
Pagi hari di hari yang sama. Setelah meninggalkan Anita di lobby apartemen, Dimas segera melajukan mobilnya ke arah rumah sakit untuk menjemput Andi. Setelah menyelesaikan biaya administrasi, Dimas pergi ke ruangan Andi.
"Gimana keadaan lo?" tanya Dimas.
"Baik, sorry gue selalu ngrepotin lo!" balas Andi.
"Lo ngomong apa sih, ayo pulang!"
Selama Andi atau Dini di rawat di rumah sakit, biaya rumah sakit selalu Dimas yang menanganinya. Beberapa kali Nico juga yang membayarnya. Mereka sudah seperti keluarga meski terkadang ada beberapa hal yang membuat mereka salah paham.
"Lo sebenernya kenapa sih?" tanya Dimas yang masih penasaran dengan luka di kepala Andi.
"Gara gara cewek gila," jawab Andi.
"Cewek gila? Aletta?" tanya Dimas yang langsung mendapat pukulan di kepalanya oleh Andi.
"Hahaha.... cewek gila siapa sih?" tanya Dimas lagi.
"Gue juga nggak kenal, gue ketemu dia di perpustakaan fakultas kedokteran," jawab Andi.
"Lo ngapain di fakultas kedokteran? jangan bilang lo punya selingkuhan di sana?"
"Gue nggak punya waktu buat selingkuh," balas Andi.
"Iya juga sih, lagian kalau lo masih sayang sama nyawa lo mending lo anteng anteng aja deh sama Aletta, jangan sampe' Aletta jadi malaikat pencabut nyawa lo nanti hahaha...."
Andi hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Dimas.
"Tapi lo ngapain di fakultas kedokteran? nyari siapa?" tanya Dimas yang masih penasaran.
"Bukan nyari siapa, tapi nyari apa?"
"Emang nyari apa?"
"Menurut lo kalau orang ke perpustakaan nyari apa? makan?"
"Bisa jadi, makanan buat otak hahaha...."
"Terserah lo aja lah Dim!"
"Jangan bilang lo pingin pindah ke fakultas kedokteran?"
"Enggak, emang apa sih salahnya kalau gue ke perpustakaan fakultas kedokteran?"
"Nggak ada yang salah kalau lo cerita sama gue, biar gue nggak berasumsi yang macem macem!"
"Lo tuh over thinking mulu kayak cewek!"
Dimas lalu tersenyum manja dengan menatap Andi lalu mencubit bagian dada Andi dengan gemas.
"Iiiiihhh, gila lo Dim?" balas Andi dengan memukul tangan Dimas.
"Hahaha..... jaga diri lo baik baik Ndi, cuma lo yang bisa gue percaya buat jagain Andini!"
"Iya Dim, gue akan jagain Dini, bahagiain Dini, mencintai dan menyayanginya dengan....."
PLAAAKKKK
Sebuah pukulan mendarat di kepala Andi yang baru saja sembuh dari lukanya.
"Diem atau gue bikin bocor kepala lo!" ucap Dimas yang bersiap memukul Andi lagi.
"Hahaha.... itu kan yang lo mau?"
Dimas hanya menoleh ke arah Andi lalu menginjak gasnya kuat kuat, memaksimalkan kecepatan mobilnya hingga membuat Andi ketakutan.
"Bercanda Dim, gue bercanda," ucap Andi yang mulai panik.
Tak butuh waktu lama mereka sampai di depan kos Andi. Mereka lalu turun di sambut dua gadis cantik mereka.
"Kamu kok nggak bilang sih kalau pulang ke rumah?" tanya Aletta pada Andi.
"Maaf Ta, mendadak banget soalnya," jawab Andi berbohong.
"Ada masalah?"
"Enggak kok."
"Sayang, aku nggak bisa lama lama ya, ada yang harus aku selesaiin dulu!" ucap Dimas pada Dini.
"Anita?" tanya Dini tanpa bersuara, namun gerakan bibirnya bisa ditangkap dengan baik oleh Dimas.
Dimas lalu menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Aku mau ketemu Yoga di kafe, ada yang harus kita bahas!" ucap Dimas menjelaskan.
"Aku nggak boleh ikut?" tanya Dini.
"Lain kali ya sayang, aku pergi dulu!" balas Dimas dengan membelai rambut Dini dan mencium keningnya lalu pergi.
"Dimas!" panggil Dini ketika Dimas sudah menjauh beberapa langkah.
Dimas lalu berbalik dan memeluk gadis yang dicintainya itu.
"Setelah semuanya selesai aku pasti kesini," ucap Dimas lalu melepaskan Dini dari pelukannya.
Dini hanya mengangguk lalu membiarkan Dimas pergi. Melihat Andi dan Aletta yang tampak asyik mengobrol berdua, Dini lalu berjalan naik ke kamarnya sebelum Andi memanggilnya.
"Dini, sini!"
Dini lalu kembali turun dan berjalan ke arah Andi dan Aletta.
__ADS_1
"Aku takut ganggu kalian makanya aku naik," ucap Dini pada Andi dan Aletta.
"Nggak ganggu kok Din, Dimas kemana?" balas Aletta sekaligus bertanya.
"Lagi ada urusan, jadi langsung balik," jawab Dini lalu duduk di sebelah Aletta, tepat di hadapan Andi.
Mereka duduk bertiga dan saling bertukar cerita, menceritakan banyak hal yang telah mereka lalui.
**
Di tempat lain, Dimas pergi ke kafe cabangnya untuk bertemu Yoga.
"Selamat pagi pak," sapa Tari.
"Pagi, Yoga ada?"
"Ada pak, di dalam," jawab Tari.
Dimas mengangguk dan tersenyum lalu masuk ke dalam ruangan Yoga.
Tanpa permisi dan basa basi Dimas langsung masuk dan duduk di hadapan Yoga.
"Sopan santunnya mana anak muda?" tanya Yoga.
"Ampun mbah," balas Dimas sambil menangkupkan kedua tangannya di dada dan menundukkan kepalanya.
"Sialan lo, pasti ada sesuatu yang penting sampe' bos besar kafe dateng pagi pagi gini!"
"Sebelum gue minta tolong sama lo, gue mau tanya, lo abis dari mana sih? papa tugasin apa sama lo?"
"Sebelum gue jawab pertanyaan lo, gue mau minta tolong sama lo!"
"Minta tolong apa?"
"Tolong jangan banyak tanya hahaha......"
"Ya udah lah terserah lo aja, gue kesini mau ngasih lo ini!" ucap Dimas lalu mengambil sebuah ponsel dari saku celananya dan meletakkannya di atas meja.
"Punya lo? rusak?"
"Bukan punya gue, gue cuma mau lo buka password HP ini, sisanya biar gue yang urus!"
"Ini punya siapa lagi? Anita?" tanya Yoga sambil membolak balikkan ponsel itu.
"V?"
"Pertama kali gue liat HP itu ada di apartemen Anita, kemarin gue liat HP itu di kafe, tapi yang duduk di sana cewek sexy, diliat dari softcase nya kayaknya nggak mungkin kalau itu punya cewek, apa lagi cewek sexy kayak gitu!" jelas Dimas.
"Sexy banget emangnya?" tanya Yoga yang fokusnya mulai teralihkan.
Dimas mengangguk penuh keyakinan.
"Sexy banget Ga, bajunya minimalis banget hahaha...."
"Cantiklah, mulus banget lagi, duh jadi kebayang!"
Mereka berdua lalu diam beberapa saat, sama sama sibuk membayangkan gadis sexy yang Dimas maksud.
"Eh, otak lo mesum banget sih, gimana nih HP nya?" tanya Dimas yang mulai tersadar dari pikiran nakalnya.
"Kenapa lo kepo banget sih sama HP ini, bisa jadi punya temannya Anita, kan lo sendiri yang bilang HP ini di kafe sama cewek sexy!"
"Waktu itu di mejanya cewek itu ada 3 gelas minuman, jadi bisa jadi ini HP temannya cewek sexy itu, lo liat aja desainnya kayak gitu, pasti cowoklah yang punya."
"Kan ada cewek yang kecowok cowokan Dim!"
"Yang bikin gue makin penasaran tuh semalem gue liat cowok masuk aparetemen Anita dan dan tadi pagi gue nemuin HP ini di ruang tamu Anita, masalahnya gue nggak sempet liat wajahnya, jadi gue nggak tau siapa cowok itu!" jelas Dimas.
"Kenapa nggak langsung lo grebek aja semalem?"
"Males lah Ga, gue udah nggak peduli sama Anita!"
"Lo nggak peduli tapi lo nyari tau tentang HP ini, sama aja Dim!"
"Masalahnya Anita kayak sembunyiin banget siapa pemilik HP ini, gue jadi penasaran dong karena setau gue dia nggak deket sama siapa siapa selain gue di sana!"
"Lo terlalu yakin sama apa yang lo lihat Dim, lo kan nggak tau apa aja yang Anita lakuin di belakang lo!"
"Emang apa? punya pacar? gue malah seneng kalau dia punya pacar!"
Yoga hanya menggeleng gelengkan kepalanya mendengar ucapan Dimas.
"Lo harus banyak banyak belajar bisnis sama bokap lo Dim, banyak banyak baca buku jangan pacaran mulu!"
"Kok jadi bawa bawa bisnis sih, jadi ini gimana HP nya? lo bisa buka nggak?"
"Gampang lah, ntar gue minta tolong temen gue!"
"Temen lo siapa? Ivan?"
Yoga terdiam beberapa saat. Otaknya baru saja menangkap potongan puzzle yang berserakan.
"apa ini HP nya Ivan? Ivan sama Anita memang berhubungan dekat walaupun Ivan cuma manfaatin Anita, karena itu Ivan pasti sering ketemu Anita kan? kalau semalem Dimas liat cowok masuk apartemen Anita dan paginya dia nemuin HP ini, kemungkinan besar ini HP nya Ivan dan lagi huruf V di softcase nya ini, Ivan kan sering dipanggil Mr V sama anak buahnya, nggak salah lagi, ini pasti punya Ivan, gue harus cepet buka password nya sebelum Ivan hilangin semua data datanya dari jauh!" batin Yoga dalam hati.
"Ga, lo kok malah ngelamun sih?" tanya Dimas yang melihat Yoga hanya diam dengan pandangan kosong.
"Gue bakalan bantuin lo secepatnya," ucap Yoga lalu berdiri dan pergi meninggalkan Dimas.
"Ga, lo kemana?" tanya Dimas, namun tak dijawab oleh Yoga yang sudah keluar dari ruang kerja.
Dimas lalu keluar dari ruang kerja dan mengemudikan mobilnya ke arah kos Dini.
__ADS_1
**
Di tempat lain, Ivan masih berada di apartemen Anita. Entah sudah berapa lama Ivan bersandar di bahu Anita, membuat Anita merasa kram di beberapa bagian tubuhnya karena tidak berani bergerak.
"Kamu capek?" tanya Ivan pada Anita.
"Dikit," jawab Anita ragu.
Ivan lalu kembali duduk dengan bersandar pada sandaran sofa.
"Kenapa kamu dari tadi diem Nit?"
Anita hanya diam dan menggelengkan kepalanya.
"Apa aku nyakitin kamu?" tanya Ivan.
"Enggak," jawab Anita singkat dengan menundukkan kepalanya.
Ivan lalu menarik wajah Anita agar memandang ke arahnya.
"Apa kamu yang ngelakuin kesalahan?" tanya Ivan dengan menatap tajam mata Anita.
Anita diam tak berani berucap sepatahkatapun. Jika dulu ia membuka laptop Ivan dan mendapatkan kekerasan fisik yang menyakitkan, ia yakin jika Ivan tau ponsel Ivan di bawa Dimas karena kecerobohannya, Ivan tidak akan mengampuninya lagi. Entah bagaimana caranya agar ia bisa terhindar dari amukan Ivan, Anita sudah tidak bisa berpikir lagi.
"Anita, jawab aku Nit!"
"Enggak Ivan, aku nggak ngelakuin apa apa, aku cuma takut kamu tiba tiba marah karena aku tau suasana hati kamu lagi nggak baik," ucap Anita memberi alasan.
"Aku nggak mungkin marah sama kamu sayang, justru aku berterima kasih sama kamu karena kamu mau nemenin aku," balas Ivan dengan membelai rambut Anita.
Biiiippp Biiippp Biiippp
Ponsel Anita berdering. Panggilan dari mama Ivan.
"Halo tante, maaf Anita pergi gitu aja tadi."
"Nggak papa, kamu lagi sama Ivan?"
"Iya tante, Anita lagi sama Ivan di apartemen."
"Dia baik baik aja kan? tante khawatir sama dia."
"Ivan baik baik aja kok, tante nggak perlu khawatir."
"Tante titip Ivan ya Nit, tolong jagain dia, dia pasti kacau banget hari ini."
"Iya tante, Anita akan nemenin Ivan di sini."
"Ya udah kalau gitu, kamu nggak usah mikirin butik, kamu sama Ivan aja nggak papa sampe' suasana hatinya membaik."
"Baik tante, terima kasih!"
Klik. Sambungan terputus.
"Mama?" tanya Ivan.
"Iya, kamu nggak pulang? mama kamu khawatir banget loh!"
Melihat Anita memegang ponsel, membuat Ivan tiba tiba mengingat ponselnya yang hilang. Ia harus segera menemukan ponselnya karena banyak hal yang ia sembunyikan dalam ponselnya.
Akan jadi masalah besar kalau sampai orang lain membuka ponselnya terlebih jika yang membukanya adalah rivalnya sendiri.
"Anita, tolong bantuin aku nyari HP ku sekali lagi ya!" ucap Ivan pada Anita.
"Di sini?"
"Iya, semalem abis dari sini aku langsung pulang dan nggak kemana mana soalnya," jawab Ivan.
"Mmmmm..... di mobil mungkin?"
"Enggak Anita, aku udah nyari di mobil dan nggak ada, coba deh kamu hubungin nomerku, tadi pagi aku hubungin pake HP nya mama nggak nyambung!"
Dengan ragu Anita mengambil ponselnya dan menghubungi nomer Ivan.
Tuuuuttt Tuuuuttt Tuuuuttt
Tidak tersambung, itu karena Dimas melepaskan sim card yang terpasang sejak ia berada di aparetemen Anita.
"Nggak bisa, mungkin baterainya lowbatt," ucap Anita pada Ivan.
"Bisa jadi sih, ya udah kalau gitu aku pulang dulu ya, aku coba cari lagi di rumah barangkali ada."
"Oh, iya, mungkin," balas Anita gugup.
Menyadari sikap Anita yang tidak biasa dari tadi membuat Ivan curiga.
"Anita, kamu nggak sembunyiin apa apa dari aku kan?" tanya Ivan dengan serius.
"Enggak.... aku.... aku... nggak tau apa apa tentang HP kamu!" jawab Anita yang masih berusaha menutupi kebohongannya.
"Kamu tau kan apa yang akan terjadi kalau aku tau kamu bohong sama aku?"
"Iii... iya.... aku.... aku tau," jawab Anita yang semakin tidak bisa menghilangkan kegugupannya.
"Ya udah kalau gitu, aku pulang dulu ya!"
Anita mengangguk lalu membiarkan Ivan pergi. Anita merasa apa yang dilakukannya adalah pilihan yang terbaik agar Ivan tidak kembali berbuat kasar padanya. Tanpa Anita tau seluruh ruangan di apartemen itu telah dipasang CCTV oleh Ivan dan itu akan menjadi akhir yang buruk bagi Anita karena telah berbohong pada Ivan.
Sesampainya di rumah, Ivan segera masuk ke kamarnya dan mulai sibuk dengan laptopnya.
"apa aku hapus semua datanya dulu ya, sekarang udah siang, kalau emang ada yang nemuin HP ku, pasti dia bawa ke tempat servis HP buat buka password nya, iya, aku harus hapus datanya dulu, soal nyari tau dimana dimananya gampang nanti." batin Ivan dalam hati.
__ADS_1
Ia lalu fokus pada laptop di hadapannya. Ia akan mengendalikan ponselnya melalui laptop yang saat ini ia pegang. Dari sana ia bisa menghapus semua data yang bisa menimbulkan masalah dan mentransfer data data yang penting ke dalam laptop yang ia pegang.