
Entah kenapa Dini hanya diam menerima perlakuan Dimas padanya. Dadanya seperti bergejolak menahan luapan bahagia yang ia rasakan. Bahagia yang selama ini belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Aku pulang ya!" ucap Dimas sambil mengusap lembut rambut Dini.
Dini mengangguk dan tersenyum, pipinya terlihat merah merona menahan malu dan bahagia.
Tanpa Dini dan Dimas sadar, pakaian Dini yang basah masih tertinggal di mobil Dimas.
Malam itu seperti malam yang panjang bagi Dini. Ia tidak bisa tidur memikirkan apa yang baru saja terjadi.
Ia tidak pernah menyangka jika lelaki yang paling dibencinyalah yang pertama kali mencium keningnya.
Dini menarik selimutnya dan membenamkan kepalanya di balik selimut, berharap agar cepat terlelap.
Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, tapi Dini masih belum juga tertidur.
"aaarrgghhh, ayo Dini tidur, besok sekolah," ucap Dini kesal pada dirinya sendiri.
Esok harinya seperti biasa, Dini berangkat ke sekolah bersama Andi. Beruntung ia tidak bangun terlambat meski baru tidur beberapa jam saja.
"Ada apa Din?" tanya Andi yang melihat Dini begitu bahagia pagi ini.
"Ada apa?" tanya Dini tak mengerti.
"Kamu kayak lagi bahagia banget."
Dini hanya menjawab dengan senyum termanisnya membuat Andi semakin penasaran.
"Pagi sayang!" sapa Dimas pada Dini.
Dini hanya tersenyum dan Andi sudah pasti hanya menatap Dimas dengan ekspresi datar.
Dimaspun berjalan di samping Dini dan menggandeng tangannya.
"Dimas!" ucap Dini sambil berusaha menarik tangannya.
Dimas hanya tersenyum dan semakin erat menggenggam tangan Dini.
Andi hanya diam dan memilih untuk mempercepat langkahnya meninggalkan Dini dan Dimas di belakangnya.
"Lepas Dimas, ini sekolah jangan aneh-aneh!"
"Kan cuma pegang tangan aja."
"Tetep aja nggak boleh."
"Berarti pulang sekolah boleh dong!" goda Dimas dengan menyenggol lengan Dini.
"Tau ah!" balas Dini yang langsung berlari meninggalkan Dimas.
Setelah bel pulang sekolah berbunyi, Dimas segera mengambil alat tempurnya untuk membersihkan halaman sekolah.
"Gue rapat OSIS dulu!" ucap Andi pada Dimas.
"Oke!" jawab Dimas singkat.
Dimaspun meminta bantuan Pak Tejo untuk menggantikan Andi agar ia tidak terlambat menjemput Anita.
"Pak, tolong bantuin saya dong!"
"Andi kemana?"
__ADS_1
"Rapat OSIS, saya mau jemput Anita Pak, jadi harus cepet pulang."
"Oh, oke!"
Pak Tejopun menggantikan Andi untuk membersihkan halaman sekolah.
Setelah selesai, Dimas segera pulang dan menjemput Anita di rumah sakit. Tak lupa ia mengucapkan terimakasih pada Pak Tejo.
Sesampainya di rumah sakit, Dimas segera menuju ke ruangan Anita. Ketika Dimas membuka pintunya, ruangan itu sudah kosong. Tidak ada Anita ataupun barang-barang miliknya di sana.
"apa Anita udah pulang sendiri gara-gara aku telat, apa dia marah? siiaall," batin Dimas kesal sambil mengacak acak kasar rambutnya.
"Dimas!" panggil Dokter Dewi.
"Eh, Dokter, Anita udah pulang Dok?"
"Belum, dia nunggu kamu dari tadi."
"Tapi ruangannya kosong Dok!"
"Iya, dia udah siap-siap dari tadi, dia ada di taman belakang."
Dimaspun segera ke taman belakang rumah sakit. Terlihat Anita duduk terdiam seorang diri di sana.
Dimas mendekatinya dan menutup matanya dari belakang.
"Dimas!" panggil Anita.
"Kok tau sih?"
"Tau dong!"
"Nggak papa, ayo pulang!"
Merekapun berjalan keluar dari taman.
Setelah berpamitan dengan Dokter Dewi, Anita dan Dimas segera pulang.
"Mau beli komik dulu?" tanya Dimas.
"Boleh," jawab Anita penuh semangat.
Ketika memasuki mobil Dimas, Anita begitu terkejut melihat pakaian perempuan di sana.
"Dimas, kamu dari mana?"
"Dari sekolah langsung ke sini, tuh seragamku masih di tas!"
"Semalem kamu sama siapa di mobil?"
"Sama Andini, kenapa?" tanya Dimas tak mengerti, ia merasa sedang diinterogasi oleh Anita.
Anita hanya diam dengan pikiran-pikiran liarnya. Ia berusaha berpikir positif, tapi entah kenapa tak ada satupun hal positif yang berhasil ia pikirkan.
Ia hanya berpikir jika Dimas dan Dini sudah melakukan hal-hal yang di luar batas.
"Kamu kenapa Nit?" tanya Dimas yang melihat raut wajah Anita yang terlihat sedih.
"aku tau kamu suka sama Dini, tapi apa harus kamu lakuin ini Dimas?" batin Anita menahan sesak yang menggores hatinya.
"Anita, kamu kenapa? ada yang salah sama aku?"
__ADS_1
Anita hanya menggeleng, air matanya perlahan jatuh meski ia coba untuk menahannya.
"Jangan diem aja dong Nit."
"Kamu semalem ngapain aja sama Dini?"
"Ngapain gimana maksudnya kamu?"
"Jawab aja Dimas," balas Anita dengan mengusap air mata yang sudah luruh.
"Aku nggak ngerti maksud kamu."
"Ini punya Dini kan?" tanya Anita sambil melempar pakaian Dini ke arah Dimas lalu keluar dari mobil.
"Aaaarrrggghhhhh masalah lagi!" teriak Dimas kesal sambil memukul setir mobilnya.
Anita berjalan seorang diri di trotoar jalan, karena tidak ingin pulang, ia pun memutuskan untuk berbelok ke arah taman.
Dimas yang dari jauh melihat Anita pergi ke taman, segera mengikutinya dan memarkirkan mobilnya di tempat parkir taman.
"Anita, tunggu!" teriak Dimas sambil berlari ke arah Anita dan menarik tangannya.
"Kamu salah paham Nit, dengerin aku dulu!"
"Salah paham apa Dimas? aku tau kamu suka sama Dini, tapi aku nggak nyangka kamu ngelakuin hal itu sama dia."
"Enggak Nit, nggak gitu, Andini kemarin kehujanan dan aku minta dia ganti baju di mobil."
"Di mobil?"
"Iya, tapi aku keluar waktu dia ganti baju, aku nggak mungkin ngelakuin hal kayak gitu Nit, apalagi sama Andini."
Anita menunduk, ia sadar jika ia sedang cemburu saat ini.
"Aku minta maaf Dimas," ucap Anita pelan.
"Nggak papa Nit, ini cuma salah paham."
"Aku cemburu Dimas," ucap Anita membuat Dimas terperangah.
"Maksud kamu?"
"Aku nggak tau sejak kapan perasaanku ke kamu berubah, tapi perhatian kamu bikin aku merasa nyaman dan bener-bener bahagia, aku suka sama kamu Dimas."
"Enggak Nit, nggak mungkin, aku tau kamu suka sama Andi."
"Itu sebelum aku jadi sedeket ini sama kamu Dimas, kamu yang bikin perasaan ini muncul, perhatian kamu yang bikin perasaan ini semakin tumbuh."
Dimas hanya diam, ia tidak tau harus berkata apa. Perhatiannya pada Anita ternyata membuatnya dalam masalah baru.
"Aku pasti bisa lebih baik dari Dini, aku pasti bisa...."
"Anita, maaf kalau perhatianku selama ini bikin kamu jadi salah paham, tapi aku ngelakuin itu sebagai bentuk pertanggungjawabanku sama kamu, nggak lebih dari itu."
"Aku sayang sama Dini nggak peduli sebaik apa perempuan lain di luar sana, buat aku masa depanku cuma Dini."
Anita sudah tidak sanggup lagi menahan air matanya yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Ia merasa menjadi perempuan paling bodoh saat itu karena menyatakan perasaannya pada Dimas, meski ia tau Dimas begitu menyukai Dini.
"Aku yakin kamu pasti dapat seseorang yang jauh lebih baik dari aku, yang bisa bikin kamu bener-bener bahagia," ucap Dimas dengan memeluk Anita.
Anita hanya menangis dan semakin erat memeluk Dimas.
__ADS_1