Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Sabar dan Sadar


__ADS_3

Detik jam masih tampak berputar dengan lambat. Setelah merasa keadaannya baik baik saja, Andi memutuskan untuk kembali ke kos dan memulai kesibukannya sebagai seorang mahasiswa.


"Andi besok balik ke kos bu!" ucap Andi pada ibunya.


"Kapan kapan ajakin Dini pulang juga dong Ndi, ibu lama nggak ketemu dia," ucap ibu Andi.


"Iya bu, nanti kalau ada waktu Andi ajak Dini pulang bareng," balas Andi.


"Hubungan kalian baik baik aja kan? kalian nggak berantem kan?" tanya ibu Andi.


"Kita baik baik aja bu, udah gede juga masak masih suka berantem!"


"Justru karena kalian udah sama sama dewasa, masalah yang kalian hadapi akan makin besar, ibu harap kamu bisa sama Dini sampe kapanpun, jagain dia dengan baik ya Ndi!"


"Iya bu, pasti!" balas Andi penuh keyakinan.


Andi lalu masuk ke kamarnya, memasukkan barang barang nya ke dalam tas yang akan ia bawa kembali ke kos besok pagi.


"Ibu masuk ya!" ucap Ibu Andi dari luar pintu kamar Andi yang terbuka.


"Masuk aja bu, ibu masih kangen? hehe...."


Ibu Andi hanya tersenyum dan tampak menghela napasnya lalu duduk di sebelah Andi.


"Kamu harus janji sama ibu kalau kamu pasti bisa jaga diri baik baik, jangan kayak gini lagi!" ucap ibu Andi mengingat Andi pulang ke rumah dalam keadaan penuh luka.


"Iya bu, Andi pasti bisa jaga diri kok, Andi juga akan jagain Dini sebaik mungkin," jawab Andi.


"Cewek yang kemarin itu temen kampus?" tanya ibu Andi menanyakan Aletta, karena Andi pulang ke rumah diantar oleh Nico dan Aletta.


"Temen kampus, tapi beda fakultas," jawab Andi.


"Kalian nggak pacaran kan?" tanya ibu Andi yang membuat Andi sedikit terkejut.


"Emang kenapa bu?" balas Andi balik bertanya.


"Nggak papa, ibu cuma nggak mau kamu jadi jauhin Dini karena cewek lain, kalian udah sama sama dari kecil, ibu tau banget kalau kalian saling menyayangi, jadi ibu minta jaga baik baik hubungan kalian ya!"


"Iya bu, Andi ngerti," balas Andi.


**


Di tempat lain, Dini dan Dimas sedang berada dalam perjalanan ke mini market X diantar oleh Pak Adi.


"Bapak tunggu ya, nggak lama kok!" ucap Dimas pada Pak Adi setelah mereka sampai di mini market X.


"Baik mas," jawab pak Adi.


"Kamu ngajak aku ke sini mau beli apa?" tanya Dini.


"Bukan mau beli, mau ketemu pimpinannya!" jawab Dimas.


"pimpinan? kak Yoga?" tanya Dini dalam hati.


Setelah menemui salah satu pegawai mini market itu, benar apa yang papanya katakan, tidak akan mudah baginya untuk menemui sang pimpinan.


Setelah Dimas menjelaskan jika dirinya adalah suruhan Pak Tama, ia pun diizinkan menunggu di ruang yang sudah disediakan dan sang pegawai segera menghubungi pimpinannya.


Setelah hampir 15 menit menunggu, sang pimpinan mini market itu pun masuk ke ruang kerjanya dan mendapati 2 tamu yang sedang duduk di sofa, 2 tamu yang sangat dikenalnya.


"Dimas, Dini, kalian ngapain?" tanya Yoga yang tidak menyangka akan kedatangan Dimas dan Dini.


"Lo sendiri ngapain? gue mau ketemu sama......"


Dimas menghentikan ucapannya. Kini ia mengerti apa yang dimaksud sang papa.


"Kenapa gue nggak tau apa apa? kenapa lo nggak pernah cerita?" tanya Dimas dengan raut wajah dingin.


"Sabar sabar, gue akan ceritain sekarang," ucap Yoga lalu duduk di sebelah Dimas.


"Ya, lo harus cerita semuanya sama gue!"


Yoga pun menceritakan semua yang ia sembunyikan dari Dimas selama ini. Tentang mini market yang selama ini ia kelola tanpa sepengetahuan Dimas.


"Andini, kamu kenapa diem aja? apa kamu udah tau tentang hal ini?"


Dini tak menjawab, ia hanya tersenyum dengan menunjukkan deretan giginya.


"Jangan bilang Sintia, bokap sama nyokap juga tau?" tanya Dimas pada Yoga.


Yoga mengangguk ragu.


"Sialan lo Ga, jadi gue orang yang terkahir tau nih?"


"Bokap nyokap gue juga nggak tau kok, tenang aja hehe..."


"Lo emang hebat banget sih Ga, diem diem udah punya mini market yang cabangnya udah dimana mana, gue bangga sama lo!" ucap Dimas dengan menepuk nepuk bahu Yoga.


"Lo nggak marah?"


"Kenapa harus marah, gue justru bangga sama pencapaian lo!"


"Thanks Dim, rencananya gue bakalan masukan Toni sama Tiara ke sini kalau mereka mau, seenggaknya kita nggak telantarin mereka gitu aja kan?"

__ADS_1


"Gue setuju Ga," jawab Dimas.


"Aku juga lagi nyari kerja loh kak, nggak ada lowongan buat aku? hehe...." tanya Dini.


"Kamu mau kerja di mini market?"


"Mau banget," jawab Dini bersemangat.


"Enggak enggak, kamu harus fokus kuliah Andini, bentar lagi skripsi loh!"


"Justru karena bentar lagi skripsi Dimas, aku butuh banyak biaya tambahan!"


"Iya sih, aku juga udah nggak bisa bantu kamu, kalau gitu aku juga mau dong part time di mini market, boleh kan Ga?"


"Kok jadi gini sih? kan gue nggak buka lowongan!"


"Ayo lah Ga, lo nggak kasian sama gue? masak udah gede masih minta duit orangtua, gue bakalan jadi pegawai paling cakep di mini market nanti, biar pelanggan lo makin banyak!" bujuk Dimas.


"Gue nggak nyari pegawai cakep Dim, tapi yang beneran niat kerja!"


"Kurang niat apa gue Ga? gue butuh duit!"


"Lo butuh duit tapi tinggal di apartemen mewah, mana ada orang kayak gitu Dim!"


"Hehehe, anggap aja itu fasilitas dari orangtua gue!"


"Mobil lo sama mobil gue aja lebih mahal mobil lo, masak iya lo butuh duit?"


"Oke besok gue ganti mobil, gimana?"


"Tuh, lo ganti mobil kayak ganti kancing baju aja, gampang banget!"


"Udah deh Ga, gue nggak mau tau pokoknya gue mau kerja di mini market sama Andini."


"Kok lo maksa, kan gue bosnya di sini!"


"Ampun bos," ucap Dimas sambil menangkupkan kedua tangannya di dada dan sedikit membungkukkan badannya, persis seperti yang sering Yoga lakukan padanya.


"Gue pikir dulu deh, yang penting Toni sama Tiara aja dulu!"


"Terima kasih bos!" balas Dimas dengan melakukan hal yang sama seperti yang baru saja ia lakukan.


"Panggil bos lagi gue pecat lo!"


"Lah kan belum kerja hahaha...."


Mereka bertiga lalu tertawa. Kini Dimas sudah benar benar membulatkan tekadnya untuk fokus kuliah dan memperdalam ilmu bisnisnya. Setelah semuanya siap, baru ia akan memulai kembali bisnisnya dengan pengelolaan yang jauh lebih baik daripada sebelumnya.


Ia sudah banyak belajar dari bisnisnya yang sering bermasalah. Ia tau naik turun dalam dunia bisnis memang hal yang lumrah namun jika tidak ditangani dengan baik itu akan menimbulkan butterfly effect yang pastinya akan sangat membahayakan kelangsungan bisnisnya.


Dini berjalan ke lantai dua bersama Dimas lalu masuk ke kamarnya.


"Yakin mau masuk ke sana?" tanya Dimas.


"Yakin," jawab Dini penuh keyakinan.


"Makhluk kayak mereka itu nggak kenal siang atau malem loh sayang, mereka akan tetep....."


"Gangguin aku? aku nggak takut tuh!" ucap Dini lalu masuk ke kamar dan segera menutup pintu kamar, namun tangan Dimas mencegah pintu itu tertutup.


"Kamu yakin?" tanya Dimas.


"Yakin seratus persen, sana pergi!"


Dimas tak bergeming, ia mendorong pintu kamar dengan sekuat tenaganya membuat Dini akhirnya menyerah.


"Kamu mau apa sih Dimas?"


"Mau nemenin kamu sayang, aku nggak mau terjadi sesuatu sama kamu," jawab Dimas.


"Sini!" ajak Dini dengan menarik tangan Dimas ke arah jendela.


"Kamu liat makam itu kan? itu makam Kitty, kucing kesayangan mama kamu, iya kan?"


"Hehehe, kamu udah tau ya?"


"Dasar penipu, modus, mesum!" ucap Dini dengan mencubit pinggang Dimas berkali kali, Dimas hanya mengaduh tanpa menghindar.


"Ampun sayang, ampuuunnn!"


Dimas akhirnya menyerah, ia merebahkan badannya di ranjang Dini.


"Mama yang cerita sama kamu?"


"Iya, aku tanyain ke mama tadi!"


"Maaf sayang, aku cuma bercanda."


"Bercanda apa modus?" tanya Dini yang kini berdiri membelakangi Dimas yang masih berbaring di ranjang.


Dimas hanya terkekeh lalu bangun dan menarik tangan Dini dengan cepat, membuat Dini terjatuh tepat di atas tubuhnya.


Mereka saling pandang, mata mereka saling menatap. Dimas menyibakkan rambut Dini ke belakang telinga lalu membelai wajahnya.

__ADS_1


"Aku sayang sama kamu," ucap Dimas sangat pelan, namun bisa terbaca dengan jelas dari gerak bibirnya.


Dini hanya tersenyum, Dimas lalu sedikit menekan punggung Dini agar semakin menjatuhkan dirinya ke arah Dimas.


Mereka benar benar sangat dekat, hembusan napas dan detak jantung yang kian memburu sangat terasa satu sama lain.


Dimas lalu mendekatkan bibirnya dan.....


"Maaf maaf, mama nggak liat, mama nggak liat," ucap mama Dimas yang hendak menghampiri Dini di kamarnya. Ia sama sekali tidak menyangka akan melihat kejadian itu.


Dini yang mendengar suara mama Dimas segera beranjak dan menjauh dari Dimas, begitu juga Dimas yang segera bangun dan menjauh dari Dini.


Dini dan Dimas menoleh ke arah pintu, namun tak ada siapapun di sana. Sang mama segera turun setelah mengganggu anaknya tanpa sengaja.


Dini dan Dimas lalu turun untuk menemui sang mama.


"Eh anak mama udah pulang, dari tadi?" tanya mama Dimas yang melihat Dimas dan Dini menuruni tangga.


"Mama nggak usah acting deh!" balas Dimas lalu duduk di sebelah mamanya.


"Hehehe, maaf sayang, mama nggak tau tadi, mama cuma mau ketemu Dini kok!"


Mereka lalu mengobrolkan banyak hal di ruang tengah sampai sore.


**


Hari telah berganti. Pagi datang menjemput sang mentari. Andi sudah bersiap siap untuk berangkat ke kosnya diantar oleh ibu dan ayahnya menggunakan mobil yang mereka pinjam dari tetangga.


"Andi bisa naik bis kok bu, yah!"


"Ibu sama ayah pingin anterin kamu sesekali, nggak papa dong!" balas ibu Andi.


"Iya sih, tapi Andi jadi kayak anak kecil kalau kayak gini!" protes Andi.


"Ini ibu kamu bawain banyak barang loh, ada mie instan satu kardus, beras, kopi, teh, susu, gimana kamu bawa semuanya kalau nggak dianter!"


"Ya udah deh terserah ibu sama ayah aja!"


Merekapun berangkat menuju ke tempat kos Andi. Sesampainya di sana, Andi segera turun dari mobil bersama ibu dan ayahnya.


Aletta yang melihat Andi datang segera berlari turun ke bawah. Ia sudah sangat merindukan laki laki yang dicintainya itu, karena sejak pertemuan mereka yang terakhir di rumah Andi, Andi tak pernah menghubunginya sekalipun.


"Pagi tante, om!" sapa Aletta pada ibu dan ayah Andi.


Ibu dan ayah Andi hanya mengangguk dengan tersenyum membalas sapaan Aletta.


"Aletta bantuin om," ucap Aletta sambil mengangkat kardus yang berisi mie instan yang dibawa ayah Andi.


"Udah Ta, nggak usah," ucap Andi yang berusaha merebut kardus itu dari tangan Aletta.


"Nggak papa Ndi," balas Aletta.


Setelah menaruh semua barang bawaan Andi, ibu dan ayah Andi duduk di teras bersama Andi dan Aletta.


"Kamu nggak pernah hubungin aku nggak kangen sama aku?" tanya Aletta pada Andi sambil menaruh nampan berisi 3 gelas minuman.


Andi hanya tersenyum sambil mengacak acak rambut Aletta.


"Kebiasaan deh!" protes Aletta kesal karena rambutnya menjadi berantakan.


"Kalian ini pacaran?" tanya ibu Andi tanpa basa basi. Mengingat anaknya bukanlah laki laki yang mudah bergaul dengan perempuan, melihat Andi yang tampak dekat dengan Aletta membuat sang ibu curiga.


Aletta hanya diam dengan membawa pandangannya ke arah Andi.


"Ibu ada ada aja deh pertanyaannya, minum dulu bu, yah!" balas Andi mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Jawab pertanyaan ibu Andi!" ucap ibu Andi penuh penekanan.


Andi menghembuskan napasnya pelan, lalu mengangguk.


"Ibu butuh jawaban, bukan anggukan!" ucap ibu Andi yang terdengar sangat tidak bersahabat.


"Iya bu, Andi pacaran sama Aletta," jawab Andi, sedangkan Aletta hanya diam. Pertanyaan dan nada bicara ibu Andi terdengar seperti sebuah penolakan bagi Aletta.


"Terus gimana sama Dini kalau kamu punya pacar Ndi? siapa yang jagain Dini kalau bukan kamu?" tanya ibu Andi.


"Dini kan udah sama Dimas bu," jawab Andi.


"Oh, karena Dini udah sama Dimas jadi kamu sama dia, kalau Dini nggak sama Dimas apa kamu masih sama dia?" tanya ibu Andi yang membuat Andi bingung untuk menjawabnya.


"Udah bu, udah, lagian mereka kan udah sama-sama dewasa, Dini juga pasti bisa jaga dirinya sendiri!" ucap ayah Andi berusaha menenangkan sang istri.


"Justru itu yah, Andi nggak boleh ninggalin Dini, cuma Andi yang paling ngerti Dini, selama ini mereka selalu sama sama jadi mereka nggak boleh berpisah!" balas ibu Andi.


"Andi nggak akan ninggalin Dini bu, Andi cuma...."


"Maaf, saya pamit ke atas dulu, permisi," ucap Aletta memotong ucapan Andi.


"Aletta, Ta....!" panggil Andi namun Aletta masih berjalan cepat meninggalkan Andi dan kedua orangtuanya.


Meski tidak diucapkan secara langsung, Aletta cukup sadar akan posisinya saat itu. Ia tidak diterima oleh keluarga Andi dan sampai kapan pun hubungannya dengan Andi akan terus dibayang bayangi oleh Dini.


Ia tidak akan menangis meski hatinya terasa sakit. Ia duduk di belakang pintu kamarnya, menarik napasnya dalam dalam dan menghembuskannya dengan pelan.

__ADS_1


"Huuuuffftt, sabar Aletta, sabar dan sadar, kamu itu bukan siapa siapa," ucap Aletta dengan mencoba menenangkan dirinya sendiri.


__ADS_2