
Semilir angin masih terasa, menerpa dedaunan dan memaksa mereka yang kering untuk gugur sedangkan yang masih segar bergoyang menarikan lagu lagu cinta.
Sesekali hembusannya menerpa rambut Dini yang tergerai bebas. Dini masih di sana, duduk menyandarkan kepalanya di bahu Andi. Mengingat kembali perjalanan panjang yang mereka lalui bersama. Semuanya terasa indah, semuanya tampak sempurna mengisi hari harinya.
"Kamu beneran suka sama Aletta?" tanya Dini pada Andi.
"Iya, tapi aku rasa ini bukan cinta," jawab Andi.
"Jadi?"
"Aku nggak tau Din, yang aku tau dia selalu bisa bikin aku ketawa, aku selalu pingin lindungi dia, aku nggak mau dia sedih dan aku nggak mau dia pergi," jawab Andi.
"Apa itu juga yang kamu rasain waktu kamu deket sama Anita?"
Andi diam sejenak, ia memikirkan masa lalunya bersama Anita.
"aku dulu pernah punya perasaan itu, rasa ingin melindungi dan selalu membuatnya tersenyum, tapi itu bukan cinta, aku yakin bukan, bahkan setelah kepergiannya nggak ada rasa sedih yang aku rasain, tapi Aletta...... "
"Kamu nggak bisa jawab?" tanya Dini yang melihat Andi hanya melamun.
"Kamu juga belum jawab pertanyaanku, kalau misalnya aku......"
"Nggak papa, kamu juga harus bahagia Ndi, jangan terlalu sibuk mikirin aku sampe' kamu lupa kalau kamu juga harus bahagia, bahagia dengan seseorang yang ada di hati kamu," ucap Dini berusaha tersenyum.
Ya, pada akhirnya nanti dia akan melihat Andi bersama dengan pilihan hatinya. Ia tidak bisa mengekang Andi, memaksanya untuk terus bersamanya. Jika ia bisa memilih Dimas, maka Andi juga harus memilih pilihan hatinya. Mau tak mau waktu akan memberikan jarak pada mereka, entah saat ini atau di masa depan nanti.
Dini yakin, akhir persahabatan mereka akan indah meski mereka sudah tak bisa bersama lagi. Ia berusaha untuk memikirkan hal hal baik saja, ia tidak akan egois lagi. Ia biarkan rasa menyesakkan itu ada sebagai pengingat jika pernah ada sahabat yang begitu istimewa di hatinya.
"Kamu yakin?" tanya Andi meyakinkan.
"Iya, persahabatan kita nggak akan selesai walaupun masing masing dari kita punya pendamping hidup kan? aku yakin akan ada akhir bahagia dari persahabatan kita."
"aku juga berharap yang sama Din, akan ada akhir bahagia dari persahabatan kita, tapi gimana sama hati aku yang bahkan nggak bisa lepas dari kamu? hatiku memilih kamu Dini, cuma kamu, dari dulu sampai sekarang dan entah sampai kapan,"
Andi lalu tersenyum dan memeluk Dini.
**
Di tempat lain, Dimas sedang berada di kafe pertamanya. Ia menunggu Yoga di ruang kerjanya.
Tak lama kemudian Yoga datang bersama seseorang.
"Dari tadi Dim?" tanya Yoga basa basi.
"Lumayan," jawab Dimas.
"Oh ya, kenalin ini temen gue, dia yang akan bantuin lo!"
"Ivan," ucap Ivan sambil mengulurkan tangannya pada Dimas.
"Dimas," balas Dimas dengan menjabat tangan Ivan.
"Oke, sesi perkenalannya selesai, sekarang kalian silahkan keluar dari ruangan gue haha....." canda Yoga.
"Lo ngusir gue?" balas Dimas.
"Ampun bos," jawab Yoga dengan menangkupkan kedua tangannya di dada sambil menunduk.
Dimas hanya menggeleng lalu mengajak Ivan untuk mengobrol di depan.
"Tari, 2 ice choco ya!" ucap Dimas pada salah satu pegawainya.
"Siap pak!" jawab Tari.
Dimas dan Ivan lalu duduk di bangku yang berada di sudut ruangan itu.
"Yoga bilang ini kafe punya lo ya?" tanya Ivan pada Dimas.
"Usaha gue sama Yoga juga," jawab Dimas merendah.
"Keren banget sih lo, hebat lah pokoknya!" puji Ivan.
"Gue masih banyak belajar juga kok, lo satu angkatan sama Yoga?"
"Iya, tapi sekarang masih nganggur haha..."
"Pas banget, karena lo nggak lagi sibuk gue mau minta tolong sama lo!"
"Yoga udah cerita sama gue, lo bawa HP nya kan?"
Dimas lalu mengambil ponsel Anita dari dalam tasnya dan memberikannya pada Ivan.
"Punya cewek lo?" tanya Ivan sambil membolak balikkan ponsel dengan softcase berwarna pink itu.
Dimas hanya tersenyum tak menjawab pertanyaan Ivan.
"Jadi lo mau gue aktifin HP ini terus balikin semua data data yang udah terhapus dari satu tahun yang lalu?"
"Iya, lo bisa kan?"
"Bisa, tapi gue butuh waktu, mungkin 2 atau 3 hari lagi selesai," jawab Ivan.
"Nggak bisa dipercepat lagi? gue butuh banget Van, soal biaya berapapun gue kasih!"
"1 tahun itu lama Dim, ini juga HP nya udah nggak bisa hidup lagi, jadi perlu gue otak atik lagi!"
"Gue minta tolong banget sama lo Van," ucap Dimas memohon.
__ADS_1
"Gue usahain secepatnya, tapi gue nggak bisa janji, kalau udah kelar gue kabarin lo!"
"Oke oke, thanks Van!"
Tak lama kemudian Tari datang dengan membawa pesanan Dimas. Setelah mengobrol beberapa hal, Ivan berpamitan pulang.
Dimaspun meninggalkan kafe setelah berpamitan pada Yoga. Ia melajukan mobilnya ke butik, tempat Anita bekerja.
Sesampainya di butik, terlihat Anita yang sudah duduk di depan butik menunggu Dimas. Anita segera berlari dan memeluk Dimas begitu Dimas keluar dari mobil.
"Akhirnya kamu jemput juga," ucap Anita senang.
Dimas hanya tersenyum lalu membukakan pintu mobilnya untuk Anita.
"Kamu mau kemana?" tanya Dimas pada Anita.
"Terserah kamu aja!"
"Aku anter kamu ke apartemen aja ya?"
"Ke apartemen kamu aja ya?"
Dimas mengangguk, ia lalu melajukan mobilnya ke arah apartemennya.
Tak lama kemudian mereka sampai di apartemen Dimas.
"Aku mau ngerjain tugas, kamu jangan ganggu!" ucap Dimas pada Anita.
"Tapi aku mau cerita dulu sama kamu, dengerin ya?"
"Cerita apa?"
"Di butik tempat aku kerja ada cowok nyebelin banget, ganteng sih tapi kelakuannya bikin geli,"
"Kenapa? dia suka sama kamu?"
"Kayaknya iya, dia sering cari perhatian, padahal aku udah bilang kalau aku udah punya tunangan, tapi dia nggak percaya, malah dia bilang kalau dia mau ngelakuin apa aja asal aku mau sama dia," cerita Anita panjang.
"Kalau kamu mau sama dia nggak masalah buat aku, aku bebasin kamu Nit, kamu mau deket sama siapapun terserah kamu," ucap Dimas.
"Nggak bisa gitu dong, kita kan udah tunangan, jadi aku pasti jaga hati aku buat kamu," balas Anita.
"Tapi aku nggak bisa, hati aku cuma buat Andini," ucap Dimas membuat Anita menjadi kesal.
"Kenapa harus Dini sih Dim? Andi suka sama Dini jadi biarin Andi deketin Dini, kamu jangan jadi penghancur hubungan mereka Dimas!"
"Mereka cuma sahabat!"
"Kamu yakin? aku tau kamu nggak sebodoh itu!"
"iya, aku tau dan sekarang aku mulai takut, takut kalau Andini akan ngerasain hal yang sama kayak Andi, aku takut kalau cinta tiba tiba hadir dalam hati Andini, cinta pada seseorang yang sudah ia anggap sahabat sepanjang hidupnya," ucap Dimas dalam hati.
"STOP NIT!" ucap Dimas dengan membentak.
"Keluar Nit, aku mau ngerjain tugas," ucap Dimas pelan.
Anita hanya memandang Dimas dengan penuh kekesalan, lalu pergi meninggalkan apartemen Dimas.
Dimas mencari ponselnya dan menghubungi Dini. Ia ingin meminta maaf atas apa yang sudah terjadi ketika ia mengantar Dini dan Andi pulang. Lebih dari lima kali Dimas mencoba untuk menghubungi Dini namun tak ada jawaban. Untuk yang terakhir kalinya, ia mencoba menghubungi Dini lagi dan terjawab.
"Halo Andini, aku....."
"Maaf, Dininya nggak ada, lagi ke bukit sama Andi,"
Klik. Sambungan terputus.
Dimas menggenggam kuat kuat ponsel di tangannya.
"lagi ke bukit sama Andi,"
Entah siapa yang menerima panggilannya, Dimas merasa sangat marah. Emosi dalam dadanya sudah meledak ledak tak terkendali. Ia lalu melempar ponselnya dengan keras hingga membentur dinding.
Dimas lalu menjatuhkan badannya di tempat tidur. Ia menutup mata dengan kedua tangannya, mengusap kasar wajahnya yang sudah merah padam menahan emosi dalam dirinya.
Ia ingat tentang bukit itu, tempat dimana ia hampir saja kehilangan Dini. Tempat dimana ia melihat gadis yang dicintainya bersandar manja dengan laki laki yang dianggapnya sahabat.
Sahabat? entahlah. Semuanya mulai meragukan kata "sahabat".
**
Di tempat kos. Aletta sedang mempersiapkan kepindahannya. Ia mulai mengosongkan isi lemarinya, memindahkannya ke dalam koper besar di hadapannya.
Ia mengambil kameranya, ada beberapa gambar dirinya bersama Andi ketika mereka di pasar malam. Ia tersenyum kecut merasakan hatinya yang kembali berdenyut.
Tooookk Tooookk Tooookk
Pintu kamarnya diketuk oleh seseorang.
"Andi?"
Ia segera membuka pintu kamarnya. Terlihat Nico yang sudah berdiri dengan membawa sekotak pizza di tangannya.
"Waktunya makaaaann!" ucap Nico dengan memamerkan kotak pizza di tangannya.
"Lo aja Nic, gue lagi sibuk," balas Aletta.
"Ngerjain tugas?"
__ADS_1
Aletta menggeleng. Nico sedikit mendongakkan kepalanya untuk melihat ke dalam kamar Aletta. Ia sedikit terkejut karena melihat kamar Aletta tampak berantakan, karena ia tau jika biasanya Aletta sangat rapi.
"Kamar lo berantakan banget sih?" tanya Nico dengan memaksa masuk meskipun Aletta mencegahnya.
"Jangan Masuk Nic, masih berantakan!"
"Koper? kenapa ada koper di sini?" tanya Nico yang merasa aneh dengan keadaan kamar Aletta.
"Gue......"
"Lemari lo kosong? kenapa? lo mau pindah?" tanya Nico yang melihat lemari Aletta yang terbuka.
Aletta hanya tersenyum kecil lalu kembali mengemasi barang barangnya. Nico menarik tangan Aletta, menahannya agar berhenti memasukkan barang barang ke dalam koper.
"Ada apa Al? lo mau kemana? kenapa lo nggak cerita apa apa sama gue? kenapa......"
"Nic, gue mau pindah, gue mau ikut tante ke luar pulau," ucap Aletta pada Nico.
"Ke luar pulau? sekarang? kenapa mendadak banget Al? kenapa? ada apa? cerita sama gue!"
"Lo tenang aja, walaupun gue nggak di sini tapi di sini masih rame kok, iya kan?"
"Enggak Al, please jangan pergi, kalau lo butuh kerja sampingan gue pasti bantuin lo, gue pasti cariin sesuai sama apa yang lo mau, tapi jangan pergi Al, please!" ucap Nico memohon.
Aletta lalu mendekat dan memeluk Nico. Ia merasa sangat beruntung karena dipertemukan dengan teman sebaik Nico.
"Nic, makasih karena selama ini lo selalu bantuin gue, maaf karena gue belum bisa balas kebaikan lo, lo temen gue yang paling baik Nic, gue nggak akan lupain lo, tapi gue harus pergi."
"nggak masalah kalau lo cuma anggap gue temen Al, asal lo nggak pergi,"
Nico melepaskan diri dari pelukan Aletta. Ia tidak ingin ada pelukan perpisahan di antara mereka berdua.
"Kalau lo ada masalah lo cerita sama gue Al, gue pasti bantuin lo, apapun itu, tapi gue mohon jangan pergi!"
"Nggak ada masalah apa apa Nic, cuma hati gue yang salah, gue udah berusaha buat tutup hati gue rapat rapat, tapi ternyata masih ada yang bisa masuk, sialnya gue yang nggak bisa masuk ke hatinya, menyedihkan," ucap Aletta dengan tersenyum getir.
"Siapa Al? apa lo udah lupain masa lalu lo? cinta pertama lo?"
Aletta mengangguk.
"Cinta pertama nggak penting Nic, yang penting siapa yang ada di hati dan bertahan sampai mati," jawab Aletta.
"gue akan lakuin apapun asal lo nggak pergi Al, hati gue udah sekeras batu, nggak akan gampang terluka!"
"Oke kalau lo emang mau pergi, tapi biarin gue anterin lo ke rumah tante Rosa ya?"
"Lo bawa mobil?"
"Gue ambil dulu ke rumah, lo nggak buru buru kan?"
Aletta menggeleng. Sebenarnya hari keberangkatannya masih 3 hari lagi, tapi ia harus mempersiapakan semuanya. Jadi ia harus tinggal bersama tante Rosa beberapa hari sembari tante Rosa mengurus kuliah Aletta.
Nico keluar dari kamar Aletta, ia segera menghubungi Andi, berharap Andi bisa mencegah kepergian Aletta.
Beberapa kali ia mencoba untuk menghubungi Andi, namun tak ada jawaban, membuatnya sangat frustrasi.
**
Di sisi lain, Andi dan Dini yang baru pulang dari bukit mendapat omelan dari ibu Andi.
"Kalian ini kebiasaan kalau keluar nggak bawa HP, dua duanya bunyi terus sampe' ibu pusing dengernya!" gerutu Bu Joko.
"Maaf Bu," balas Dini yang merasa bersalah.
"Oh ya, tadi HP kamu bunyi Din, ibu kira HP nya Andi jadi ibu angkat aja, eh ternyata bukan, maaf ya Din!"
"Nggak papa Bu!"
"HP nya Andi kan warna item bu, Dini warna abu abu, beda dong!" sahut Andi
"Mata ibu kamu ini kan udah tua Ndi," balas Bu Joko lalu mereka semua tertawa.
Andi dan Dini lalu melihat ponsel mereka. Di ponsel Dini, banyak panggilan tak terjawab dari Dimas, sedangkan di ponsel Andi banyak panggilan tak terjawab dari Nico.
Berbeda dengan Dini yang memilih untuk mengabaikan Dimas, Andi segera menghubungi Nico.
"Halo Nic, ada apa?" tanya Andi setelah Nico menerima panggilannya.
"Lo dari mana aja sih?"
"Gue...."
"Cepet balik ke sini atau gue bakalan bikin lo keluar dari kampus beneran!"
"Maksud lo apa sih Nic?"
"Jangan banyak tanya Ndi, lo harus balik sekarang, cuma lo yang bisa cegah Aletta pergi!"
"Aletta? emang dia mau kemana?"
"Aletta mau pergi Ndi, dia mau pindah, dia mau ikut tantenya ke luar pulau, dia......"
Klik. Sambungan terputus.
Andi ingat percakapannya bersama Aletta beberapa waktu lalu.
apa ada yang cari aku kalau aku pergi? apa ada yang merasa kehilangan kalau aku nggak ada?
__ADS_1
Entah kenapa, Andi merasa sedih. Ada sesuatu yang mengusik hatinya. Ia tidak ingin Aletta pergi, jika ada yang bertanya kenapa, ia tidak tau. Entah perasaan seperti apa yang di rasakannya. Saat itu, ia hanya tidak ingin Aletta pergi.