
Anita masih diam beberapa saat sebelum ia memberikan jawabannya pada Dimas. Ia tidak ingin Dimas semakin curiga padanya.
"Kenapa kamu diem? apa lagi kebohongan kamu selama ini Nit?" tanya Dimas membuat Anita semakin kikuk.
"Aku nggak bohong Dimas, aku..... aku udah nggak fobia hujan, dulu iya tapi sekarang udah enggak, aku nggak pernah bohong soal apapun sama kamu, kamu percaya kan sama aku?" jawab Anita dengan meraih tangan Dimas dan menggenggamnya.
Dimas menarik kasar tangannya dari genggaman Anita lalu masuk ke dalam kamar dan menguncinya dari dalam.
"Dimas, buka Dim, aku jujur sama kamu, kamu bisa tanya sama mama kamu kalau kamu nggak percaya!" ucap Anita dengan menggedor gedor pintu kamar.
Dimas tak menjawab apapun, ia duduk di sudut kamar dengan memegangi kepalanya yang terasa pusing.
Di sisi lain, Andi hanya bisa menahan sesak di dadanya melihat kebersamaan Dini dan Dimas. Ia sudah menyiapkan hatinya jika suatu saat nanti Dini dan Dimas akan kembali bersama, namun cinta di hatinya memaksanya untuk merasakan cemburu, merasakan kebahagiaan yang menyakitkan untuknya. Baginya, tak ada yang lebih penting dari kebahagiaan Dini meski itu menyakitinya. Entah sampai kapan ia akan bertahan dengan perasaan itu, perasaan yang meninggalkan luka yang begitu dalam di hatinya, luka yang tercipta karena cinta yang begitu besar pada sahabatnya sendiri.
Di dalam kamar, Dimas berusaha mengingat lebih jauh tentang semua rentetan ingatan singkat yang pernah membayangi memorinya. Kepalanya mulai terasa sakit, tapi ia masih memaksa untuk mengingat semuanya. Setidaknya ia ingin jawaban atas keraguannya pada Anita karena hati kecilnya selalu meragukan ucapan Anita tentang masa lalunya. Terlepas dari itu, Dimas tetap tak bisa meninggalkan Anita karena Dimas sudah merampas masa depannya. Ia merutuki dirinya sendiri karena kebodohannya itu.
Di kamar pertama, Dini masih terduduk di ranjang kamar dengan selimut tebal yang menghangatkannya. Apa yang baru saja terjadi seperti mimpi baginya. Sekuat apapun ia berusaha melupakan Dimas, sejauh apapun ia berusaha menjauhi Dimas, ternyata hatinya tak pernah pergi, hatinya masih milik Dimas. Debar debar cinta itu masih ada walau ia sudah menguburnya dalam dalam. Ada kebahagiaan yang sudah lama ia rindukan ketika bersama Dimas. Bunga yang layu seperti kembali bermekaran di hatinya.
Dini keluar dari kamar, bergabung bersama Yoga, Sintia dan Andi.
"Kamu baik baik aja Din?" tanya Andi dengan menggenggam tangan Dini yang berada di sebelahnya.
"Aku baik baik aja," jawab Dini dengan senyum manisnya.
Andi melepaskan jaket yang dikenakannya dan memaikannya pada Dini.
"Makasih," ucap Dini lalu bersandar di bahu Andi.
Tak lama kemudian, suami Bi Em datang membawa 1 botol minyak urut.
"Ini mas, nanti malem sebelum tidur diolesi lagi ya!" ucap suami Bi Em pada Andi sambil menyerahkan botol yang dibawanya pada Andi.
"Makasih mang, ini udah baikan kok sekarang," balas Andi sambil menerima botol dari suami Bi Em.
"Alhamdulillah kalau gitu, saya permisi dulu kalau gitu," ucap suami Bi Em lalu pergi ke dapur menghampiri istrinya.
"Ini apa Ndi? iihhh, baunya kayak embah embah!" tanya Dini sambil menghirup aroma botol kecil yang dipegang Andi.
"Hahaha, ini obat urut Din, baunya emang gitu!"
"Kak Andi abis jatuh di bukit tadi kak!" ucap Sintia pada Dini.
"Haaahhh, kok bisa? terus sekarang gimana? ada yang luka? ada yang sakit?" tanya Dini panik.
"Yang sakit di sini," jawab Andi pelan dengan menunjuk dadanya.
"Iiiihhh serius Ndi, jangan bikin khawatir dong!"
"Hahaha, aku nggak papa kok, cuma kesleo dikit, tadi udah dipijitin suaminya Bi Em," jelas Andi.
Ia sebenarnya jujur dan serius menjawab pertanyaan Dini, hatinya memang terasa sakit, namun ia tak mungkin mengatakan hal itu.
"Bisa jalan?"
"Gendong kamu aja aku bisa!" balas Andi dengan mengedipkan sebelah matanya.
Dini tersenyum dan memukul lengan Andi.
"Kalian ini sweet banget sih, kenapa nggak pacaran aja?" seloroh Sintia yang membuat Andi dan Dini kompak menoleh ke arah Sintia.
"uupppss, aku salah ngomong kayaknya," batin Sintia.
Tiba tiba....
PYAAARRRRR
Terdengar bunyi barang pecah dari kamar kedua. Di dalam kamar, Dimas yang berusaha menggali ingatannya hanya mendapatkan kepalanya yang semakin sakit.
Dini segera berlari ke arah kamar, begitu juga yang lain.
"Di kunci dari dalem kak, ada kunci cadangan?" tanya Dini pada Yoga.
"Ada, bentar bentar gue cari!"
Tak lama kemudian, Yoga datang dengan membawa kunci cadangan dan segera membuka pintu kamar. Mereka melihat Dimas sudah terkulai lemah di lantai dengan memegangi kepalanya.
Yoga segera menghampiri Dimas, mendudukkannya dengan kasar.
"Stop Dim, jangan lakuin ini lagi, lo tau ini bahaya buat lo!" ucap Yoga penuh emosi.
"Gue.... gue harus inget Ga, gue....."
"Sabar Dim, apa lo nggak inget kata Dokter? semakin lo maksa ingatan lo akan semakin jauh, lo bisa bener bener kehilangan ingatan lo selamanya, lo......."
"Lo nggak ngerti posisi gue Ga, gue......" Dimas menghentikan ucapannya, sakit di kepalanya seperti menusuk dengan tajam ke setiap syaraf otaknya.
Dini mendekat dan memeluk Dimas. Hatinya terasa sakit melihat Dimas seperti itu. Jika saja Dimas tidak kecelakaan, jika saja mereka tidak bertengkar, jika saja ia mau memaafkan Dimas, mungkin Dimas tidak akan menderita seperti itu. Sayangnya semua sudah terjadi, ia tidak bisa lagi mengembalikan waktu.
__ADS_1
Dimas membalas pelukan Dini dengan erat. Entah kenapa berada dalam pelukan Dini selalu membuat hatinya tenang.
Andi yang melihat hal itu hanya bisa menahan sakit di hatinya. Perlahan ia keluar dari kamar dan menuju ke taman yang berada di samping vila.
Ya, mereka bertiga merasakan sakit, sakit yang berbeda. Dimas merasakan sakit yang menusuk di kepalanya untuk mengingat masa lalunya. Dini yang merasakan sakit karena rasa bersalahnya dan Andi yang merasakan sakit karena rasa cemburu di hatinya.
Mereka semua larut dalam rasa sakit mereka masing masing. Rasa sakit yang tidak bisa mereka hindari. Rasa yang memaksa mereka berteman dengan kesakitan itu.
Di taman sebelah vila, Anita duduk tak jauh dari tempat Andi. Ia mendekat dan duduk di sebelah Andi.
"Kenapa kamu masih nyimpen perasaan kamu Ndi?" tanya Anita.
"Kenapa kamu ngelakuin semua ini Nit?"
"Maaf karena libatin kamu, aku cuma iri sama Dini, dia yang pendiam dan nggak punya temen nilainya selalu tertinggi di sekolah, dia punya kamu yang selalu ada buat dia, sedangkan aku nggak punya siapa siapa, semua temenku palsu dan aku nggak pernah bisa lebih baik dari Dini, tapi sekarang aku cuma mau Dimas Ndi, aku cuma mau sama sama Dimas!"
"Kenapa harus Dimas Nit?"
"Dimas laki laki pertama yang selalu ada buat aku, dia laki laki pertama yang tulus bantuin aku, semua sikap dia bikin aku jatuh cinta sama dia, aku udah jatuh sejatuh jatuhnya Ndi, aku nggak bisa berdiri dan milih yang lain selain Dimas!"
"Kamu tau Nit, semua sikap Dimas sama kamu itu nggak lebih dari sebatas teman dan kamu juga tau gimana perasaan Dimas sama Dini, cinta mereka lebih kuat dari yang kamu tau, cinta mereka......"
"Tau apa kamu soal cinta Ndi? bahkan sampai sekarang kamu masih nyimpen perasaan kamu itu sendiri, kenapa?"
"Kamu sendiri yang bilang, akhir dari cinta dalam persahabatan udah bisa ditebak seperti apa, cukup aku yang punya rasa ini, cukup aku pendam sendiri rasa ini, aku baik baik aja selama Dini selalu bahagia, kebahagiaan Dini udah cukup jadi obat buat luka di hati aku!"
"Munafik kamu Ndi!" ucap Anita lalu berdiri berniat untuk pergi, namun Andi menahannya.
"Tolong Nit, berhenti ganggu Dini, aku yakin Dini juga nggak akan ganggu kamu sama Dimas!"
Anita hanya diam lalu menarik paksa tangannya dari genggaman Andi.
Di ruang tamu vila, sudah ada Dini, Dimas, Yoga dan Sintia. Anita segera mendekat ke arah Dimas dan memeluknya.
"Kamu masih marah?" tanya Anita manja.
Dini yang duduk di sebelah Dimas segera berdiri, berniat untuk pergi namun tangan Dimas menahannya tanpa melihat ke arahnya.
"Aku minta maaf kalau kamu masih marah," lanjut Anita.
Dimas masih diam dengan menggenggam tangan Dini erat. Dini kembali duduk, membiarkan Dimas menggengam erat tangannya.
Yoga dan Sintia yang melihat hal itu hanya saling pandang. Mereka merasa manusia manusia di hadapannya begitu rumit.
Tak lama kemudian, Andi datang dan duduk diantara Dimas dan Dini, melepas paksa tangan Dimas yang menggengam tangan Dini.
"Permisi permisi," ucap Andi lalu duduk begitu saja.
"Kaki kamu udah nggak papa?" tanya Dini.
"Udah, mau bukti?"
"Bukti apa?"
"Bukti kalau kaki aku udah nggak papa!"
"Caranya?"
"Aku gendong kamu ke atas bukit!"
"Itu bukan bukti, tapi modus kamu aja kan?"
"Hahaha, kamu lupa dulu kamu sering minta gendong buat naik ke atas bukit?"
"Dan kamu selalu gendong aku dibelakang, padahal aku maunya di gendong di depan gini!" balas Dini dengan menirukan gaya seorang pangeran yang menggendong putrinya.
"Mau aku gendong sekarang?"
"Enggak, nggak mau!"
Mereka berdua tertawa mengingat masa kecil mereka.
Tanpa mereka tau, Dimas memendam rasa cemburu di hatinya melihat kedekatan Dini dan Andi.
"cemburu? nggak mungkin,"
Dimas memeluk Anita erat, berusaha menghilangkan rasa yang mengganggu di hatinya.
"Eh, kita siap siap buat barbeque yuk!" ajak Sintia.
"Ayo!" jawab Dini dan Andi bersamaan.
"Kompak banget sih, bikin iri hehehe," ucap Sintia yang sengaja mengeraskan suaranya.
"Kita udah sehati, sampai mati," balas Andi dengan mengusap lembut rambut Dini.
"Duuhh, meleleh hatiku hahaha....." balas Sintia yang membuat Dimas semakin kesal dengan situasi saat itu.
__ADS_1
"Ayo sayang!" ucap Dimas dengan menarik tangan Anita, mengajaknya untuk pergi dari ruang tamu yang terasa memuakkan baginya.
Dengan senang hati Anita mengikuti langkah Dimas.
Mereka mulai menyiapkan keperluan mereka untuk pesta barbeque malam itu.
Andi dan Dimas menyiapkan api unggun, Yoga menyiapkan pembakaran, Sintia membuat minum bersama Bi Em, Anita dan Dini menyiapkan daging, sosis dan sebagainya.
"Din, bisa tolong ambil pemanggangnya nggak?" tanya Yoga pada Dini.
"Bisa kak, di mana?"
"Di gudang, udah lama nggak dipake' jadi di taruh gudang!"
"Oh, siap kak!"
"Oh ya, pintu gudang rusak Din, jadi jangan ditutup ya kalau kamu di dalem, otomatis ke kunci nanti nggak bisa dibuka dari dalem!"
"Oke kak!"
Dinipun berjalan ke arah gudang. Gudang di vila itu terletak di tempat yang terpisah dengan bangunan utama. Dini segera masuk ke dalam gudang, tak lupa ia membiarkan pintu gudang terbuka agar ia tak terkunci di dalam.
"Dim, kayu bakarnya kurang deh kayaknya, lo bisa ambil di depan gudang nggak?" tanya Yoga pada Dimas.
"Bisa," jawab Dimas.
Ia lalu pergi ke arah gudang, tanpa ada yang tau, Yoga sengaja mengikuti Dimas diam diam.
Ketika hendak mengambil kayu bakar, Dimas mendengar suara barang jatuh dari dalam gudang.
"Tolong, ada orang di luar?" tanya Dini dari dalam gudang.
Ia sedang mengambil alat pemanggang di atas menggunakan tangga, namun tiba tiba tangga yang dipijaknya jatuh, beruntung tangannya masih memegang tepian tempat untuk menaruh alat pemanggang itu.
"Andini, kamu di dalem?" tanya Dimas memastikan.
"Dimas, tolongin aku Dim, tangganya jatuh!" balas Dini yang langsung mengenali suara Dimas.
Dimas segera masuk ke dalam gudang, tanpa Dimas tau Yoga yang sedari tadi mengikutinya diam diam segera menutup pintu gudang lalu segera kembali ke tempat mereka akan mengadakan pesta barbeque.
"Tolong ambilin tangganya Dim," pinta Dini pada Dimas.
Dimaspun mengambil tangga di hadapannya namun ternyata tangga itu patah.
"Tangganya patah, kamu lompat aja!"
"Haahhh, lompat? yang bener aja, kamu mau bunuh aku?"
"Aku akan tangkap kamu Andini, kamu lompat aja!"
"Enggak, nggak mau!"
"Kamu mau sampe' kapan di sana?"
"Kamu kan bisa cariin tangga yang lain, tanya kak Yoga atau siapa gitu!"
"Oke oke, aku cari!" balas Dimas lalu melangkah ke arah pintu gudang.
Damn!! pintu tertutup, itu artinya pintu terkunci dan tak bisa di buka dari dalam. Yup, mereka terkunci berdua di gudang.
"Kamu ngapain masih di situ? tangan ku capek Dimas!"
Dimas berbalik dan berdiri di bawah Dini.
"Kamu lompat aja, aku pasti tangkap kamu, percaya sama aku!"
"Kamu cari tangga aja Dimas, cepetan!"
"Kamu nggak liat pintunya ketutup?"
"Haaahhh, ketutup? kok bisa? kamu sengaja ya?"
"Mana aku tau, kalau kamu nggak lompat sekarang, terserah, aku mau pergi!"
"Eh, tunggu tunggu, kamu pasti bisa nangkap aku kan?"
"Kamu ngeraguin aku? asal kamu tau ya aku lebih kuat daripada Andi!"
"Kok jadi bahas Andi sih!"
"Lompat sekarang atau aku pergi!"
"Oke oke, aku itung sampe' tiga ya, kamu siap siap, oke?"
"Jangan bawel, buruan!"
Dini menarik napasnya dalam dalam, ia sangat berharap Dimas bisa menangkapnya atau ia akan keluar dari gudang dengan tulang yang sudah patah.
__ADS_1
"Huuufffttt, satu.... dua.... tiga..... aaaaaaaaa......"
Kini Dini berada di tangan Dimas. Dimas menangkapnya dengan sempurna. Mata mereka beradu, detak jantung mereka kembali menggebu. Alunan melodi cinta kembali menggema dalam hati mereka. Mereka masih diam, membiarkan cinta kembali hadir memenuhi setiap sudut hati mereka. Membiarkan hati mereka dipenuhi oleh irama nada cinta yang bersyair indah memberikan kebahagiaan yang selama ini mereka rindukan.