
Sesampainya di D'First Cafe, kafe pertama Dimas, Dimas segera masuk dengan diikuti Dini di belakangnya.
"Lo kenapa Dim?" tanya Yoga yang melihat sudut bibir Dimas berdarah.
"Ada cowok gila yang tiba tiba nyerang gue!" balas Dimas dengan menatap tajam ke arah Dini.
Dini hanya menduduk, ia masih merasa bersalah saat itu.
"Cowok gila? siapa?"
Dimas tak menjawab, ia segera masuk untuk mencari kotak P3K.
"Obatin Din!" ucap Yoga pada Dini.
Dini mengangguk cepat dan segera menghampiri Dimas yang terlihat kesulitan mengobati lukanya.
"Saya bantuin Pak!" ucap Dini dengan mengambil kapas dari tangan Dimas.
Dimas hanya diam membiarkan Dini mengobati lukanya. Dalam hati ia merasa senang melihat Dini yang peduli padanya.
"Pacar kamu?" tanya Dimas.
"Eh, bukan kok Pak, cuma temen!"
"Yakin?"
"Iya, dia sahabat saya dari kecil," jawab Dini penuh keyakinan.
"Apa dia juga anggap kamu sahabat?"
"Maksud Bapak?"
"Kalau dia anggap kamu sahabat, kenapa dia nyerang saya kalau bukan karena cemburu?"
"Mmmm, itu....... mungkin...... mmmm.... mungkin Bapak ngeselin hehehe...." jawab Dini sekenanya.
"Apa saya seburuk itu?"
"Kadang," jawab Dini pelan.
"Apa kamu bilang?"
"Eh, enggak, ini udah selesai saya obatin, saya permisi keluar dulu!" ucap Dini yang berniat untuk keluar dari ruangan kerja Toni namun segera di cegah oleh Dimas.
"Makasih," ucap Dimas dengan memegang tangan Dini.
Dini hanya tersenyum lalu melepaskan tangan Dimas yang memegangnya dan pergi meninggalkan Dimas.
Dini keluar dan menghampiri Toni. Ya, Toni sekarang dipercayakan oleh Pak Tama untuk memegang D'First Cafe sedangkan Yoga sekarang diminta Pak Tama untuk menjadi asisten pribadi Dimas yang sudah memutuskan untuk terjun langsung ke lapangan.
Meski pada awalnya orangtua Dimas melarang, Dimas tetap memaksa untuk terjun langsung ke lapangan, menangani sendiri kafe kafe miliknya dengan dibantu Toni dan Yoga.
"Lancar Pak Toni?" tanya Dini pada Toni.
"Lancar kak, jangan panggil gitu ah kak!" protes Toni.
"Hahaha, nggak papa dong!"
"Oh ya, kak Yoga sekarang kok jarang di kafe sih?" tanya Dini pada Yoga.
"Gue udah nggak jadi pimpinan kafe Din, om Tama nyuruh gue jadi asisten pribadinya Dimas, siapin apapun keperluan Dimas, jelasin apapun yang Dimas nggak ngerti," jelas Yoga pada Dini.
"Pantesan lo sering mondar mandir kesini, bukannya lo lebih suka kerja di kafe bang?" tanya Toni.
"Iya, gue terpaksa Ton, lo tau sendiri kan kita selalu kalah sama orang berduit," jawab Yoga dengan tersenyum tipis.
Ya, Yoga memang terpaksa menerima keputusan Pak Tama karena beberapa hari sebelum Dimas kembali ke kafe, Pak Tama melihat Yoga dan Sintia yang sedang berciuman mesra di pantry kafe.
Itu cukup untuk menjadi alasan agar Yoga mau menerima keputusan Pak Tama yang memintanya menjadi asisten pribadi Yoga atau Pak Tama akan menjauhkan Sintia darinya.
Bagi Yoga, hal terburuk adalah ketika ia harus berada jauh dari orang yang dicintainya, itu sebabnya ia menerima keputusan Pak Tama tanpa pikir panjang.
Tanpa banyak orang lain tau, Yoga memiliki bisnis mini market yang saat ini sudah memiliki 2 cabang. Ia mengelola bisnisnya sendiri sambil kuliah dan bekerja di kafe. Ia sudah memulai bisnis itu jauh sebelum Dimas mengajaknya membuka kafe.
Dari kerja kerasnya itu lah ia bisa membiayai kuliahnya sendiri dan memenuhi biaya hidupnya tanpa menerima uang yang diberikan orangtuanya.
"Oh iya, Dimas kenapa Din? abis berantem?" tanya Yoga pada Dini.
"Mmmm, itu..... Andi kak," jawab Dini hati hati, takut Yoga akan marah pada Andi.
"Andi lagi? kayaknya dia hobi banget ya hajar Dimas hahaha....."
"Kak Yoga nggak marah?"
"Enggaklah Din, gue tau pasti Andi salah paham!"
"Iya kak, Dini belum cerita sama Andi soal Dimas!"
"Kamu baik baik aja Din? apa kamu......."
"Dini baik baik aja kok kak," jawab Dini dengan tersenyum tipis.
"Kalau kamu mau, kamu bisa pindah ke sini, buat hindarin Dimas!"
"Enggak kak, lagian di sini terlalu jauh kak sama tempat tinggalku!"
"Ya udah, kalau ada apa apa kamu bisa hubungin aku, dengan keadaan Dimas yang kayak gini kita harus......." Yoga menghentikan ucapannya ketika ia melihat Dimas menghampirinya.
"Ada apa kumpul kumpul gini?" tanya Dimas.
"Nggak ada apa apa, udah ketemu file yang lo cari?"
"Udah, gue balik dulu ya!"
"Oke Dim, take care!"
"Dini permisi ya kak, Ton!" pamit Dini.
"Hati hati kak!" balas Toni.
Dini berjalan di belakang Dimas dan masuk ke mobil, ia duduk di kursi belakang.
"Kamu pikir saya supir kamu?"
"Eh, maaf......."
"Duduk depan!"
"Oh, iya Pak!" ucap Dini lalu pindah duduk di kursi depan.
"Alamat rumah kamu mana, biar saya anter!"
"Nggak usah pak, saya bisa pulang sendiri, kita balik ke kafe aja ya Pak!"
"Kamu ini siapa berani beraninya perintah saya, saya bukan supir kamu jadi jangan kasih tau saya harus kemana!"
"Maaf Pak," ucap Dini dengan menundukkan kepalanya.
"Jadi ini saya harus kemana?"
Dini diam, tak berani menjawab.
"Itu telinga buat hiasan aja?"
__ADS_1
"Eh, gimana Pak?"
"Kamu dengerin saya ngomong nggak sih, ini saya harus anter kamu kemana, saya nggak tau tempat tinggal kamu dimana!"
"bener bener berkepribadian ganda ini orang, tadi bilang jangan kasih tau, sekarang nanya, dijawab salah nggak dijawab makin salah, apa aku lagi di prank ya, di tes kesabarannya gitu, rese' banget emang ini orang, untung cakep!"
"Apa sekarang mulut kamu yang cuma jadi hiasan? saya nggak akan tau jawabannya kalau kamu ngomong dalam hati!"
"Tadi bapak....."
"Tempat tinggal kamu dimana?"
"Di daerah XX, turunin saya depan toko buku aja!" jawab Dini kesal.
"Jangan perintah saya, saya bukan supir kamu!"
Dini kembali diam dengan mengelus dadanya pelan, menahan emosinya yang sudah siap meledak,
Sesampainya di depan toko buku, Dimas menghentikan mobilnya. Dini berniat untuk segera turun, namun Dimas mengunci pintu mobilnya.
"Pak, saya....."
"Saya antar kamu sampai depan rumah!"
"Saya kos di gang situ pak, kalau Bapak masuk ke sana, mobilnya nggak bisa putar balik, Bapak harus lewat jalan lain yang......."
"Nggak masalah!" ucap Dimas lalu kembali menyalakan mesin mobilnya menuju gang kecil yang hanya muat untuk satu mobil.
"Itu pak kos saya!" ucap Dini dengan menunjuk tempat kosnya.
Dimaspun menghentikan mobilnya dan membiarkan Dini turun.
Belum sempat Dini berterima kasih, Dimas sudah menjalankan mobilnya menjauhi Dini.
"Astaga, Andi, aku lupa belum bilang Andi kalau aku pulang duluan!"
Dinipun segera mengambil ponselnya dari tas dan segera menghubungi Andi.
"Halo Ndi, kamu dimana?"
"Aku masih di depan kafe, nunggu kamu!"
"Maaf Ndi, aku udah pulang, aku....."
"Sama Dimas?"
"Mmmm, kamu pulang dulu, aku mau jelasin sesuatu sama kamu, penting!"
Di jalan yang tak jauh dari kos Dini, Dimas menepikan mobilnya hendak membuka GPS, sialnya ponsel miliknya lowbatt, alhasil ia hanya berputar putar di gang sempit itu hingga akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi Yoga dengan meminjam ponsel orang yang ia temui di jalan.
Setelah beberapa lama menunggu, Yoga akhirnya datang.
Merekapun melajukan mobil ke arah kafe.
"Lo kok bisa ada di sana?" tanya Yoga penasaran.
"Gue nganter cewek tadi pulang, tapi malah nyasar!"
"Cewek? Dini maksud lo?"
"Nggak tau namanya!"
"Namanya Dini, dia yang pingsan waktu lo pertama kali dateng ke kafe!"
"Dini? Andini?"
Di tempat kos, Dini menunggu Andi di depan kamarnya.
"Masuk!" ucap Andi yang baru sampai dengan membuka pintu kamarnya.
"Kamu marah ya?" tanya Dini pada Andi.
"Enggak," jawab Andi datar dengan merebahkan badannya di kasur.
"Aku tau aku salah, maaf karena nggak bilang kamu kalau aku pulang duluan, tapi kamu juga kenapa jam 9 udah jemput!"
"Aku nggak mau kamu nunggu, makanya aku dateng lebih awal, kamu juga kenapa mau aja dianter Dimas!"
"Soal Dimas, ada yang mau aku jelasin sama kamu!"
"Jangan bilang kamu mau balikan lagi sama dia?"
"Balikan apa sih Ndi? pacaran aja enggak!"
"Terus?"
"Dia amnesia," jawab Dini yang membuat Andi terkejut hingga bangun dari posisi tidurnya.
"Kamu serius?"
Dini mengangguk.
"Kamu yakin? siapa tau dia cuma bohong!"
"Om Tama sendiri yang bilang sama aku Ndi, om Tama jelasin semua yang terjadi sama Dimas, Dimas kecelakaan tepat 3 hari sebelum ujian nasional, itu yang bikin dia amnesia," jelas Dini dengan pandangan kosong memandang angin.
"3 hari sebelum ujian? berarti......."
"Iya, sepulang dari sekolah, setelah aku tau semua yang disembunyikannya, setelah aku minta dia pergi dari hidupku, setelah......"
Andi memeluk Dini yang duduk di hadapannya, membuat Dini menghentikan kata katanya. Dini menangis dalam pelukan Andi, bagaimanapun juga Dimas sudah tinggal dalam hatinya meski tanpa status "pacar".
Dini segera mengusap air matanya, ia tak akan lagi menangisi jalan hidup yang sudah dilaluinya.
"Aku baik baik aja kok!" ucap Dini dengan melepaskan pelukan Andi.
"Iya, aku tau, aku cuma pingin peluk kamu hehehe......"
"Dasar, modus!" balas Dini dengan melempar bantal ke arah Andi.
"Ya udah sana mandi, istirahat!"
"Siap bos!"
Dinipun keluar dari kamar Andi dan segera masuk ke kamarnya, mandi, belajar dan segera merebahkan badannya.
***************
Esok hari, seperti biasa, Andi menunggu Dini di depan kamarnya.
Tak lama kemudian Dini turun dari kamarnya.
"Dijemput Din?"
"Enggak, lagi sibuk katanya!"
"Ya udah ayo berangkat!"
Merekapun berangkat ke kampus bersama.
"David sibuk apa sih Din, jangan jangan punya cewek lain lagi!"
Dini tak menjawab, hanya melirik tajam ke arah Andi.
__ADS_1
"Ya udah, aku duluan ya!" ucap Andi yang harus menuju ke fakultasnya.
Dini mengangguk dan menghampiri Cika yang sudah menunggunya.
Sebelum ia sampai di tempat Cika menunggu, David menghampirinya dengan berlari.
"Kamu abis maraton?"
"Iya, ngejar kamu, nih!" jawab David sambil memberikan sebuah paper bag pada Dini.
Dini segera mengambil barang di dalamnya, sebuah kotak besar, ia pun membukanya.
"Sepatu?"
"Iya, couple!" jawab David dengan menunjukkan sepatu yang dikenakannya, sepatu yang sama dengan yang Dini pegang saat itu.
"Makasih ya!"
David mengangguk.
"Hadiah lagi nih!" seloroh Cika yang tiba tiba muncul.
Dini mengangguk dengan senyum mengembang.
"Aku duluan ya!" ucap David lalu pergi meninggalkan Dini dan Cika.
Dini mengangguk dan melambaikan tangannya.
"Ayo buruan, takut keburu ada anabel hahaha....." ucap Cika sambil menarik tangan Dini.
****************
Tepat jam 2 Dini menunggu David di taman dekat tempat parkir.
"Maaf sayang, aku nggak bisa anter kamu, mama minta anter belanja, nggak papa kan?"
"Oh, nggak papa kok!"
Dinipun berangkat ke kafe bersama Andi.
"Din, apa aku harus minta maaf sama Dimas, dia kan bos kamu!"
"Nggak usah, dia pasti lupa!"
"Mana mungkin Din, lukanya aja pasti belum hilang!"
"Amnesia nya itu bikin dia lupa setiap pagi, jadi dia nggak akan inget apa yang udah terjadi hari kemarin!"
"Beneran?"
Dini mengangguk.
"Ya udah, aku masuk dulu ya, kamu pulang aja!"
"Oke, nanti malem kabarin ya!"
Dini mengangguk dan melambaikan tangannya.
Ketika hendak memasuki kafe, Dimas keluar dari kafe dan mengajak Dini untuk ikut bersamanya ke D'First Cafe.
"Nggak usah masuk, ikut saya!" ucap Dimas dengan wajah datar.
Dari pertama ia melihat Dini, ia sudah memasukkan Dini ke dalam memori buatannya dan entah kenapa ia begitu bersemangat untuk berangkat ke kafe setiap pagi dan menunggu kedatangan Dini.
"Eh, kemana Pak?"
Dimas tak menjawab.
Dini segera mengikuti Dimas ke arah tempat parkir.
"Masuk!" ucap Dimas yang sudah berada di belakang kemudi.
"Tapi saya belum pake' seragam Pak, saya......."
"Masuk!" ucap Dimas mengulangi kata katanya, membuat Dini segera masuk dan duduk di sampingnya.
Setelah sampai di tempat yang dituju, Dimas dan Dini segera keluar dari mobil dan masuk ke kafe.
"Bantu saya cari beberapa file di ruang kerja Toni ya!"
"Iya Pak."
Ketika baru saja memasuki kafe, Dini melihat seseorang yang tak asing baginya. Seseorang yang baru saja memberinya sepatu couple yang saat ini sedang duduk mesra bersama seorang perempuan.
Dini menghembuskan napasnya pelan dan menghampiri mereka.
"Permisi tante, tante mamanya David ya?"
"Dini!"
Dini tersenyum dan mengulurkan tangannya pada perempuan yang sedari tadi menempel pada David.
"Saya Dini tante," ucap Dini.
"Tante? berani berani beraninya kamu kurang ajar sama saya, kamu......"
"David bilang lagi nganter mamanya belanja tadi, jadi saya pikir tante mamanya hehehe, maaf kalau saya salah!"
"David siapa dia?" tanya perempuan itu pada David yang kini terlihat bingung dengan situasi yang terjadi.
"Nih, aku nggak suka sepatunya!" ucap Dini dengan mengembalikan sepatu yang David berikan padanya lalu pergi meninggalkan David, namun David segera menahan tangan Dini.
"Din, aku bisa jelasin aku....."
"Lepas!" ucap Dimas yang tiba tiba datang dan melepas paksa tangan David.
Dimas lalu menggandeng tangan Dini dan mengajaknya keluar dari kafe.
"Pacar kamu?" tanya Dimas pada Dini.
"Udah jadi mantan Pak, barusan!"
"Kamu baik baik aja?"
"Nggak ada cewek yang baik baik aja liat pacarnya selingkuh Pak!"
"Maaf, harusnya saya nggak ajak kamu ke sini," ucap Dimas yang merasa bersalah.
"Nggak papa, bukannya Bapak mau ambil file di dalem ya!"
"Nggak jadi, kita jalan jalan aja!"
"Kok jalan jalan, ini kan jam kerja Pak!"
"Anggap aja ini bentuk permintaan maaf saya," ucap Dimas dengan tersenyum manis ke arah Dini, membuat jantung Dini kembali berdebar karena senyum itu.
"sadar Din, sadar, dia bos kamu yang galak, punya kepribadian ganda, jangan terpengaruh sama kata katanya, bisa jadi abis ini dia akan jadi singa yang siap lahap kamu, kamu harus tetep waspada Dini!"
"Kamu suka ngomongin saya dalam hati ya?"
"Eh, ee.... enggak.... saya....."
"Saya akan bantu kamu lupain sakit hati kamu," ucap Dimas dengan memandang Dini.
__ADS_1
"justru sakit hati terbesarku itu karena kamu Dimas!"