Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Berusaha Menahan


__ADS_3

Toni yang melihat Dimas putus asa merasa tak tega, terlebih ia sudah sangat disambut hangat di cafe itu.


"Gue nggak akan kemana mana bos, tenang aja!" ucap Toni dengan menepuk pundak Dimas.


"Serius Ton?" tanya Dimas tak percaya namun sangat berharap jika Toni serius untuk tidak meninggalkan cafe.


"Iya lah, kan gue udah bilang kalau cafe ini udah jadi bagian dari hidup gue."


"Walaupun keadaan sekarang kayak gini?"


"Yap, gue ngerti, bos fokus aja sama konsep barunya, gue akan selalu dukung lo bos," ucap Toni meyakinkan.


"Thanks Ton!" ucap Dimas dengan memeluk Toni.


"Lepas bos, dilihatin kak Dini tuh, ntar dia cemburu lagi!"


"Hahaha.... oke oke, gue naik dulu ya, sekali lagi thanks ya Ton!"


Toni mengacungkan jari jempolnya dan kembali membereskan pantry.


"Ada apa Dim?" tanya Dini setelah melihat Dimas memeluk Toni.


"Nggak papa," jawab Dimas tersenyum.


"Nggak mau cerita?"


"Aku beruntung banget punya Toni," ucap Dimas mengawali ceritanya.


"Kenapa?"


"Tadi aku bilang sama dia buat cari kerja di tempat lain kalau dia mau, karena keadaan cafe yang nggak stabil aku takut nggak bisa kasih gaji yang layak buat dia."


"Terus?" tanya Dini antusias.


"Kamu tau dia jawab apa?"


Dini menggelengkan kepalanya.


"Dia mau tetep di sini, nggak peduli gimana keadaan cafe sekarang, buat dia cafe ini udah jadi bagian dari hidupnya dia, itu yang bikin aku beruntung banget bisa kenal dan kerja sama dia," jelas Dimas panjang.


"Karena kamu baik, kebaikan juga akan selalu deket sama kamu Dimas," ucap Dini dengan menggenggam tangan Dimas.


Andi dan Anita yang turun ke lantai satu dengan membawa banyak barangpun dibuat iri oleh kemesraan Dini dan Dimas.


"Pinter ya lo, kita disuruh kerja lo malah pacaran!" ucap Andi dengan menaruh tumpukan frame di meja depan Dimas, membuat Dini segera melepaskan genggaman tangannya dari Dimas.


"Cemburu?" tanya Dimas dengan senyum liciknya.


"Lo mau gue pulang?" tanya Andi kesal dengan pertanyaan Dimas.


"Hahaha, jangan dong, sini duduk dulu!"


Anita yang berdiri di samping Andi hanya tersenyum kecut.


"kamu cemburu Ndi?" tanya Anita dalam hatinya.


"Aku ke atas dulu ya, siapin yang lain," ucap Dini dengan berjalan ke lantai dua.


"Aku ikut Din!" ucap Anita dengan mengikuti Dini ke atas.


"Tuh, yang cewek aja semangat banget, lo malah males malesan!" ucap Andi pada Dimas.


"Lo pikir lo sekarang ngapain? berdiri?"


"Lo kan nyuruh gue duduk, jadi ya gue duduk!"


"Terserah!" balas Dimas kesal.


Andi hanya tertawa melihat Dimas yang tampak kesal.


Di lantai dua, Dini dan Anita mulai memilih frame untuk dipajang di dinding.


"Din, aku mau tanya sesuatu sama kamu!" ucap Anita pelan.


"Tanya apa Nit?"


"Soal hubungan kamu."


"Sama Dimas?"


"Sama Andi."


"Aku sama Andi cuma sahabat Nit, kan kamu tau itu."


"Apa sahabat bisa ngerasa cemburu?"


"Maksud kamu?"


"Kalau Andi cemburu liat kamu sama Dimas, apa itu artinya Andi masih anggap kamu sebatas sahabat? atau lebih? atau mungkin......"


"Anita, tolong hentiin pikiran kamu yang nggak bener itu," ucap Dini memotong perkataan Anita.


"Aku sama Andi sahabat dari kita kecil, harus berapa kali aku bilang ini sama kamu, dari dulu aku nggak pernah deket sama siapapun kecuali Andi, Andi yang selalu ada buat aku, tapi itu nggak bikin hubungan kita berubah, kita tetep jadi sahabat, bahkan setelah kesalahpahaman tentang Dimas bikin kita jauh, akhirnya kita sama sama lagi, tetep sebagai sahabat dan sebagai sahabat yang baik, dia harus pastiin cowok yang deket sama aku itu yang terbaik buat aku dan sekarang Andi udah percayain Dimas buat sama aku, begitu juga aku yang udah percaya kalau kamu yang terbaik buat Andi, apa lagi yang bikin kamu ragu Nit?" lanjut Dini.


"Aku minta maaf Din."


"Nit, Andi berarti banget buat aku, Dimas juga, mereka punya tempatnya masing masing di hati aku, jadi tolong jangan bikin hubungan kita jadi canggung karena hal ini, aku tau posisi ku, aku akan ngerti kalau nanti Andi akan jarang ada waktu buat aku, tapi tolong jangan paksa persahabatan kita selesai," ucap Dini berharap Anita akan mengerti.


"Iya Din, aku ngerti."


"Ya udah, tolong kamu pasang ini di sana ya, aku mau pasang ini di sana!" ucap Dini dengan menunjuk dinding yang akan mereka pasang frame.


"Oke!"


"Tolong ambilin kursi di sebelah kamu dong!" ucap Dini sambil menunjuk tumpukan kursi plastik di dekat Anita.

__ADS_1


Anita pun mengambil salah satu dan diberikannya pada Dini, namun ketika Dini menaikinya, kaki kursi itu patah dan membuat Dini terjatuh. Sedangkan Anita tak sengaja membuat jarinya berdarah karena paku.


Braaakkkkkk


"Aaaaaawww," teriak Anita yang mendapati jarinya berdarah karena paku bersamaan dengan jatuhnya Dini dari kursi.


Andi dan Dimas yang berada di bawah segera naik ke lantai dua begitu mendengar suara itu.


Andi yang lebih dulu sampai di atas segera menghampiri Dini yang masih terduduk dengan memegangi kakinya yang terasa sakit.


Sedangkan Anita yang berada di dekat tangga dengan luka di jarinya dibiarkan begitu saja oleh Andi.


"Kamu nggak papa Din?" tanya Andi yang terlihat khawatir.


"Kaki ku sakit banget Ndi, nggak bisa digerakin, sakit banget," jawab Dini dengan merintih kesakitan.


Andipun membopong Dini untuk di dudukkan di sofa yang ada di lantai dua.


Dimas dan Anita hanya memperhatikan Dini dan Andi dari ujung tangga.


"Kamu ada P3K Dim?" tanya Anita pada Dimas.


"Ada, bentar!"


Dimas turun ke lantai satu untuk mengambil kotak P3K lalu bergegas naik ke atas.


"Ada apa bos?" tanya Toni ketika melihat Dimas membawa kotak P3K.


"Nggak papa, lo di sini aja!"


Toni mengangguk.


"Kamu kenapa Nit?" tanya Dimas yang melihat jari Anita berdarah.


"Nggak sengaja kena paku tadi."


"Sini, aku bantuin!"


"Thanks Dim!"


Dimas mengangguk dengan perasaan campur aduk yang dia rasakan.


"sebenarnya hati lo buat siapa Ndi? ada Anita yang jelas jelas butuh bantuan lo, kenapa lo lebih pilih bantuin Dini yang udah pasti bakalan gue bantuin! Anita butuh lo dan lo sama sekali nggak mandang dia sedikitpun, sampe' kapan lo mau bohongi perasaan lo Ndi?" batin Dimas bertanya tanya.


"Kamu baik baik aja Dim?" tanya Anita yang melihat Dimas tampak gelisah.


"Nggak papa," jawab Dimas yang kemudian turun dari lantai dua, sengaja menghindar dari Dini dan Andi.


Dimas memasang beberapa frame yang harus dipasang di lantai satu.


Tiba-tiba Anita datang dan membantu Dimas.


"Kamu baik baik aja Nit?" tanya Dimas pada Anita yang terlihat sedih.


Dimas duduk dan menarik tangan Anita untuk duduk di sampingnya.


"Jangan pura pura lagi Nit!" ucap Dimas pada Anita.


Anita menarik napasnya dalam dalam dan menghembuskannya dengan kasar.


"Apa aku punya pilihan?" tanya Anita dengan mata berkaca kaca.


Dimas mendekat dan memeluk Anita. Ia sadar jika apa yang dilakukannya ini akan menimbulkan kesalahpahaman pada Dini dan Andi, tapi ia tak peduli. Ada sedikit cemburu yang dibalut emosi di hatinya.


Anita menangis di pelukan Dimas. Ia juga tak peduli jika Andi akan melihatnya saat itu.


Toni yang sedang memberikan pesanan pelanggannya di meja depan sedikit tercengang melihat Dimas yang memeluk Anita. Namun ia melewatinya begitu saja, tak berani mengganggu.


Toni menyiapkan dua gelas minuman yang akan dibawanya ke lantai dua sekaligus ingin melihat apa sedang terjadi di atas.


Toni menaiki tangga dengan sangat pelan, di ujung tangga ia melihat Andi dan Dini sedang berpelukan, ia pun mengurungkan niatnya untuk memberikan minuman pada mereka dan memilih untuk kembali turun dengan membawa nampan berisi 2 gelas minuman.


"ini sebenarnya gimana sih, kok jadi tukeran pacar gini, siap siap perang dunia ketiga nih, coba ada bos Yoga pasti seru," ucap Toni dalam hati.


Tanpa Toni tau yang sebenarnya terjadi di lantai dua tidaklah sama dengan apa yang dipikirkannya. Sebelum Toni naik ke atas, Dini yang kakinya masih sakit memaksa untuk turun mencari Dimas, alhasil ia pun terjatuh dan Andi membantunya untuk berdiri yang terlihat seperti berpelukan di mata Toni.


"Kamu di sini aja, aku yang cari Dimas," ucap Andi pada Dini.


"Aku ikut," pinta Dini.


"Enggak Din, kaki kamu masih sakit, kamu di sini aja!"


"Tapi...."


"Udah, di sini aja!" ucap Andi tegas dan segera turun ke lantai satu.


Andi hanya diam mematung begitu sampai di lantai satu. Ia tidak menyangka akan melihat hal ini untuk kedua kalinya. Ya, dia melihat Dimas dan Anita yang sedang berpelukan.


Dini yang memang keras kepala, turun ke lantai satu dengan perlahan dan mendapati Andi yang hanya berdiri memandang ke satu titik di hadapannya membuat Dini ikut melihat ke arah pandangan Andi.


Sesak di hatinya mulai terasa ketika ia melihat Dimas dan Anita yang sedang berpelukan, ia pun menarik tangan Andi untuk diajak kembali naik ke atas.


Andi hanya pasrah dan mengikuti Dini yang berjalan tertartih tatih.


"Anggap kamu nggak pernah lihat kejadian itu Ndi!" ucap Dini dengan menggenggam tangan Andi.


"Kenapa?"


"Dimas sekarang lagi down, jangan bikin dia makin pusing dengan masalah ini!"


"Kamu?"


"Aku nggak papa Ndi, aku anggap itu tadi cuma halusinasiku aja!"


"Tapi Din....."

__ADS_1


"Aku mohon sama kamu, Dimas udah kacau karena keadaan cafenya, aku nggak mau lihat dia makin kacau lagi," ucap Dini memohon.


"Oke kalau itu mau kamu."


"Makasih Ndi."


Andi tersenyum dan memeluk Dini. Dini berusaha keras agar air matanya tak keluar.


"ini yang kamu lakuin di belakang ku Dim? ini yang kamu lakuin saat aku butuh kamu? kenapa Andi yang datang? kenapa bukan kamu?" batin Dini penuh sesak.


Andipun melanjutkan pekerjaannya, memasang frame di dinding sedangkan Dini membantu memilih frame yang cocok untuk di pasang.


Tak lama kemudian Dimas dan Anita naik ke lantai dua dengan membawa 4 gelas minuman dan beberapa camilan.


"Istirahat dulu Ndi!" ucap Dimas pada Andi namun Andi tak menghiraukannya.


"Minum dulu nih!" ucap Anita sambil memberikan satu gelas minuman pada Andi.


"Nggak usah!" jawab Andi dengan menahan emosi.


"Kamu nggak papa?" tanya Anita yang melihat perubahan sikap Andi.


"Duduk dulu lah Ndi!" ucap Dimas yang sudah duduk di samping Dini.


"Gue mau cepet selesai dan cepet pulang!" balas Andi ketus.


"Kalau lo mau pulang dulu nggak papa kok, gue bisa nyelesaiin sendiri sama Toni," balas Dimas menahan emosi.


"Oke, gue pulang!"


"Jangan pulang dulu ya, aku bantuin deh!" ucap Anita mencoba membujuk Andi.


"Kamu pulang sama aku aja Din!" ucap Andi dengan menarik tangan Dini namun langsung dilepas oleh Dimas.


"Lo sama Anita aja, biar gue yang nganter Dini pulang!"


"Anita kayaknya masih mau di sini, gue kasih waktu buat kalian berdua......"


"ANDI!" teriak Dini yang menyadari jika Andi hampir saja kehilangan kesabarannya.


"Aku pulang sama kamu," lanjut Dini dengan mengemasi barang barangnya.


"Kamu aku anter aja ya!" ucap Dimas pada Dini.


"Aku ikut pulang kok kalau kamu pulang," ucap Anita dengan memegang tangan Andi namun segera di lepas oleh Andi.


"Ayo Din!" ucap Andi pada Dini tanpa mengindahkan ucapan Anita.


"Andini, kamu sama aku ya!" ucap Dimas memohon.


"Aku sama Andi aja, kasian Toni kalau sendirian," balas Dini dengan berdiri.


"Aku duluan ya Nit!" ucap Dini pada Anita.


Anita dan Dimas hanya diam melihat Dini dan Andi yang turun dari lantai dua.


"Kamu bisa jalan kan?" tanya Andi pada Dini.


"Bisa kok, pelan pelan," jawab Dini dengan berjalan pelan karena kakinya yang masih sakit.


"Mau aku gendong?"


"Nggak mau, emang aku anak kecil!"


"Kamu selalu jadi putri kecilku Din!" ucap Andi dengan menarik hidung Dini.


"Aandiiiiiii....."


"Hahaha, jadi tambah mancung hidung kamu," ledek Andi.


Kebersamaan yang ditunjukkan oleh Dini dan Andi berhasil membuat Dimas dan Anita cemburu namun hanya bisa diam tanpa bisa melakukan apapun.


Anita duduk di sebelah Dimas berniat untuk menggenggam tangan Dimas namun Dimas menolaknya.


"Kamu pulang aja Nit!"


"Tapi Dim...."


"Aku pingin sendiri."


Anitapun turun dari lantai dua dan segera keluar meninggalkan cafe.


"Aaaaarrggggghhh......" teriak Dimas kesal dengan meninju frame kaca di depannya, membuat tangannya berdarah darah.


Toni yang mendengar itu segera naik ke lantai dua dan mendapati Dimas yang hanya diam terbaring di sofa panjang dengan darah yang menetes dari tangannya.


"Ada apa bos?" tanya Toni cemas terlebih ketika ia melihat tangan Dimas yang terluka dengan darah yang menetes tanpa henti.


"Tinggalin gue Ton!" pinta Dimas dengan masih memandang langit langit.


"Gue obatin dulu bos," ucap Toni sambil membuka kotak P3K.


"Jangan paksa gue kasar sama lo Ton, please tinggalin gue sendiri," ucap Dimas tegas.


"Maaf bos, kali ini gue nggak bisa nurut, lo bisa infeksi kalau luka......"


PRAAAANGG!!!!!


Dimas menjatuhkan nampan di meja dengan kasar membuat Toni tesentak kaget dan sedikit takut, namun ia tak mengurungkan niatnya untuk mengobati luka Dimas.


"Biarin gue sendiri Ton," ucap Dimas pelan seperti kehilangan tenaganya.


"Gue obatin dulu bos, abis ini gue nggak akan ganggu," balas Toni dengan mengobati luka Dimas.


Dimas hanya diam dengan perasaan yang susah untuk dijelaskan.

__ADS_1


__ADS_2