Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Diantara Ego


__ADS_3

Dini, Dimas, Sintia dan kedua orangtua Dimas masih berada di rumah sakit, menunggu kedatangan orangtua Yoga.


Sintia yang berada di dalam ruangan hanya bisa menggenggam erat tangan Yoga, berharap Yoga akan segera sadar.


"Sintia mohon kak Yoga bangun kak, kasih Sintia kesempatan buat sama sama kakak lagi, Sintia janji nggak akan manja lagi, Sintia......."


Ucapan Sintia berhenti ketika ia menyadari jari Yoga bergerak pelan. Ia pun segera memencet tombol yang ada di dekat ranjang Yoga agar Dokter segera datang.


Tak berselang lama Dokter pun datang dan memeriksa keadaan Yoga. Sungguh sebuah keajaiban karena Yoga sudah melewati masa kritisnya. Kini hanya perlu menunggu sampai Yoga tersadar dari tidur panjangnya.


Sintia merasa begitu lega, air mata bahagianya menetes begitu saja, begitu juga Dimas, Dini dan kedua orangtua Dimas, mereka sangat bersyukur mendengar penuturan Dokter.


Tak lama kemudian orangtua Yoga pun tiba. Mereka terlihat begitu pasrah dengan kepergian Yoga. Mata sembab yang terlihat cukup membuktikan betapa mereka sangat terpukul dengan keadaan Yoga saat itu.


Namun kesedihan itu sedikit menghilang begitu mengetahui jika keadaan Yoga membaik.


"Sin, om sama tante mau pulang, kamu juga pulang ya?" ucap mama Dimas pada Sintia.


"Nggak mau tante, Sintia mau nemenin kak Yoga di sini," jawab Sintia dengan masih memandangi Yoga dari balik pintu.


"Om Rudi sama tante Nindi kan udah di sini, kita pulang aja ya!" ucap Dimas yang ikut membujuk Sintia agar pulang.


"Tapi Sintia......"


"Kamu pulang aja, makasih udah jagain Yoga," ucap Nindi, mama Yoga.


"Tapi tante, Sintia mau di sini sampe'........"


"Tolong kamu pulang aja ya, om sama tante cuma mau bertiga sama Yoga di sini," ucap Rudi, papa Yoga.


Sintiapun mengalah, ia ikut pulang bersama mama dan papa Dimas. Sedangkan Dimas mengantar Dini pulang bersama Pak Adi.


"Dimas, kamu langsung pulang ya!" ucap mama Dimas.


"Abis nganterin Dini langsung pulang kok!"


"Kamu bisa pulang sendiri kan Din?" tanya mama Dimas pada Dini.


"Bisa tante," jawab Dini dengan tersenyum ramah, namun mama Dimas hanya membuang muka mendengar jawaban Dini.


"Nggak bisa, kamu pulang sama aku!" ucap Dimas dengan menggenggam erat tangan Dini.


"Aku pulang sendiri nggak papa kok, kamu pulang aja dulu!" balas Dini.


"Udahlah Dimas, biarin aja dia pulang sendiri, jangan bikin dia manja deh!"


"Udahlah ma, biarin aja Dimas anterin Dini pulang, mama mau anak kita jadi anak yang nggak bertanggung jawab?"


"Ya nggak gitu pa, mama cuma........"


"Udah udah, ayo pulang, Sintia harus cepet istirahat di rumah!" ucap Pak Tama sambil memaksa istrinya untuk masuk ke mobil.


"Kita balik dulu ya Din!" ucap Pak Tama pada Dini sebelum benar benar pergi meninggalkan rumah sakit.


"Hati hati om!" balas Dini dengan melambaikan tangan.


Dimas menggandeng tangan Dini untuk naik ke mobilnya.


"Mau lanjutin yang di cafe tadi?" tanya Dimas setengah berbisik ketika mereka sudah berada di dalam mobil.


"Aaa... akuuu... aku mau pulang!" jawab Dini yang terlihat salah tingkah karena pertanyaan Dimas.


"Kenapa?"


"Aku mau belajar Dim!"


"Hmmmm, ya udah kalau gitu!" balas Dimas yang terlihat kesal.


"Kamu marah?"


"Enggak," jawab Dimas singkat tanpa menoleh ke arah Dini.


Sesampainya di rumah, Dini segera turun dari mobil, sedangkan Dimas hanya diam seolah tak peduli.


"Mau mampir?" tanya Dini.


"Mau!" jawab Dimas cepat dan langsung keluar dari mobil.


"Tunggu bentar ya pak!" ucap Dimas pada Pak Adi.


"Siap mas!"


Dini dan Dimas segera masuk ke rumah. Dini melepas hoodie milik Dimas yang dipakainya dari tadi.


"Aku balikin nanti ya kalau udah aku cuci," ucap Dini pada Dimas.


Dimas mengangguk tanpa menjawab apapun.


"Kamu masih marah?" tanya Dini yang melihat Dimas tak banyak bicara dari tadi.


Dimas menggeleng.


Dini duduk di sebelah Dimas dan menggenggam tangannya.


"Jangan marah dong," ucap Dini memelas.


Dimas hanya diam, menarik napas dalam dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia mendorong tubuh Dini membuat Dini terlentang di kursi panjang yang di dudukinya. Dengan masih menggenggam tangan Dimas, Dini hanya diam ketika Dimas menindih tubuhnya dengan perlahan.


Dimas menjatuhkan badannya di atas tubuh Dini.


"Jangan bikin aku kesel ya," ucap Dimas pelan di telinga Dini.


Hembusan napas Dimas yang terasa hangat membuat jantung Dini semakin berdetak tak terkendali. Anehnya ia sama sekali tak melawan, ia hanya diam membiarkan Dimas melakukan apapun yang ingin dilakukannya.


Dimas menggigit kecil daun telinga Dini membuat Dini tanpa sadar mendesah pelan.


Biiippp biiippp biiippp


Lagi lagi ponsel Dimas berdering membuat Dini reflek mendorong tubuh Dimas hingga Dimas kembali terduduk.

__ADS_1


Diambilnya ponsel yang berada di saku celananya, terlihat nama Andi di layar ponselnya.


"Temen kamu ganggu banget sih!" gerutu Dimas kesal.


"Halo, ada apa Ndi?"


"Gue di cafe nih sama Anita, lo dimana?"


"Gue di rumah Andini, ngapain lo ke cafe?"


"Lo bilang tadi ke cafe, sekarang di rumah Dini, gimana sih!"


"Suka suka gue dong, kok lo jadi ngatur gue!"


"Tau' ah, rese' lo!"


"Lo tuh ganggu gue tau gak!"


"Bodo amat, bye!"


Tuuuttt tuuuuttt tuuutttt


Andi mematikan panggilannya membuat Dimas semakin kesal.


"Udah, jangan marah marah, sana pulang!"


"Aku di usir?"


"Udah ditungguin mama kamu di rumah, jangan sampe' mama kamu makin nggak suka sama aku karena kamu kelamaan di sini!"


"Hmmmm, ya udah deh, aku pulang dulu kalau gitu."


Dini mengangguk dan mengantar Dimas sampai ke depan pintu rumahnya.


"Besok pagi aku jemput ya!" ucap Dimas sebelum meninggalkan rumah Dini.


"Besok kan libur!"


"Ikut aku ke rumah sakit, sama Sintia, mau kan?"


"Oh, oke!"


"Kamu istirhat ya, aku pulang dulu!" ucap Dimas dengan mengecup kening Dini lalu pergi meninggalkan rumah Dini.


Andi dan Anita yang masih berada di cafe membantu Toni untuk menyiapkan pesanan pembeli. Anita sengaja mengajak Andi untuk ke cafe begitu ia tau jika Dimas dan Dini berada di cafe.


Namun setelah menunggu beberapa lama, Dimas dan Dini tak kunjung datang.


"Ndi, mau ke rumah nggak?"


"Ada papa kamu?"


"Nggak ada kok, papa pulangnya malem nanti!"


"Oh, oke deh!"


Merekapun memutuskan untuk pergi ke rumah Anita.


"Oke kak, makasih ya udah bantuin!"


Andi mengangguk dan segera keluar meninggalkan cafe.


Sesampainya di rumahnya, Anita melihat mobil papanya yang terparkir di halaman rumahnya. Ia pun segera berbalik arah dan meninggalkan rumah.


"Aku anter kamu pulang aja ya, aku males ketemu papa!" ucap Anita pada Andi.


Andi hanya mengangguk menuruti kemauan Anita.


Sesampainya di depan rumahnya, Andi segera turun dari mobil Anita.


"Mau mampir?"


"Lain kali ya, aku mau ketemu mbak Dewi di rumah sakit," jawab Anita beralasan.


"Oh, oke, hati hati ya!"


Anita mengangguk dan segera pergi dari rumah Andi. Ia memilih untuk pulang agar bisa mengganggu papanya yang sedang berpacaran dengan wanita muda yang akan menjadi mamanya.


Sesampainya di rumah, ia segera masuk dan menuju ke kamar papanya. Ia mengetuk dengan keras pintu kamar papanya.


Tak lama kemudian, papanya keluar dengan hanya mengenakan celana pendek tanpa baju.


"Ada apa Nit?"


"Papa ngapain?"


"Papa.... papa cuma......"


Braaaakkkkk


Anita membuka paksa pintu kamar papanya yang hanya terbuka sedikit. Ia segera masuk dan melihat wanita muda itu sedang terburu buru mengenakan pakaiannya.


Anita mendekati wanita itu dan menamparnya.


Plaaaakkkkk


Satu tamparan dari Anita membuat wanita itu jatuh tersungkur di ranjang papanya.


Pak Sony yang melihat hal itu segera menarik tangan Anita dan menemparnya dengan sangat keras meninggalkan memar kebiruan di pipi Anita.


PLAAAAKKKKKK


Anita kembali berniat menampar wanita itu sebelum papanya kembali menampar pipinya yang sudah memar itu.


PLAAAAKKKK


Darah segar menetes dari sudut bibir Anita karena kerasnya tamparan Pak Sonny padanya. Anita hanya tersenyum kecut dengan tatapan tajam ke arah papanya.


Pak Sonny yang hendak melayangkan tamparannya lagi dicegah oleh wanita muda yang dibawanya.

__ADS_1


"Udah mas, kasian Anita," ucap Rosa, wanita muda yang akan menjadi mama Anita.


Pak Sonny hanya diam dengan wajah memerah menahan amarah.


Anita keluar dari kamar papanya dengan keadaan yang sangat kacau. Rambutnya yang berantakan, pipinya memar kebiruan dan sudut bibirnya yang berdarah.


Bi Inah yang melihat hal itu segera mendekati Anita dan mengobati lukanya.


*********************


Esoknya, sesuai janjinya, Dimas menjemput Dini untuk diajak ke rumah sakit bersama Sintia dan diantar oleh Pak Adi.


Sesampainya di rumah sakit, Dimas, Dini dan Sintia segera menuju ke ruangan Yoga.


Dilihatnya Yoga yang masih terbaring lemah di ranjang rumah sakit.


"Masuk aja Sin!" ucap Dimas pada Sintia.


"Mama papa nya kak Yoga kemana ya kak?" tanya Sintia.


"Kakak juga nggak tau, udah nggak papa, kamu masuk aja, kakak sama kak Dini tunggu di sini!"


Sintia mengangguk dan segera masuk ke ruangan Yoga. Ia duduk di samping yoga seperti biasa. Ia menggenggam tangan Yoga dan menciumnya.


"Pagi kak Yoga sayang, Sintia di sini lagi, maaf ya kak kalau Sintia kemarin pulang, mama sama papa kak Yoga yang maksa Sintia pulang, padahal Sintia nggak mau pulang, Sintia mau nemenin kakak di sini," ucap Sintia pelan dengan merebahkan kepalanya di atas tangan Yoga.


Yoga yang sudah sadarpun tersenyum mendengar ucapan Sintia. Ia membelai pelan rambut Sintia, membuat Sintia terkesiap dan segera mengangkat kepalanya.


Yoga tersenyum dan menggenggam erat tangan Sintia.


"Kak Yoga!" pekik Sintia penuh bahagia karena melihat Yoga yang sudah bangun dari tidur panjangnya.


"Huuussttt, pelan pelan!" ucap Yoga disusul masuknya Dimas dan Dini ke dalam ruangan itu.


"Ada apa Sin?" tanya Dimas yang tampak panik karena mendengar teriakan Sintia yang memanggil Yoga.


"Lo udah sadar Ga?" lanjut Dimas begitu melihat Yoga sudah membuka matanya.


Yoga hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Yoga.


"Kakak dari kapan bangun? kakak dengerin Sintia?"


"Kakak selalu denger suara kamu, tiap hari," jawab Yoga dengan mencubit kecil hidung Sintia.


"Beneran?" tanya Sintia tak percaya.


"Iya beneran, kakak tau kamu tiap hari nangis di sini, kamu cerita soal Dimas, soal Dini soal......"


"Stop! oke Sintia percaya!" ucap Sintia memotong ucapan Yoga dengan menempelkan jari telunjuknya di bibir Yoga.


Yogapun menggenggam tangan Sintia dan menciumnya, membuat Sintia tersipu. Sedangkan Dini dan Dimas hanya saling pandang melihat keromantisan di hadapannya.


"Lo harus cepet pulih Ga, lo harus liat gimana keadaan cafe sekarang!"


"Aman kan?"


"Aman dong!" jawab Dimas penuh percaya diri.


"Mama sama papa kakak kemana?" tanya Sintia pada Yoga.


"Tadi pagi pagi ke kantor, ada urusan mendadak!"


Tak lama kemudian, mama dan papa Yoga datang.


"Eh, ada tamu, udah dari tadi Dim?" tanya Pak Rudi pada Dimas.


"Barusan om, kenalin om tante ini Andini, temen Dimas," jawab Dimas sambil memperkenalkan Dini pada orangtua Yoga.


"Dini," ucap Dini memperkenalkan diri.


"Taruhan sama tante, bulan depan udah ganti lagi pasti cewek kamu!" ucap mama Yoga.


"Enggak dong tante, yang ini kan istimewa," balas Dimas dengan menggandeng tangan Dini.


"Kamu pulang dulu ya Sin, biar kak Yoga istirahat!" ucap mama Yoga pada Sintia.


"Tapi Sintia baru aja nyampe' tante, Sintia......"


"Kamu bisa nggak nurutin omongan orangtua?" tanya papa Yoga pada Sintia.


"Ma pa, biarin Sintia di sini aja lah, Yoga nggak keberatan kok kalau Sintia di sini!"


"Kamu butuh istirahat biar cepet pulih Yoga!"


"Ya udah kalau gitu, kita pulang dulu ya, cepet keluar dari sini Ga, cafe nungguin lo!" ucap Dimas sambil mengajak Dini dan Sintia untuk keluar.


"Thanks Dim!" balas Yoga.


"Mama sama papa kenapa ngusir Sintia sih?" tanya Yoga pada mama dan papanya ketika Sintia sudah meninggalkan ruangannya.


"Mama sama papa nggak suka ya liat kamu deket sama dia!" jawab mama Yoga.


"Kenapa? Yoga suka sama dia dan dia juga yang nemenin Yoga selama Yoga koma di sini, bukan mama sama papa yang malah sibuk sama bisnis!"


"Mama sama papa sibuk juga demi kamu, buat kamu, lagian kamu tau darimana kalau dia jagain kamu di sini? bisa aja dia bohong kan? jangan gampang percaya sama anak kecil Ga!"


"Dia nggak bilang apa apa, Yoga tau sendiri, Yoga koma tapi Yoga belum mati ma!"


"Udah udah, pokoknya kamu cepet sembuh, fokus sama kuliah dan karir kamu dulu, anak kecil manja kayak Sintia cuma akan jadi beban buat kamu!"


"Justru dia yang bikin Yoga bertahan buat lanjutin hidup, mama papa nggak akan ngerti karena kalian selalu sibuk sama bisnis bisnis bisnis!"


"Kamu jangan bikin mama nyesel ya karena udah milih pulang ke Indonesia cuma buat kamu! kamu pikir berapa banyak bisnis yang terlantar gara gara mama papa harus pulang buat kamu!"


"Yoga sama sekali nggak pernah berharap mama sama papa pulang, kalau kalian lebih pilih bisnis silahkan! Yoga mati tanpa kalian pun Yoga nggak akan nyesel!"


"Jangan kurang ajar kamu ya!" ucap papa Yoga yang hendak menampar putra semata wayangnya yang baru sadar dari koma.


"Udah pa, udah, dia baru bangun pa!" ucap mama Yoga menahan tamparan suaminya.

__ADS_1


"Kalau kalian nyesel udah pulang buat Yoga, kalian balik aja! urus semua bisnis kalian yang lebih penting itu!"


__ADS_2