
Langit sore yang sudah mendung itu akhirnya menumpahkan rintik hujannya yang semakin lama semakin deras. Beberapa orang tampak berlarian mencari tempat untuk berteduh. Tak terkecuali Dini, rintiknya saja sudah membuat Dini gugup dan gelisah. Ia tidak akan segelisah itu jika ia tidak sedang berada di luar ruangan.
Ia segera beranjak dari duduknya berniat untuk berteduh di mini market sebelum ia menabrak seorang laki laki dan akhirnya ia pingsan di tangan laki laki itu.
"Din, Dini!" panggil laki laki itu dengan menepuk nepuk pelan pipi Dini di bawah guyuran hujan.
"Oh, shit!" umpat laki laki itu pada dirinya sendiri. Ia lupa jika Dini fobia terhadap hujan.
Ia segera membopong Dini ke dalam mini market. Beberapa karyawan segera membukakan pintu untuk bos mereka yang datang dengan basah kuyup dan sedang membopong seorang gadis.
Ia segera membawa Dini ke ruang kerjanya, merebahkannya di sofa panjang ruangan itu. Ia lalu memanggil kepala mini market itu dan memintanya untuk menggantikan pakaian Dini. Kebetulan kepala mini market kepercayaannya itu adalah seorang perempuan.
"Kamu cari pakaian buat dia dan cepat ganti pakaian basahnya sama yang baru!" perintah laki laki itu.
"Siap pak," jawab si kepala mini market.
Tak lama kemudian, si kepala mini market keluar dari ruangan itu.
"Maaf pak, apa tidak sebaiknya pacar bapak di bawa ke rumah sakit aja? wajahnya sangat pucat pak!" jelas si kepala toko.
"Dia udah biasa kayak gini, tolong kamu beliin minuman hangat sama bawain selimut tebal ya!"
"Siap pak, saya permisi!"
Laki laki itu mengangguk lalu masuk ke ruang kerjanya. Ia duduk berjongkok di samping Dini. Tak lupa ia sudah mematikan AC ruangan itu sedari tadi.
"Bangun Din," ucapnya pelan.
"Apa Dimas sama Andi belum cerita semuanya sama kamu? kamu harus bisa lawan fobia kamu ini Din!"
Toookkkk toookkk toookkk
Si kepala mini market masuk dengan membawa selimut tebal dan 1 cup coklat panas. Setelah memberikan semua pesanan bosnya, ia segera kembali melanjutkan pekerjaannya.
Laki laki itu memakaikan selimut tebal untuk menutupi badan Dini yang sangat dingin. Ia lalu berjalan ke meja kerjanya. Rasanya sudah sangat lama ia tak duduk di belakang meja kerjanya. Ia segera membuka laptop di hadapannya, mengerjakan beberapa tugasnya di sana.
Tak lama kemudian ia melihat Dini yang mulai menggerakkan badannya. Perlahan Dini menyingkap selimut di tubuhnya lalu duduk dengan memandang ke sekitarnya.
Laki laki itu segera menghampiri Dini dengan membawa 1 cup coklat panas untuk Dini.
"Syukurlah kamu udah sadar, minum dulu," ucapnya sambil memberikan minuman di tangannya pada Dini.
"Kak Yoga! kenapa kakak......"
"Minum dulu, ntar aku jelasin!"
Dini menyeruput pelan minuman coklat di tangannya. Ia masih tidak mengerti kenapa ia berada di tempat itu bersama Yoga. Ia hanya ingat ketika ia menabrak seseorang saat hujan tadi, ia hampir saja terjatuh tapi laki laki yang ia tabrak menangkapnya dengan sigap. Tapi ia belum sempat melihat wajah laki laki itu.
"Apa mungkin yang aku tabrak tadi kak Yoga?" tanya Dini.
Yoga mengangguk lalu kembali ke meja kerjanya.
Dini berdiri hendak mengikuti Yoga, tapi baru saja ia beranjak dari duduknya, badannya sudah limbung. Ia terjatuh ke lantai dengan memegangi kepalanya yang terasa pusing. Melihat hal itu, Yoga segera menghampiri Dini dan membantunya untuk kembali duduk di sofa.
"Kamu nggak papa Din?" tanya Yoga.
"Nggak papa kak, cuma tiba tiba pusing banget," jawab Dini.
"Aku anter kamu ke rumah sakit ya?"
"Nggak usah kak, aku nggak papa kok, istirahat bentar juga hilang pusingnya!"
"Kalau gitu kamu istirahat dulu, nanti aku anter pulang!"
"Nggak usah kak, kos ku deket sini kok, aku......"
"Din, aku anter kamu pulang!" ucap Yoga penuh penekanan dalam setiap kata katanya.
Dini menyerah, ia mengangguk membiarkan Yoga mengantarnya kembali ke kos.
"Aku lanjut selesaiin kerjakan ku dulu ya!"
Dini mengangguk.
30 menit kemudian Yoga sudah menyelesaikan pekerjaannya.
"Masih pusing?" tanya Yoga.
"Enggak kak, kak Yoga udah selesai?"
"Udah kok, ayo aku anter pulang!"
Sebelum meninggalkan ruangan Yoga, Dini baru menyadari jika ia tidak memakai pakaiannya sendiri. Ia menghentikan langkahnya, pikirannya kemana mana.
"ini bukan baju ku, kenapa bisa ganti? apa mungkin kak Yoga...... enggak, nggak mungkin, tapi......."
"Kenapa Din?" tanya Yoga yang melihat Dini hanya berdiri mematung.
"Mmmm.... ini.... kak..... mmmm..... bajuku kenapa bisa ganti?" tanya Dini malu.
"Oh itu, aku ingat waktu kamu kehujanan di vila, Andi bilang kamu harus cepet ganti baju kamu yang basah, jadi tadi aku......"
"Kak Yoga yang......" Dini menghentikan ucapannya. Ia menutup mulut dengan kedua tangannya. Ia merasa malu dan marah pada Yoga. Ia mengira jika Yoga yang mengganti pakaiannya.
__ADS_1
"Enggak Din, nggak gitu, aku minta pegawaiku ganti baju kamu, cewek juga kok, tenang aja, dia pegawai kepercayaanku," jelas Yoga.
Dini bernapas lega setelah mendengar penjelasan Yoga.
"tunggu, pegawaiku?"
"Kita di mana sih kak? kak Yoga bilang tadi yang ganti pakaianku pegawai kakak?"
Yoga menarik tangan Dini dan mendorongnya pelan ke dinding. Jarak mereka sangat dekat saat itu. Tangan Yoga masih menggengam tangan Dini, ia lalu mendekatkan wajahnya dan berbisik pada Dini.
"Ini rahasia," ucap Yoga sangat pelan.
Bersamaan dengan itu, salah satu pegawai Yoga masuk dan melihat adegan itu. Ia mengira jika Yoga dan Dini akan berciuman, ia pun segera pergi.
Yoga melepaskan tangan Dini dan tersenyum. Dini melihat ke sekelilingnya. Banyak stiker yang menempel di dinding sekitarnya yang bertuliskan YMart.
Dini sangat tau mini market itu, karena ia sering membeli beberapa keperluannya di sana.
"Ini mini market kak Yoga?" tanya Dini.
Yoga mengangguk lalu berjalan keluar diikuti Dini yang masih menyimpan banyak pertanyaan untuk Yoga. Mereka segera masuk ke mobil dan meninggalkan mini market.
Tanpa mereka tau, beberapa pegawai Yoga tengah bergosip, membicarakan hubungan Yoga dan Dini.
"Gue tadi liat mereka ciuman!" ucap salah satu pegawai.
"Serius?"
"Serius lah, ngapain gue bohong!"
"Akhirnya kita bisa liat pacarnya bos, kalau gue sih dukung banget, cantik ceweknya!"
"Bener, cocok sama si bos yang ganteng, sukses lagi!"
"Eheemm, kalian lagi ngomongin apa?" tanya si kepala mini market yang tiba tiba datang.
"Itu pacarnya si bos, cantik, gue liat tadi mereka ciuman!"
"Emang lo beneran liat? jangan fitnah lo ya!"
"Beneran gue......"
"Liat pas ciumannya?"
"Enggak sih, gue cuma liat waktu si bos......"
"Itu sama aja bohong, awas lo ya sampe' gue denger kalian ngomongin si bos lagi, abis bonus bulanan kalian!"
Mereka kemudian kembali melanjutkan pekerjaan mereka.
Di dalam mobil, Dini di penuhi dengan banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada Yoga.
"Ada apa Din? kamu mau tanya apa?" tanya Yoga seolah tau isi pikiran Dini.
"Mmmm, soal mini market kak Yoga," jawab Dini.
"Apa yang mau kamu tanyain?"
"Aku bingung aja, mini market itu kan udah ada sejak lama, sedangkan kak Yoga baru lulus kuliah, apa kak Yoga beli mini market itu? dan lagi, mini market itu kan udah banyak cabangnya, apa itu semua punya kak Yoga?"
"Aku mulai mini market itu dari lulus SMA Din, nggak banyak yang tau emang, bahkan Dimas juga nggak tau soal mini market itu," jawab Yoga.
"Dari lulus SMA? berarti itu semua punya kakak? yang di kota kota lain juga?"
"Ada beberapa yang franchise juga," jawab Yoga.
"Tapi bukannya kak Yoga kerja sama Dimas ya? waktu Dimas masih SMA, kak Yoga kan di kafe, waktu Dimas di Singapura juga kak Yoga yang pegang kafe malah sampe' buka cabang baru, kak Yoga ngejalanin semuanya sendiri?"
"Enggak lah Din, aku nggak jalanin mini market itu sendiri, ada banyak orang yang terlibat dan tentunya orang orang yang bener bener aku percaya, aku bisa pantau keadaan mini market dari mana aja, asal kita punya kemampuan dan teknologi yang mumpuni, nggak ada yang nggak mungkin kan?"
Dini mengangguk anggukkan kepalanya mendengar penjelasan Yoga. Yoga memang sangat menyukai dunia bisnis. Ia mempunyai tekad yang kuat dalam memulai bisnisnya. Ia harus mencari pinjaman uang ke sana kemari sebelum ia berhasil sukses bersama mini marketnya itu. Meski begitu, ia masih bekerja di kafe dengan Dimas. Jika saja Dimas bisa membagi waktunya dengan baik, ia yakin Dimas akan lebih sukses dari dirinya. Yoga dan Dimas memang sama sama penggila bisnis. Darah pebisnis mengalir dalam diri mereka berdua.
"Hebat kak Yoga!" ucap Dini dengan bertepuk tangan kecil.
"Nggak ada apa apanya dibanding pacar kamu!"
"Pa pacar?"
"Iya, Dimas, dia bisa punya kafe waktu dia masih SMA!"
"Tapi dia bukan pacar ku kak," balas Dini dengan memanyunkan bibirnya.
"Hahaha, hubungan kalian terlalu rumit Din!"
"Kak Yoga sama Sintia gimana?"
"Lancar dong, kamu sendiri gimana sama Dimas?"
"Hmmmm, nggak tau kak, aku sendiri bingung," jawab Dini dengan memandang keluar.
"Aku yakin Dimas masih sayang sama kamu," ucap Yoga.
"Tapi kenapa dia harus tunangan sama Anita kalau gitu?"
__ADS_1
"Kamu udah tanya sama dia?"
Dini menggeleng.
"Kamu harus tanya Din, jangan biarin hubungan kalian memburuk karena pikiran buruk kalian sendiri, kalian harus bisa lebih terbuka dan kamu juga harus dapat kejelasan dari Dimas," jelas Yoga.
"Iya kak, nanti aku coba ngomong sama Dimas, makasih sarannya!"
Yoga mengangguk.
"Andi gimana Din?" tanya Yoga.
"Baik baik aja, malah dia lagi deket sama cewek," jawab Dini.
"Deket sama cewek? siapa?"
"Namanya Aletta, temen kos," jawab Dini.
"Kamu nggak cemburu?"
Dini menoleh cepat ke arah Yoga.
"cemburu? aku cemburu? enggak, ini bukan cemburu, hanya saja aku takut Andi pergi setelah dia punya perempuan lain di hidupnya, aku takut persahabatan kita putus gitu aja, itu bener bener hal yang mengerikan, aku nggak mau itu terjadi,"
"Kalian deket banget, kenapa nggak pacaran aja sih?" lanjut Yoga.
"Nggak mungkin lah kak, aku sama Andi sahabat, sampai kapanpun nggak akan berubah."
"Kalau dia punya cewek, dia pasti jarang sama kamu lagi kan dan ceweknya pasti cemburu kalau liat hubungan kalian yang deket banget, saat itu terjadi kamu harus bisa jaga jarak sama Andi, bukan berarti menjauh, hanya memberi batasan aja dalam persahabatan kalian."
"batasan dalam persahabatan? kenapa harus ada batasan? harusnya ceweknya Andi tetap biarin aku deket sama Andi kan? kalau enggak, berarti dia bukan cewek yang baik, aarrgghhh.... aku mulai egois,"
"Batasan kayak gimana yang kak Yoga maksud?"
"Mmmm, banyak, batasan fisik misalnya, kalau kalian biasa pelukan, waktu Andi udah punya pacar pasti pacarnya cemburu liat Andi pelukan sama kamu, kamu kan cewek juga Din, pasti ngerti lah!"
"Apa itu artinya aku jadi jauh sama Andi? persahabatan kita jadi renggang?"
"Enggak juga, kalian masih tetep sahabat deket, tapi dengan batasan itu tadi," jawab Yoga.
Dini diam mendengarkan ucapan Yoga.
"Suatu saat hal itu pasti terjadi Din, Andi akan nemuin seseorang yang dia cintai dan kamu juga akan bersama sama seseorang yang kamu cintai, mau atau enggak kalian akan menjalani hidup kalian masing masing nantinya," lanjut Yoga.
Dini masih diam membisu.
"Kecuali kalau kalian sama sama cinta," ucap Yoga lagi.
"Nggak mungkin lah kak!" balas Dini.
"Nggak ada yang nggak mungkin lah Din, cinta bisa tumbuh karena seringnya kalian sama sama dan selama ini kamu selalu sama Andi kan?"
"Tapi aku cinta sama Dimas kak, kak Yoga tau itu!"
"Iya, tapi gimana sama Andi?"
"Maksud kak Yoga?"
"Gimana kalau ternyata Andi nyimpen perasaannya sama kamu, dia cinta dan sayang sama kamu lebih dari sahabat, apa kamu siap untuk itu?"
"Enggak kak, nggak mungkin, aku sama Andi udah lama sahabatan, jadi nggak mungkin ada rasa yang melebihi dari sebatas sahabat," jelas Dini.
"Bisa jadi kamu sebenernya juga punya perasaan itu Din, tapi kamu berusaha menolak perasaan itu karena takut persahabatan kalian hancur, iya kan?"
"Kak Yoga nyebelin ya ternyata," ucap Dini dengan tersenyum ke arah Yoga.
"Hahaha, aku cuma mau hubungan kalian semua baik baik aja, kamu, Dimas, Andi, Anita dan siapa tadi Aletta juga!"
Dini tersenyum tipis lalu kembali memandang ke arah luar.
"Din, aku mau tanya sesuatu sama kamu!"
"Apa kak?"
"Pernah nggak, sekali aja kamu mikirin perasaan Andi sama kamu?"
"Aku tau dia sayang sama aku, aku juga sayang sama dia, tapi sebagai sahabat, nggak lebih," jawab Dini yakin, meski sebenarnya hatinya ragu.
Yoga memandang ke arah Dini dengan tersenyum lalu kembali fokus pada jalan di hadapannya.
Setelah sampai di depan kosnya, Dini segera keluar dari mobil Yoga.
"Makasih kak," ucap Dini.
"Jangan suka keluyuran kalau lagi mendung!"
"Hehe, siap kak!"
Perlahan mobil Yoga menjauh dari pandangan Dini.
Dini segera melangkah menuju ke kamarnya. Ia melewati kamar Andi, menatapnya beberapa saat lalu melanjutkan langkahnya lagi.
"aku nggak cemburu, aku cuma nggak mau kamu ninggalin aku karena perempuan lain, aku emang egois, aku mau kamu tetep sama aku waktu aku udah sama Dimas, maafin aku," ucap Dini dalam hati.
__ADS_1