
Di sebuah ruko di pinggiran kota yang sepi, Ivan tertawa puas melihat rencananya berjalan tanpa hambatan. Ia membuat semuanya sibuk dengan masalah masing masing sehingga tidak ada yang menghentikannya untuk melakukan langkah selanjutnya.
Yoga dengan masalah kafe, Dimas dengan mamanya yang berada di rumah sakit dan kecelakaan yang dialami Sintia, papa Dimas dengan masalah klien yang mundur satu per satu.
Ivan terlalu santai karena menganggap rencananya akan 100% berhasil sesuai dengan harapannya. Tanpa ia tau, papa Dimas adalah sosok kepala rumah tangga yang menomor satukan keluarganya. Perusahaan besar yang ia miliki sekarang tak ada apa apanya jika dibandingkan dengan keluarganya.
Jika memang harus kehilangan banyak klien dan menderita kerugian yang besar, itu lebih baik baginya daripada harus melihat keluarganya yang sengaja dipermainkan oleh orang lain. Setidaknya ia masih bisa memberikan hak para pegawainya.
**
Di tempat lain, Dimas masih berada di rumah sakit menemani sang mama yang masih belum sadar dari pingsannya. Ia sibuk membaca data data di ponsel Ivan dan ia semakin yakin jika Ivan yang menyebabkan semua kekacauan hari itu.
Dimas melihat rekaman CCTV melalui ponselnya dan tak melihat gerak gerik yang mencurigakan di sana. Sampai ia mendapati hampir semua pengunjung kafenya muntah dan pingsan. Tak lama kemudian beberapa ambulance datang disusul polisi yang membawa Yoga, Tari dan salah satu pengunjung kafe.
Perlahan mama Dimas mengerjap, jari jari tangannya bergerak dengan pelan. Melihat sang mama yang sudah siuman, Dimas segera memanggil Dokter agar mengecek keadaan mamanya dan Dokter mengatakan jika keadaan mama Dimas sudah membaik, hanya perlu bedrest dan minum obat yang sudah dianjurkan oleh Dokter.
"Papa mana sayang?" tanya sang mama pada Dimas.
"Papa ke kantor ma, ada yang harus diselesaiin," jawab Dimas.
"Apa papa yang bawa mama ke rumah sakit?" tanya mama Dimas yang dibalas anggukan kepala oleh Dimas.
"Papa pasti kehilangan klien pentingnya gara gara mama Dim," ucap mama Dimas dengan raut wajah sedih.
"Mama jangan pikirin itu, yang penting sekarang kesehatan mama, papa pasti bisa selesaiin masalahnya dengan baik," ucap Dimas mencoba menenangkan mamanya.
"Iya sayang, mama juga mau cepet keluar dari sini," balas mama Dimas.
Tak lama kemudian papa Dimas datang. Raut wajahnya yang semula tak bersemangat menjadi penuh semangat ketika melihat sang istri yang sudah tampak sehat.
"Gimana keadaan mama?" tanya papa Dimas pada istrinya.
"Baik Pa, gimana masalah papa? apa papa kehilangan klien papa?"
"Semuanya baik baik aja ma, mama jangan pikirin apapun, kesehatan mama paling penting," jawab papa Dimas berbohong lalu memeluk sang istri.
Setelah mama Dimas minum obat dan tertidur, papa Dimas mengajak Dimas untuk keluar dari ruangan sang mama.
"Kamu bawa HP nya Ivan?" tanya pak Tama pada Dimas.
"Bawa, kenapa pa?"
"Papa butuh HP itu Dim, semua data yang ada di HP Ivan, papa butuh sekarang, papa akan selesaiin semuanya hari ini juga!"
"Tapi Pa, HP nya Ivan udah kosong, Dimas pindah semua datanya di HP ini," ucap Dimas sambil menunjukkan satu ponsel yang berisi data data milik Ivan.
"Kalau gitu papa bawa dua dua nya, kamu harus cari Dini sekarang, Ivan beneran nggak main main sekarang!"
"Andini? ada apa sama Andini? kenapa Ivan ngelakuin semua ini Pa? Dimas nggak ngerti!"
"Ini bukan saatnya buat kamu bertanya Dimas, cepet cari Dini sebelum Ivan yang lebih dulu nemuin Dini, papa akan minta orang suruhan papa buat jaga mama di sini!"
Mendengar ucapan sang papa, membuat Dimas menjadi khawatir pada Dini. Dimas dan papanya segera meninggalkan rumah sakit begitu orang suruhan papanya datang.
"Kalau ada apa apa cepet kabarin papa!" ucap papa Dimas sebelum mereka berpisah.
"Baik Pa!"
Pak Tama segera menemui temannya yang merupakan ahli dalam bidang Ilmu Teknologi, sedangkan Dimas pergi menemui Dini.
Belum terlalu jauh papa Dimas meninggalkan rumah sakit, ponselnya berdering. Salah satu dari orang suruhannya yang memeriksa kafe bersama para polisi menghubunginya.
"Pak, sepertinya saya menemukan kejanggalan di sini, semua CCTV di kafe sudah dikendalikan dari jarak jauh oleh seseorang, bahkan ada beberapa kamera tersembunyi yang terpasang yang juga dikendalikan dari jauh!"
"Apa kamu bisa lacak siapa pengendalinya?"
"Saya sudah coba lacak pak, kamera tersembunyi itu terkoneksi langsung dengan ponsel Dimas dan Yoga pak, tapi ada orang lain juga yang mengendalikannya dari jauh, saya rasa ada orang dalam yang membantu seseorang ini buat pasang alat untuk meretas CCTV kafe pak dan sayangnya saya hanya bisa mengetahui ID orang yang mengendalikan, maaf karena saya belum bisa mengetahui identitasnya yang sebenarnya pak!"
"Nggak papa, kamu kirimkan ke email saya apapun yang kamu ketahui, saya akan urus sisanya," balas papa Dimas.
"Baik pak, saya akan selidiki seluruh pegawai di sini termasuk Yoga untuk memastikan dugaan saya tadi pak!"
__ADS_1
"Lakukan apapun untuk mencari tau pelakunya, saya tunggu kelanjutannya!"
"Baik pak!"
**
Di tempat lain, Dimas sudah sampai di tempat kos Dini. Dimas segera menghampiri Andi, Aletta dan Nico yang berada di teras.
"Andini ada?" tanya Dimas tanpa basa basi.
"Di atas kayaknya!" jawab Andi yang masih sibuk dengan tugas kuliahnya.
Dimas lalu naik ke lantai dua dan mengetuk pintu kamar Dini beberapa kali namun tak ada jawaban.
"Dia keluar dari pagi," ucap seseorang dari kamar sebelah Dini.
"Dari pagi? lo tau dia kemana?"
"Katanya mau ngelamar kerja, tapi gue nggak tau kemana!"
Dimas lalu segera turun dan kembali menghampiri Andi.
"Andini keluar dari pagi dan lo nggak tau Ndi?" tanya Dimas pada Andi.
Andi lalu menghentikan tangannya yang sedari tadi sibuk mengetik.
"Gue baru inget, dia bilang mau ke mini market tadi pagi, gue pikir dia udah balik!" ucap Andi yang membuat Dimas kesal.
"Gue pikir lo sahabat baiknya, tapi kayaknya gue salah!" ucap Dimas lalu pergi meninggalkan Andi, namun Andi sengaja mengejarnya dengan menarik kerah kemeja Dimas bagian belakang.
"Maksud lo apa?" tanya Andi setelah Dimas menghentikan langkahnya.
"Andini nggak ke mini market Ndi, dia ngelamar kerja, lo pikir wajar ke mini market dari pagi sampe' sekarang belum balik? apa otak lo udah nggak berfungsi gara gara kebanyakan pacaran? mikir Ndi! ini udah hampir malem dan dia belum balik!"
Mendengar ucapan Dimas, Aletta yang merasa tersinggung segera berdiri berniat untuk menghampiri Dimas, namun Nico mencegahnya dengan menggelengkan kepalanya.
"Bukan waktu yang tepat Al!" ucap Nico lirih, Aletta lalu kembali duduk dengan kesal.
"Udah Al, sabar, mereka emang kayak gitu!" balas Nico.
Andi yang masih berdiri di hadapan Dimas berusaha menggali ingatannya. Ia ingat, ketika ia menemani Dini yang mabuk, ia melihat sebuah selebaran lowongan pekerjaan. Ia ingin menanyakannya pada Dini, namun karena terlalu mengantuk ia akhirnya memilih untuk tidur ketika Dini sudah bangun.
"Lo udah coba hubungin dia?" tanya Andi.
"Gue nggak akan sepanik ini kalau gue bisa hubungin dia Ndi!"
"Mungkin bentar lagi dia balik," ucap Andi santai.
"Lo nggak tau situasi sekarang Ndi, lo nggak inget kenapa dia mabuk kemarin? itu karena ada yang sengaja bikin dia mabuk, dan sekarang gue yakin dia dalam bahaya!" ucap Dimas yang membuat Andi khawatir.
Ia lalu merebut kunci mobil yang Dimas pegang dan segera masuk ke dalam mobil Dimas. Ia bahkan pergi begitu saja tanpa berpamitan pada Aletta dan Nico.
Dimas yang melihat hal itu hanya bisa mengikuti Andi dan duduk di samping Andi, sedangkan Andi duduk di belakang kemudi.
"Gue tau dia kemana!" ucap Andi yang dengan segera melajukan mobilnya ke arah alamat yang ia ingat pada selebaran lowongan pekerjaan itu.
"Lo serius?" tanya Dimas meyakinkan.
"Gue inget alamat kafe yang ada di selebaran itu, tapi gue nggak tau pastinya dimana!" jawab Andi.
"Lo yakin ada kafe di tempat kayak gini?" tanya Dimas ketika mereka memasuki sebuah jalan yang tampak sepi.
"Alamat yang tertulis di selebaran itu emang di sini, kalau lo bilang Dini dalam bahaya, itu artinya gue bener, Dini sengaja diarahin ke tempat sepi ini!" jawab Andi.
Biiiippp Biiiippp Biiippp
Ponsel Dimas berdering, panggilan dari sang papa.
"Kamu dimana Dim?" tanya papa Dimas.
"Dimas lagi cari Andini Pa, Ivan kayaknya udah berhasil bawa Andini!"
__ADS_1
"Kamu tunggu sebentar, jangan lakuin apapun sampe' orang suruhan papa dateng, sekitar 30 menit lagi polisi dan orang suruhan papa akan sampai di sana!"
"Papa tau posisi Dimas?"
Klik. Sambungan terputus sebelum Dimas mendapat jawaban dari sang papa.
"Ada apa Dim?" tanya Andi.
"Papa minta kita buat nunggu orang suruhan papa dateng sama polisi, kayaknya papa tau posisi kita!"
"Lo mau nunggu di sini sampe bantuan dateng?"
Dimas menggeleng.
"Kita harus cari Andini sekarang Ndi, lo bisa tunggu di sini kalau lo nggak setuju sama gue!"
"Gue ikut, gue nggak akan biarin ada seorangpun yang nyakitin dia lagi!" balas Andi.
Andi lalu melanjutkan pencariannya hingga ia sampai di alamat yang sesuai dengan alamat yang tertera di selebaran yang ia lihat.
"Nggak ada kafe di sini Ndi!" ucap Dimas setelah mengamati bangunan ruko di hadapannya.
"Lo bisa alihin perhatian penjaga ruko itu, gue akan coba cari tau!" ucap Andi lalu turun dari mobil tanpa menunggu persetujuan Dimas.
Dimas dan Andi lalu berjalan ke arah ruko yang menjual berbagai macam bahan bangunan itu. Dimas menanyakan beberapa hal yang membuat 3 orang penjaga ruko itu cukup kewalahan.
"ruko kecil dengan 3 penjaga? CCTV di banyak sudut? apa nggak terlalu berlebihan?" batin Andi bertanya tanya.
Tanpa mereka tau, Ivan yang melihat kedatangan Dimas dan Andi melalui CCTV segera memberikan peringatan pada 3 anak buahnya yang berjaga di toko.
Salah satu dari penjaga toko lalu menawarkan 2 botol minuman pada Dimas dan Andi, namun mereka hanya menerimanya tanpa meminumnya sedikitpun.
Melihat hal itu, Ivan meminta para penjaga toko untuk melumpuhkan Andi dan Dimas sebelum Andi dan dimas mengetahui keberadaan Dini.
Andi yang melihat lihat keadaan di sana menemukan sebuah jepit rambut yang sangat ia kenal. Tak jauh dari jepit rambut itu ada beberapa tetes noda darah yang mengarah ke tangga. Andi yang menyadari keberadaan Dini di tempat itu langsung meradang karena melihat darah yang sudah ia duga jika itu adalah darah Dini.
Tanpa pikir panjang, Andi segera menghajar salah satu penjaga toko itu, membuat Dimas begitu terkejut.
"Kalau sampe ada apa apa sama Dini, gue nggak akan....."
BUUGGHH
Satu pukulan kayu besar mendarat di punggung Dimas yang mencoba untuk menyelamatkan Andi dari pukulan itu.
Beruntung Dimas masih bisa berdiri dan mengambil balok kayu lain yang berada di sana. Perkelahian pun terjadi, karena kalah jumlah dan alat yang dipakai para penjaga toko itu lebih banyak, Andi dan Dimas akhirnya berhasil dilumpuhkan.
Andi pingsan dengan bibir dan keningnya yang berdarah, sedangkan Dimas masih sadar dengan lengan tangannya yang berdarah akibat sabetan pisau milik salah satu penjaga. Dimas hanya bisa terkulai lemas dengan darah yang tak berhenti keluar.
Para penjaga itu segera membawa Andi dan Dimas ke sebuah ruangan sesuai dengan perintah Ivan. Mereka mengikat Andi dan Dimas pada sebuah tiang di ruangan itu. Tak lupa mereka menyembunyikan mobil milik Dimas yang tanpa mereka tau sudah di pasang GPS oleh papa Dimas dan bahkan Dimas sendiri pun tidak mengetahuinya.
Tak lama kemudian Ivan datang dengan membawa sebuah pistol di tangannya.
"Selamat datang Dimas Radhitya Adhitama," ucap Ivan dengan senyum menyeringai.
Dimas hanya diam dengan menatap tajam ke arah Ivan. Ivan hanya tersenyum tipis lalu memerintahkan anak buahnya untuk membawa Dini ke tempat yang sama dengan Dimas.
Dimas begitu terkejut melihat keadaan Dini yang penuh dengan luka lebam dan kening yang berdarah. Dini diikat di sebuah kursi dan mulutnya disumpal dengan kain, membuat Dini hanya bisa menangis tanpa suara.
"Brengsek lo Van!" ucap Dimas yang sudah dipenuhi dengan emosi.
"Kita lihat sebrengsek apa gue hahaha....." balas Ivan lalu menembakkan pistolnya tepat mengenai lengan tangan Dini.
Perlahan darah mulai merembes membasahi lengan baju Dini. Dini hanya bisa memejamkan matanya menahan sakit.
Belum sempat Dimas melontarkan emosinya, Ivan menembakkan pistolnya tepat mengenai lengan Dimas yang terluka.
"Gue bukan pembunuh Dim, lo tenang aja, gue bawa Dini ke sini karena gue mau kerja sama sama dia, tapi berhubung dia susah diatur terpaksa gue pake' cara ini dan karena lo ganggu kerjaan gue, jangan salahin gue kalau gue tiba tiba jadi pembunuh sekarang!"
"Masalah lo sama gue Van, lo bisa siksa gue, lo bisa bunuh gue sekarang tapi jangan bawa Andini dalam masalah lo sama gue!" ucap Dimas di tengah rasa sakitnya.
"Ini adalah balas dendam terbaik yang gue tau Dim, walaupun tujuan utama gue bokap lo, tapi dengan nyerang orang orang yang di sayang, gue yakin bokap lo lebih menderita dan karena cewek ini adalah kesayangan lo, gue terpaksa ikutin dia dalam rencana gue, sekaligus gue bisa dapet duit dari dia hahaha...."
__ADS_1
"Oh ya satu lagi, lo harus siap kalau perusahaan bokap lo bakalan hancur hahaha....." lanjut Ivan dengan tertawa puas.