Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Bukan Benci


__ADS_3

Anita begitu syok karena Dimas tiba-tiba mencium keningnya. Dokter Dewi yang berada di ruangan itu pun dibuat tak percaya dengan apa yang Dimas lakukan pada Anita.


"Kalian udah jadian?" tanya Dokter Dewi.


"Apaan sih Mbak, dia itu temen Anita."


"Cinta kan berawal dari teman Nit!" ejek Dokter Dewi.


"Terserah Mbak aja!" balas Anita pasrah.


Di sisi lain, Dimas yang masih tidak menyadari apa yang sudah dia lakukan pada Anita hanya berharap agar ia tidak terlambat sampai di sekolah.


Beruntung, di mobilnya ada seragamnya yang lain, jadi dia tidak harus pulang ke rumahnya. Ia segera mengenakan seragamnya dan tentu saja tanpa mandi. Meski begitu, hal itu tidak mengurangi ketampanannya sama sekali.


Baru saja Dimas keluar dari tempat parkir, bel masuk sudah berbunyi.


"Pagi pangeran," sapa Lia yang juga baru datang.


"pangeran? nggak salah? mandi aja belum hahaha," batin Dimas.


"Udah selesai tugasnya?" tanya Lia membuat Dimas tersentak kaget karena ia belum menyelesaikan tugasnya.


Dimaspun berlari ke kelasnya berniat untuk melanjutkan tugas-tugasnya yang ia pikir belum selesai.


Sialnya, guru yang mengajar di jam pertama sudah masuk ke kelasnya. Pak Dedi yang terkenal killer itu akan dengan mudah mengeluarkan siapapun yang tidak fokus pada materi yang disampaikan.


"duuhh, sial!" batin Dimas.


Setelah jam pelajaran Pak Dedi selesai, Dimas segera membuka buku tugasnya, namun belum sempat Dimas melanjutkan tugasnya, Pak Galih sudah masuk ke kelasnya.


"Ayo kumpul sama kelompok masing-masing," ucap Pak Galih sebelum memulai pelajaran.


Dimas, Dini dan Lia segera berkumpul di satu meja.


"Buka buku tugasnya ya, Bapak cek satu per satu!"


Dengan ragu Dumas membuka buku tugasnya yang langsung diambil oleh Dini. Dimas hanya bisa pasrah jika Dini akan semakin marah padanya.


"Tulisan kamu bagus!" ucap Dini.


"Mana liat!" ucap Lia sambil merebut buku Dimas dari tangan Dini.


"Waaahh, pangeranku ini sempurna banget deh," ucap Lia terkagum-kagum melihat tulisan Dimas yang begitu rapi.


"kok malah bahas tulisanku sih! apa mereka nggak sadar kalau tugasku belum selesai?" tanya Dimas dalam hatinya.


"Eh, tapi ini kok beda tulisannya, pasti ini lagi males ya jadi nggak sebagus ini," lanjut Lia yang melihat tulisan Dimas yang berbeda.


"Kamu udah selesai Dimas?" tanya Pak Galih.


Dimas hanya diam, menunduk.


"Bagus, kalau gini kan nggak perlu dapat hukuman," ucap Pak Galih membuat Dimas semakin tidak mengerti karena ia masih belum tau jika Anita sudah menyelesaikan tugasnya.

__ADS_1


Dimaspun melihat buku tugasnya dan membolak balik tiap lembar bukunya.


"perasaan semalem aku belum selesai ngerjain, kok ini udah beres? apa Anita yang ngerjain?" tanya Dimas dalam hatinya.


Bel istirahatpun berbunyi, seperti biasa Dini pergi ke perpustakaan sedangkan Andi pergi ke ruang OSIS untuk rapat.


Dimaspun mengikuti Dini ke perpustakaan, dia bertekad untuk bisa mendapatkan maaf dari Dini hari ini.


"Andini," panggil Dimas pelan.


Dini menoleh ke sumber suara dan hanya diam tak menjawab, lalu duduk di salah satu kursi panjang perpustakaan.


Dimaspun mengikutinya dan duduk di sampingnya.


"Aku minta maaf," ucap Dimas setengah berbisik.


"Aku tau aku salah, tapi aku harus nemenin saudaraku di rumah sakit kemarin, itu kenapa aku nggak jadi jemput kamu," lanjut Dimas yang terpaksa berbohong.


"Saudara?" tanya Dini meyakinkan.


"Iya, saudara, dia tinggal sendiri di sini jadi cuma aku yang bisa nemenin dia."


"Aku janji aku akan ganti waktu yang udah aku janjiin sama kamu kemarin," lanjut Dimas.


"Maksud kamu?"


"Nanti malem aku jemput ya!"


"Nggak mau."


"Kalau kamu nggak dateng?"


"Kamu boleh marah sama aku, kamu boleh benci sama aku,"


"Oke," jawab Dini singkat.


"Oke? jadi?"


"Aku tunggu jam 7," jawab Dini sambil berlalu pergi.


"Yes!"


Setelah bel pulang sekolah berbunyi, Dini bersiap untuk pulang sedangkan Andi masih harus membersihkan halaman bersama Dimas.


"Aku duluan ya Ndi," ucap Dini pada Andi.


"Hati-hati sayang," jawab Dimas mendahului Andi.


Dini hanya menggelengkan kepalanya lalu pergi.


Ketika Dimas dan Andi sedang membersihkan halaman tiba-tiba Pak Tejo datang.


"Dimas, ikut saya bentar ya!" ajak Pak Tejo.

__ADS_1


"Kemana Pak?" tanya Dimas.


"Udah ikut aja, nanti saya bantuin bersih-bersih biar cepet selesai," jawab Pak Tejo.


Dimaspun meletakkan sapunya dan mengikuti Pak Tejo ke pos jaga.


"Ada apa Pak?" tanya Dimas.


"Gimana keadaan Anita?" tanya Pak Tejo serius.


"Udah membaik kok Pak, mungkin beberapa hari lagi udah bisa sekolah."


"Syukurlah kalau gitu, sebenarnya kemarin ada apa Dimas? kenapa Anita bisa berdarah darah seperti itu?"


"Mmmm..... itu..... saya juga nggak tau Pak, waktu saya ke tempat parkir Anita udah berdarah darah jadi saya langsung bawa dia ke UKS buat berhentiin darahnya, tapi ternyata nggak bisa, untung Pak Tejo datang waktu itu," jawab Dimas berusaha menyembunyikan yang sebenarnya.


"Oh, ya udah kalau gitu ayo balik, kasian Andi sendirian."


"Iya Pak."


Pak Tejopun membantu Dimas dan Andi untuk membersihkan halaman. Setelah selesai, Pak Tejo mulai mengunci semua ruangan satu per satu seperti biasa.


Sedangkan Dimas dan Andi bersiap untuk pulang.


"Tunggu Ndi!" cegah Dimas.


Andi menghentikan langkahnya dan menoleh dengan ekspresi datar.


"Gue mau ngomong bentar."


"Ada apa?"


"Gue minta maaf kalau ada salah sama lo, gue nyesel banget sama apa yang udah gue lakuin ke Dini dulu, gue mau nebus semua kesalahan gue dulu Ndi, tolong jangan halang-halangin usaha gue!"


Andi hanya diam, lalu mengambil tasnya di kursi depan kelas.


"Please lo percaya sama gue," lanjut Dimas.


"Nggak semudah itu," balas Dimas dingin.


"Terus gue harus gimana biar lo percaya? gue udah berusaha keras buat minta maaf dan Dini udah maafin gue, tapi kenapa lo enggak?"


"Omongan lo nggak bisa dipercaya."


"Dari mana lo tau sebelum lo kasih kesempatan buat gue, dari mana lo tau kalau isi pikiran lo cuma keburukan gue!"


"Kenapa lo nggak tepati janji buat jemput Dini kemarin? janji sekecil itu aja lo nggak bisa nepatin, apa lagi yang lain."


"Soal itu gue udah jelasin ke Dini kenapa gue nggak jadi jemput dia, dan dia ngerti."


"Mungkin Dini bisa gampang buat percaya, tapi buat gue nggak segampang itu percaya sama lo."


"Seburuk itu gue di mata lo Ndi?"

__ADS_1


"Lebih dari yang lo tau," ucap Andi dengan menatap tajam ke arah Dimas lalu pergi.


"Kenapa lo sebenci ini sama gue Ndi? kenapa? lo cemburu? lo takut Dini lebih milih gue daripada lo?" balas Dimas setengah berteriak.


__ADS_2