Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Percaya


__ADS_3

Hujan deras perlahan mulai reda, namun rintiknya masih saja turun seakan enggan meninggalkan malam.


Dimas dan Dini sekarang duduk berdua di ruang tamu Dini. Dini masih tak banyak bicara, ia hanya menjawab sekenanya basa basi Dimas.


"Andini, tolong dengerin penjelasanku ya!" pinta Dimas memelas.


"Nggak ada yang harus dijelasin Dim, aku baik-baik aja kok," ucap Dini dengan senyum yang dipaksakan.


"Jangan bilang gitu, kasih aku kesempatan Andini."


"Kesempatan buat apa Dimas? buat kamu mainin hati aku?" balas Dini dengan air mata yang mulai menggenang.


"Enggak gitu, aku nggak ada apa-apa sama Anita, dia kemarin bener-bener terpuruk sama masalah pribadinya saat itu, aku nemenin dia sebagai teman, nggak lebih dari itu."


"Kenapa harus di taman?"


"Aku jujur ya sama kamu, sebenarnya Anita di rumah sakit beberapa hari ini dan aku udah janji buat jemput dia waktu dia udah boleh pulang dari rumah sakit, aku nggak tau kalau sikap ku ke Anita bikin Anita salah paham dan berharap lebih, aku udah jelasin sama dia kalau aku cuma sayang sama kamu Andini, semua perhatianku buat dia cuma sebatas teman, dia marah dan pergi ke taman, aku kejar dia karena aku nggak mau ada masalah baru diantara kamu, Anita sama aku, aku mau semuanya baik-baik aja, aku nggak mau ada yang tersakiti sama apa yang udah terjadi," jelas Dimas panjang.


Dini mengusap air matanya yang mulai luruh, ia tidak menyangka jika Dimas akan memilihnya daripada Anita.


"Anita gimana?"


"Dia pasti ngerti, aku tau dia suka sama Andi, dia cuma salah mengartikan perasaannya aja sama aku karena aku yang nemenin dia waktu dia terpuruk kemarin."


"Kenapa kamu lebih milih aku yang nggak bisa kasih kejelasan apa-apa buat kamu Dim? Anita lebih segalanya dibanding aku, dia......"


"Aku cuma sayang kamu Andini, harus berapa kali aku bilang itu, aku akan nunggu kamu sampe' kapanpun," ucap Dimas dengan memeluk Dini.


Dini membiarkan air matanya membasahi dada bidang Dimas, ia bimbang tentang keputusan apa yang akan diambilnya. Ia merasa jika benih-benih cinta di hatinya mulai tumbuh tanpa ia bisa menahannya.


Namun di sisi lain, ia tidak ingin jika hubungannya dengan Dimas akan mempengaruhi belajarnya, ia ingat betul pesan ibunya agar hanya fokus belajar.


"Dimas, aku minta maaf, aku......." ucap Dini di sela tangisnya.


"Udah Andini, aku nggak maksa kamu buat ambil keputusan apapun saat ini, jangan buat ucapanku sebagai beban buat kamu, aku janji aku akan nunggu kamu, kamu percaya sama aku," ucap Dimas seolah tau apa yang sedang dipikirkan Dini.


Dini semakin menangis dalam pelukan Dimas. Ia tak menyangka jika cinta pertamanya akan serumit ini.


Andi yang dari tadi sudah berada di depan rumah Dini hanya diam melihat Dimas yang berusaha meyakinkan Dini. Ia mencoba tersenyum meski hatinya seperti teriris melihat Dini yang tak akan lama lagi meninggalkannya.


"setidaknya aku tau kalau Dimas bener-bener tulus sama kamu Din, tapi aku akan tetap di sini kapanpun kamu butuh aku," ucap Andi dalam hati.


Andipun masuk setelah Dimas melepaskan pelukannya pada Dini.


"Nih, pake'!" ucap Andi sambil melempar pakaiannya agar dipakai Dimas.

__ADS_1


"Nggak mau, gue pake' ini aja!" balas Dimas menolak.


"Lo nggak bisa naik motor pake' celana itu Dim, lo jalan juga udah robek itu celana!"


"Iya juga sih, tapi gue tetep pake' jaket ini aja!"


"Terserah lo!"


Dimaspun mengganti celana yang dipakainya dengan celana Andi yang ukurannya sesuai dengannya.


"Kamu nggak pake' ini sekalian?" tanya Dini sambil menunjuk pakaian Andi yang sengaja dibawa untuk Dimas.


"Enggak, enak pake' jaket kamu aja, biar kerasa kamu peluk terus," jawab Dimas dengan mengedipkan sebelah matanya pada Dini.


"Dasar, modus!" balas Andi dengan melempar jas hujan yang dibawanya.


"Iri bilang bos, hahaha..." balas Dimas tertawa.


Dimaspun pulang diantar oleh Andi.


"Aku pulang dulu ya!" ucap Dimas yang berusaha mencium kening Dini namun segera di dorong oleh Dini.


"Iya, hati-hati," jawab Dini sambil menjauhkan dirinya dari Dimas yang mencoba menarik badannya.


Dimas hanya bisa menghela napas, ia tau jika Dini pasti merasa canggung karena ada Andi.


Di perjalanan, Dimas dan Andi banyak berbincang, meski tak jarang suara mereka kalah oleh laju kendaraan yang padat meski sedang hujan.


"Ndi, lo suka sama Anita?" tanya Dimas.


"Haaahh?"


"LO SUKA SAMA ANITA?" tanya Dimas dengan berteriak.


"Wooy, nggak usah teriak-teriak dong!" balas Andi dengan memukul kaki Dimas.


"Lo nggak denger kalau gue nggak teriak."


"Haaahh?"


"Tau ah, males gue!" balas Dimas kesal.


"Hahaha, cowok kok gampang ngambek," ucap Andi meledek.


"Gue tanya serius Ndi!"

__ADS_1


"Eh, kita ngopi bentar gimana?"


"Terserah lo deh!" jawab Dimas pasrah karena sudah jengah dengan Andi.


Setelah sampai di warkop tak jauh dari jalan raya, Dimas dan Andi memilih duduk di bangku paling belakang dan memesan minuman hangat.


"Lo nggak papa kan minum minuman pinggir jalan kayak gini?" tanya Andi.


"Masalahnya apa Ndi, asal nggak beracun apa aja juga gue telen!"


"Gue pikir orang kasta atas minumnya yang mahal-mahal doang hahaha....."


"Nggak jelas lo Ndi, lagian lo ngapain sih ngajakin gue kesini? katanya mau nganter pulang?"


"Lo tadi nanya apa?"


"Soal Anita, lo suka sama dia?"


"Kenapa tanya gitu?"


"Gue tau dia suka sama lo, dari pertama kali gue liat sikap dia sama lo!"


"Lo tau yang sebenarnya Dim, jadi buat apa gue jawab," balas Andi sambil menyeruput minuman hangatnya yang baru datang.


"Gue bukan paranormal Ndi, gue cuma nebak-nebak aja."


"Tebakan lo semua bener kok."


"Termasuk lo suka sama Andini?"


Andi mengangguk.


"Gue tau Dim, gue nggak layak buat Dini, gue nggak punya masa depan buat bahagiain dia dan gue takut kalau perasaan ini malah bikin hancur hubungan gue sama Dini, jadi tolong jangan bilang apapun soal ini sama Dini."


Dimas mengangguk.


"Kalau Anita, gue nggak bisa bilang apa-apa, dia baik, dia selalu ngertiin gue walaupun gue sering bikin dia kecewa, tapi gue nggak bisa maksain hati gue buat suka sama Anita."


"Gue tau posisi lo Ndi, tapi ini rasanya nggak adil buat Anita, lo tau beban apa yang dia simpan dibalik senyumnya?"


"Iya, gue tau, soal Pak Sony."


"Lo tega mainin perasaannya?"


"Gue nggak mainin perasaan siapapun Dim, gue juga nggak tau kenapa gue nggak bisa suka sama dia."

__ADS_1


"Buka hati lo buat Anita Ndi, percayain Dini sama gue, gue janji nggak akan pernah nyakitin Dini sedikitpun," ucap Dimas penuh keyakinan.


__ADS_2