Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Berbohong


__ADS_3

Dimas terpaksa harus berbohong pada Dini, ia tidak mau Anita semakin terbebani jika Dini tau yang sebenarnya.


"Enggak, aku nggak tau apa apa," jawab Dimas berbohong.


"Kalau kamu nggak mau bantuin aku nggak papa, aku bisa cari tau sendiri," ucap Dini lalu pergi meninggalkan Dimas.


"aku minta maaf Andini, aku janji akan kasih tau kamu semuanya tapi bukan sekarang," ucap Dimas dalam hati.


Di kelas, Pak Galih kembali memberi tugas kelompok. Kali ini satu kelompok terdiri dari tiga anggota.


"Dimas, Dini karena kalian kemarin gagal untuk bekerja sama sebagai kelompok kali ini Bapak akan memberi kalian kesempatan untuk bekerja sama lagi, Bapak harap kalian tidak mengecewakan Bapak!"


"Pasti Pak!" jawab Dimas semangat.


"Bagus, dan kamu Lia, kamu satu kelompok dengan Dimas dan Dini," ucap Pak Galih sambil menunjuk Lia.


"Saya Pak? saya sama Dimas? satu kelompok?" tanya Lia tak percaya.


"Iya, kamu keberatan?"


"Enggak Pak, saya nggak keberatan sama sekali, dengan senang hati saya mau Pak," jawab Lia kegirangan mengundang riuh semua temannya.


"Kalian jangan iri ya guys!" ucap Lia sombong.


Bagaimana tidak, semua teman perempuannya di kelas selalu berebut untuk bisa dekat dengan Dimas. Dengan menjadi teman satu kelompok Dimas, mereka akan menjadi lebih dekat dengan Dimas. Entah benar-benar mengerjakan tugas atau sekedar menghabiskan waktu untuk menatap Dimas sepuasnya.


Dini hanya menerima saja keputusan Pak Galih, karena protes pun percuma, karena Pak Galih tidak akan menghiraukannya.


Dini, Dimas dan Lia pun berkumpul.


"Hai pangeran," sapa Lia genit.


Dimas hanya tersenyum.


"Nanti ngerjain di rumah siapa nih?" tanya Lia.


"Aku sih terserah," jawab Dimas.


"Di rumah kamu aja ya," balas Lia mengusulkan untuk mengerjakan di rumah Dimas.


"Di rumahku aja," balas Dini cepat.


"Ya udah di rumah kamu aja," balas Dimas tersenyum.


"Oke, nanti sore aku ke rumah kamu ya Din, rumah kamu deket kan sama rumah Andi, soalnya aku taunya rumah Andi."


"Iya, deket."


"Eh, jangan sore, aku nggak bisa," ucap Dimas.


"Kenapa? sibuk lagi?" tanya Dini dengan nada kesal.


"Mmmm, iya ada keperluan, malem aja ya!" jawab Dimas.

__ADS_1


"Terserah kalian aja," balas Dini sambil berlalu pergi dengan wajah yang masam.


Melihat Dini yang masih marah padanya, membuat Dimas membuang napasnya dengan kasar.


Dini kembali ke mejanya karena jam pelajaran Pak Galih sudah habis.


"Kamu ada masalah sama Dimas?" tanya Andi pada Dini.


"Enggak, nggak usah ngomongin dia lagi," jawab Dini yang tidak bisa menyembunyikan wajah kesalnya.


Meskipun Andi tau jika Dini berbohong, ia tidak mau bertanya lebih jauh lagi. Ia merasa lebih baik jika hubungan Dini dan Dimas renggang. Ia tidak perlu lagi khawatir Dimas akan merebut Dini darinya.


Bel sekolahpun berbunyi. Dimas segera mengejar Dini. Ia tidak ingin berlarut-larut dalam kemarahan Dini.


Ia harus bisa menjelaskan apapun agar Dini berhenti bersikap dingin padanya.


"Andini, tunggu!" panggil Dimas, namun tidak dipedulikan oleh Dini.


Dini terus berjalan seorang diri tanpa menoleh ke arah Dimas sedikitpun meski ia tau jika Dimas masih mengejarnya.


"Dengerin aku dulu!" ucap Dimas sambil menahan tangan Dini, namun Dini segera melepaskan tangannya dengan kasar dan berlalu meninggalkan Dimas.


Andi hanya diam melihat sikap Dini pada Dimas, ia tidak tau apa yang sudah dilakukan Dimas hingga membuat Dini marah padanya.


Dimas menyerah mengejar Dini, tapi hanya untuk saat ini karena ia harus segera membersihkan halaman sekolah dan menemui Anita sebelum ke rumah Dini.


Setelah menyelesaikan hukumannya bersama Andi, Dimas segera menuju ke rumah sakit.


Di ruangannya, Anita yang sedang membaca komik terkejut melihat kedatangan Dimas.


"Nemenin kamu," jawab Dimas dengan senyum termanisnya.


"Kenapa?"


"Kan aku udah bilang kemarin, kalau aku mau ke sini lagi," jawab Dimas sambil mengupas buah yang sudah dibawanya.


"Dimas, aku mau tanya sesuatu sama kamu," ucap Anita terlihat serius.


"Nggak usah banyak tanya, makan nih!" ucap Dimas sambil memberikan sepotong apel.


Sebelum ke rumah sakit, Dimas membeli banyak buah-buahan untuk Anita. Dia membeli bermacam macam buah karena dia tidak tau buah apa yang disukai dan tidak disukai oleh Anita.


"Kamu mau jualan buah?" tanya Anita yang melihat bermacam-macam buah di meja sebelah ranjangnya.


"Hahaha, aku nggak tau kamu sukanya apa jadi aku beli semuanya," jawab Dimas sambil menertawakan dirinya sendiri.


"Boros banget sih!"


"Enggak dong, kamu ambil yang mana yang kamu suka, sisanya aku jual hahaha...." balas Andi membuat Anita ikut tertawa karena jalan pikiran Dimas yang dianggapnya absurd.


Tiba-tiba Dokter Dewi datang.


"Ada apa nih? seru banget kayaknya," tanya Dokter Dewi yang melihat Anita dan Andi tertawa lepas.

__ADS_1


"Dimas mau jualan buah Mbak," jawab Anita.


"Ya nggak papa dong," balas Dokter Dewi.


"Ini, minum obat kamu!" lanjut Dokter Dewi sambil memberikan beberapa obat dan air minum untuk Anita.


"Bosen Mbak, minum obat terus," ucap Anita dengan bibir manyunnya.


"Oh, udah mulai betah tinggal di sini? nggak mau sekolah lagi?"


"Ya nggak gitu juga Mbak, ya udah sini!"


Anitapun meminum beberapa butir obat yang diberikan Dokter Dewi. Setelah memastikan Anita meminum obatnya, Dokter Dewi keluar.


"Nitip Anita ya Dimas!" ucap Dokter Dewi sebelum menutup pintu ruangan Anita.


"Dimas juga punya kesibukan kali Mbak!" balas Anita meski tidak terdengar oleh Dokter Dewi.


"Anita, aku nggak bisa lama lama ya di sini," ucap Dimas pada Anita.


"Kenapa?" tanya Anita cepat.


"Eh iya, nggak papa kok, pulang aja," lanjut Anita yang sebenarnya masih menginginkan Dimas untuk menemaninya.


Dimas tersenyum, ia tau pasti Anita butuh teman di sini. Kalau saja bukan karena tugas dari Pak Galih, sudah pasti ia akan menemani Anita di sini.


"Ada tugas kelompok dari Pak Galih, nanti malem aku mau ngerjain sama anak-anak," jelas Dimas pada Anita.


"Kalau nggak ada tugas kelompok aku pasti nemenin kamu di sini," lanjut Dimas.


"Iya, nggak papa," balas Anita lalu merebahkan badannya.


"Selesai ngerjain tugas kelompok aku pasti mampir ke sini," ucap Dimas sambil membelai lembut rambut Anita.


Anita tersenyum lalu mengangguk.


"Aku balik dulu ya, nanti aku ke sini lagi!"


"Iya, take care!" balas Anita sambil melambaikan tangan pada Dimas yang sudah di ujung pintu.


Sebelum ke rumah Dini, Dimas menyempatkan diri untuk mampir ke toko buku langganannya untuk membeli beberapa komik romance.


Sebelum Dimas datang, sudah ada Lia di rumah Dini.


"Din, kamu lagi berantem sama Dimas?" tanya Lia.


"Enggak," jawab Dini singkat.


"Jangan lama-lama berantemnya, banyak yang antri di belakang kamu loh!"


Dini hanya diam tak menghiraukan ucapan Lia.


"Aku baru tau kalau ternyata Dimas itu masa lalu kamu."

__ADS_1


"Masa lalu apa maksud kamu?"


"Dimas udah cerita semuanya kok, tentang masa lalu dia sama kamu."


__ADS_2