Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Pencarian


__ADS_3

Di tempat kos.


Dini masih setia memandangi ponsel di hadapannya. Entah sudah berapa lama ia menatap ponsel itu, ia sama sekali tak pernah berada jauh dari ponsel itu sejak semalam. Ia selalu membawa ponselnya bahkan ketika ia berada di kamar mandi. Ia benar benar seperti pecandu smartphone saat itu.


Tak lama kemudian pintu kamarnya diketuk oleh seseorang. Dini segera membukanya dan melihat Aletta berada di depan kamarnya.


"Ada apa Al?" tanya Dini.


"Jalan jalan yuk, sama Andi juga," ajak Aletta.


"Nggak ah, kalian berdua aja!"


"Ini hari libur loh Din, tapi kamu malah di dalem kamar doang, ayo lah keluar!"


"Enggak Al, aku......"


"Ada promo ice cream!" ucap Aletta yang sengaja memotong ucapan Dini karena ia sudah diberitahu Andi jika Dini tidak akan pernah menolak jika itu berhubungan dengan ice cream.


"Oke, aku siap siap dulu!" balas Dini penuh semangat.


Tak lama kemudian Aletta dan Dini turun dari lantai dua. Di teras sudah ada Andi dan Nico yang menunggu mereka berdua. Ya, mereka berempat akan pergi ke sebuah mini market yang sedang mengadakan promo besar besaran untuk salah satu produk ice cream yang mereka jual.


Mereka berempat berangkat menggunakan mobil Nico. Andi dan Nico berada di bangku depan, sedangkan Aletta dan Dini berada di bangku belakang. Tak sampai 15 menit mereka telah sampai. Mini market itu tampak begitu ramai karena acara promo hari itu.


"Kalian tunggu di sini aja biar aku sama Dini yang masuk!" ucap Aletta pada Andi dan Nico.


"Oke," jawab Nico dan Andi bersamaan.


Dini dan Aletta lalu masuk ke dalam mini market yang penuh sesak itu, sedangkan Andi dan Nico menunggu di bangku depan mini market yang tak kalah ramainya.


"Gue ke kamar mandi bentar ya!" ucap Nico pada Andi.


"Oke," balas Andi.


Saat sedang mengedarkan pandangannya, tanpa sengaja Andi melihat Anita yang tampak sedang beradu mulut dengan seorang laki laki. Awalnya Andi hanya memperhatikan, namun ketika Andi melihat laki laki itu menampar Anita, Andi segera beranjak dari duduknya dan menghampiri Anita.


Andi lalu menarik tangan Anita dari hadapan laki laki itu.


"Andi!" ucap Anita yang begitu terkejut melihat kedatangan Andi.


"Lo siapa? ngapain lo di sini?" tanya Ivan pada Andi, namun diabaikan oleh Andi.


"Ikut aku Nit!" ucap Andi dengan menarik tangan Anita.


"Enggak Ndi, aku....."


Ivan lalu menarik tangan Anita yang lain dengan kasar.


"Kamu yakin mau ikut dia? aku nggak akan nahan kamu kalau emang kamu mau ikut dia," ucap Ivan pada Anita.


Anita diam beberapa saat membuat Ivan semakin geram.


"Oke kalau kamu nggak bisa milih, aku yang akan pergi!" ucap Ivan lalu melepaskan tangan Anita.


Anita lalu mengambil bolpoin dari dalam tasnya dan menuliskan 12 digit angka di tangan Andi.


"Hubungin aku!" ucap Anita lalu berlari pergi meninggalkan Andi dan mengejar Ivan.


Andi hanya diam membiarkan Anita pergi. Ia tidak mengerti apa yang membuat Anita lebih memilih pergi bersama laki laki yang begitu kasar padanya.


Andi lalu mengambil ponselnya dan menyimpan kontak Anita. Ia kemudian menghapus tulisan di tangannya dan segera kembali ke tempat duduknya.


Di sana sudah ada Dini, Aletta dan Nico.


"Lo dari mana?" tanya Nico pada Andi.


"Mmmm... itu... itu tadi gue kira tetangga gue di rumah ternyata bukan," jawab Andi berbohong.


"Kamu kayaknya harus periksa mata deh, kemarin kamu juga gitu kan?" sahut Aletta.


"Maklum mata tua hahaha...." balas Nico.


Mereka lalu menikmati ice cream mereka sambil bercerita banyak hal, bercanda dan tertawa bersama.


**


Di tempat lain, Anita sudah berada dalam satu mobil bersama Ivan.


"Pilihan yang bagus karena kamu masih mau ikut aku," ucap Ivan pada Anita.


Anita hanya diam dan menunduk.


"Aku nggak mau liat kamu keluar apartemen lagi ya, semua kebutuhan kamu bisa kamu beli lewat online, kamu bisa keluar kalau bekas luka kamu itu udah hilang, ngerti?"


"Gimana bisa hilang kalau kamu tampar aku terus? aku....."


"MAKANYA JANGAN BIKIN AKU MARAH ANITA!" ucap Ivan dengan penuh emosi.


Anita kembali menunduk ketakutan. Ivan lalu menggengam tangan Anita.


"Aku minta maaf, sebagai gantinya besok atau lusa Dimas bakalan dateng cari kamu dan aku mau kamu peluk dia, entah gimana caranya kamu harus peluk dia, oke?"


"Apa yang kamu rencanain Van?" tanya Anita.


"Apa lagi kalau bukan pisahin Dimas sama Dini, itu kan yang kamu mau?"

__ADS_1


Anita mengangguk paham.


"Jadi lakuin aja apa yang aku minta dan jangan pernah bantah, ngerti?"


Anita kembali menganggukan kepalanya.


**


Di kafe, Dimas masih bersama Yoga dan Toni. Mereka semakin kalang kabut karena akun sosial media kafe yang di hack. Akun sosial media kafe secara tiba menjadi kosong dan kehilangan semua followers.


"Apa yang harus kita lakuin sekarang bos?" tanya Toni.


"Ton, lo masih simpen data diri 2 pegawai itu kan? lo cari mereka sampai ketemu, tapi kemungkinan besar mereka nggak akan balik ke tempat tinggal asal mereka, jadi lo harus kerja keras buat cari mereka!"


"Siap bos, gue akan berusaha temuin mereka," balas Toni.


Yoga lalu mengambil sebuah cek kosong dari laci dan menuliskan beberapa nilai uang di sana.


"Lo pasti tau apa yang harus lo lakuin kan?" tanya Yoga sambil memberikan cek itu pada Toni.


"Gue tau bang!" jawab Toni penuh keyakinan.


"Gue bakalan cari tau siapa yang lempar batu semalem dari CCTV di sekitar kafe dan gue pastiin kalau gue bakalan dapetin identitas mereka," ucap Dimas.


"Gue harus ngurus kafe cabang Dim, gue harus perketat keamanan di sana, jangan sampe' apa yang terjadi di sini cuma buat pengalihan penyerangan," ucap Yoga pada Dimas.


"Gue serahin semuanya sama lo Ga!" balas Dimas.


"Gue udah bikin proposal buat pasang kamera tersembunyi di beberapa titik yang nggak akan diketahui orang dan kamera tersembunyi itu bakalan nyambung ke HP lo sama HP gue, jadi walaupun CCTV mati, masih ada yang bisa nyala dan cuma lo sama gue yang bisa liat," jelas Yoga sambil memberikan proposal pada Dimas.


"Good!" balas Dimas lalu menandatangani proposal yang Yoga berikan.


Mereka lalu berpencar untuk melakukan misi mereka masing masing. Tak lupa Dimas menempatkan beberapa orang suruhannya untuk menjaga kafe. Dimas sengaja meminta mereka untuk berjaga jaga di beberapa titik di sekitar kafe dengan menggunakan penyamaran.


Ada yang berjualan es degan di pinggir jalan raya depan kafe, ada yang menjadi juru parkir di sebrang kafe bahkan ada juga yang menyamar menjadi orang gila.


Dimas memasuki satu per satu toko di sekitar kafenya, dia meminta izin untuk melihat rekaman CCTV mereka yang merekam kejadian semalam. Meski beberapa dari mereka menolak, namun pada akhirnya mereka mengizinkannya begitu mengetahui jika Dimas adalah anak dari pengusaha terkenal di sana.


Akhirnya Dimas menemukan sebuah rekaman CCTV yang merekam sebuah mobil berhenti tak jauh dari kafenya. Tampak dua orang dengan penutup kepala turun dari mobil dan berlari ke arah kafe. Dimas sudah mendapatkan plat mobil itu dan dia segera mencari pemilik mobil itu.


Tak butuh waktu lama, Dimas mendapat informasi jika mobil itu adalah sebuah mobil sewaan. Dimas segera menuju ke tempat persewaan mobil itu dan mencari tau siapa saja yang menyewa mobil itu untuk malam kemarin. Si pemilik persewaan lalu memberikan identitas si penyewa pada Dimas, membuat Dimas begitu terkejut saat melihatnya.


Biiiipp Biiippp Biiippp


Ponsel Dimas berdering, ada panggilan dari Toni.


"Bos, gue udah dapet informasi mereka dimana!"


"Dimana Ton?"


"Kasih gue alamat lengkapnya Ton, gue yang bakalan kesana sekarang!"


"Oke bos!"


Dimas segera pergi ke bandara setelah mendapatkan alamat dari Toni. Tak lupa ia menghubungi Yoga sebelum ia meninggalkan kota.


"Ga, gue harus ke luar kota sekarang, lo bisa handle semuanya kan?"


"Serahin semuanya sama gue Dim!"


"Thanks Ga!"


Tak sampai 2 jam Dimas sudah tiba di kota yang di tujunya.


Biiipp Biiippp Biiippp


Ponsel Dimas berdering, panggilan dari papanya.


"Halo pa, ada apa?"


"Kamu dimana Dim?"


"Dimas di.... di rumah temen pa."


"Jangan bohong kamu Dim, kamu tau papa selalu perhatiin kamu kan? ada masalah apa?"


"Nggak ada apa apa kok pa, papa tenang aja!"


"Masalah kamu ini serius Dimas, papa udah tau semuanya!"


"Kalau papa udah tau tolong biarin Dimas selesaiin ini sendiri pa dan tolong jangan kasih tau mama."


"Papa nggak akan kasih tau mama, tapi papa nggak mungkin biarin bisnis anak papa hancur, kamu pulang sekarang biar papa yang selesaiin semua itu!"


"Enggak pa, Dimas pasti bisa selesaiin semua ini sendiri, Dimas janji akan hubungin papa kalau emang Dimas udah nggak punya jalan lain."


"Kamu yakin?"


"Dimas yakin pa."


"Ya udah kalau gitu, inget ya Dim kamu masih kuliah jadi selesaiin dengan baik masalah kamu sekarang tanpa ganggu kuliah kamu, bisa?"


"Bisa pa."


Dimas kemudian pergi ke alamat yang Toni berikan ketika hari sudah malam. Sesampainya di sana, Dimas mengetuk pintu sebuah tempat kos yang kecil dan sepi. Tak lama kemudian seseorang membukakan pintu dan Dimas segera masuk lalu menghajarnya. Beberapa saat mereka beradu fisik hingga akhirnya Dimas berhasil melumpuhkannya.

__ADS_1


"Mana temen lo?" tanya Dimas pada salah satu mantan pegawainya.


Belum sempat dia menjawab, terdengar suara motor datang. Dimas segera mengintip dari balik jendela dan segera menyerang seseorang yang baru saja masuk itu. Lagi lagi Dimas berhasil melumpuhkannya.


2 mantan pegawainya kini terikat dengan wajah yang sudah babak belur.


"Kalian masih 18 tahun, kenapa kalian ngelakuin ini?" tanya Dimas.


"Ampun pak, kita cuma ikutin perintah aja, tolong jangan bawa kita ke kantor polisi," ucap salah seorang dari mereka.


"Siapa yang nyuruh kalian?"


"Kita nggak kenal, tapi dia cewek, cantik, dia bilang dia tunangan pak Dimas."


Dimas mengusap wajahnya kasar. Di persewaan mobil tadi identitas Anita jelas tertulis di sana dan sekarang pengakuan kedua mantan pegawainya itu juga mengarah pada Anita.


"Maafin kita pak," ucap salah satu dari mantan pegawai itu.


"Gue tau apa yang kalian lakuin ini tindakan kriminal, tapi gue nggak akan memperpanjang masalah ini asal kalian kasih tau gue siapa aja yang terlibat, bisa?"


"Bisa pak, bisa."


"Setelah ini kalian pergi yang jauh dan jangan pernah lagi berurusan sama gue, kecuali kalau kalian mau membusuk di penjara!"


"Kita akan pergi pak, kita janji nggak akan kembali."


"Bagus!"


Setelah mendapatkan informasi tentang 7 orang yang terlibat, Dimas membantu mereka membersihkan luka mereka dan mengobatinya lalu mengantar mereka pergi ke bandara.


Dimas segera menghubungi Yoga dan memberi tahu Yoga identitas ketujuh orang yang terlibat dalam penyerangan kafe.


"Cari tau tentang mereka sedetail mungkin Ga, gue balik ke sana sekarang!"


"Oke Dim!"


Setelah 2 jam menunggu, pesawat akhirnya membawa Dimas kembali ke kotanya. Dimas segera menghubungi Anita.


"Kamu dimana?"


"Aku di apartemen, ada apa?"


"Aku ke sana sekarang!"


Klik. Sambungan terputus sebelum Anita sempat berbicara lagi.


Anita lalu memberi tahu Ivan jika Dimas akan datang.


"Cepet juga ya ternyata," ucap Ivan.


"ini bukan apa apa Dim, ini baru pemanasan ringan buat lo," ucap Ivan dalam hati.


"Ya udah kalau gitu aku keluar dulu ya!"


Anita mengangguk cepat. Ivan lalu keluar dari apartemen Anita.


Tak sampai 30 menit, Dimas datang. Anita segera membuka pintu dan memeluk Dimas dengan erat.


"Akhirnya kamu kesini lagi Dimas, aku kangen banget sama kamu," ucap Anita dengan semakin erat memeluk Dimas karena ia tau Dimas pasti akan mendorongnya.


"Lepas Nit," ucap Dimas dengan mendorong tubuh Anita.


"Apa kamu udah kangen sama aku?" tanya Anita.


"Apa yang udah kamu lakuin Nit? apa kamu harus bertindak sejauh ini? apa mau kamu sebenernya?"


"Maksud kamu apa? kalau kamu tanya apa mauku, aku mau kamu!"


"Berhenti berharap sama orang yang nggak pernah mencintai kamu Nit, aku mohon berhenti ngelakuin hal bodoh kayak gini!"


"Maksud kamu apa sih Dim? hal bodoh apa yang aku lakuin?"


"Anita, mungkin sekarang aku bisa maafin kamu, tapi aku nggak janji kalau selanjutnya aku bisa maafin kamu lagi," ucap Dimas lalu berbalik meninggalkan Anita.


"Dimas, tunggu!" ucap Anita dengan menahan tangan Dimas, namun Dimas melepasnya dengan paksa dan segera pergi meninggalkan apartemen Anita.


Di tempat lain, Ivan sedang sibuk dengan laptop di hadapannya.


"Kasih senyum dikit biar lebih romantis," ucap Ivan dengan senyum kemenangan.


**


Di tempat lain, Dini sedang berada di teras kos bersama Andi, Aletta dan Nico.


Biiiip Biiippp Biiippp


Ponsel Dini berdering, ada sebuah pesan masuk dari nomor yang tak dikenalnya. Ia membuka pesan itu dan mendapati sebuah video yang membuatnya begitu terkejut. Jantungnya berdetak kencang, dadanya terasa nyeri dan perih.


"Ada apa Din?" tanya Andi yang melihat raut wajah Dini yang tiba tiba berubah.


Dini hanya menggeleng. Matanya sudah berkaca kaca saat itu. Ia lalu segera beranjak dari duduknya dan berlari ke kamarnya.


"Ada apa?" tanya Aletta pada Andi.


"Aku akan cari tau," ucap Andi lalu berlari mengikuti Dini.

__ADS_1


Aletta hanya menghembuskan napasnya pelan lalu tersenyum menahan perih di hatinya.


__ADS_2