Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Kepribadian Ganda


__ADS_3

Anita duduk dengan memegangi sikunya yang terluka sampai seseorang datang dan membantunya berdiri.


"Kamu nggak papa?" tanya si laki laki.


Anita hanya mengangguk.


"Ikut aku, aku obatin luka kamu!"


Anita kemudian mengikuti laki laki itu. Laki laki yang sangat dikenalnya, laki laki yang sempat singgah di hatinya, laki laki yang sudah dikecewakannya.


"Tunggu di sini, aku beli obat dulu!"


Anita kembali mengangguk, ia duduk di bangku yang berada di depan mini market. Tak lama kemudian laki laki itu datang dengan membawa beberapa obat dan minuman.


Tanpa banyak berbicara ia segera membersihkan luka Anita dan menyapunya dengan obat merah membuat Anita sedikit meringis menahan sakit.


"seperti biasa, kamu nggak banyak ngomong, tapi aku tau kamu masih peduli sama aku," batin Anita dalam hati.


"Udah, ada luka yang lain?"


"Nggak ada, makasih Ndi," jawab Anita.


Andi hanya mengangguk sambil memberikan satu botol minuman pada Anita.


"Kamu apa kabar?" tanya Andi pada Anita.


"Seperti yang kamu liat, aku baik baik aja," jawab Anita.


Andi hanya mengangguk anggukkan kepalanya mendengar jawaban Anita.


"Ada yang harus aku beli, aku masuk dulu," ucap Anita lalu berdiri dari duduknya dan masuk ke dalam mini market.


Setelah membeli semua keperluannya, Anita keluar dari mini market dan melihat Andi yang masih berada di tempatnya.


Andi segera berdiri dan menghampiri Anita ketika ia melihat Anita keluar dari mini market.


"Mau pulang?" tanya Andi.


"Enggak, aku harus ke suatu tempat, aku duluan ya!"


"Aku anter ya!"


"Nggak usah, aku bisa sendiri," balas Anita lalu pergi meninggalkan Andi.


Andi hanya diam di tempatnya dengan menatap Anita hingga Anita semakin jauh. Entah kenapa ada rasa sedih ketika ia melihat Anita. Bagaimanapun juga Anita adalah teman perempuan pertamanya selain Dini, hubungan mereka cukup dekat sampai ia tau bahwa Anita bukanlah gadis yang baik.


Tapi melihat keadaan Anita sekarang membuatnya iba. Takdir membuat Anita jatuh cinta pada laki laki yang tak pernah mencintainya, takdir mempertemukannya dengan laki laki yang selalu menyakiti fisiknya, laki laki yang bahkan memanfaatkan Anita demi kepuasannya sendiri.


Sedikit banyak Andi mengerti bagaimana perasaan Anita. Takdir cinta mereka sama, sama sama mencintai seseorang yang tidak bisa dimiliki. Namun jalan yang mereka pilih berbeda. Ambisi akan cintanya membuat Anita buta.


"kamu kayak gini karena keadaan Anita, keadaan memaksa kamu buat pilih jalan ini, keadaan yang memaksa kamu buat jadi seperti ini, apa semuanya akan berakhir kalau kamu bisa jatuh cinta sama orang lain? apa semuanya akan kembali indah kalau kamu lepasin Dimas?"


Andi mengerti, cinta tak pernah bisa kita cegah dan kita minta datangnya. Dengan mudah ia bisa datang pada siapa saja yang dikehendaki, namun tak akan mudah untuk pergi begitu saja. Sebaliknya, sekeras apapun kita meminta dan memaksa, jika cinta tak berkehendak, maka ia pun tak akan pernah datang.


Andi lalu meninggalkan mini market dan pulang ke kosnya.


Sedangkan Anita kini berada di ruko mama Ivan. Ruko itu masih tutup karena mama Ivan masih berduka. Tak pernah terlintas sedikitpun dalam pikirannya jika ia akan kehilangan anak semata wayangnya secepat itu.


"Tante, Anita dateng," ucap Anita ketika ia menaiki tangga.


Mama Ivan sudah memberikan kunci duplikat ruko pada Anita agar Anita bisa datang kapanpun ia mau.


Anita lalu berjalan ke arah balkon seperti yang biasa ia lakukan. Ia tau mama Ivan sering menghabiskan waktu di sana.


"Anita bawa roti sama minuman kesukaan tante," ucap Anita sambil meletakkan belanjaannya di meja.


"Andai tante tau gimana perasaan Ivan yang sebenarnya, mungkin kejadian ini nggak akan terjadi," ucap mama Ivan dengan memandang nanar ke atas langit.


"Ivan udah bahagia di sana tante, Anita yakin itu," ucap Anita dengan memeluk mama Ivan, berusaha menenangkan hatinya.


"Dia nggak akan bahagia Anita, dia pergi meninggalkan dendam di hatinya, gimana tante bisa tenang sekarang!"


"Tapi Ivan juga nggak mau liat tante sedih kayak gini, tante harus bisa relain Ivan, tante harus bisa lanjutin hidup tante dengan baik, demi Ivan," ucap Anita.


Mama Ivan hanya diam, ia tidak bisa berhenti memikirkan anaknya yang sudah tiada. Mama Ivan lalu duduk dan meminum minuman yang Anita beli dari mini market.


"Ini semua salah tante Anita, tante yang salah karena tidak menganggap serius apa yang terjadi sama psikis Ivan," ucap mama Ivan.


"Maksud tante?"


Flashback sepeninggalan papa Ivan


Sepeninggalan sang papa, Ivan sering mengurung dirinya di kamar. Ia bisa tiba tiba keluar kamar dan bersikap seperti biasa, namun ia juga bisa tiba tiba begitu emosional dan mengurung dirinya di dalam kamar.


Semakin hari sikap Ivan semakin berubah dan membuat sang mama begitu khawatir, membuatnya harus memanggilkan guru privat agar Ivan tidak banyak melakukan aktivitas di luar rumah, agar sang mama bisa mengawasinya secara langsung.


Seperti biasa Ivan belajar dengan tenang bersama sang guru, namun tiba tiba telinganya seperti mendengar suara sang papa yang sudah meninggal. Ia mendengar suara papanya yang terdengar begitu sibuk, panik dan marah. Ivan segera menutup telinganya namun suara itu seolah bersarang dalam kepalanya.


Ivan lalu mengacak acak buku buku di hadapannya, ia bahkan menendang meja belajar hingga mengenai gurunya. Melihat hal itu mama Ivan berusaha menenangkan Ivan yang sudah tak terkendali, mama Ivan membawanya ke kamar kosong.

__ADS_1


Mama Ivan sengaja mengosongkan satu kamar itu untuk Ivan, karena sebelumnya jika sudah seperti itu Ivan akan merusak apapun yang dilihatnya. Setelah beberapa saat melampiaskan emosinya, Ivan terduduk dan diam. Ia lalu membereskan kembali barang barang yang sudah di rusaknya.


Kejadian itu terus berulang hingga sang mama menyiapkan satu kamar kosong itu untuk Ivan.


Sang guru yang baru pertama kali melihat sisi lain dari Ivan, menyarankan agar mama Ivan membawa Ivan ke psikiater.


Mama Ivan pun menyetujuinya, ia membawa Ivan untuk bertemu psikiater.


"Dari hasil pemeriksaan, dia menderita dissociative identity disorder atau yang biasa disebut kepribadian ganda, hal itu bisa terjadi karena stres, kejadian traumatis baik secara fisik atau emosional yang terjadi berulang ulang," ucap Dokter setelah melakukan wawancara medis dan pemeriksaan fisik secara menyeluruh termasuk CT scan.


"Apa yang harus saya lakukan Dok?" tanya mama Ivan.


"Dia harus menjalani psikoterapi untuk menyatukan kembali kepribadiannya yang terpecah dan juga hipnoterapi untuk membantu mengendalikan perilaku yang tidak normal, untuk sementara saya akan memberikan antidepresan dan antipsikotik untuk mengatasi gangguan mentalnya," jelas sang Dokter.


Sejak saat itu, Ivan sudah tidak pernah lagi keluar dari jangkauan sang mama. Kemanapun ia pergi, mamanya akan selalu bersamanya. Sampai sang mama merasa jika Ivan sudah baik baik saja dan berhenti menjalani psikoterapi dan hipnoterapi, Ivan bahkan membuang semua obat penenangnya.


Ivan mulai menjalani hari harinya seperti anak anak normal pada umumnya. Tanpa mamanya tau, Ivan masih belum benar benar terlepas dari kepribadian gandanya. Seringkali saat ia merasa stres, panik atau marah salah satu kepribadiannya akan mengambil alih kontrol tubuh dan pikirannya. Hal itu berlanjut sampai ia dewasa.


Sikap ramah dan kepandaian Ivan membuat tak seorangpun menyadari sikap buruknya itu. Hingga ia menyiapkan rencana balas dendam dengan diam diam yang berakhir dengan kepergian dirinya untuk selamanya.


Flashback off


Mama Ivan menceritakan semua yang terjadi pada Ivan sejak meninggalnya sang suami. Hal itu membuat Anita terkejut tak percaya dengan apa yang sebenarnya dialami oleh Ivan.


"Tante harap kamu nggak menyesal pernah bertemu Ivan," ucap mama Ivan.


"Enggak tante, Anita nggak pernah nyesel," balas Anita dengan memeluk mama Ivan.


**


Mentari telah pergi, beriringan dengan datangnya bulan dan bintang. Dini masih berada di apartemen Dimas. Mereka sudah menyelesaikan tugas mereka dan kini sedang berdua di balkon. Cahaya malam dari sang bulan menyaksikan 2 insan yang tengah jatuh cinta. Bagi mereka, setiap hari adalah hari dimana mereka saling jatuh cinta.


Dekapan hangat bersatu meninggalkan debar debar rasa yang selalu hinggap dalam hati mereka. Sentuhan mesra seolah memberikan getaran dalam tiap sudut hati yang tengah berbahagia.


"Andini, apa kamu bahagia?" tanya Dimas dengan memeluk Dini dari belakang.


"Selama ada kamu di sini, aku selalu bahagia," jawab Dini.


"Aku boleh tanya sesuatu?"


"Apa?"


"Kasih aku satu alasan kenapa kamu bisa jatuh cinta sama aku!"


Dini lalu membalikkan badannya dan menatap Dimas, sedangkan tangan Dimas masih melingkar di pinggang Dini.


"Aku tau semua ini nggak mudah, tapi aku yakin kita akan bisa melewati semuanya," ucap Dimas dengan mencium kening Dini.


"Setelah semua yang terjadi, jangan pernah menyerah buat kita Dimas, jangan biarin ego kita menang di atas cinta kita," ucap Dini.


"Pasti sayang, selama aku masih bernapas aku nggak akan berhenti buat perjuangin hubungan kita," balas Dimas.


Biiiippp Biiippp Biiippp


Ponsel Dimas berdering, Dini lalu melepaskan dirinya dari pelukan Dimas, namun Dimas kembali merengkuhnya.


"Jangan!" ucap Dimas dengan memeluk Dini semakin erat.


"Udah malem Dimas, aku juga harus pulang," ucap Dini.


"Jangan pulang," balas Dimas.


"Tapi aku......"


"Aku akan anterin kamu besok pagi sebelum jam kuliah, aku janji," ucap Dimas memotong ucapan Dini.


"Apa kamu tidur di sofa lagi?"


"Kalau kamu mau tidur satu ranjang, nggak papa hehe..."


"Dasar mesum!" balas Dini dengan meronta dan melepaskan dirinya dari pelukan Dimas.


"Aku cuma kasih apa yang kamu mau kok hehe...."


"Bukan itu yang aku mau, aku tau kamu nggak nyaman tidur di sofa," balas Dini.


"Asal sama kamu aku akan selalu nyaman," ucap Dimas dengan senyum nakalnya.


"Modus banget, sana cek HP kamu, siapa tau penting!"


"Tunggu bentar ya!" ucap Dimas lalu masuk dan mengambil ponselnya.


Sebuah panggilan tak terjawab dari seseorang yang dikenalnya. Melihat Dini yang tampak sibuk dengan ponselnya sendiri di balkon, diam diam Dimas menghubungi seseorang yang baru saja menghubunginya.


"Halo Dok, maaf Dimas baru pegang HP," ucap Dimas ketika seseorang di sebrang sana menerima panggilannya.


"Iya Dim, nggak papa, kamu jadi nemenin dia tidur malam ini?"


"Iya Dok, apa yang harus Dimas lakuin kalau nanti dia mimpi buruk lagi Dok?"

__ADS_1


"Kamu harus terjaga sampai dia mulai mimpi, perhatiin raut wajahnya, ucapan ucapannya yang mungkin bisa kamu dengar dan biarin dia terus bermimpi sampai dia bangun sendiri!"


"Apa itu nggak bahaya Dok?"


"Tidak Dimas, kamu harus perhatikan dia baik baik, ingat apapun yang dia ucapin karena itu bisa jadi petunjuk penting buat kita," jawab Dokter.


"Setelah dia bangun, apa yang harus Dimas lakuin?"


"Kasih dia minum, bikin dia tenang dan tanyakan tentang mimpinya, usahakan dia mau cerita sama kamu tentang mimpinya, tapi kalau dia nggak mau, kamu bisa tanyakan lain kali, misalnya pagi harinya atau esok hari karena dia pasti berusaha melupakan mimpi buruknya itu jadi kamu harus cepet dapet jawabannya!"


"Baik Dok, Dimas mengerti."


"Bagus, selalu hubungin saya kalau ada informasi apapun yang kamu tau, saya akan bantu semampu saya!"


"Baik Dok, terima kasih."


Ketika Dimas sedang menghubungi Dokter Mela, Dini menghubungi Andi, memberi tahu Andi jika ia tidak pulang.


"Halo Din, kamu masih sama Dimas?" tanya Andi setelah menerima panggilan Dini.


"Iya, aku di apartemen Dimas abis ngerjain tugas," jawab Dini.


"Balik jam berapa? aku tunggu kamu di depan."


"Nggak usah nunggu Ndi, aku kayaknya balik besok pagi."


"Oh, ya udah kalau gitu, jangan telat ya, besok ada kelas pagi kan?"


"Iya, pagi pagi udah balik kok!"


"Ya udah kalau gitu, jaga diri kamu baik baik ya Din!"


"Iya Ndi, kamu juga, bye!"


Tak lama kemudian Dimas datang dan memeluk Dini dari belakang.


"Telpon siapa?" tanya Dimas dengan menyandarkan kepalanya di pundak Dini.


"Andi, aku bilang balik besok biar dia nggak nungguin aku," jawab Dini.


"Aku cemburu," ucap Dimas.


"Kenapa cemburu? aku kan di sini sama kamu!"


"Pokoknya aku cemburu," ucap Dimas dengan mencium leher jenjang Dini.


"Geli Dimas," ucap Dini dengan mendorong kepala Dimas namun Dimas semakin erat memeluknya.


"Aku cemburu sayang," ucap Dimas yang masih saja mencium leher Dini, membuat Dini merasa geli dan berbagai perasaan aneh yang ia rasakan.


Napas keduanya semakin memburu seiring dengan dekapan Dimas yang membuat mereka begitu dekat tanpa jarak.


"Dimas, kamu....."


CUUUPPP


Satu kecupan mendarat setelah Dimas mengarahkan wajah Dini ke arahnya. Di atas sana, bulan dan bintang tampak malu malu melihat apa yang di lakukan dua anak manusia yang tengah dimabuk cinta.


**


Di tempat lain, Andi duduk di teras dengan dua bungkus nasi goreng di hadapannya.


Ia sudah membeli 2 porsi untuk dirinya dan juga Dini, karena ia pikir Dini akan segera pulang.


Tak lama kemudian Nico datang dan duduk di hadapan Andi.


"Waahhh, bau makanan nih!" ucap Nico dengan melirik bungkusan plastik di sampingnya.


"Ambil sendok sana!" ucap Andi pada Nico.


Tanpa banyak bertanya Nico segera mengambil sebuah sendok di dapur.


"Ayo makaaaannn!" ucap Nico bersemangat dengan mengangkat sendok yang dibawanya.


Andi lalu memberikan satu bungkus nasi goreng pada Nico. Mereka lalu membukanya bersama dan....


"Sendok gue mana Nic?"


"Laaahhh gue pikir lo udah ambil, nih gantian aja hehe!"


"Ya udah deh!"


"Malem ini kita dinner romantis hahaha....."


"Gue masih normal kali Nic!"


"Gue juga kali, anggap ini dinner para jomblo kesepian hahaha..."


Mereka lalu menghabiskan nasi goreng dengan satu sendok yang dipakai bergantian.

__ADS_1


__ADS_2