Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Degup Jantung Dimas


__ADS_3

Melihat Dimas yang yang terluka, Bu Ana meminta Dini untuk memanggil Bu Sarah, agar lukanya segera diobati.


"Dini, kamu panggil Bu Sarah ya!"


Setelah Dini memanggil Bu Sarah, Dini diminta pulang oleh Bu Ana, guru BK di sekolah itu.


"Kalian ini ada masalah apa?" tanya Bu Ana pada Andi dan Dimas.


Andi dan Dimas tak menjawab. Dimas yang sedang diobati oleh Bu Sarah meringis menahan sakit.


"Kalian udah kenal sebelumnya?" tanya Bu Ana lagi.


"Sudah Bu," jawab Andi.


"Apapun masalah kalian, ibu harap kalian bisa menyelesaikannya secara dewasa, terutama kamu Andi, kamu ketua OSIS, kamu harus bisa memberi contoh yang baik untuk teman-teman dan adik kelas kamu."


"Iya Bu, saya minta maaf," ucap Andi.


"Untuk saat ini, tidak ada hukuman untuk kalian berdua, tapi jika ibu lihat hal ini terulang lagi, ibu tidak akan berpikir panjang lagi untuk memberi kalian hukuman, paham?"


"Paham Bu," jawab Andi dan Dimas bersamaan.


Setelah Andi dan Dimas bersalaman dengan paksaan Bu Ana, merekapun diizinkan pulang.


Di depan gerbang, Dini masih menunggu Andi dan sejujurnya ia juga menunggu Dimas.


"Kamu belum pulang Din?" tanya Andi yang melihat Dini duduk di depan gerbang sekolah.


"Belum, aku nunggu kamu," jawab Dini.


"Ya udah, ayo pulang!"


"Gimana tadi? kamu dapat hukuman?" tanya Dini sambil berjalan pulang bersama Andi.


"Enggak Din, kali ini masih dikasih toleransi sama Bu Ana, tapi kalau Bu Ana liat aku berantem lagi sama Dimas, pasti langsung dapat hukuman Din."


Dini tidak begitu fokus dengan Andi, ia memikirkan keadaan Dimas. Melihat darah yang keluar dari hidung dan bibir Dimas membuat Dini khawatir.


"Kamu nggak dengerin aku Din?" tanya Andi yang merasa tak di dengarkan Dini.


"Eh, denger kok, lain kali cuekin aja Dimas daripada kamu kena masalah."


"Aku nggak bisa biarin orang yang ganggu kamu Din!"

__ADS_1


Dini hanya tersenyum, ia merasa beruntung memiliki sahabat seperti Andi. Mungkin bagi teman-temannya melihat Andi emosi seperti tadi adalah hal yang mengejutkan tapi tidak bagi Dini. Ketika ada yang mengganggu Dini, Andilah orang yang paling depan melindungi Dini. Andi begitu sensitif mengenai hal apapun jika itu berkaitan dengan Dini.


Tiba-tiba, tiiiiinnnn.....tiiiiiinnnnn.....


Suara klakson mobil mengagetkan Andi dan Dini. Mobil itu perlahan berhenti di dekat Andi dan Dini. Setelah kaca mobil dibuka, ternyata Dimas yang mengendarai mobil itu.


"Mau bareng nggak?" tanya Dimas dari balik kemudinya.


Dini dan Andi kompak tak menjawab, mereka tetap berjalan mengabaikan Dimas yang sengaja memperlambat laju mobilnya agar bisa sejajar dengan Dini dan Andi.


"Ya udah kalau nggak mau, jangan lupa ya sayang nanti malem kita ketemu di rumah kamu!" ucap Dimas dengan sumringah.


"Lo bisa pergi nggak?" bentak Andi pada Dimas.


"Sabar dong Ndi, inget kan kata Bu Ana?" jawab Dimas santai.


"Udah, cuekin aja!" ucap Dini dengan menggandeng tangan Andi, takut jika tiba-tiba Andi kehilangan kesabarannya lagi.


"Gue duluan ya, bye sayang!" ucap Dimas sambil melambaikan tangannya keluar jendela mobil.


Dalam hatinya Dini sedikit lega karena melihat Dimas yang baik-baik saja.


"Kamu nanti malem ngerjain tugas sama Dimas?"


"Iya Ndi, gimana lagi, besok udah harus dikumpulin," jawab Dini tak bersemangat.


"Nggak papa Ndi, jangan terlalu khawatir sama aku, aku udah bisa jaga diri kok!" ucap Dini meyakinkan Andi yang terlihat begitu khawatir karena membiarkan Dini hanya berdua dengan Dimas.


Sesampainya di rumah, Dini melihat sebuah kotak yang tidak asing lagi baginya. Ya, itu adalah kotak dengan pita merah dari Dimas.


Dini segera mengambil kotak itu dan membukanya. Ternyata isi dari kotak itu adalah sebuah gantungan kunci berbentuk lebah. Entah apa maksud Dimas memberinya benda itu. Dini hanya tersenyum kemudian meletakkannya di meja.


Dini sekarang sudah terbiasa tinggal sendiri di rumahnya. Ia sudah bisa menerima keadaan yang tak pernah ia inginkan dalam hidupnya.


Perlahan, mentari pulang meninggalkan peraduannya. Bintang dan bulan menjajarkan diri di hamparan gelap malam. Menerangi jiwa-jiwa yang kehilangan cahaya hidupnya.


Dini menyiapkan buku-buku yang ia butuhkan untuk mengerjakan tugas kelompok bersama Dimas. Ia menunggu Dimas di balai-balai depan rumahnya.


Demi tugas yang diberikan oleh Pak Galih, Dini harus bisa mengesampingkan egonya agar bisa menyelesaikan tugas kelompok itu. Meski ia sangat ingin mengerjakannya sendiri, ia tetap harus menunggu Dimas datang untuk membagi tugas masing-masing.


Tak berapa lama kemudian Andi datang.


"Dimas belum datang?" tanya Andi.

__ADS_1


"Belum Ndi, kamu nggak kerumah Doni? atau Doni yang ke rumah kamu?"


"Aku yang ke rumah Doni abis ini, kamu jaga diri baik-baik ya Din, jangan percaya apapun yang dibilang Dimas," ucap Andi dengan mimik wajah khawatir.


Dini mengerti kekhawatiran Andi, karena 7 tahun lalu Dini pernah hampir celaka karena perbuatan Dimas.


Dini berdiri dari duduknya dan memeluk Andi.


"Kamu tenang aja, aku pasti baik-baik aja kok, kamu fokus aja sama tugas kamu."


Andi hanya diam dan semakin membenamkan Dini dalam pelukannya.


"Aku berangkat dulu ya Din!" ucap Andi sambil melepaskan pelukan Dini dengan berat hati.


"Iya, hati-hati di jalan ya!"


Andi pergi dengan hati yang dipaksakan untuk tidak khawatir. Jika saja bukan Dimas teman kelompok Dini, Andi tak akan secemas itu.


Tak lama setelah Andi pergi, Dimas datang dengan mobilnya.


"Hai sayang, udah lama nunggunya?" tanya Dimas genit.


"Kalau nggak mau ngerjain tugas, pulang aja deh!" sahut Dini kesal.


"Jangan marah-marah terus dong, udah buka kotaknya?"


"Udah," jawab Dini singkat.


"Suka?"


"Enggak."


"Terus kamu sukanya apa?"


"Sukanya kamu jangan genit sama cewek-cewek, risih banget liatnya."


"Kamu cemburu?" tanya Dimas dengan senyum jahatnya.


Dini terdiam, ia baru saja memikirkan kata-kata yang ia ucapkan sendiri.


"aku ngomong apa sih! iih bodohnya aku!" batin Dini mengutuk dirinya sendiri.


"Kamu kesini mau belajar nggak sih?" tanya Dini dengan nada tinggi, mencoba mengalihkan pembicaraan, namun Dimas hanya tersenyum membuat Dini semakin salah tingkah.

__ADS_1


"Kalau kamu nggak mau ngerjain tugas pulang aja deh, aku mau masuk, aku kerjain sendiri tugasku!" ucap Dini sambil berdiri, berniat untuk masuk ke rumahnya, namun Dimas tiba-tiba menarik tangan Dini hingga Dini terjatuh dan menindih tubuh Dimas.


Mereka terdiam, saling menatap untuk beberapa saat. Degup jantung Dimas semakin tak terkendali, ia memeluk Dini hingga membuatnya semakin menindih tubuh Dimas.


__ADS_2