Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Masalah Baru


__ADS_3

Dimas berharap jika Andi menerima saran darinya untuk mendekati Anita, dengan begitu Anita tidak akan mendekatinya lagi dan Andi bisa menghilangkan perasaannya pada Dini.


"Gue pikir-pikir dulu, gue nggak mau mainan hati cewek Dim!" ucap Andi pada Dimas.


"Lo nggak mainin hati siapa-siapa Ndi, justru lo bantu Anita buat nemuin seseorang yang selama ini dia butuhin, gue yakin pelan-pelan lo pasti bisa suka sama dia," balas Dimas meyakinkan.


Andi hanya diam kemudian masuk ke dalam rumahnya.


"Gue ngantuk, lo pulang aja!"


"Dasar tuan rumah nggak sopan!"


"Gue denger ya Dim!"


"Hahaha iya iya gue pulang!"


Dimas melajukan mobilnya dan segera pulang ke rumahnya.


Andi masih memandangi layar ponselnya, ia ingin menghubungi Anita, tapi ia ragu.


"apa aku harus lakuin ini Din? buat hilangin perasaanku yang salah ini sama kamu, apa emang harus kayak gini?" batin Andi bertanya.


Ia pun mencari nama Anita di ponselnya dan menghubunginya.


"Halo, ada apa Ndi?"


"Udah tidur Nit?"


"Belum, tumben kamu hubungin aku dulu."


"Besok bisa jemput aku nggak?"


"Sama Dini?"


"Enggak, dia sama Dimas."


"Oh, oke!"


Braakkkkk


Terdengar seperti suara pintu yang di buka dengan kasar dari tempat Anita, membuat Andi tersentak kaget.


"Ada apa Nit?"


Tuuuttttt tuuuttttt tuuuuuttttt......


Panggilan terputus.


Andi kembali menghubungi Anita, namun tak bisa.


Ia pun mengirim chat pada Dimas.


"Dim, lo besok jemput Dini ya, gue sama Anita."


"Oke," balas Dimas cepat.


"soal Dini aja fast respons lo Dim!" gerutu Andi.


***************************************


Anita yang sedang menerima panggilan dari Andi begitu terkejut ketika tiba-tiba Pak Sony membuka pintu kamarnya dengan kasar. Iapun segera memutus panggilan Andi.


"Dasar anak nggak tau diri!" bentak Pak Sony.


"Papa kenapa sih, baru datang udah marah-marah!"


"Sini kamu!" ucap Pak Sony sambil menarik tangan Anita dengan paksa.


Anitapun mengikuti ayahnya. Dilihatnya beberapa foto prewedding ayahnya dan calon mama barunya pecah berserakan di lantai.


"Ini pasti ulah kamu kan?"


"Iya," jawab Anita dengan tersenyum kecut.


"Apa apaan kamu ini, jangan kayak anak kecil Anita, kamu....."


"Papa yang jangan kayak anak kecil, papa bilang setia sama mama, nyatanya papa selingkuh dari mama," ucap Anita sebelum ayahnya menyelesaikan ucapannya.


"Jangan kurang ajar kamu, siapa yang ngajarin kamu berani ngelawan papa kayak gini? Dewi?"


"Nggak usah bawa-bawa Mbak Dewi pa, ini masalah Anita sama papa, sekarang papa pilih Anita atau wanita murahan itu!"


Plaaakkk


Satu tamparan keras mendarat di pipi Anita. Karena kerasnya tamparan itu membuat Anita yang berdiri di ujung tangga lantai dua terjatuh hingga ke dasar tangga lantai satu.


Darah segar menetes dari pelipisnya, kepalanya terasa pusing namun dia berusaha untuk tidak kehilangan kesadarannya.


Pak Sony yang melihat hal itu dari atas hanya diam dan membereskan foto-foto preweddingnya yang pecah.


Anita berusaha mengambil telepon rumah yang berada di dekat tangga dengan merangkak.


Ia berusaha menghubungi Dimas.


"tolong angkat Dim, kali ini aja, aku mohon,"


"Siapa?"


"Dimas, tolong ke rumahku Dim, aku janji nggak akan ganggu kamu lagi, tapi tolong kali ini aja bantuin aku," ucap Anita dengan terisak dan menahan sakit.


"Anita? tunggu bentar Nit, aku ke sana sekarang!"


Tanpa pikir panjang Dimas segera melajukan mobilnya dengan kencang ke rumah Anita. Ia takut jika terjadi hal hal yang tidak diinginkan pada Anita, mengingat bagaimana hubungan Anita dengan papanya dan cerita dari Dokter Dewi yang membuatnya sangat iba pada Anita, terlebih ia pernah melihat bekas tamparan yang sudah pasti Pak Sony yang melakukannya.


Sesampainya di rumah Anita, Dimas segera masuk dan melihat Anita yang sudah berlumuran darah di teras rumahnya.


Anita tersenyum melihat Dimas datang.


Tanpa banyak bertanya Dimas segera membopong Anita masuk ke mobilnya.


Ia memegang erat tangan Anita, berharap Anita tidak kehilangan kesadarannya.


"Tahan ya Nit, bentar lagi kita nyampe',"


Anita hanya tersenyum.


Di sela sela lampu merah, Dimas membersihkan darah Anita di wajah dan bajunya.


"apa yang udah terjadi sama kamu Nit? aku nggak mungkin biarin kamu sendirian kayak gini, tapi aku takut kamu salah artiin sikapku ini, aku bingung harus gimana, aku nggak tau gimana cara ngadepin kamu kalau kamu suka sama aku," ucap Dimas dalam hati.


Sesampainya di rumah sakit, Anita segera di bawa ke ruang UGD. Tidak ada Dokter Dewi yang terlihat. Dimaspun menghubungi Andi.


"Ndi, lo bisa ke rumah sakit sekarang?"


"Ke rumah sakit? lo sakit?"


"Bukan gue, Anita!"


"Anita? dia kenapa?"


"Gue nggak tau, dia sekarang di UGD, lo bisa ke sini kan?"


"Oke, kirimin alamatnya, gue ke sana sekarang."


Tak berapa lama kemudian Andi datang.


"Anita kenapa Dim?"


"Gue juga nggak tau, gue dateng dia udah berdarah darah, tapi kata Dokter dia baik-baik aja kok, sekarang masih tidur."


"Lo pulang aja Dim, biar gue yang nunggu di sini!"


"Lo yakin?"


Andi mengangguk.


Dimaspun berdiri dari duduknya berniat untuk pulang, sebelum ia melihat Dokter Dewi yang berlari ke arahnya.


"Anita kenapa Dimas?" tanya Dokter Dewi.


"Dimas nggak tau Dok, tadi dia telfon Dimas, waktu Dimas dateng dia udah berdarah darah," jelas Dimas.


"Kamu lihat ayahnya di rumah?"


"Enggak Dok, Dimas nggak liat."

__ADS_1


"Makasih ya, kamu udah bawa Anita ke sini."


"Sama sama Dok, eh iya ini Andi, temen satu sekolah juga," balas Dimas sambil memperkenalkan Andi.


"Saya Dewi, kakak sepupunya Anita," ucap Dokter Dewi memperkenalkan dirinya pada Andi dan mengulurkan tangannya.


"Andi," balas Andi sambil menerima uluran tangan Dokter Dewi.


"Dimas pulang dulu ya Dok, biar Andi yang nemenin Anita," ucap Dimas pada Dokter Dewi.


"Oh, iya, makasih ya Dimas!"


Dimas tersenyum lalu pergi meninggalkan rumah sakit dan pulang.


"Mau masuk?" tanya Dokter Dewi pada Andi.


Andi mengangguk lalu mengikuti Dokter Dewi masuk ke ruangan Anita.


"Kamu temen dekatnya Anita?" tanya Dokter Dewi.


Andi mengangguk.


"Kamu tau Anita kenapa?"


Andi menggeleng.


"Kamu sariawan?"


"Eh, enggak Dok!"


"Dari tadi saya tanya kamu cuma angguk angguk sama geleng geleng aja!"


"Maaf Dok!"


"Santai aja sama saya, saya juga masih seumuran kamu kok."


"Haahhh, eh, iya,"


"Hahaha, enggak Ndi, saya cuma bercanda."


Andi sedikit terkekeh mendengar candaan Dokter Dewi.


"Kamu teman sekelas Anita?"


"Enggak Dok, saya satu kelas sama Dimas."


"Oh, Anita udah cerita apa aja sama kamu?"


"Mmmm, nggak banyak Dok, cuma....."


"Soal ayahnya, dia cerita?"


Andi mengangguk.


"Kalau Anita cerita soal ayahnya sama kamu, berarti kamu orang spesial buat Anita."


Andi menoleh dengan ekspresi penuh tanda tanya.


"Iya, Anita nggak pernah cerita soal masalah pribadinya sama siapapun, kecuali kamu sama Dimas, berarti kalian berdua spesial buat Anita, nggak tau deh siapa yang pacarnya Anita, hehehe...." ucap Dokter Dewi terkekeh.


"Dimas udah punya pacar Dok," balas Andi berbohong, agar Dokter Dewi tidak salah paham dengan kedekatan Anita dan Dimas.


"Oohh, saya pikir belum, berarti kamu ya pacarnya?" tanya Dokter Dewi tanpa basa basi.


Andi hanya tersenyum dan menggeleng.


"Ya udah, saya keluar dulu ya, saya harus kerja!"


"Iya Dok."


Tak lama kemudian Anita bangun dari tidurnya.


"Andi!"


Andi tersenyum dan menggenggam tangan Anita.


"Ada yang sakit? mau minum?"


"Kamu kok di sini?" tanya Anita tanpa menjawab pertanyaan Andi.


"Enggak, bukan gitu."


"Dimas pulang, dia yang ngasih tau aku kamu ada di sini."


Anita sedikit heran dengan sikap Andi yang tiba-tiba berubah padanya. Tapi ia bersyukur karena setidaknya ada Andi yang menemaninya saat ini.


"Aku temenin kamu ya!"


Anita mengangguk dan tersenyum.


Malam itu Andi menemani Anita di rumah sakit. Merekapun tertidur dan baru bangun ketika jam menunjukkan pukul 7 pagi.


"Andi, kamu nggak sekolah?" tanya Anita yang baru saja bangun dan mendapati Andi yang masih tertidur di kursi samping ranjangnya.


"Sekolah Nit," jawab Andi dengan mata yang masih mengerjap.


"Ini udah jam berapa Ndi?"


Andi menegakkan badannya dan melihat jam tangan di tangan kirinya kemudian kembali merebahkan kepalanya di ranjang Anita.


"Loh, kok malah balik tidur sih?"


"Udah telat Nit," jawab Andi pasrah.


Tak lama kemudian Dokter Dewi masuk ke ruangan Anita.


"Nggak sekolah Ndi?" tanya Dokter Dewi.


"Udah telat Dok, nanti nyampe' sekolah disuruh pulang lagi."


"Mbak kenal sama Andi?" tanya Anita pada Dokter Dewi.


"Kenal dong, semua temen kamu Mbak kenal!"


"Jangan sok kenal deh Mbak!"


"Aku ke kamar mandi dulu ya Nit, permisi Dok!"


Andi pergi ke kamar mandi dan menghubungi Dini namun tak diangkat.


Ia pun menghubungi Dimas.


"Lo dimana Dim?"


"Di sekolah lah, lo nggak sekolah?"


"Gue baru bangun."


"Waah, parah lo Ndi, ngapain aja lo semalem?"


"Jangan mulai deh, lo jemput Dini kan?"


"Iya, gue bilang lo lagi sama Anita."


"Dia nggak tanya apa-apa?"


"Enggak, dia nggak peduli sama lo hahaha....."


"Rese' lo!"


Andipun mematikan panggilannya dan kembali ke kamar Anita.


"Andi, saya bisa minta tolong kamu anterin Anita pulang?" tanya Dokter Dewi.


"Loh, udah boleh pulang Dok?"


"Nggak papa, dia udah tahan banting, jadi luka gini aja cepet sembuh hahaha....."


"Apaan sih Mbak, sana keluar!"


"Nanti siang Mbak ke sini lagi, abis itu kamu bisa pulang!"


"Iya, bawel!"


Dokter Dewi pun keluar dari ruangan Anita.

__ADS_1


"Nggak ada yang sakit?" tanya Andi.


Anita menggeleng dan tersenyum.


***************************


Di sekolah, Dini duduk bersama Dimas karena tempat duduk Andi kosong.


"Andi bolos sama Anita?" tanya Dini pada Dimas.


"Iya mungkin."


Setelah bel istirahat berbunyi, Dini dan Dimas berjalan ke arah perpustakaan.


"Aku ke kamar mandi bentar ya!" ucap Dini pada Dimas.


Dimas mengangguk dan menunggu Dini di depan mading sekolahnya. Tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang membuat Dimas segera menoleh ke belakang.


"Sintia!"


"Sintia kangen kakak!" ucap Sintia yang kembali memeluk Dimas.


"Lepasin Sin, ini sekolah!" ucap Dimas dengan melepas paksa pelukan Sintia.


Dimas mengajak Sintia untuk ke kantin, karena ia tahu jika Dini tidak akan mungkin ke kantin.


"Kamu ngapain ke sini?" tanya Dimas pada Sintia.


"Kakak nggak liat seragam kita sama?"


"Kamu pindah ke sini?"


Sintia mengangguk dengan tersenyum manis.


"Bersihin bibir kamu, di sini nggak boleh dandan, jangan samain sama sekolah lama kamu!"


"Ini cuma lipgloss kok."


"Tetap aja nggak boleh!"


"Iya iya, Sintia nurut, kelas kakak di mana?"


"Kamu kenapa pindah ke sini?"


"Biar dekat sama kakak, kakek izinin Sintia tinggal di rumah Om Tama kok."


"Apa? kamu tinggal di rumahku?"


"Iya, Om Tama sama Tante Angel senang kok kalau Sintia tinggal di sana."


Dimas hanya bisa menepuk jidat karena masalah yang ia sepelekan ternyata datang lebih cepat dari dugaannya.


"Kakak nggak suka Sintia di sini?"


"Bukan gitu, tapi kamu nggak bisa peluk peluk kakak kayak tadi."


"Kenapa? kakak punya pacar?"


"Ini sekolah Sintia, kamu ngerti kan?"


"Iya Sintia ngerti, tapi nanti pulang bareng ya kak!"


"Nggak bisa, kakak ada janji sama temen kakak, kamu pulang sendiri aja!"


"Kakak kok tega sih biarin Sintia sendirian?"


"Kamu kan udah biasa bolak balik keluar kota waktu ke cafe!"


"Kakak jahat!" ucap Sintia dengan mata berkaca kaca.


"Jangan nangis dong, gini aja deh, kakak minta Yoga jemput kamu ya!"


"Kak Yoga kan sibuk di cafe!"


"Enggak, ada Toni yang bisa handle cafe."


"Ya udah!"


"Senyum dong, ilang cantiknya kalau nangis," goda Dimas membuat Sintia tersipu.


Bel masuk berbunyi. Sintia kembali ke kelasnya, begitu juga Dimas.


"masalah baru lagi!" batin Dimas sambil mengacak acak rambutnya.


Di kelas, Dimas melihat Dini sedang membaca buku di bangkunya.


"Dari mana aja Dim?" tanya Dini setelah Dimas duduk di sampingnya.


"Mmmmmmm, itu tadi ada perlu sama anak-anak."


"Ooo."


"Kamu marah?"


"Kamu dari kemarin suka ngilang gitu aja!"


"Iya maaf, pulang sekolah jalan-jalan ya?"


"Nggak mau!"


"Nggak mau ice cream?"


"Mau!" jawab Dini cepat.


"Hahaha, dasar maniak ice cream!" ucap Dimas sambil mengacak acak rambut Dini.


"Udah dimaafin kan?"


"Tapi jangan ngilang ngilang lagi ya?"


"Kangen ya?"


"Nggak usah kepedean!"


"Hahaha.... iya aku janji."


Bel pulang sekolah berbunyi, Dimas segera menarik tangan Dini dan mengajaknya ke tempat parkir.


"Kamu masuk dulu ya!" ucap Dimas sambil membukakan pintu mobilnya untuk Dini.


"Kamu mau kemana?"


"Bentar sayang!"


Dimas keluar dari tempat parkir dan menghubungi Yoga.


"Ga, lo dimana?"


"Masih di kampus, kenapa?"


"Ada kelas?"


"Udah selesai sih, tapi....."


"Buruan kesini, jemput Sintia!"


"Nggak bisa gue mau cari buku."


"Tolonglah Ga, lo tau kan gimana usaha gue buat dapetin Dini, gue nggak mau Sintia ngerusak semua usaha gue!"


"Lo dimana?"


"Di sekolah, buruan ke sini!"


"Sintia ngapain di sekolah lo!"


"Nanti juga lo tau, lo ke sini ya, dia nunggu lo!"


"Oke, on the way!"


Dimas menemui Sintia di kelasnya, membuat teman-temannya memandang iri karena kedekatan mereka.


"Kamu tunggu bentar ya, Yoga udah di jalan jemput kamu," ucap Dimas pada Sintia.


Sintia mengangguk.

__ADS_1


Dimaspun kembali ke tempat parkir dan segera keluar dari sekolah bersama Dini.


__ADS_2