
Malam yang terasa panjang bagi Dimas. Ia masih berada di rumah Anita. Anita sengaja menahan Dimas agar tak meninggalkannya, membuat Dimas dengan terpaksa menghabiskan malamnya di rumah Anita.
Ia memilih tidur di sofa ruang tamu meskipun Anita memaksanya untuk tidur di kamarnya. Ia takut hal buruk akan memperkeruh situasi yang sudah sangat dibencinya saat itu. Anita tidak punya alasan lagi untuk memaksa, setidaknya ia kini merasa jika Dimas sudah mulai memberikan hatinya pada Anita.
Keesokan paginya, Dimas terbangun sebelum Anita bangun. Ia melihat ke sekelilingnya, ingatannya masih belum menangkap apa yang terjadi padanya. Ia hanya mengingat Dini, ingatannya hanya berputar ketika ia dan Dini berada di pantai sebelum ia kehilangan kesadaran dan terbangun di rumah sakit bersama Yoga yang tertidur.
Ia segera keluar dari rumah Anita, melewati begitu saja satpam yang menegurnya. Ia tidak membawa mobilnya, beruntung masih ada dompet di saku celananya. ia segera menghentikan taxi yang lewat. Ia tidak mempedulikan ponselnya yang tertinggal di rumah Anita.
"Kemana mas?" tanya si supir taxi.
"Mmmm, jalan aja pak, saya kasih tau jalannya!" jawab Dimas.
Supir taxi masih diam, takut Dimas tidak akan membayarnya. Dimas yang menyadari hal itu segera mengeluarkan dompetnya, memberikan beberapa lembar uang pecahan seratus ribu, KTP dan beberapa kartu ATM miliknya pada si supir.
Si supir yang melihat nama yang tertulis di KTP sedikit terkejut, pasalnya nama Adhitama sangatlah tidak asing di telinganya. Nama dari seorang pengusaha sukses yang juga bekerja sama dengan perusahaan taxi tempatnya bekerja.
Sang supir segera melajukan mobilnya sesuai dengan instruksi Dimas. Entah kenapa Dimas begitu yakin dengan jalan yang dituju meski ia tak pernah mengingat apapun tentang jalan itu.
Sesampainya di sebuah toko buku, taxi yang ditumpangi Dimas berhenti. Si supir memberikan semua yang Dimas berikan padanya, KTP, atm dan beberapa lembar uang pecahan seratus ribu, ia hanya mengambil uang sesuai dengan tarif saat itu.
Dimas turun dari taxi dengan memegangi kepalanya yang mulai terasa berdenyut. Denyutan itu berubah menjadi seperti tusukan yang menusuk jauh ke dalam kepalanya. Dimas masih terus berjalan, hingga samar samar ia melihat seseorang yang sedang ia cari.
Dini dan Andi yang hendak berangkat ke kampus begitu terkejut melihat Dimas yang tampak berantakan sedang berdiri dengan memegangi kepalanya di sebrang jalan.
Dini segera berlari ke arah Dimas, begitu juga Andi yang reflek mengikuti Dini.
"Dimas, kamu ngapain di sini?"
Dimas tak menjawab, ia segera memeluk Dini dengan erat. Ada perasaan yang tak ia mengerti memenuhi setiap sudut ruang hatinya. Perasaan tenang yang membuatnya nyaman.
Dini mencoba melepaskan pelukan Dimas, namun Dimas semakin erat memeluknya.
Andi yang melihat hal itu hanya bisa menghembuskan napasnya kasar, membuang rasa cemburu yang bergejolak di hatinya.
"Din, bos kamu kenapa sih?"
"Tolong kamu hubungin kak Yoga Ndi!"
Andi menurut, ia segera menghubungi Yoga. Beberapa kali Andi coba menghubungi namun tetap tidak tersambung, ponsel Yoga mati.
"Nggak bisa Din, ini bos kamu modus aja deh kayaknya!"
"Kamu jangan mikir gitu dong!"
"Atau jangan jangan dia udah inget tapi pura pura aja buat......"
"Andi, ini serius!" ucap Dini setengah berteriak.
"Andini, kepalaku sakit banget!" ucap Dimas pelan, masih dalam posisi memeluk Dini.
"Kita ke rumah sakit ya?"
"Enggak, aku cuma mau sama kamu!" jawab Dimas merengek seperti anak kecil.
"Tuh kan, gue tau lo cuma pura pura kan? stop Dim, ini udah nggak lucu!" ucap Andi yang mulai emosi.
Dimas tak mempedulikan Andi. Kepalanya terasa semakin pusing. Ada sesak di hatinya ketika ia mengingat bayangan seseorang yang menangis di hadapannya.
"ini yang terakhir kali kita ketemu, biarin aku pergi Dimas, biarin aku bahagia tanpa kamu, aku yakin aku akan lebih bahagia tanpa kamu!"
Dimas berusaha mengingat bayangan perempuan di hadapannya, tapi tetap saja itu hanya membuatnya semakin kesakitan dan akhirnya pingsan.
Beruntung, Yoga datang di saat yang tepat. Ia segera membawa Dimas ke rumah sakit.
Di sisi lain, Anita yang baru bangun begitu terkejut melihat sofa ruang tamunya kosong. Ia tak melihat Dimas dimanapun, hanya ada ponsel Dimas yang tergeletak begitu saja di meja ruang tamu.
Ia keluar dan melihat mobil Dimas yang masih terparkir di halaman rumahnya.
"Cari siapa non?" tanya pak satpam pada Anita.
"Bapak liat Dimas?"
"Udah pulang pagi pagi tadi non, tapi pake' taxi," jawab pak satpam tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi.
Anita segera kembali ke kamar, mengambil ponselnya dan menghubungi Yoga. Ia yakin Yoga pasti tau keberadaan Dimas saat ini.
********
Di rumah sakit.
"Dokter bilang dia baik baik aja, tapi dia terlalu maksa buat ingat masa lalunya!" ucap Yoga pada Dini dan Andi.
"Tanpa semua memori buatannya, dia cuma inget kamu Din, dia cuma percaya sama kamu!" lanjut Yoga.
Dini hanya tersenyum tipis mendengarnya.
"Maaf kak, kita nggak bisa nemenin Dimas di sini, kita harus ke kampus!" ucap Andi pada Yoga.
"Oh, oke nggak papa!"
Dini dan Andipun meninggalkan rumah sakit dan menuju ke kampus.
"Kamu ada kelas pagi?" tanya Andi pada Dini.
"Jam 9 Ndi, kamu?"
"Jam 10, masih ada waktu 1 jam buat kamu ke perpustakaan!"
Dini mengangguk.
Ke perpustakaan, itu adalah kebiasaan Dini dan Andi yang tidak berubah dari mereka sekolah. Dini dan Andi selalu berangkat pagi pagi ke kampus, walaupun tidak ada kelas pagi sekalipun, mereka akan menunggu di perpustakaan.
Dini yang terlalu fokus dengan buku di tangannya tidak menyadari kedatangan seorang laki laki di sampingnya. Andi yang berada di depannya hanya tersenyum tipis melihat Dini yang mengabaikan Dika, mahasiswa tampan incaran para mahasiswi di fakultasnya.
"Din," panggil Dika setengah berbisik.
"Hmmm," jawab Dini tanpa menoleh ke sumber suara, ia mengira jika Andi yang memanggilnya.
"Andini Ayunindya Zhafira," panggil Dika lagi.
__ADS_1
Mendengar nama lengkapnya di panggil oleh suara yang asing, ia segera menoleh.
"Hai," sapa Dika setelah Dini menoleh ke arahnya.
Dini hanya tersenyum dan kembali melanjutkan membaca bukunya. Ia tidak tertarik dengan kedatangan Dika.
Andi hanya bisa menahan tawanya melihat arjuna dari fakultasnya diabaikan oleh seorang gadis di hadapannya. Jika biasanya semua perempuan dengan mudah mengalihkan pandangannya untuk Dika, berbeda dengan Dini, wajah tampan Dika tak mampu mengalihkan Dini dari buku yang dibacanya.
Jam 9 kurang 15 menit, Dini menutup bukunya dan segera mengembalikan ke tempat asalnya.
"Aku duluan ya Ndi!" ucap Dini pada Andi.
"Oke!"
Andi dan Dika hanya saling pandang, membiarkan Dini keluar dari perpustakaan.
"Udah gue bilang kan, Dini beda sama cewek cewek yang lain!" ucap Andi pada Dika.
"Bener, dia sama sekali nggak notice gue!"
"Udah, nyerah aja!"
"Justru ini yang menarik buat gue, liat aja gue pasti bisa sama Dini!"
"Nggak akan bisa, di hatinya udah ada cowok lain!"
"Gue udah hafal cerita lo Ndi, gue yakin gue bisa gantiin posisi cowok itu di hatinya Dini, Andini Ayunindya Zhafira, tunggu kedatangan pangeranmu ini hahaha......!"
"Berisik woy!" teriak salah seorang mahasiswa.
"Sorry sorry!"
"Udah ah, ayo keluar!"
Andi dan Dika pun keluar dari perpustakaan.
"Jadi apa rencana lo?" tanya Andi pada Dika.
"Gue bakalan kasih dia hadiah setiap hari, tas mahal, pakaian mahal, apapun yang cewek cewek suka gue bakalan kasih buat Dini!"
"Gue kan udah bilang, Dini nggak kayak gitu, itu bukan cara buat ambil hatinya Dini!"
"Iya juga sih, tapi......."
"Semua mantan mantannya emang suka kasih dia barang barang, tapi lo liat sendiri kan nggak ada yang bisa bertahan lama sama Dini!"
"Menurut lo gimana? gue harus gimana?"
"Deketin dia pelan pelan aja!"
"Lebih spesifik dong Ndi!"
"Ntar sore dia kerja di kafe, lo anterin dia!"
"Oke siap!" balas Dika tanpa pikir panjang.
Jam 2 siang, Dini duduk di bangku taman dekat tempat parkir, menunggu Andi. 30 menit kemudian Andi datang bersama Dika.
"Enggak kok, ayo!"
"Kamu sama Dika aja ya, aku masih ada perlu sama anak anak yang lain, nggak papa kan?"
"Oh gitu, aku berangkat sendiri nggak papa kok!"
"Udah sama Dika aja, dia nggak bakal macem macem, tenang aja, aku pergi dulu ya!" ucap Andi lalu segera pergi meninggalkan Dini dan Dika.
"Ayo, mobilku di sana!" ajak Dika.
Dini mengangguk dan berjalan mengikuti Dika.
"Aku Dika, temennya Andi!" ucap Dika memperkenalkan diri dengan mengulurkan tangannya.
"Dini," jawab Dini dengan menerima uluran tangan Dika.
"Andini Ayunindya Zhafira," ucap Dika sambil menoleh ke arah Dini yang kini sudah duduk di sampingnya.
"Kok tau?"
"Aku juga tau tempat tinggal kamu, aku tau tempat kerja kamu, aku tau......."
"Kamu stalker?"
"Hahaha, lebih tepatnya secret admirer!"
***********
Di rumah sakit, Yoga mengantar Dimas pulang setelah Dimas memahami apa yang terjadi padanya. Setiap ia mulai memahaminya, ia merasa menyesal atas apa yang di lakukannya pada Anita. Ia sadar mau tak mau ia tak bisa lepas begitu saja dari Anita. Kini ia harus berusaha untuk kembali menumbuhkan "cinta" di hatinya untuk Anita.
"Ga, lo bisa hubungin Anita?"
"Bisa, kenapa?"
"Lo minta dia ke rumah ya?"
"Oh, oke!"
Sesampainya di rumah, Dimas segera merebahkan badannya di tempat tidur, menunggu kedatangan Anita.
Tak sampai 30 menit, Anita datang menggunakan mobil Dimas.
"Gue ke kafe dulu ya, kalau ada apa apa hubungin gue!" ucap Yoga pada Dimas.
"Oke!"
Anita segera masuk ke kamar Dimas dan mengembalikan ponsel Dimas padanya.
"HP kamu ketinggalan di rumah ku!" ucap Anita pada Dimas.
Dimas menarik tangan Anita, membuat Anita terduduk di ranjangnya, Dimas kemudian memeluknya, memastikan perasaanya pada Anita.
__ADS_1
"Kamu kenapa sayang? masih pusing?" tanya Anita.
Dimas melepas pelukannya dan bertanya banyak hal pada Anita, tentang masa lalunya, tentang hubungan mereka dan sudah pasti Anita menjawab semua pertanyaan Dimas dengan cerita karangannya.
"Kamu tau Dim, hampir setiap hari kamu nanya pertanyaan yang sama dan aku selalu jelasin hal yang sama," ucap Anita dengan tersenyum getir.
"Aku minta maaf," balas Dimas dengan menggenggam tangan Anita.
"Aku tau kamu sama sekali nggak inget tentang hubungan kita, tapi tolong jaga hati kamu buat aku, jaga cinta kamu cuma buat aku, bisa?"
Dimas mengangguk dan kembali memeluk Anita.
"Kamu tunggu di luar ya, aku mau mandi, abis ini aku anter kamu pulang!"
Anita mengangguk dan menunggu Dimas di ruang tamu.
Tak lama kemudian Dimas keluar dengan berpakaian rapi.
"Kamu mau kemana?"
"Abis nganter kamu, aku ke kafe!"
"Ikut!"
"Tapi...."
"Nggak mau tau, ikut!"
"Ya udah, ayo!"
Dimaspun ke kafe bersama Anita.
Setelah memarkirkan mobilnya, Dimas dan Anitapun segera masuk ke dalam kafe.
"Kok kalian di sini?" tanya Yoga yang melihat kedatangan Dimas dan Anita.
"Bosen di rumah," jawab Dimas enteng.
"Lo harus banyak istirahat Dim, lo......."
"Gue nggak papa Ga, gue baik baik aja!"
"Hmmmm, ya udah kalau gitu, gue tinggal dulu ya!"
"Oke!"
Dimas mengajak Anita untuk masuk ke ruang kerjanya.
"Ada yang harus aku kerjain, kamu nggak papa nunggu di sini?" tanya Dimas pada Anita.
"Nggak papa," jawab Anita dengan senyum manisnya.
"Anak pintar," ucap Dimas dengan mengusap kepala Anita.
Dimas melirik jam tangannya, jam 5 sore.
"udah jam 5, kenapa aku tadi nggak liat Dini?" batin Dimas bertanya tanya.
"Aku ambilin kamu minum ya!" ucap Dimas lalu keluar dari ruang kerjanya.
Matanya berkeliling mencari Dini.
"Ada yang bisa saya bantu pak?" tanya Tari.
"Dini kemana?"
"Dia masih ngambil biji kopi di belakang pak!"
Dimaspun segera menuju ke belakang, tempat penyimpanan biji kopi dan bahan bahan lain.
Di depan pintu ruangan itu, Dini terduduk dengan memegangi sikunya yang terlihat berdarah.
"Andini, kamu kenapa?" tanya Dimas yang tampak khawatir.
"Nggak papa pak, cuma luka kecil!"
"Ayo ikut saya!"
Dimas segera mengajak Dini ke ruangannya, beruntung Anita sedang ke kamar mandi saat itu.
"Duduk dan jangan banyak protes!" ucap Dimas lalu mencari kotak P3K.
Dini hanya diam, membiarkan Dimas dengan telaten membersihkan lukanya dan membalutnya dengan plester.
"Kenapa bisa kayak gini sih? kamu ngapain aja di belakang?"
"Saya......"
"Kamu harus bisa jaga diri kamu, jangan ceroboh apa lagi sampe' bikin diri kamu luka kayak gini!"
"Tadi saya......."
"Gaji kamu saya potong buat obat sama plester yang kamu pake'!"
"Tau gitu nggak usah diobati pak!" gerutu Dini kesal.
"Harusnya kamu terima kasih sama saya!"
"amnesia bener bener bikin kamu punya kepribadian ganda Dim, tadi pagi kamu jadi Dimas cintanya Dini dan sekarang kamu jadi Dimas bos galaknya Dini, ngeselin!"
"Tapi saya juga makasih Andini!" ucap Dimas tiba tiba.
"Maksudnya?"
"Makasih karena kamu udah dateng tadi pagi, maaf karena saya peluk kamu gitu aja, itu bener bener di luar kendali saya, saya......."
"Dimas!" panggil Anita yang tiba tiba masuk. Ia begitu terkejut melihat Dimas yang bersama Dini saat itu.
"Anita!" Dinipun tak kalah terkejutnya melihat kedatangan Anita.
__ADS_1
"Kalian kenal?" tanya Dimas dengan menoleh ke arah Dini dan Anita bergantian.