Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Terpaksa


__ADS_3

Andi tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya pada Dini, karena Dini terlihat begitu lemah.


"Aa....an...ndii..." panggil Dini dengan suara terbata-bata karena menggigil.


"Tahan bentar ya Din," ucap Dimas sambil melepas kemejanya dan memakaikannya ke badan Dini.


"Anita, aku bisa pinjem kamar kamu nggak? Dini harus cepat ganti baju!" ucap Andi pada Anita dengan membopong badan Dini yang sudah lemas.


"Ayo Ndi," jawab Anita sambil mengantar Andi ke kamarnya.


"Biar aku yang ganti baju Dini, kamu tunggu di luar," ucap Anita sambil memilih bajunya yang tebal untuk Dini.


"Jangan lama-lama ya Nit."


Anita mengangguk, setelah menemukan baju yang ia cari ia segera mengganti pakaian Dini.


Setelah selesai, Anita keluar dari kamarnya.


"Udah Ndi, aku ambilin coklat panas dulu ya buat Dini."


Andi mengangguk kemudian masuk ke kamar Anita untuk menemui Dini.


"Din, kamu nggak papa kan?" tanya Andi pada Dini yang sedang duduk di ranjang Anita.


"Dingin Ndi!" jawab Dini pelan.


Andi langsung memeluk Dini, ia menyesal karena sempat mengabaikan Dini.


"Aku minta maaf ya Din," ucap Andi sambil memeluk erat Dini.


Dini tak menjawab, ia semakin erat memeluk sahabatnya itu.


Ia begitu merindukan kehangatan ini.


Anita yang sudah selesai membuat coklat panas hanya bisa berdiri mematung di depan pintu kamarnya.


Ada sedikit sesak yang menghimpit dadanya melihat Andi memeluk Dini di hadapannya.


Ia pun mengurungkan niatnya untuk masuk, ia lebih memilih untuk duduk di kursi panjang depan kamarnya.


Ia tak sanggup jika harus melihat Andi dan Dini saat ini. Tak lama kemudian Dimas datang.


"Dini ada di dalem?" tanya Dimas yang terlihat panik.


"Iya, tapi kayaknya kamu jangan masuk deh!" cegah Anita.


"Kenapa? kamu nggak masuk?" tanya Dimas tak mengerti.


Anita hanya menggelengkan kepalanya.


"Aku mau liat keadaan Dini," lanjut Dimas dengan berjalan memasuki kamar Anita.


Baru saja Dimas masuk, ia langsung berbalik dan duduk di samping Anita.


"Kan aku udah bilang," ucap Anita.

__ADS_1


Dimas hanya membuang napasnya dengan kasar, tanda ia sedang kesal.


"Kamu dari mana aja? kenapa baru muncul?" tanya Anita kesal, karena jika saja Dimas bersama Dini ketika hujan tadi, tentu bukan Andi yang menemani Dini saat ini.


"Aku balik ke mobil bentar tadi, ambil ini nih!" jawab Dimas yang tak kalah kesal.


Ia pun memberikan kadonya pada Anita.


"Apa isinya?"


"Nanti aja dibuka, aku nggak tau harus kasih kamu apa karena setauku kamu udah punya semuanya."


"Thanks!"


"Udah berapa lama Nit?"


"Apa?"


"Kamu?"


"Maksud kamu?"


"Udah berapa lama kamu nyimpen perasaan kamu buat Andi?"


"Jadi kamu pikir obrolan kita di mobil tadi siang serius? enggak lah, sok tau kamu!" jawab Anita berusaha mengelak.


"Udahlah Nit, aku tau kok, nggak perlu ada yang disembunyiin, tenang aja semua rahasia aman sama aku!"


Anita tersenyum kecut.


"Panjang ceritanya."


"Cerita aja Dim, semua rahasia aman sama aku!" ucap Anita menirukan ucapan Dimas.


Merekapun tertawa lalu keluar ke halaman rumah, tempat teman-temannya berkumpul.


Tak ada yang tau jika dalam tawa mereka tersembunyi segores luka yang menyakitkan jika dirasakan.


Hujan sudah reda, semua teman-teman Anita berpamitan untuk pulang satu per satu.


Tersisa Dimas, Andi dan Dini di rumahnya.


Di kamar Anita, Dini dan Andi masih berdua di sana.


"Andi tolong kamu denger penjelasanku ya, aku nggk mau kamu salah paham terus-terusan, aku sama sekali nggak ada niat buat belain Dimas ataupun kamu, aku cuma lurusin kesalahpahaman ini aja, aku mohon dengerin aku," ucap Dini memohon.


"Iya Din, aku akan dengerin semua penjelasan kamu."


"Pertama, soal aku yang pingsan waktu di sekolah, itu gara-gara aku belum ngerjain tugas kelompok dari Pak Galih jadi aku sama Dimas di hukum buat berdiri di lapangan sampe' jam pelajaran Pak Galih habis, terus tiba-tiba hujan dan aku pingsan, jadi Dimas bawa aku ke UKS, dia yang nolongin aku Ndi."


"Yang waktu di mall?"


"Itu dia nggak sengaja jatuh Ndi, gara-gara lantainya licin."


Andi hanya diam mendengar penjelasan Dini. Ia kini sadar bahwa ia hanya salah paham, tapi entah kenapa ia masih saja tidak suka dengan kehadiran Dimas di hidupnya.

__ADS_1


"Dimas udah nggak kayak dulu lagi Ndi," lanjut Dini.


"Aku tetep nggak percaya dia Din."


"Kenapa?"


"Nggak tau, aku takut terjadi apa-apa sama kamu kalau kamu deket sama dia."


"Andi, semua orang punya masa lalunya masing-masing dan masa lalu Dimas memang buruk dan menyakitkan buat kita, tapi kita juga nggak bisa tutup mata kalau dia sekarang bener-bener berubah lebih baik, dia bukan seperti Dimas yang kita kenal dulu Ndi."


"Entahlah Din."


"Ya udah ayo keluar, aku mau liat kamu minta maaf sama Dimas."


"Harus?"


"Iya harus, kamu udah hajar dia berkali-kali loh Ndi!"


"Aku cuma khawatir sama kamu Din."


"Iya aku ngerti, makasih udah khawatir sama aku, tapi nyatanya aku baik-baik aja kan, bahkan dia yang nolongin aku, kamu nggak perlu terlalu khawatir sama aku Ndi, aku bisa jaga diri kok."


Ucapan Dini membuat Andi sadar, Dini sekarang tidaklah sama dengan Dini kecil yang hanya akan menangis jika ada yang mengganggunya.


Ia sekarang tau apa yang harus di lakukan untuk mengatasi masalahnya. Namun tetap saja Andi tidak akan suka jika Dini semakin dekat dengan Dimas.


Setelah keluar dari kamar Anita, Andi dan Dini segera kembali ke halaman rumah Anita.


Hanya ada Dimas dan Anita di sana.


"Makasih ya Nit udah dipinjemin baju," ucap Dini pada Anita.


Anita mengangguk dan tersenyum.


"Kamu baik-baik aja Din?" tanya Dimas yang segera mendekati Dini, membuat Andi kesal.


"Aku nggak papa kok," jawab Dini dengan senyum termanisnya.


"Andi mau ngobrol sama kamu nih!" lanjut Dini sambil menyenggol lengan Andi.


"Ikut gue!" ucap Andi sambil berjalan menjauhi Dini dan Anita.


Dimas mengangguk dan mengikuti Andi tanpa banyak bertanya.


"Gue minta maaf!" ucap Andi sambil mengulurkan tangannya.


"Haaah, lo kesambet apa Ndi?" tanya Dimas setengah mengejek.


"Lo jangan kepedean, gue terpaksa minta maaf karena Dini yang nyuruh," ucap Andi tanpa menurunkan uluran tangannya meski diabaikan oleh Dimas.


"Oke!" jawab Dimas menerima uluran tangan Andi.


"Asal lo tau, gue nggak pernah maafin perbuatan lo, dulu ataupun sekarang lo sama aja, benalu!" ucap Andi menahan emosi.


Dimas hanya tersenyum kecut.

__ADS_1


"Lo nggak berubah Ndi, kekanak-kanakan!" ucap Dimas lalu pergi meninggalkan Andi yang semakin emosi.


__ADS_2