
Bulan malam masih tampak tersenyum di atas sana. Meski berada di antara hamparan gelap yang terbentang, sinarnya masih mampu menembus kegelapan. Menerangi hati yang sedang patah hati di bawahnya. Jutaan kerlip bintang di atas sana seolah mengatakan jika semuanya akan baik baik saja.
Malam itu, setelah Dimas keluar dari apartemen Anita, dia baru menyadari jika ponselnya tertinggal. Ia pun segera kembali ke apartemen Anita untuk mengambil ponselnya.
Tanpa Dimas tau, Anita dan Ivan begitu terkejut dengan kedatangan Dimas yang tiba tiba. Ivan yang panik lalu mendorong Anita hingga Anita tersungkur ke lantai. Ivan memegang kedua pipi Anita dengan satu tangannya.
"Kamu jangan main main sama aku Anita, aku bisa dengan mudah hancurin kamu sekarang!" ucap Ivan pada Anita.
"Aku nggak tau kalau dia balik, aku....."
Ivan lalu memindahkan tangannya dan mencekik leher Anita yang masih tersungkur di lantai.
"Jangan pernah bikin aku marah Anita," ucap Ivan yang sudah memuncak emosinya. Ia merasa sudah dipermainkan Anita, ia mengira jika Anita telah menjebaknya. Karena jika sampai Dimas tau dirinya berada di apartemen Anita, maka rencananya akan hancur.
Anita menahan tangan Ivan yang mencengkeram lehernya, ia sudah hampir kehabisan napas jika Ivan tidak segera melepaskan tangannya.
"Kamu.... nggak bisa.... nyakitin aku.... sekarang Ivan.... Dimas bisa curiga.... nanti.... " ucap Anita terbata bata karena tangan Ivan yang mencengkeram lehernya dengan kuat.
Ivan lalu melepas tangannya dari leher Anita dan masuk ke dalam kamar mandi untuk bersembunyi. Sedangkan Anita segera berganti pakaian dan merapikan dirinya. Ia lalu membuka pintunya.
"Dimas, kamu ngapain?" tanya Anita dengan menyembunyikan kegugupannya.
"HPku ketinggalan," jawab Dimas lalu masuk begitu saja dan mencari ponselnya.
Ketika ia mengambil ponselnya di atas meja, ia melihat sebuah ponsel yang terbalik di sofa. Ponsel dengan softcase bergambar huruf V itu sedikit menarik perhatiannya karena ia tau jika itu bukan milik Anita.
"Dokter Dewi udah dateng?" tanya Dimas pada Anita.
"Be... belum... mungkin bentar lagi," jawab Anita yang semakin gugup.
"Kamu kenapa?" tanya Dimas yang menyadari kegugupan Anita.
"Haah, enggak, aku nggak papa, aku...."
Dimas lalu memeluk Anita sebelum ia pergi, karena itu memang salah satu permintaan Anita padanya. Ia tidak akan bertanya lebih jauh lagi, ia tidak ingin Anita menganggap kepeduliannya itu sebagai rasa cinta yang selama ini Anita inginkan.
"Aku pergi dulu!" ucap Dimas lalu keluar dari apartemen Anita.
Anita hanya mengangguk dan membiarkan Dimas pergi.
"Dia udah pergi," ucap Anita pada Ivan yang masih berada di dalam kamar mandi.
Ivanpun keluar dari kamar mandi dan memeluk Anita. Ia sadar apa yang dilakukannya pada Anita sudah sangat berlebihan, ia hanya takut rencana besarnya gagal.
"Maafin aku ya," ucap Ivan yang masih memeluk Anita.
Anita hanya mengangguk dalam pelukan Ivan. Kini tak akan mudah baginya untuk lepas dari Ivan.
"Kalau kamu nggak mau ngelakuin itu sekarang, besok aja nggak papa," ucap Ivan pada Anita.
Anita hanya diam. Baginya sekarang atau besok sama saja. Ia tetap harus melakukan apa yang Ivan mau meski sebenarnya ia tak mau.
Ivan lalu menarik tangan Anita untuk keluar dari apartemen, ia merasa bersalah atas apa yang baru saja ia lakukan.
"Mau kemana?" tanya Anita.
"Kemana aja asal kamu nggak sedih lagi," jawab Ivan.
"Apa aku boleh nolak?"
"Apa menurut kamu aku suka ditolak?" balas Ivan balik bertanya.
Anita kembali diam dan mengikuti Ivan. Ivan mengajak Anita ke sebuah butik milik teman mamanya.
"Kamu pilih aja yang mana yang kamu mau," ucap Ivan ketika mereka sudah sampai di butik.
Anita menggeleng pelan. Ia sedang tidak bersemangat. Ia merasa keputusannya sudah salah karena membiarkan Ivan hadir dalam kehidupannya.
"Jangan cemberut aja dong Nit, kamu mau aku gimana lagi?"
"Jangan maksa aku bisa?"
"Aku nggak akan maksa kalau kamu mau turutin aku tanpa banyak tanya."
"Aku pingin pulang, aku capek banget hari ini, aku mohon," ucap Anita memohon.
"Oke, kita pulang sekarang!"
Anita dan Ivan pun meninggalkan butik itu dan segera kembali pulang.
**
Di tempat lain, Dimas menghubungi Dini dan menanyakan keberadaan Dini.
"Halo sayang, kamu dimana?"
"Aku di halte deket pasar malem," jawab Dini.
"Di halte? kamu nggak sendirian kan? Andi juga sama kamu kan?"
"Andi udah balik duluan sama Aletta."
"Balik duluan? gila tuh anak, tunggu bentar sayang, 5 menit lagi aku nyampe'!"
Dimas menambah kecepatan mobilnya untuk segera menemui gadisnya yang sedang sendirian di pinggir jalan.
Sesampainya di sana, Dimas segera menghentikan mobilnya di dekat halte. Ia tidak mempedulikan rambu jalan yang melarang kendaraan untuk berhenti. Ia segera menghampiri Dini.
"Cepet banget," ucap Dini dengan senyum manisnya.
__ADS_1
"Kamu nggak papa kan? kamu baik baik aja kan?" tanya Dimas yang begitu khawatir.
"Aku nggak papa kok, kekhawatiran kamu itu berlebihan Bapak Dimas yang terhormat," jawab Dini.
Dimas lalu tersenyum tipis dan memeluk gadis yang dicintainya. Tanpa mereka tau Anita yang sedang lewat melihat kejadian itu namun ia hanya diam. Ia tidak mungkin meminta Ivan untuk berhenti, ia tidak ingin dibentak lagi oleh Ivan.
Dimas lalu mengajak Dini untuk kembali tempat kosnya.
"Liat aja nanti, aku akan kasih pelajaran sahabat kamu itu!" ucap Dimas yang masih tidak menyangka jika Andi membiarkan Dini sendirian di halte.
"Jangan cari masalah deh!"
"Dia yang cari masalah Andini, bisa bisanya dia ninggalin kamu di sana!"
"Aku yang minta dia pergi kok, aku bilang sama dia kalau kamu udah di jalan buat jemput aku makanya dia pergi," jelas Dini berusaha meredam emosi Dimas.
"Nggak ada alasan buat dia ninggalin kamu sayang, apa lagi malem malem di pinggir jalan sendirian."
Dini menghembuskan napasnya pelan, ia sudah tidak bisa lagi membujuk Dimas.
"Terserah kamu aja deh, tapi jangan bikin keributan ya, kamu bisa digantung sama anak anak yang lain nanti!" ucap Dini.
"Kan ada kamu yang nolongin aku," balas Dimas.
"Aku pura pura nggak tau aja hehe...."
"Oh, udah mulai nakal ya sekarang, udah mulai tega sama aku?" balas Dimas menggelitiki pinggang Dini, membuat Dini menggelinjang kegelian.
Tak lama kemudian mereka sampai di tempat kos. Dini menanyakan keberadaan Andi dan Aletta pada Nico.
"Mereka belum balik, gue kira bareng kalian!"
"Loh bukannya kamu bilang mereka balik duluan sayang?" tanya Dimas pada Dini.
"Iya, mereka balik duluan, jalan jalan dulu mungkin," jawab Dini.
**
Di tempat lain, Andi dan Aletta harus keluar dari taksi yang mereka tumpangi karena sang supir baru saja mendapat kabar jika istrinya akan segera melahirkan.
"Maaf ya mas, mbak, saya akan ganti uangnya, tapi saya harus ke rumah sakit sekarang," ucap sang supir pada Andi dan Aletta.
"Nggak perlu pak, nggak papa," balas Andi lalu mengajak Aletta untuk turun dari taksi itu.
Alhasil Andi dan Aletta pulang dengan berjalan kaki karena Aletta melarang Andi untuk memesan taksi lagi. Aletta ingin lebih lama bersama manusia kutub kesayangannya itu.
Sepanjang mereka berjalan di trotoar mereka hanya saling diam. Mereka berjalan bersebelahan namun seperti dua orang yang tak saling kenal.
Aletta memperhatikan Andi sambil berjalan, matanya memandang lekat lekat laki laki di sebelahnya, membuatnya tersandung akar pohon dan jatuh tersungkur di trotoar.
Andi hanya diam dan menoleh tanpa membantu Aletta untuk kembali berdiri. Aletta yang melihat hal itu bukannya marah malah semakin gemas pada Andi.
Andi sengaja membiarkan Aletta karena ia tau Aletta bukanlah gadis manja yang akan merintih dan menangis hanya karena terjatuh. Ia hanya ingin Aletta tau jika dirinya masih kesal atas apa yang Aletta ucapkan beberapa waktu yang lalu. Meski begitu, ia sebenarnya khawatir. Namun Andi merasa tenang karena melihat Aletta yang tampak baik baik saja.
Andi menghentikan langkahnya begitu ia menyadari jika Aletta tertinggal di belakangnya. Ia menoleh kebelakang dan melihat Aletta yang berjalan tertatih tatih. Ia lalu segera menghampiri Aletta yang tampak kesakitan.
"Kaki kamu luka?" tanya Andi.
"Dikit, nggak papa ayo lanjut!"
Andi lalu sedikit mendorong tubuh Aletta agar duduk di kursi yang ada di trotoar. Andi melihat celana panjang Aletta yang tampak basah di bagian betisnya. Ia lalu segera melipatnya dengan pelan untuk melihat luka Aletta.
"Aaaww, pelan pelan Ndi," ucap Aletta yang merasa sakit di bagian betisnya yang tersentuh Andi.
"dia jalan dengan luka kayak gini? cowok macam apa yang biarin ceweknya jalan dengan luka kayak gini Ndi, jahat banget aku," batin Andi yang kesal pada dirinya sendiri.
"Tunggu di sini, jangan kemana mana dan jangan banyak gerak!" ucap Andi pada Aletta.
Andi lalu berlari ke arah apotek yang berada si sebrang jalan. Tanpa Andi tau, Aletta mengikutinya dengan berjalan tertatih tatih.
Aletta duduk di depan apotek, menunggu Andi. Ketika Andi keluar dari apotek, Aletta memanggilnya.
"Manusia kutub," panggil Aletta dengan setengah berteriak.
Andi lalu menoleh ke arah Aletta dan segera menghampirinya.
"Aku kan udah bilang tunggu aja di sana, kaki kamu luka Ta!"
"Cuma luka kecil Ndi, jangan berlebihan."
Andi lalu mengobati kaki Aletta dan menutupnya dengan perban. Andi lalu berjongkok dengan membelakangi Aletta.
"Naik!" ucap Andi.
"Hah! naik? kemana?"
Andi lalu menepuk nepuk punggungnya sendiri.
"Aku nggak mungkin biarin kamu jalan ke kos dengan keadaan kaki kamu yang kayak gitu!"
"Tapi aku....."
"Sekali ini aja jangan bantah," ucap Andi memotong ucapan Aletta.
"Aku berat loh Ndi."
"Aku tau!"
Aletta hanya tersenyum tipis lalu naik ke punggung Andi.
__ADS_1
"Gimana? masih kuat?" tanya Aletta setelah mereka berjalan 5 menit.
"Kamu ngremehin aku?"
"Enggak, aku tau kamu kuat," jawab Aletta.
"Oh ya, kamu tadi ninggalin Dini?" tanya Aletta.
"Dia di jemput Dimas," jawab Andi yang masih terdengar dingin.
Setelah lebih dari 10 menit Andi menggendong Aletta, akhirnya mereka sampai di kos. Andi melihat mobil Dimas yang terparkir di sana, namun ia tidak melihat Dini ataupun Dimas di sana.
"Romantis banget sih kalian ini!" ucap Dimas dari lantai dua, tepat di depan kamar Dini.
Andi tak menghiraukan itu, ia lalu menggendong Aletta untuk naik ke lantai dua dan masuk ke kamar Aletta. Ia menurunkan Aletta di ranjang dengan pelan. Ia lalu berjongkok dan memeriksa luka Aletta.
"Usahain nggak kena basah, sering ganti perbannya juga!" ucap Andi sambil mengganti perban Aletta.
Aletta hanya mengangguk. Setelah selesai, Andi mendongakkan kepalanya menatap Aletta. Entah kenapa ia melihat Aletta tampak bahagia malam itu. Meski ia sudah mengabaikan Aletta, Aletta tidak marah sama sekali.
"Apa luka ini bikin kamu bahagia?" tanya Andi.
Aletta mengangguk dengan senyum mengembang di wajahnya.
"Kenapa?"
"Karena aku tau kamu masih peduli sama aku."
"Kenapa kamu bilang gitu? apa selama ini aku nggak pernah peduli sama kamu?"
Aletta menggeleng.
"Makasih Ndi," ucap Aletta.
"makasih? aku udah cuekin dia dari tadi, aku biarin dia jatuh dan dia bilang makasih?" batin Andi bertanya tanya.
"Makasih karena udah kasih aku kesempatan buat ngerasain hal indah ini, mungkin buat kamu ini bukan apa apa, tapi aku bener bener bahagia malam ini," lanjut Aletta.
"Maafin aku Ta," ucap Andi dengan menggenggam kedua tangan Aletta.
"Kenapa kamu minta maaf? aku yang minta maaf kalau bercandaanku tadi menyinggung kamu ataupun Dini."
"Ehem, sorry ganggu," ucap Dimas yang sudah berdiri di depan kamar Aletta.
Andi berjalan ke arah pintu dan hendak menutup pintu kamar Aletta, namun Dimas mencegahnya.
"Jangan rese' deh Dim!" ucap Andi kesal.
"Lo nggak liat gue lagi marah?"
"Bodo amat," balas Andi yang masih berusaha menutup pintu kamar Aletta.
Dimas lalu menarik tangan Andi dengan paksa.
"Lo kenapa lagi sih Dim?" tanya Andi kesal.
"Al, Andinya gue pinjem dulu ya!"
Aletta mengangguk membiarkan Dimas membawa Andi pergi dari kamarnya. Dimas lalu menarik kerah baju Andi dan mendorongnya ke dinding.
"Lo kesambet apa sih?" tanya Andi yang masih tidak mengerti kesalahannya.
"Lo emang temen gue Ndi, selama ini gue nggak pernah bales tiap lo hajar gue, tapi sekarang giliran gue kasih 'pelajaran' buat lo!"
"Tunggu tunggu, ini ada apa? gue salah apa?"
"Ikut gue turun!" ucap Dimas dengan menarik tangan Andi.
Andi hanya diam dan mengikuti Dimas yang tampak emosi tanpa ia tau penyebabnya. Dimas membawa Andi ke dekat mobilnya dan mulai menginterogasinya.
"Apa perasaan lo udah berubah?" tanya Dimas.
"Maksud lo?"
"Apa Aletta udah bikin lo lupain Andini?"
"Lo ngomong apa sih Dim, nggak jelas banget lo!" ucap Andi lalu melangkah pergi namun Dimas menarik tangan Andi dengan kasar dan mendorongnya hingga terbentur mobil.
Andi mulai menyadari keadaan yang sebenarnya. Dimas tidak akan semarah itu jika tidak menyangkut tentang Dini.
"Lo yakin mau dengerin jawaban gue?" tanya Andi.
Dimas tak menjawab.
"Gue cinta sama dia lebih dari yang lo tau Dim, gue....."
"Guys, pesta udah siap!" ucap Dimas setengah berteriak sebelum Andi menyelesaikan ucapannya.
"Pesta?" tanya Andi tak mengerti. Andi melihat ke belakang dan tampak teman teman kosnya berjalan ke arahnya dengan membawa tali tambang.
Andi yang sudah lama tinggal di sana tau apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Dim, lo gila? gue...."
"Simpen baik baik perasaan lo itu, suatu saat nanti Andini hari harus tau," ucap Dimas pelan dengan memegangi tangan Andi kuat kuat.
Teman teman Andi lalu segera menyeret Andi ke arah pohon besar dan mengikat Andi di sana.
"Guys, kalian kan temen gue, please lah jangan kayak gini!" ucap Andi memelas.
__ADS_1
"Ini hukuman buat cowok yang udah ninggalin cewek sendirian di halte," ucap Dimas dengan senyum bak pembunuh.
Tanpa berlama lama mereka semua menggelitiki Andi yang terikat di pohon. Dimas memang sudah menyiapkan hal itu sebelum Andi datang. Dini yang mengusulkan ide itu karena ia takut jika Dimas dan Andi akan membuat keributan di kosnya.