Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Misterius


__ADS_3

"Aaa....aaa apa sih Andi," jawab Anita gugup.


"Lupain aja, itu taxi kamu datang."


"Eh iya, ya udah aku pulang dulu ya, bye!"


Andi tak menjawab, hanya melambaikan tangan dan tersenyum.


Sepulang dari mengantar Anita, Andi pulang kerumahnya, ia mengurungkan niatnya untuk menemui Dini. Ia memikirkan kata-kata Anita.


Sedangkan Anita, di perjalanan pulang ia memikirkan Andi dan Dini.


"apa mereka benar hanya bersahabat? apa mungkin suatu saat nanti mereka bisa menjadi lebih dari sahabat? apa mereka diam-diam saling menyimpan rasa? aaarrghhh.... aku tak mau memikirkan hal-hal bodoh seperti ini."


Selama ini diam-diam Anita sering memperhatikan Andi dan Dini. Meski Andi pendiam dan tak banyak bergaul, tapi ia sangat pandai dan aktif dalam kegiatan sekolah. Itu sebabnya ia bisa terpilih menjadi ketua OSIS di sekolahnya. Begitu juga dengan Dini, ia juga tak banyak bergaul dengan teman-temannya, ia lebih suka menyendiri ketika Andi tak ada. Bedanya, Dini benar-benar tak menyukai keramaian, ia hanya akan belajar belajar dan belajar tanpa memikirkan kegiatan yang lain.


Anita merasa iri pada Dini yang bisa begitu dekat dengan Andi, entah kenapa melihat Andi bersama Dini seperti melihat sisi lain dari Andi yang tak banyak orang tau. Meski selama ini Anita mempunyai banyak teman, ia tak merasa benar-benar berteman baik dengan mereka.


Anita mencoba mendekati Andi dan Dini, berharap bisa menjadi bagian dari mereka berdua.


Di rumah Dini.


"Din, ini ada titipan lagi dari teman kamu," ucap Ibu Dini sambil menyerahkan sebuah kotak dengan pita merah diatasnya.


"Dari siapa bu?"


"Ibu juga nggak kenal, tapi katanya temen sekolah kamu."


"Kayaknya Dini pernah liat kotak ini deh Bu," ucap Dini sambil membolak balik kotak yang ia pegang.


"Iya, kemarin dia juga kesini ngasih kotak kayak gitu juga buat kamu, ibu masih inget kok."


"Kotak yang sama?"


Dini segera berlari ke kamarnya, mencari cari kotak pertama yang ia dapat. Ia sempat lupa tentang kotak itu karena selalu memikirkan surat ancaman yang ia dapat di sekolah dan sekarang ia lupa dimana ia menaruh kotak itu. Ia mencari ke setiap sudut di kamarnya. Akhirnya ia melihat apa yang ia cari di kolong tempat tidurnya dan segera mengambilnya.


Dini menaruh dua kotak itu di hadapannya, memeriksa dengan teliti berharap ada sebuah petunjuk tentang pengirim kotak itu. Namun nihil, tak ada petunjuk sama sekali yang ia lihat, hanya sebuah kotak polos dengan pita merah yang mengikatnya.


"dua kotak dengan pita merah, kotak pertama kecil, kotak kedua lebih besar, apa isinya? siapa pengirimnya?" tanya Dini dalam hatinya.

__ADS_1


Ia kembali menemui ibunya.


"Ibu nggak tanya namanya?"


"Enggak sayang, ibu lupa mau tanya namanya, yang ibu ingat dia ganteng loh," jawab Ibu Dini dengan tertawa kecil.


"Dini nggak punya teman ganteng bu," jawab Dini dengan ekspresi datar.


"Dia kesini kapan Bu?" lanjut Dini.


"Waktu kamu keluar tadi, emang kamu nggak lagi deket sama siapa-siapa? kok dari kemarin dapat hadiah terus," ledek ibu Dini.


"Ibu mulai deh, aku nggak punya teman selain Andi Bu."


"Iya iya, ibu percaya, yang penting jangan sampe' ganggu belajar kamu ya, sekolah nomer satu ya sayang!"


"Iya Bu, Dini mengerti," jawab Dini sambil masuk ke kamarnya.


Di dalam kamar, Dini tak bisa tidur, ia memikirkan tentang dua kotak misterius yang ia dapatkan. Ia ingin membukanya tapi ia takut kalau isinya adalah ancaman seperti yang ia dapat di loker sekolahnya.


Akhirnya Dini hanya meletakkan dua kotak itu di atas meja kamarnya.


Pagi harinya setelah selesai sarapan dan mencuci piring, ia segera berangkat ke sekolah. Sedangkan ibu Dini sudah berangkat bekerja sebelum Dini selesai mandi. Sebelum berangkat, ibunya selalu menyiapkan sarapan dan makan siang untuk Dini.


"Ayo berangkat!" ajak Dini.


"Ayo!"


Merekapun berangkat bersama seperti biasa.


"Kamu kemarin pulang jam berapa?" tanya Dini.


"Nggak liat jam Din, abis nunggu taxi nya langsung pulang kok."


"Bener?"


"Iya lah, mau kemana lagi?"


"Ya mungkin kamu anter dia sampe' rumahnya."

__ADS_1


"Nggak mungkin lah Din jalan kaki kerumahnya, jauh banget lah."


"Ya kan aku nggak tau Ndi."


"Kamu marah sama aku?"


"Enggak, kenapa marah?"


"Gara-gara kamu pulang sendiri kemarin."


"Enggak," jawab Dini singkat.


Entah kenapa, Dini merasa kesal ketika Andi membicarakan Anita, padahal Dini sendiri yang pertama menanyakannya.


Di gerbang sekolah, sudah ada Anita yang memang berniat untuk menunggu Andi dan Dini.


"Andi, Dini," sapa Anita.


Andi tak menjawab, hanya tersenyum ke arah Anita.


"Kamu nunggu siapa?" tanya Dini.


"Nunggu kalian," jawab Anita sambil tersenyum manis kearah Andi.


Andipun membalas dengan senyum termanisnya. Andi berusaha menerima perempuan lain selain Dini, ia berusaha menghilangkan sikap dinginnya pada perempuan. Meski susah, karena selama ini ia tak pernah dekat dengan peremuan lain selain Dini, ia harus berusaha. Ia memilih Anita untuk menjadi teman pertamanya selain Dini, karena ia menganggap Anita tak seperti teman-temannya yang hanya mendekatinya karena ada maksud lain. Selain itu, ia menganggap Anitalah yang mengerti sifat aslinya seperti apa, itu sebabnya ia belajar untuk menerima Anita di hidupnya. Setidaknya hanya itulah yang bisa ia lakukan sekarang, sebelum perasaannya pada Dini semakin besar.


Disisi lain, Dini tak mengerti apa sudah terjadi pada Andi dan Anita semalam sehingga membuat sikap Andi berubah. Selama ini Dini melihat Andi selalu mengabaikan teman-teman perempuannya yang mencoba mendekatinya. Melihat Andi tersenyum pada teman perempuannya merupakan hal yang sangat langka bagi Dini.


"Ayo masuk!" ajak Andi pada Anita.


Dengan perasaan bahagia, Anita berjalan di samping Andi. Ia merasa selangkah lebih dekat dengan Andi saat ini.


Sedangkan Dini hanya diam dengan seribu tanya di kepalanya.


"Kalian duluan aja, aku mau ambil buku di loker!" ucap Dini.


Andi dan Anitapun mengiyakannya. Mereka berjalan berdua melewati lorong kelas sebelum akhirnya berpisah karena kelas Andi dan Anita berbeda.


Dari belakang, Dini melihat Andi dan Anita begitu akrab, mereka banyak bercerita panjang lebar dan sesekali tertawa, membuat Dini semakin tak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


"apa Andi menyukai Anita? apa mereka sudah punya hubungan khusus? hmmm, selagi itu membuat Andi bahagia tak apa-apa" batin Dini.


Ketika Dini membuka loker miliknya, ia melihat seperti ada kertas lusuh di dalamnya. Selembar kertas yang telah robek namun direkatkan kembali dan sudah kotor seperti terkena tumpahan es atau sisa-sisa makanan. Perlahan, Dini mengambil kertas itu dan membacanya.


__ADS_2