Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Niat Dimas yang Sebenarnya


__ADS_3

Malam telah hadir bersama bulan yang seolah sedang tersenyum di atas sana. Bintang bintang tak lupa ikut memeriahkan kebahagiaan yang tengah hadir di tengah gelapnya malam.


Kesepian telah sirna, gemerlap lampu mulai memenuhi setiap sudut tanah lapang yang kini mulai tampak ramai oleh pengunjung. Tak tampak kesedihan yang terlihat di sana, hanya terdengar riuh canda tawa yang menyebarkan kebahagiaan.


"Aku suka banget ke sini, kamu tau kenapa?" ucap Aletta sekaligus bertanya pada Andi.


Mereka sekarang sedang berkeliling di jajaran stan makanan dan minuman yang ada di pasar malam itu.


"Kenapa? karena banyak makanan?"


"Enggak lah, kalau itu Nico yang suka haha...."


"Bener juga, apa yang bikin kamu suka ke sini?"


"Kamu perhatiin deh orang orang di sini, mereka semua keliatan bahagia, walaupun ada yang sendirian, ada yang sama pasangan, ada yang sama temen atau keluarga mereka semua keliatan bahagia dan aku suka liat kebahagiaan mereka," jawab Aletta dengan memandang ke arah sekitarnya.


"Kamu juga harus bahagia Ta," ucap Andi dengan mengacak acak pelan rambut Aletta.


Aletta hanya tersenyum lalu mengajak Andi ke sebuah stand yang menjual bermacam macam aksesoris.


"Keren ya!" ucap Aletta sambil memperlihatkan sebuah gelang karet berwarna hitam dengan gantungan tengkorak kecil.


"Kamu nggak mau yang ini?" tanya Andi dengan memperlihatkan sebuah gelang karet berwarna merah muda dengan rumbai rumbai dan gantungan berbentuk hati.


Aletta hanya memutar kedua bola matanya melihat gelang yang dipegang Andi. Gelang yang di bawa Andi sangat jauh dengan karakter dirinya dan Andi pasti tau itu.


"Kamu suka film horor Ta?"


"Mmmm, kalau dibandingin sama film romantis aku lebih suka horor, tapi yang paling aku suka yang genre action, sci-fi kayak gitu," jawab Aletta.


Andi mengangguk anggukan kepalanya lalu diam diam membeli gelang yang Aletta suka tadi. Sedangkan Aletta sibuk memilih ikat rambut di barisan lain.


Setelah selesai membeli ikat rambut, Aletta dan Andi pergi ke area wahana permainan.


"Kamu nggak mau naik bianglala?" tanya Andi pada Aletta.


Aletta menggeleng cepat.


"Kita naik itu aja ya!" ucap Aletta sambil menunjuk komidi putar.


"Kayak anak kecil Ta!"


"Ya udah aku aja kalau gitu," balas Aletta lalu mengantre di barisan antrian komidi putar, Andi lalu mengikuti Aletta untuk mengantre dan akhirnya mereka berdua menaiki komidi putar itu.


Setelah turun dari komidi putar, Aletta mengajak Andi untuk menaiki banyak wahana permainan lain yang tidak membuatnya takut.


Puas bermain main, Andi mengajak Aletta pulang.


"Kita pulang ya!"


"Sekarang?"


"Iya, kenapa?"


"Aku nggak mau pulang, mau sama kamu aja di sini sampe' pagi hehe...."


"Sekalian aja kita jualan di sini Ta!" balas Andi dengan menggandeng tangan Aletta untuk diajak ke tempat parkir.


"Hmmmm, kayaknya cuma aku yang suka abisin waktu lama lama sama kamu," balas Aletta dengan memanyunkan bibirnya.


"Lain kali kita ke sini lagi, sekarang waktunya kita pulang dan ngerjain tugas kuliah, oke?"


"Oke, aku nurut aja sama kamu!"


"Gitu dong," balas Andi dengan mengacak acak rambut Aletta dengan sedikit kasar, membuat rambut Aletta berantakan.


"Kamu hobi banget deh berantakin rambutku!" ucap Aletta dengan melepaskan ikatan rambutnya dan kembali mengikatnya dengan rapi.


"Itu hobi baru ku hehe...."


"Terserah kamu aja lah, sekarang kita kemana? balikin mobil Dimas dulu kan?"


"Dia pasti masih sama Dini sekarang, jadi kita langsung ke kos aja!"


"Kamu yakin? nggak kamu hubungin dulu?"


"Yakin seribu persen Ta, emang menurut kamu kenapa dia minta aku bawa mobilnya?"


"Buat ngajak aku ke kafe tadi mungkin!"


"Iya bener, tapi alasan yang pertama bukan itu."


"Apa?"


"Biar dia bisa berdua sama Dini tanpa ada yang ganggu, liat aja nanti, mereka pasti udah baikan," jawab Andi penuh keyakinan.


"Emang kamu suka gangguin mereka?"


"Enggak, cuma kadang nggak sengaja aja hehe...."


"Kamu tau banget ya tentang mereka!"


"Aku udah jadi saksi gimana Dimas ngejar ngejar Dini dari dulu Ta, aku juga yang jadi saksi gimana mereka berantem, salah paham, baikan, berantem lagi, baikan lagi, gitu terus nggak bosen bosen."


"Kamu nggak cemburu?"


"Cemburu? kenapa aku harus cemburu?"


"Karena Dini sama Dimas, gimanapun juga kalian kan udah deket dari kecil, pasti karena adanya Dimas kamu sama Dini jadi lebih berjarak kan?"


"cemburu? iya, aku masih cemburu, tapi aku sadar kalau aku bukan orang yang seharusnya cemburu karena aku tau sebatas apa hubunganku sama Dini," ucap Andi dalam hati.


"Buat aku yang penting Dini bahagia Ta dan aku percaya sama Dimas, dia pasti bisa bahagiain Dini, aku sebagai sahabat cuma bisa dukung mereka," jawab Andi.


Aletta hanya tersenyum mendengar ucapan Andi.


"kamu emang selalu bisa sembunyiin perasaan kamu dengan baik Ndi," ucap Aletta dalam hati.


**


Di tempat lain, Anita sedang berada di apartemennya bersama Ivan.

__ADS_1


"Udah ketemu yang kamu cari?" tanya Ivan pada Anita.


Anita menggeleng kesal.


"Kalau kamu minta tolong aku, kamu nggak akan segitu sibuknya sama HP hari ini!"


"Emang kamu bisa dapetin kontaknya Dini? dia itu manusia ansos, nggak banyak yang tau kontaknya, palingan cuma temen temen dekatnya aja dan......."


"Ini kan yang kamu cari?" tanya Ivan sambil menunjukkan nomor kontak Dini yang tersimpan di ponselnya.


"Ini beneran kontaknya Dini?"


"Kamu nggak percaya sama aku?"


"Gimana bisa? kamu dapet dari mana?"


"Nggak penting, yang penting aku udah dapet apa yang kamu cari, apa aku bisa dapet bayaranku sekarang?"


"Bisa, setelah aku pastiin kalau itu beneran kontak Dini, oke?"


"Oke!"


**


Di tempat kos.


Dini dan Dimas masih di dalam kamar Dini. Mereka sekarang sedang sibuk mengerjakan tugas kuliah mereka.


"Sayang, menurut kamu Andi sama Aletta sekarang dimana?"


"Kamu bilang mereka di kafe!"


"Toni tadi ngabarin aku, dia bilang kalau Aletta alergi sama bunga, jadi mereka pergi dari kafe."


"Kamu niat banget sih buat bikin Andi sama Aletta baikan!"


"Sebenarnya niatku nggak cuma itu, aku sengaja minta Andi keluar sama Aletta biar nggak ada yang ganggu rencana ku buat minta maaf sama kamu hehe....."


"Waaahh, licik juga ya kamu!"


"Bukan licik dong, kan aku juga bantuin Andi sama Aletta."


"Iya deh iya, terserah kamu aja!"


"Sayang, kamu nggak laper? aku pesen makanan ya!"


"Jangan, aku bikinin mie instan mau?"


"Mau mau, kasih telor ya hehe...."


"Oke, tunggu di sini, aku ke dapur dulu!"


Dini lalu keluar dari kamarnya dan pergi ke dapur dengan membawa dua bungkus mie instan.


Tak lama setelah Dini keluar, Dimas melihat ponsel Dini berdering. Terlihat nomor yang belum tersimpan memanggil. Dimas mengabaikannya. Namun sepertinya nomor itu tak berhenti memanggil sebelum Dini menerima panggilannya. Dimaspun mengambil ponsel Dini, berniat untuk memberikannya pada Dini yang sedang berada di dapur. Namun ketika ia memperhatikan nomor itu, ia baru sadar jika itu adalah nomor Anita. Ia segera menerima panggilan itu.


"Halo Din!"


"Dimas, kamu....."


"Jangan pernah ganggu Dini lagi Nit, aku sama kamu udah selesai, aku udah mau nerima kamu sebagai temen tapi kamu tolak, jadi sekarang jangan pernah lagi hubungin aku ataupun Dini, lupain kalau kita pernah kenal sebelumnya."


"Aku nggak ada urusan sama kamu Dimas, aku cuma mau ketemu Dini, aku....."


"Urusan kamu sama Dini berarti urusanku juga, jadi tolong jangan ganggu Dini lagi, bye!"


Klik, sambungan terputus. Dimas sengaja mematikan panggilan Anita. Ia lalu menghapus riwayat panggilan dari Anita dan memasukkan nomor Anita ke dalam kontak yang terblack list.


Dimas lalu keluar dari kamar Dini dan mengikuti Dini ke dapur.


"Hmmmm, bau nya bikin laper!" ucap Dimas lalu duduk di samping kompor.


"Kamu tunggu aja di kamar, bentar lagi selesai!"


"Nggak mau, aku mau nemenin kamu di sini!"


Tak lama kemudian terdengar suara mobil yang terparkir di halaman depan kos.


"Kamu yakin Dimas masih di sini?" tanya Aletta meyakinkan.


"Yakin Ta, percaya sama aku!"


Ketika hendak naik ke lantai dua, Aletta dan Andi mendengar suara Dimas dan Dini yang berada di dapur. Merekapun segera melihat ke dapur dengan diam diam.


"Tuh kan mereka udah baikan," ucap Andi berbisik pada Aletta.


"Iya kamu bener," balas Aletta.


Andi lalu masuk ke dapur dan melemparkan kunci mobil ke arah Dimas, dengan sigap Dimas menerima kunci mobil yang tiba tiba terlempar ke arahnya.


"Thanks Dim," ucap Andi pada Dimas.


"Lo bawa sampe' besok juga nggak papa Ndi," balas Dimas.


"Thanks juga udah bikin alergi Aletta kambuh," ucap Andi dengan mengusap rambut Aletta yang berdiri di sebelahnya.


"Haha.... sorry Al, gue nggak tau kalau lo alergi bunga!"


Aletta hanya mengangguk lalu menghampiri Dini.


"Nitip mie nya sekalian dong!" ucap Aletta pada Dini.


"Sekalian aku juga ya Din!" sahut Andi.


"Bikin sendiri lah, males banget sih!" balas Dimas.


"Emang lo bikin sendiri?"


"Enggak sih hehe...."


"Ayo keluar, biar cewek cewek ini yang bikin," ucap Andi sambil menarik Dimas keluar dari dapur.

__ADS_1


"Aku tunggu di depan sayang," ucap Dimas pada Dini.


"Oke!" jawab Dini dengan mengaduk mie dalam panci.


Kini hanya ada Dini dan Aletta di dapur.


"Dari mana Al?" tanya Dini pada Aletta.


"Dari pasar malam, kapan kapan kamu juga harus ke sana Din, rame banget," jawab Aletta.


Dini mengangguk.


"Kalian udah baikan ya?" tanya Dini lagi.


Aletta hanya mengangguk dan tersenyum malu.


"Kamu beruntung Al, Andi nggak pernah sedeket ini sama cewek lain selain kamu," ucap Dini pada Aletta.


"Anita?" tanya Dini.


"Anita? kamu tau soal Anita?"


"Mmmmm, nggak tau banyak sih, cuma kayaknya mereka punya hubungan khusus dulu," jawab Aletta.


"Dia cuma masa lalu Al, dulu kita semua berhubungan baik, aku, Andi, Anita dan Dimas tapi Anita sendiri yang milih buat lepasin hubungan baik kita dan lebih ikutin egonya."


"Apa Andi dulu juga deket banget sama Anita?"


"Mungkin, tapi aku tau dia lebih sayang sama kamu daripada sama Anita," jawab Dini dengan senyum manisnya.


"Kamu tau dari mana? apa kamu tau apa aja yang udah mereka lakuin?"


"Aku nggak tau, tapi aku kenal Andi dari kecil Al, aku tau gimana takutnya dia waktu kamu mau pergi, gimana sedih dan bimbangnya dia, tapi aku nggak pernah liat itu waktu dia sama Anita, dia bahkan nggak sedih waktu tau kalau Anita lebih pilih Dimas," jelas Dini.


"Apa kamu nggak cemburu kalau aku sama Andi?"


Dini menoleh cepat mendengar pertanyaan Aletta.


"cemburu? aku udah hapus kata itu dari hatiku, tapi nyatanya rasa itu masih aku rasain sampai sekarang, tapi aku tau posisi ku sekarang dan aku nggak akan biarin rasa itu semakin tumbuh di hatiku,"


"Nggak ada kata cemburu dalam hubungan aku sama Andi Al, kita tau sebatas apa hubungan kita," jawab Dini berbohong.


"Justru aku yang harusnya tanya, apa kamu cemburu liat Andi sama aku?" lanjut Dini bertanya.


"Apa aku boleh cemburu?" balas Aletta balik bertanya.


"Maksud kamu?"


"Haha.... enggak, lupain aja, eh udah mateng tuh matiin kompornya Din!"


Dinipun mematikan kompor dan meniriskan mienya lalu menuangnya ke dalam mangkok.


Ketika Dini hendak membuang sisa kuah mie dari panci, tanpa sengaja air panas itu mengenai tangan Aletta yang sedang mencuci sendok.


"Aaaahhhh....." pekik Aletta kesakitan.


"Ya ampun Al, maaf aku nggak sengaja," ucap Dini sambil mengusap tangan Aletta dengan air yang mengalir.


"Nggak papa Din, aku cuma kaget aja kok hehe...."


"Aku beneran nggak sengaja Al, maaf," ucap Dini yang merasa bersalah.


"Nggak papa Din, ayo bawa mie nya ke depan, cowok cowok itu pasti udah laper!"


Dini mengangguk. Masing masing dari mereka lalu membawa 2 mangkok mie ke teras.


"Ini nggak gratis ya, bayar!" ucap Aletta sambil memberikan satu mangkok mie pada Andi.


"Ini juga bayar?" tanya Dimas pada Dini.


"Iya dong, karena kita buatnya spesial pake' cinta," jawab Dini.


"Kalau gitu aku bayarnya juga pake' cinta, cukup?"


Dini menggeleng.


"Aku bayar pake' seluruh hati dan jiwaku, bahkan hidupku cuma buat kamu," ucap Dimas dengan senyum manisnya.


Andi dan Aletta yang berada di sana hanya saling pandang dan merasa geli dengan ucapan Dimas.


"Lo apa apaan sih Dim, jijik banget," ucap Andi pada Dimas.


"Itu namanya romantis Ndi, lo harus banyak banyak belajar sama gue!" balas Dimas.


"Jangan, jangan kayak gitu please!" sahut Aletta dengan menutup kedua telinga Andi dengan tangannya.


Andi lalu menarik kedua tangan Aletta dan menggenggamnya.


"Itu bukan caraku Ta, kamu tau itu," ucap Andi dengan menatap tajam mata Aletta.


Dini dan Dimas yang berada di sana hanya saling pandang, mereka merasa menjadi obat nyamuk saat itu.


**


Di tempat lain, Anita berdiri di tepi jendela apartemennya dengan kesal.


"Kamu bisa coba lagi besok, sekarang aku mau tagih janji kamu, mana bayaranku?"


"Kamu mau uang berapa?"


"Uangku udah banyak, aku nggak butuh uang," jawab Ivan.


"Terus kamu mau apa?"


Ivan lalu melangkah mendekati Anita, ia menutup jendela lalu mendorong tubuh Anita ke sudut dinding.


"Kamu apa Ivan? jangan macem macem!"


Ivan mencengkeram dengan kuat kedua tangan Anita dan semakin mendekatkan dirinya ke arah Anita.


"Aku mau ambil bayaranku sekarang sayang," ucap Ivan dengan semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Anita.

__ADS_1


Mereka sangat dekat, bahkan hembusan napasnya terdengar berat di telinga Anita. Anita berusaha memberontak dengan menginjak kaki Ivan. Sesaat Ivan meregangkan tangannya membuat Anita berhasil lolos. Namun dengan cepat Ivan menarik Anita dan mendorongnya ke ranjang. Ia lalu menaiki ranjang dan menindih tubuh Anita. Ivan semakin kuat mencengkeram kedua tangan Anita, membuat Anita tak bisa melawan.


__ADS_2