," balas Dini yang langsung masuk dan menutup pintunya rapat-rapat.


Air matanya menetes begitu saja, bersama luka yang kembali terkoyak.


"Aku akan tetep di sini Andini, sampai kamu mau dengerin penjelasanku."


"Terserah kamu Dimas, aku nggak peduli."


Bulan dan bintang yang menerangi malam perlahan tertutup awan gelap, petir mulai menyambar meninggalkan kilatan cahaya di tengah kegelapan malam.


Dimas yang masih berada di depan rumah Dini sama sekali tak bergeming dengan hujan yang mulai turun. Ia tetap berdiri dengan penuh harap agar Dini memberinya kesempatan untuk memperbaiki hubungan mereka.


Dini mengintip dari balik jendelanya, melihat apakah Dimas sudah pulang atau belum.


"kenapa kamu masih di sana Dimas? kamu mau aku gimana? kamu yang yakinin aku, kamu juga yang bikin aku ragu, aku harus gimana sekarang?"


Dini hanya melihat Dimas dari dalam rumahnya, berusaha mengabaikannya meski ada sedikit rasa khawatir di hatinya.


*******


Di rumah Andi.


"Andi, tolong beliin benang ya, tinggal dikit lagi tapi benangnya habis," pinta Bu Joko yang sedang menjahit.


"Iya Bu," jawab Andi yang segera mengambil payung dan pergi ke toko di dekat rumahnya.


Ketika melewati rumah Dini, Andi melihat Dimas yang berdiri dengan basah kuyup di depan rumah Dini.


Andi memperhatikan Dimas dari jauh, ia ingin tau sampai kapan Dimas akan bertahan di sana.

__ADS_1


Satu jam dua jam sudah berlalu, Dimas masih berada di tempatnya berdiri sedangkan hujan tak berhenti mengguyurkan rintiknya yang begitu deras.


__ADS_2