Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Prasangka


__ADS_3

Malam itu Anita pulang seorang diri, meninggalkan Andi yang masih membereskan cafe.


Andi yang baru sadar jika Anita tidak ada segera menghubunginya, namun tak ada jawaban, dichat pun tak ada balasan.


"Dim, lo liat Anita nggak?" tanya Andi pada Dimas.


"Udah pulang," jawab Dimas yang terlihat kesal.


"Kok pulang? gue ditinggal dong!"


"Lo nggak hubungin dia?"


"Udah, nggak diangkat, kenapa dia tiba tiba pulang ya, nggak bilang lagi, jadi khawatir!"


"Kenapa lo khawatirin dia?"


"Ya kan nggak biasanya dia tiba tiba pulang kayak gini, atau jangan jangaaannnnn........" ucapan Andi terhenti sambil melirik ke arah Dimas.


"Jangan jangan apa? kenapa lo liatin gue kayak gitu sih!" balas Dimas yang merasa terintimidasi dengan lirikan Andi.


"Lo ngusir dia?"


"Gila lo, ngapain gue ngusir dia, lo kenapa sih khawatir banget sama Anita, udah mulai suka ya?"


"Tau' ah, anterin gue pulang!"


"Ogah, males banget!" balas Dimas sambil berdiri bersiap untuk pulang.


"Tega lo sama gue!"


"Bodo amat!"


Dimas segera keluar dari cafe dan menuju ke mobilnya, tak lupa ia berpamitan pada Toni.


"Gue pulang dulu ya Ton, thanks banget buat hari ini!"


"Hati hati di jalan bos!" balas Toni.


Sebelum Dimas masuk ke mobilnya, Andi sudah lebih dulu masuk dan duduk di samping Pak Adi.


"Anterin saya pulang ya Pak!"


"Ttt tapiiii..."


"Nggak papa Pak, anterin aja, dia Andi, temen saya yang selalu ngrepotin!" ucap Dimas pada Pak Adi.


"Oh, iya mas," jawab Pak Adi yang mulai menyalakan mesin mobil.


"Nyesel gue bantuin lo dari kemarin!" gerutu Andi kesal.


"Hahaha, bercanda Ndi, ya elah baperan amat jadi orang!"


"Terserah!"


"Hmmmm, ngambeeekkk...."


"Bodo amat!"


"Gue turunin di sini mau lo?"


"Terse.... eh, jangan dong, gila aja rumah gue masih jauh kali!"


"Eh Ndi, gue nanti mampir ke rumah lo ya, ada yang mau gue omongin!"


"Kenapa nggak ngomong sekarang aja sih!"


"Penting Ndi, gue cuma mau berdua aja sama lo!"


"Idiih, najis!"


"Rese' lo ya, gue serius!" balas Dimas dengan meninju lengan Andi yang duduk di depannya.


"Hahaha.... oke oke!" balas Andi dengan mengusap usap lengannya.


Sesampainya di depan rumah Andi, Dimas dan Andi segera turun, sedangkan Pak Adi menunggu di dalam mobil.


"Tunggu bentar ya Pak, saya ada perlu sama Andi," ucap Dimas pada Pak Adi.


"Siap mas," jawab Pak Adi.


"Makasih ya Pak!" ucap Andi pada Pak Adi disusul anggukan kepala dan senyum ramah Pak Adi.


"Nggak sopan lo Dim, orang tua disuruh suruh!" ucap Andi pada Dimas.


"Apaan sih Ndi, gue mau ngomong serius sama lo jangan bercanda mulu deh!" balas Dimas kesal.


"Hahaha.... iya iya sorry, lo mau ngomong apa?"


"Soal Anita."


"Kenapa?"


"Lo suka sama dia?"


"Mmmm, iya kayanya, ada apa sih?"


"Gue bingung gimana ngomongnya, gue kayak nggak nyaman aja sama dia."


"Masalahnya apa Dim, yang jelas dong!"


"Kayaknya dia bukan cewek yang baik deh Ndi, gue......."


"Lo lupa apa yang lo bilang sama gue, lo sendiri yang nyuruh gue deketin dia lagi dan sekarang gue udah deket sama dia lo malah bilang kayak gini," ucap Andi memotong perkataan Dimas.

__ADS_1


"Iya sorry, mungkin ini cuma firasat gue aja dan mudah mudahan gue salah."


"Emang apa alasan yang bikin lo bisa nyebut Anita cewek yang nggak baik?"


"Lo tau, nyokap sama Andini masih belum deket, nyokap kayak nggak suka gue sama Andini, tapi sikap nyokap ke Anita beda, Anita juga kayak berusaha deketin nyokap gitu kan, dia cerita seolah olah gue sama dia deket, buat bikin nyokap suka sama dia, kayak....."


"Perasaan lo aja kali Dim!"


"Menurut lo enggak?"


"Gue setuju kalau nyokap lo nggak suka sama Dini, kalian emang beda banget sih, ibarat lo tinggal di atas awan, Dini tinggal di kubangan lumpur, tapi kalau lo bilang Anita berusaha deketin nyokap lo, gue nggak yakin, lo kan tau sendiri Anita sama Dini sifatnya emang beda banget, Dini yang susah bergaul, Anita yang bisa ramah banget sama semua orang, jadi pasti nyokap lo lebih nyaman sama Anita daripada sama Dini, sekarang tinggal gimana caranya lo bisa bikin nyokap lo liat Dini dari sisi yang lain, yang bikin nyokap lo suka sama Dini dengan semua sifatnya yang emang kayak gitu," jelas Andi panjang.


"Gue juga harus bikin Dini nggak canggung lagi sama nyokap, iya kan?"


"Iya, tapi jangan terlalu maksain dia, sikap nyokap lo ke Dini udah nyakitin hatinya Dim, apa lagi pada dasarnya dia emang pendiam, susah buat orang introvert bisa adaptasi dengan lingkungan baru, apa lagi yang jelas jelas nggak bikin nyaman."


"Iya sih, tapi Andini nggak pernah bilang apa apa soal mama!"


"Itu artinya dia masih mau bertahan sama lo, dia masih mau berjuang, tinggal gimana nanti aja, apa selamanya Dini bakalan tetep berjuang tanpa ada kepastian?"


"Enggak Ndi, gue yakin bisa bikin nyokap sama Andini deket," jawab Dimas penuh keyakinan.


"Soal Anita?"


"Gue nggak tau Ndi, mungkin cuma perasaan gue aja yang kacau!"


"Dia baik Dim, ramah ke semua orang, itu kenapa orang bisa cepet suka sama dia, walaupun awalnya gue nggak suka sama sikap dia, tapi lama lama gue coba nerima dia di hidup gue, sebelum lo dateng dan dia malah suka sama lo hahaha....."


"Apaan sih Ndi!"


"Gue tau dia suka sama lo."


"Jangan sok tau lo!"


"Tenang aja, gue percaya kalau lo nggak akan nyakitin Dini, soal Anita biar gue yang ngurus!"


"Tapi lo beneran suka sama Anita?"


"Mmmmmmm, mungkin, gue suka dia yang ramah, ceria, tegar dan gue nggak suka liat dia nangis karena papanya," jawab Andi dengan pandangan mata kosong yang menerawang jauh.


"Lo suka sama dia apa kasihan sama dia?"


Pertanyaan Dimas membuat Andi tersentak. Ia sendiri bimbang tentang perasaannya sendiri. Ada rasa ingin melindungi ketika ia melihat Anita menangis dan ada rasa bahagia ketika melihat Anita tersenyum ceria. Namun ia tidak yakin jika itu adalah perasaan cinta yang sesungguhnya, terlebih ia masih menyimpan rasa cemburu ketika melihat kedekatan Dini dan Dimas.


Namun ia sadar, ia tak bisa lagi mengharapkan Dini. Sebelum rasa cinta di hatinya membuatnya kehilangan Dini, ia harus rela memendam rasa cemburunya, membiarkan Dini bahagia bersama laki laki pilihannya.


Setidaknya itu tidak membuat ia kehilangan Dini. Ketika Dimas menyakiti Dini, ia yakin Dini akan membutuhkannya saat itu. Dan ketika itu terjadi, ia akan memeluk Dini erat dan tak akan pernah melepaskannya lagi, tak peduli apapun risiko yang akan ditanggungnya nanti. Baginya kebahagiaan Dini adalah tujuan hidupnya.


"Woooyyyy, malah nglamun!" ucap Dimas membuyarkan lamunan Andi.


"Gue ngantuk, lo pulang sana!"


"Gue belum selesai, gue....."


"Besok aja besok, udah sana pulang!" ucap Andi dengan mendorong tubuh Dimas ke arah mobilnya.


"Terserah!" balas Andi yang langsung masuk ke rumahnya.


**********************


Esok harinya ketika sarapan.


"Dimas, kamu nggak jemput Anita?" tanya Bu Angel, mama Dimas.


"Enggak, ngapain jemput Anita!" jawab Dimas dengan mengunyah nasi goreng di hadapannya.


"Sekali kali kamu jemput dong dia!"


"Dia kan bawa mobil ma, ngapain Dimas jemput!"


"Iya sih hehehe..... oh ya Pa, papa kemarin udah ketemu Anita kan? gimana menurut papa?"


"Gimana apanya?"


"Ya penilaian papa sama Anita, dia itu temen dekatnya Dimas loh pa!"


"Enggak, bohong, Dimas nggak deket sama dia!" bantah Dimas.


"Huuussttt, mama lagi nanya papa, kamu jangan ikut ikutan!"


"Anita keliatan baik, anaknya juga ramah," jawab Pak Tama.


"Cocok kan sama Dimas?"


"Mama apa apaan deh, dia cuma temen biasa ma, nggak deket juga!" protes Dimas lagi.


"Huuuusssttttt!!"


"Cocok, Dimas emang harus berteman sama anak anak yang baik biar ketularan baik," jawab Pak Tama asal.


"Iiiihh, bukan itu maksudnya, maksud mama Anita cocok nggak kalau pacaran sama Dimas?"


"Sejak kapan mama ngatur soal pacar Dimas, papa sih terserah Dimas aja, papa yakin Dimas udah bisa tanggung jawab sama keputusannya sendiri."


"Nggak tau nih mama, dari dulu juga Dimas pacaran sama siapa aja mama nggak pernah ikut campur, kenapa sekarang...."


"Mama nggak ikut campur Dimas, selama ini mama sama papa kasih kamu kebebasan karena kami percaya kalau kamu bertanggung jawab sama semua yang kamu lakuin, tapi apa salahnya kalau mama mau kamu pilih yang terbaik buat masa depan kamu!"


"Nggak ada yang salah ma, tapi yang terbaik di mata mama belum tentu terbaik buat Dimas, apa lagi......"


"Udah udah, malah debat gini sih, lagian Dimas masih SMA, masa depannya masih panjang, biarin aja dia main main dulu, kita jangan jadi orang tua kolot yang cuma jadi tekanan buat anak kita, kita cukup awasi dia dari jauh, biar dia belajar bertanggung jawab sama apa yang dia lakuin sendiri," ucap Pak Tama tegas.


"Oke oke, mama salah," balas mama Dimas pasrah.

__ADS_1


Dimas hanya terkekeh dengan masih mengunyah nasi goreng favoritnya.


"Oh iya Dim, kamu kemarin sewa berapa orang buat bantuin Toni?" tanya Pak Tama, papa Dimas.


"Dua orang, kenapa pa?"


"Papa lihat kemarin ada yang nggak pake' seragam, cewek, temen kamu?"


"Maksud papa?" tanya Dimas tak mengerti.


"Kemarin yang bantuin Toni ada cewek juga kan, tapi dia nggak pake' seragam, papa kira dia temen kamu!"


"Ini?" tanya Dimas dengan menunjukkan foto Dini di ponselnya pada Pak Tama.


"Iya, ini, papa inget banget wajahnya, dia yang bantuin papa angkat kursi kemarin hahaha...."


"Apa? Andini angkat kursi? papa jahat banget sih, bisa bisanya nyuruh cewek angkat kursi!"


"Papa nggak nyuruh dia kok, dia sendiri yang mau bantuin papa, temen sekolah kamu? ataaauuuu........"


"Udah udah lanjutin sarapannya, mama ada meeting pagi ini!" ucap Bu Angel kesal mendengar suami dan anaknya yang membahas Dini.


"Ini kan belum jam 6 ma, masih banyak waktu!" protes Pak Tama pada istrinya.


"Tau' nih mama, katanya nggak boleh ada meeting pagi pagi!" ucap Dimas ikut mendukung protes papanya.


"Kalian ini sama aja, pagi pagi bikin mama kesel!"


Dimas dan Pak Tama hanya terkekeh mendengar kekesalan Bu Angel.


Setelah selesai makan, Dimas dan kedua orangtuanya bersiap untuk meninggalkan rumah. Memulai aktivitas dan kesibukan masing masing.


"Dimas, nanti cerita soal cewek tadi ya!" ucap Pak Tama pada Dimas sebelum masuk ke mobilnya.


"Hahaha, pulang cepet ya pa!"


Pak Tama mengacungkan jari jempolnya dan segera pergi meninggalkan rumah, begitu juga dengan Bu Angel yang sudah masuk ke mobilnya dan bersiap mengantar Sintia ke sekolah.


"Ayo Pak, jemput Andini dulu ya Pak!" ucap Dimas pada Pak Adi.


"Siap mas!"


"Agak cepetan ya Pak, saya udah kangen nih hehehe...." ucap Dimas dengan terkekeh malu malu.


"Hahaha siap mas, emang kalau baru pacaran suka cepet kangen ya mas!"


"Saya nggak pacaran kok Pak!"


"Loh, bukannya neng Andini pacarnya mas Dimas?"


"Keliatan pacaran ya Pak?"


"Iya, kayaknya mas Dimas sayang banget sama dia, beda sama pacar mas yang dulu dulu."


"Iya Pak, dia spesial buat saya, tapi kita belum pacaran, saya masih usaha nih Pak!"


"Semangat mas, kalau udah jodoh apapun rintangannya pasti tetep bisa bersatu!" ucap Pak Adi penuh semangat.


"Dia kemarin nggak bilang apa apa Pak waktu pulang?"


"Enggak mas, neng Andini pendiam ya mas?"


"Panggil Dini aja Pak!"


"Eh iya, maaf."


"Dia emang pendiam banget Pak, temen dekatnya aja cuma beberapa, tapi dia pinter banget loh Pak di sekolah."


"Pasti kalau istirahat sukanya di perpustakaan ya mas?"


"Kok tau Pak?"


"Kebanyakan anak anak yang pinter kan suka ngabisin waktu di perpustakaan."


"Hahaha.... ada ada aja Pak Adi."


Tak lama kemudian, Dimas sudah sampai di depan rumah Dini.


Sepi, tak ada tanda tanda kehidupan yang terlihat di rumah Dini. Dimaspun segera turun dari mobil dan berniat untuk mengetuk pintu rumah Dini. Namun baru saja ia mau mengetuk, pintu sudah terbuka dan Dini tiba tiba keluar menabrak Dimas.


Dini terjatuh menindih tubuh Dimas. Mata mereka saling memandang dengan jarak sangat dekat. Degup jantung keduanyapun terdengar satu sama lain. Dimas tersenyum dan melingkarkan tangannya di pinggang Dini membuat Dini semakin menindih tubuh Dimas.


Dini segera tersadar dari situasi itu dan langsung berdiri membersihkan seragamnya yang tidak terlihat kotor.


"Aaaaawww, tangankuuuu....." rintih Dimas yang masih dengan posisi tidur di lantai.


"Kenapa Dim? sakit ya? maaf aku tadi buru buru terus......."


Dimas menarik tubuh Dini yang sedang berjongkok memeriksa tangannya, membuat Dini kembali menindih tubuh Dimas.


"Satu kosong," ucap Dimas pelan dengan senyum liciknya.


"Iiiihh, nyebeliiinnn," ucap Dini dengan segera berdiri dan meninggalkan Dimas.


"Hahaha, jangan ngambek dong!" ucap Dimas sambil mengejar Dini yang sudah masuk ke mobil.


"Saya boleh di depan Pak?" tanya Dini pada Pak Adi.


"Bbb booo leh neng," jawab Pak Adi terbata bata karena baru saja melihat kejadian langka di depan matanya.


"Makasih Pak," ucap Dini.


"Loh, kok kamu di depan sih!" protes Dimas yang melihat Dini duduk di kursi depan.

__ADS_1


"Biarin, ayo buruan masuk, udah mau telat loh!"


Dimas membuang napas kasar dan segera masuk ke mobil.


__ADS_2