Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Rindu yang Tersimpan


__ADS_3

Tepat jam 7 malam, Dimas menjemput Dini dengan mobilnya untuk diajak ke cafe.


Mendengar mobil yang berhenti di depan rumahnya, Dini segera keluar dengan mini dress berwarna merah muda dan motif bunga bunga kecil. Tak lupa ia membawa tas selempang kecilnya.


Dini segera mendekat ke arah Dimas yang sudah berdiri di depan mobilnya.


"Udah bawa mobil sendiri?" tanya Dini.


Dimas mengangguk dan segera menarik Dini lalu memeluknya.


"Kamu cantik," ucap Dimas pelan di telinga Dini.


Dini segera melepas pelukan Dimas dan memukul lengannya pelan.


"Modus ya!" ucap Dini.


"Hahaha, kok modus sih!"


"Udah ah, ayo berangkat!"


Dimaspun membukakan pintu mobilnya agar Dini masuk kemudian berlari kecil dan duduk di balik kemudi.


"Tangan kamu udah nggak papa?"


"Udah sembuh kok," jawab Dimas dengan senyum termanisnya.


"Udah Dim jangan senyum, kamu bikin aku makin jatuh cinta," batin Dini dalam hati.


Sebelum menyalakan mesin mobilnya, Dimas menggenggam tangan Dini dan mendekatkan dirinya ke arah Dini. Dini hanya diam menerima perlakuan Dimas. Dimas semakin mendekatkan wajahnya namun tiba tiba ada yang mengetuk kaca pintu mobilnya dari luar.


Dini segera melepaskan tangannya dari genggaman Dimas sedangkan Dimas segera membenarkan posisi duduknya.


Dengan jantung yang masih berdegup kencang ia membuka kaca mobilnya. Ia sangat kesal karena Andi menganggu rencananya.


"Apaan sih Ndi!"


"Hayoo lagi ngapain?"


"Kamu nggak sama Anita?" tanya Dini berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Itu dia, Anita nggak bisa ke sini."


"Kenapa?" tanya Dimas menimpali.


"Gue nggak tau, lo anter gue ke rumahnya ya!"


"Ogah, males banget!" jawab Dimas dengan menyalakan mesin mobilnya dan menutup kaca pintu mobilnya.


Andipun masih menggedor gedor kaca pintu mobil Dimas, merengek seperti anak kecil yang akan ditinggal pergi orangtuanya.


"Ganggu banget sih temen kamu!" ucap Dimas pada Dini.


"Kan temen kamu juga, anterin dia dulu ya!"


"Hmmmm......" balas Dimas dengan hanya berdehem.


Dimas pun membuka kaca pintu mobilnya.


"Buruan, sebelum gue berubah pikiran!"


Andipun segera masuk dan duduk di kursi belakang.


"Anter gue ke rumah Anita abis itu kalian duluan aja, ntar gue nyusul sama Anita."


"Terserah lo!" balas Dimas kesal.


Dini hanya tertawa kecil melihat sikap kekasih dan sahabatnya itu.


Sesampainya di depan rumah Anita, Andi segera turun dari mobil Dimas.


"Thanks Dim!" ucap Andi sebelum Dimas menghilang dari pandangannya.


Andipun segera masuk ke rumah Anita. Tak lama setelah beberapa kali mengetuk pintu, Bi Inah keluar dan mempersilakan Andi untuk masuk.


"Masuk den," ucap Bi Inah pada Andi.


"Panggil Andi aja Bi!" balas Andi merasa sungkan.


"Non Anita udah nunggu di kamar, den Andi masuk aja!"


"Panggil Andi aja ya Bi hehehe...."


"Oh iya, maaf Bibi nggak biasa panggil nama, Bibi panggil mas Andi aja ya!"


"Boleh deh, saya masuk dulu ya bi!"


"Iya mas, bibi lanjut beres beres dulu."


Andi mengetuk pelan pintu kamar Anita namun tak ada jawaban.


"Nit, aku masuk ya!" ucap Andi sebelum memutuskan untuk membuka pintu kamar Anita.


Masih tak ada jawaban, Andipun membuka pintu kamar Anita dan mendapati Anita yang sedang berdiri di samping jendela kamarnya, menatap nanar ke arah luar.


"Aku pikir kamu udah siap siap buat ke cafe!" ucap Andi yang melihat Anita masih mengenakan pakaian tidurnya.


Anita tak menjawab, pandangannya masih tak teralihkan oleh ucapan Andi. Andipun merasa ada yang tidak beres dengan Anita. Andi mendekati Anita dan memeluknya dari belakang.


"Kamu nggak jadi ke cafe?" tanya Andi dengan masih memeluk Anita.


Anita terisak, air matanya kembali jatuh membuat Andi segera melepaskan pelukannya dan memutar tubuh Anita agar menghadap ke arahnya.


"Kamu kenapa Nit?" tanya Andi yang melihat Anita menangis dengan sudut bibir yang berdarah, pipinya terlihat membiru seperti bekas benturan atau tamparan.


Anita tak menjawab, ia semakin menangis menjadi jadi.

__ADS_1


Melihat keadaan Anita yang seperti itu, hatinya seperti teriris. Ia yakin itu adalah perbuatan Pak Sony, kepala sekolah sekaligus orangtua kandung Anita.


"cara mendidik orangtua macam apa yang Pak Sony terapkan sama kamu Nit! orangtua mana yang tega membiarkan anak kandungnya sendiri menderita seperti ini," batin Andi yang ikut merasakan kesedihan Anita.


Ia memeluk Anita erat, membiarkan Anita menumpahkan semua tangis dan kesedihan dalam pelukannya.


Ia mengusap lembut rambut Anita dan semakin membenamkan Anita dalam pelukannya.


Setelah Anita lebih tenang, Andi melepaskan pelukannya dan mendudukkan Anita di ranjang, sedangkan Andi berjongkok di hadapan Anita.


Ia mengusap air mata Anita yang masih tersisa di pipinya.


"Aaaawww," rintih Anita ketika Andi tak sengaja memegang lebam bekas tamparan papanya.


"Maaf, nggak sengaja, sakit ya!"


Anita mengangguk pelan.


"Mau cerita?" tanya Andi dengan menggenggam tangan Anita.


Anita menggeleng.


"Ya udah nggak papa, tapi nanti kalau kamu mau cerita, cerita aja ya, jangan dipendam sendiri!"


Anita mengangguk tanpa suara.


Andi berdiri lalu mencium kening Anita dan duduk di sebelah Anita.


Anita menggenggam tangan Andi dan bersandar di bahunya.


"Kamu mau ke cafe?" tanya Anita.


"Enggak, aku mau nemenin kamu!" jawab Andi dengan mengusap tangan Anita yang menggenggamnya.


"Makasih ya Ndi,"


"Jangan pernah ngerasa sendiri ya Nit, aku selalu di sini kapanpun kamu butuh aku."


Anita mengangguk pelan.


*************


Di tempat parkir cafe, Dimas dan Dini tak segera turun dari mobil.


"Kamu kenapa sih?" tanya Dini yang melihat wajah Dimas tampak kesal.


"Temen kamu tuh, ganggu terus!"


"Andi? dia kan cuma......."


"Dia selalu ganggu kita Andini, dulu waktu di rumah kamu, ini tadi juga terus kapan lagi? tiap aku mau......."


Cuuupppp


Satu kecupan dari Dini mendarat di bibir Dimas, membuat Dimas terdiam seketika. Kekesalannya seperti luntur begitu saja.


"Nggak turun?" tanya Dini dengan mengetuk kaca pintu mobil Dimas, membuat Dimas terbangun dari lamunannya dan segera turun dari mobilnya.


"Nakal ya kamu sekarang!" ucap Dimas dengan mencubit hidung mancung Dini.


"Biariiinnn weeekk!" balas Dini dengan menjulurkan lidahnya dan berlari masuk ke cafe, meninggalkan Dimas.


Dimas hanya menggeleng gelengkan kepalanya melihat sikap Dini. Dalam hati ia bersyukur bisa melihat Dini yang kembali ceria. Ia berharap agar mamanya bisa menerima Dini dengan baik, seperti mamanya yang bisa bersikap begitu baik pada Anita.


Dini segera masuk ke pantry dan membantu Toni, sedangkan Dimas yang baru datang segera mempersiapkan dekorasi yang akan dipasang untuk menyambut kembalinya Yoga ke cafe.


"Minum dulu," ucap Dini dengan meletakkan dua gelas minuman di dekat Dimas.


"Makasih sayang!"


"Andi kok belum dateng ya, dia nggak hubungin kamu?"


"Enggak, bentar lagi juga dateng!"


"Oh iya, kamu bilang mau ngajak aku jemput kak Yoga, kenapa nggak jadi?"


"Nggak jadi, Sintia sendiri yang jemput!"


"Sendiri?"


Dimas mengangguk.


Ya, Sintia memang sudah biasa mengendarai mobil sejak SMP, jauh sebelum ia memiliki SIM. Itu kenapa ia bisa dengan mudah bolak balik dari rumah kakeknya ke cafe Dimas.


Ketika ia tinggal di rumah Dimas, orangtua Dimas tak mengizinkannya untuk mengendarai mobil sendiri.


"Sintia udah bisa bawa mobil dari SMP loh!" lanjut Dimas.


"Iya? keren banget!"


"Apanya yang keren? nakal itu, bandel, belum punya SIM udah kemana mana!"


"Keren lah, aku sepeda motor aja nggak bisa," balas Dini.


"Kamu itu udah sempurna dengan semua yang kamu punya sekarang, nggak perlu kayak orang lain lagi, kamu udah jauh di atas mereka," ucap Dimas dengan mengusap lembut rambut Dini membuat Dini tersenyum malu.


***********


Di rumah sakit, Sintia membantu Yoga membereskan barang barangnya dan segera meninggalkan rumah sakit setelah Yoga menyelesaikan biaya administrasinya selama di rawat di rumah sakit itu.


"Kamu sama siapa Sin?" tanya Sintia.


"Sendirian," jawab Sintia dengan membawa tas yang tampak berat.


"Kakak aja yang bawa!" ucap Yoga mengambil alih tas yang dibawa Sintia namun malah di tolak oleh Sintia.

__ADS_1


"Kakak jangan bawa yang berat berat, Sintia bisa kok!" ucap Sintia dengan sekuat tenaga membawa tas yang memang sangat berat itu.


"Udah, sini kakak bawa!"


"Jangan kak!" balas Sintia yang masih bersikeras membawa tas itu.


"Kamu ngeremehin kakak ya?"


"Enggak, bukan gitu, ya udah deh gini aja!" jawab Sintia dengan menaruh tasnya di lantai dan memanjangkan tali tasnya lalu ditariknya.


Yoga terkekeh melihat tingkah Sintia yang begitu menggemaskan di matanya.


Sesampainya di tempat parkir, Sintia segera memasukkan tas yang menyiksanya itu ke dalam bagasi mobilnya.


"Kamu sendirian?" tanya Yoga memastikan.


"Iya, kan tadi Sintia udah bilang," jawab Sintia.


"Kakak pikir kamu sama Pak Adi, nggak sama Dimas," jawab Yoga yang salah mengartikan jawaban Sintia ketika masih di dalam rumah sakit.


"Udah, ayo!" balas Sintia dengan menarik tangan Yoga.


"Tunggu!"


"Tunggu apa lagi kak, kak Dimas udah di cafe nunggu kakak!"


"Kakak yang nyetir!" balas Yoga dengan merebut kunci mobil yang dipegang Sintia.


"Loh, jangan kak, Sintia bisa kok!" ucap Sintia dengan berusaha merebut kunci mobilnya dari tangan Yoga.


Namun Yoga lebih sigap daripada Sintia, ia pun menggendong Sintia dan segera membawanya masuk ke mobil.


"Duduk manis di sini aja ya," ucap Yoga dengan memasangkan seatbelt pada Sintia.


Sintia menyerah, ia terpaksa membiarkan Yoga yang berada di balik kemudi.


"Kenapa kakak bandel banget sih!" gerutu Sintia.


"Kok bandel? bandel kenapa?" tanya Yoga tak mengerti.


"Kan Sintia udah bilang, Sintia bisa nyetir, kak Yoga duduk aja, kakak nggak percaya kalau Sintia bisa nyetir?" balas Sintia dengan bibir manyun karena kesal.


"Bukan gitu, kakak percaya kok, kamu kan udah sering bolak balik dari rumah ke cafe cuma buat ketemu Dimas."


"Kok jadi bahas itu sih, kak Yoga nyebelin!" ucap Sintia yang semakin kesal pada Yoga, namun Yoga malah tertawa kecil melihat sikap Sintia.


"Hahaha, kan emang bener!"


"Nggak usah bahas kak Dimas, nanti kak Dini cemburu kalau denger!"


"Mereka udah baikan ya?"


"Udah, Sintia juga udah minta maaf sama kak Dini, sekarang Sintia jadi temen kak Dini deh," jawab Sintia dengan senyum termanisnya.


Senyum yang selalu berhasil membuat jantung Yoga berdetak lebih cepat. Senyum yang selalu Yoga rindukan setiap hari.


Yoga membelai rambut Sintia dan menggenggam tangannya.


"Makasih ya, kamu selalu nemenin kakak di rumah sakit!"


"Kakak tau?"


Yoga mengangguk dan tersenyum ke arah Sintia membuat Sintia tersipu malu.


"Pokoknya nanti di cafe, kak Yoga nggak boleh sibuk apa apa, kakak diem aja, liatin kak Toni," ucap Sintia pada Yoga.


"Ya terus kakak ngapain ke cafe kalau gitu?"


"Kan kakak sendiri yang minta ke cafe, mau pulang aja?"


"Enggak, cafe jauh lebih baik daripada pulang ke rumah!" jawab Yoga dengan raut wajah sendu.


"Kakak ada masalah?"


"Enggak," jawab Yoga dengan menggeleng pelan.


"Kakak bisa cerita sama Sintia kok kalau lagi ada masalah, Sintia selalu siap dengerin cerita kakak, walaupun mungkin Sintia nggak bisa kasih solusi hehehe....."


Yoga kembali terkekeh mendengar ucapan Sintia. Raut wajahnya kembali terlihat bahagia. Pemikiran Sintia yang begitu polos dan sederhana mampu membuat kesedihannya perlahan menghilang.


Semua tingkah dan ucapan Sintia selalu membuat Yoga tersenyum bahagia. Dari pertama kali Dimas memperkenalkannya pada Sintia. Ia melihat Sintia begitu istimewa di matanya.


Tak dipungkiri, Sintia memang sangat manja dan kadang masih kekanak kanakan, tapi itu tak membuat Yoga berhenti mengaguminya.


Dengan hanya melihat senyum manisnya saja sudah cukup bagi Yoga untuk menuntaskan rindu yang selalu di simpannya karena ia tau sudah ada Dimas di hatinya.


Ia sadar jika ia tak akan pernah bisa memaksakan perasaannya meski ia tau jika Dimas tak pernah mempunyai perasaan yang sama pada Sintia.


Melihat Sintia yang gigih berjuang untuk mendapatkan Dimas, membuat Yoga selalu menghapus niatnya untuk mengutarakan perasaanya pada Sintia.


Ia hanya bisa menjadi pilihan kedua bagi Sintia jika Dimas mengabaikannya. Ia rela dan ia terima asal itu bisa membuat senyum Sintia kembali mengembang.


Ia tak peduli meski kedua orangtuanya melarangnya untuk menjalin hubungan dengan Sintia. Baginya, kebahagiaannya hanya dirinya sendirilah yang bisa menentukannya.


Terlebih kedua orangtua Yoga selalu sibuk dengan bisnis mereka. Bahkan ketika mendapat kabar jika Yoga mengalami kecelakaan dan koma di rumah sakit, mereka tak bisa menyempatkan waktunya barang seharipun untuk menjenguk Yoga.


Bisnis selalu menjadi alasan terkuat mereka untuk mengabaikan hal lain, termasuk Yoga. Ketika Dokter sudah menyatakan angkat tangan pada keadaan Yoga, barulah kedua orangtuanya kembali ke Indonesia dengan meninggalkan bisnis mereka.


Namun dengan kuasa Tuhan Yoga bisa terbangun dari komanya dan kembali pulih seperti sedia kala. Hal itu membuat kedua orangtuanya memilih untuk segera kembali dengan kesibukan bisnis mereka.


Sikap kedua orangtuanya membuat Yoga menyimpan rasa benci pada keluarganya sendiri, meski jauh di relung hatinya ia begitu merindukan hangatnya sebuah keluarga yang sempurna di hidupnya.


Itu kenapa Yoga memilih untuk tinggal di cafe bersama Toni daripada harus tinggal seorang diri di rumah mewah yang hanya membuatnya merasa kesepian.


Sesampainya di cafe, Yoga segera memarkirkan mobil Sintia dan segera masuk ke cafe.

__ADS_1


Di sana sudah ada Dimas dan Dini yang menunggu kedatangannya sedangkan Toni masih sibuk melayani beberapa pelanggan.


__ADS_2