Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Perlakuan yang Berbeda


__ADS_3

Sesampainya di depan gerbang sekolah, Dimas dan Dini segera turun dari mobil.


"Nanti saya jemput ya mas!" ucap Pak Adi pada Dimas.


"Iya Pak."


Dimas dan Dinipun segera menuju ke kelas.


Tak lama kemudian mobil mama Dimas sampai di depan gerbang sekolah bersamaan dengan Anita yang baru keluar dari tempat parkir.


Anita segera menghampiri mobil mama Dimas. Sintia yang baru turun dari mobil segera masuk ke kelasnya dan tak menghiraukan Anita.


"Pagi tante," sapa Anita pada mama Dimas.


"Eh, Anita, udah dibilangin jangan panggil tante, masih aja panggil tante, panggil mama dong!"


"Hehehe, maaf, Anita masih belum terbiasa."


"Nggak papa, kalau dibiasain juga jadi terbiasa."


"Iya, ma... ma..." balas Anita terbata-bata.


"Ya udah, mama lanjut dulu ya, keburu macet!"


"Oh, iya, hati hati ma!"


Anita masih berdiri di depan gerbang sampai mobil mama Dimas hilang dari pandangannya. Dari jauh ia melihat Andi yang sedang berlari karena jam masuk tinggal beberapa menit lagi.


Dengan napas tersengal sengal Andi akhirnya sampai di depan gerbang bersamaan dengan bunyi bel masuk.


"Kamu tumben sih telat!" ucap Anita pada Andi sambil memberikan tissue pada Andi.


Andi mengusap keringatnya yang sudah bercucuran deras pagi itu.


"Uulluuu uuluuuu pak mantan ketua OSIS pagi pagi udah olahraga lari nih yaaa!" seloroh Lia yang baru keluar dari tempat parkir.


"Romantis banget sih kalian, tapi tetep lebih romantis pangeranku sama Dini hehehe....." lanjut Lia.


"Katanya pangeran kamu, kok malah romantisnya sama Dini?" tanya Anita.


"Iya, aku selirnya hahaha......." jawab Lia sambil berlari ke kelasnya.


"Temen kamu kebanyakan liat drama tuh!" ucap Anita pada Andi.


"Biarin, nggak usah di dengerin!"


"Kamu juga keringetan Nit!" lanjut Andi sambil mengusap kening Anita dengan tissue bekas keringatnya.


"Kamu emang jadi romantis ya sekarang," balas Anita dengan senyum termanisnya.


"Iya dong, aku kan......"


"Eh tunggu, ini bekas keringat kamu?"


Andi hanya mengangguk dan tersenyum lalu segera berlari meninggalkan Anita.


"Aaanndiiiiiii!!!" teriak Anita sambil berlari mengejar Andi.


Ketika hendak berbelok ke lorong kelasnya, Anita menabrak seseorang yang membuatnya terjatuh dan tertindih oleh seseorang yang ditabraknya.


Anita diam memandangi mata terang laki laki di hadapannya itu. Jantungnya seperti melompat lompat ingin keluar dari tempatnya. Bibirnya yang indah membuat Anita hanya bisa menelan ludah ketika memperhatikannya. Ia baru menyadari jika laki laki yang di hadapannya itu terlihat sangat sempurna jika dilihat dari jarak sedeket itu. Bola matanya yang kecokelatan, hidung mancung, bibir tipis yang sangat menggoda untuk dijamah, semua terlihat begitu proporsional, melekat sempurna di wajah seorang Dimas Raditya Adhitama. Ya laki laki yang tak sengaja di tabrak oleh Anita adalah Dimas.


Dimas segera bangkit dan mengulurkan tangannya pada Anita.


"Kamu nggak papa?" tanya Dimas pada Anita, namun Anita masih belum sadar dari pikiran kotornya.


"Nit? kamu baik baik aja?" tanya Dimas lagi.


Tak lama kemudian Andi yang berlari tidak sengaja menabrak Dimas.


Brruuuggghh


"Sorry sorry nggak liat hahaha......" ucap Andi dengan menertawakan Dimas yang jatuh karenanya.


Anita segera berdiri dan pergi meninggalkan Dimas dan Andi. Ia ke kamar mandi, membasuh wajahnya, menenangkan jantungnya yang sudah hampir terlepas dari tempatnya.


"apa itu tadi? perasaan apa ini? aaarrrgghhh aku nggak boleh beneran jatuh cinta sama Dimas, inget tujuan awal Anita, ingeeetttt," ucap Anita dalam hati sambil memukul mukul kepalanya.


"Kamu kenapa Nit?" tanya Dini yang baru saja masuk ke kamar mandi.


"Eeee.... enggak... nggak papa," jawab Anita yang terkejut dengan kedatangan Dini yang tiba tiba.


"Kamu sakit? wajah kamu merah," tanya Dini.


"Enggak kok, aku nggak papa, aku duluan ya Din!"


"Oh, oke!"


Anita berjalan ke kelasnya dengan pikiran yang masih kacau.


"apa? merah? wajahku merah? gara gara Dimas? enggak, nggak mungkin, sadar Anita sadaaarrr," kesal Anita dalam hati.


Ia menarik napas dalam dalam dan membuangnya dengan perlahan, berusaha memperbaiki suasana hatinya.


Dimas dan Andi yang masih di lorong kelasnya segera masuk ke kelasnya karena guru pengajar sudah memasuki kelas.


Setelah bel istirahat berbunyi, Anita sudah menunggu Dini di depan kelas.


"Dini, ikut aku!" ajak Anita.


"Kemana?"


"Udah, ikut aja!"


Dinipun pasrah, mengikuti Anita.


Dimas dan Andi yang baru keluar dari kelas segera pergi ke perpustakaan untuk menemui Dini karena mereka mengira jika Dini pergi ke perpustakaan seperti biasanya.


Mereka mencari Dini di setiap sudut perpustakaan, namun nihil, tak ada Dini di sana.


Merekapun akhirnya pergi ke kantin.


"Tumben Andini nggak ke perpustakaan, masak lo nggak tau sih dia kemana?" tanya Dimas pada Andi.


"Lo kira gue maknya yang tau kemana aja dia pergi!"


"Katanya sahabat terbaik, tapi gini doang nggak tau," ledek Dimas.


"Lo sendiri, katanya masa depannya, gini doang nggak tau," balas Andi.


"Rese' lo!"

__ADS_1


"Bodo amat, kalau menurut gue sih dia lagi sama Anita."


"Sok tau lo!"


"Liat aja nanti kalau udah ketemu!" balas Andi dengan senyum penuh kesombongan.


"Oke!"


Di sisi lain, Anita mengajak Dini ke kelasnya.


"Ada apa Nit? kenapa kamu ngajak aku ke kelas kamu?" tanya Anita.


"Nggak papa, sekali kali main ke kelas tetangga lah Din, jangan ke perpustakaan terus!"


"Banyak yang aku baca kalau di perpustakaan, kalau main ke kelas lain mau ngapain? ketemu siapa?"


"Ketemu aku dong, eh iya kamu semalem pulang duluan ya?"


"Iya."


"Kenapa?"


"Nggak papa, cuma capek aja!"


"Padahal aku mau ngajak kamu buat ketemu temen temennya mama Dimas loh, tapi kamu udah pulang!"


Dini hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Anita.


"Menurut kamu mamanya Dimas gimana Din?" tanya Anita.


"Cantik," jawab Dini singkat.


"Kayak masih muda ya, padahal usianya udah banyak, pasti uang om Tama diabisin buat perawatan tuh sama mamanya Dimas hehehe....."


"Ya nggak papa dong, kan emang haknya!"


"Iya sih, tapi kalau aku jadi mamanya Dimas aku nggak akan hura hura, apa lagi....."


"Aku balik ke kelas dulu ya!" ucap Dini memotong perkataan Anita yang membuatnya tidak nyaman.


"Eh, jangan dulu dong, aku masih mau ngobrol sama kamu."


"Maaf Nit, aku nggak suka denger kamu ngomong kayak gitu soal mamanya Dimas."


"Iya iya sorry, aku cuma bercanda kok, sini duduk!"


Dinipun kembali duduk.


"Menurut kamu mamanya Dimas itu gimana sih Din?"


"Kan aku udah jawab tadi, cantik!"


"Maksud aku selain cantik, baik, cerewet, bawel atau........"


"Baik, mamanya Dimas baik, bisa nggak kalau kamu nggak usah bahas mamanya Dimas?"


"Kenapa? kamu nggak suka sama mamanya Dimas?"


"Bukan gitu, aku nggak nyaman aja, aku juga baru sekali ketemu, jadi nggak tau banyak, mending kamu tanya langsung sama Dimas!"


"Aku juga baru pertama ketemu, tapi mamanya udah baik banget sama aku, mamanya nanya nanya soal keluarga kamu nggak?"


"Nanya," jawab Dini singkat.


"Iya tau, kenapa?"


"Nggak papa, aku agak canggung sih waktu pertama ketemu kemarin, kayak diinterogasi kan, ditanya soal keluarga, tinggal dimana, tapi untungnya mamanya Dimas baik banget, malah aku diminta panggil 'mama'!"


"Maksud kamu?"


"Aku kan bilang kalau mamaku udah meninggal, terus aku disuruh anggap mamanya Dimas kayak mama sendiri, disuruh panggil 'mama' bukan 'tante', baik banget kan?"


Dini hanya mengangguk anggukkan kepalanya mendengar cerita Anita. Ada sedikit rasa cemburu yang tertoreh di hatinya ketika mendengar mama Dimas memperlakukan Anita dengan sangat baik, sangat berbanding terbalik dengan dirinya.


"Sama aku aja baik banget, apa lagi sama kamu Din, kamu beruntung punya calon mertua sebaik mama Angel, andai aku bisa jadi menantunya."


"Maksud kamu?"


"Mm.... maksud aku, andai Dimas punya kakak atau adik cowok yang usianya nggak jauh sama aku, aku bisa nikah sama dia biar bisa punya mertua mama Angel," jelas Anita beralasan.


Dini hanya diam, tak banyak berkata.


"Kamu udah ketemu om Tama?"


"Belum."


"Om Tama juga baik banget loh Din, keluarganya Dimas baik semua, seneng banget rasanya bisa kenal mereka, kayak punya keluarga baru ya nggak sih!"


Dini hanya mengangguk dengan senyum tipis yang terpaksa ia perlihatkan.


Bel masuk berbunyi, Dini segera kembali ke kelasnya.


"Aku balik ya Nit!" ucap Dini pada Anita.


"Aku anterin!" balas Anita dengan menggandeng tangan Dini untuk keluar dari kelasnya.


Dini hanya diam dan membiarkan Anita mengantarnya bahkan sampai masuk ke kelasnya karena kebetulan guru pengajar belum masuk ke kelas.


"Dimas, aku tadi ketemu mama Angel di depan," ucap Anita pada Dimas yang sudah berada di kelas.


"Dari mana sayang?" tanya Dimas pada Dini, sengaja mengabaikan ucapan Anita.


"Dari kelas Anita," jawab Dini.


"Tuh kan bener, apa gue bilang!" seloroh Andi dengan menyenggol lengan Dimas.


"Iya iya, lo emang sahabat terbaik!" balas Dimas kesal dan segera kembali ke tempat duduknya.


"Andi, nanti pulang sama aku ya!" ucap Anita pada Andi.


"Gimana kalau jalan jalan dulu, ber empat sama......"


"Setuju!" teriak Dimas dari tempat duduknya. Iapun segera kembali ke meja Dini, ikut berkumpul dengan Anita, Dini dan Andi.


"Ayo sayang, mau kan?" tanya Dimas pada Dini.


"Aku nggak bisa Dim, kamu aja," jawab Dini yang terlihat lesu.


"Kenapa?"


"Nggak papa," jawab Dini dengan senyum palsu.

__ADS_1


"Ya udah deh gue nggak ikut juga," ucap Dimas lalu kembali duduk di bangkunya.


"Ya udah, kamu sama aku aja ya!" ucap Anita pada Andi.


"Mmmm, ya udah deh!" jawab Andi ragu.


Tak lama kemudian guru pengajar datang, Anita segera keluar dan kembali ke kelasnya.


Bel pulangpun berbunyi.


Dini segera merapikan alat tulisnya dan keluar dari kelas.


"Kamu baik baik aja Din?" tanya Andi pada Dini yang terlihat murung.


Dini hanya mengangguk dan tersenyum tipis.


"Inget Din, kamu masih sahabat aku, jangan biarin aku nggak tau apa apa soal kamu," ucap Andi dengan menggenggam tangan Dini.


Karena melihat Andi menggenggam tangan Dini, Dimas yang berada di belakang segera maju ke tempat Dini dan Andi.


"Lepas woy!" ucap Dimas dengan memukul pelan tangan Andi.


Andi segera melepaskan genggamannya dari tangan Dini.


"Ayo pulang!" ajak Dini pada Dimas.


Andi hanya membuang napas kasar melihat Dini dan Dimas yang sudah meninggalkan kelas. Ia merasa jika Dini sedang tidak baik baik saja saat itu.


"Andiiii!" panggil Anita setengah berteriak.


"Sssssttt, jangan teriak teriak," ucap Andi dengan menempelkan jari telunjuknya di bibir Anita.


Anita memegang tangan Andi lalu melingkarkannya di pinggangnya dan memeluknya erat.


Andi segera melepaskan Anita dari pelukan paksa itu.


"Jangan Nit, ini sekolah!" ucap Andi dengan menggandeng tangan Anita untuk keluar dari kelas yang sudah sepi.


"Berarti kalau nggak di sekolah boleh ya?" tanya Anita dengan senyum nakalnya.


Andi hanya tersenyum dan mencubit kecil hidung Anita.


"Mau langsung pulang?" tanya Anita pada Andi.


"Kamu mau kemana?"


"Ke rumah ku dulu ya!"


Andi mengangguk.


"Kamu yang bawa mobil!" ucap Anita sambil melemparkan kunci mobilnya pada Andi dan dengan sigap Andi menangkapnya dan segera menuju ke tempat parkir, sedangkan Anita menunggunya di depan gerbang sekolah.


Di sisi lain, Dimas dan Dini sudah sampai di depan rumah Dini.


"Kamu pulang aja ya Dim, aku lagi nggak enak badan, pingin tidur aja!" ucap Dini pada Dimas.


"Ya udah kamu istirahat ya, jangan lupa minum obat!" balas Dimas dengan mengusap lembut rambut Dini.


Dini mengangguk.


"Aku pulang dulu!" ucap Dimas dengan mencium kening Dini.


Dini tersenyum dan melambaikan tangannya ketika mobil Dimas sudah siap meninggalkan rumahnya.


***************


Di rumah Anita.


Andi dan Anita sedang mencari film yang akan mereka tonton melalui laptop.


"Kamu udah liat ini Ndi?" tanya Anita pada Andi sambil menunjuk sebuah folder film dengan nama Conjuring.


"Udah, kamu suka horor Nit?"


"Suka, tapi takut hehehe...."


"Nggak usah takut, ada aku," ucap Andi dengan mengusap rambut Anita.


"Kamu mau liat lagi nggak? aku pingin liat tapi nggak berani kalau sendirian!"


"Oke, nggak papa, liat ini aja!"


"Liat di kamar aja ya!"


Andi mengangguk dan segera mengikuti Anita masuk ke kamarnya.


Mereka berdua duduk berdampingan di atas ranjang Anita dengan laptop di hadapan mereka. Anita menggenggam erat tangan Andi ketika adegan terlihat menegangkan, tak jarang ia bersembunyi di balik lengan Andi ketika ia ketakutan.


Andi hanya terkekeh melihat sikap Anita. Ketika film sudah selesai, Anita masih memegang erat lengan Andi. Andi melepaskan tangan Anita dari lengannya dan memeluknya erat.


"Aku seneng liat kamu bahagia Nit!" ucap Andi pada Anita.


"Makasih udah kasih aku kebahagiaan ini Ndi!" balas Anita yang masih dalam pelukan Andi.


Biiippp biiippp biiippp


Ponsel Andi berdering, terlihat notifikasi chat dari Dini di layar ponselnya.


"Aku tunggu di tempat biasa!" -isi chat Dini-


Andipun segera melepas pelukannya dari Anita dan pulang.


"Aku harus pulang Nit!" ucap Andi.


"Kenapa tiba tiba? aku anter ya!"


"Nggak usah, aku pulang sendiri aja!" balas Andi dengan mencium kening Anita lalu segera keluar dari kamar Anita.


Tanpa Andi tau, diam diam Anita mengikuti Andi.


Andi berjalan ke bukit dan duduk di samping Dini yang sudah berada di sana sejak tadi.


"Haah, Dini lagi ternyata!" batin Anita ketika melihat Andi dan Dini.


Anita segera menghubungi Dimas.


"Kamu tau Dini dimana?" tanya Anita ketika Dimas sudah menerima panggilannya.


"Di rumah, lagi nggak enak badan katanya, kenapa?"


"Bodoh kamu Dim, cepet ke sini, aku share loc!" ucap Anita kemudian mematikan panggilannya.

__ADS_1


Setelah mengirim lokasi Andi dan Dini berada, tak lupa ia memotret Andi dan Dini lalu mengirimnya ke Dimas.


__ADS_2