Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Pernyataan


__ADS_3

Setelah selesai makan, Dimas mengajak Dini untuk ke taman di dekat sekolah. Ya, itu adalah taman yang mempertemukan mereka berdua setelah sekian lama tidak bertemu.


"Mau langsung pulang?" tanya Dimas.


"Terserah kamu aja."


"Ke taman dulu ya!"


Dini mengangguk tanda setuju.


Tiba-tiba datang seorang perempuan yang terlihat masih SMP. Dia tiba-tiba berdiri tepat di depan Dimas, membuat Dimas menghentikan langkahnya tiba-tiba, begitu juga Dini yang berada di samping Dimas.


"Boleh kenalan kak?" tanya perempuan itu dengan mengulurkan tangannya.


"Dimas," jawab Dimas sambil menerima uluran tangan perempuan itu namun segera di lepas.


"Dan ini Andini, masa depanku," lanjut Dimas sambil mengangkat tangan Dini yang sudah digenggamnya kuat-kuat.


Dini tersenyum, membuat perempuan itu segera pergi dengan menahan malu dan kesal.


Dinipun melepaskan genggaman tangan Dimas setelah perempuan itu pergi, namun dicegah oleh Dimas.


"Jangan dilepas!" ucap Dimas, Dinipun menurut.


"Dimas, aku mau tanya deh!"


"Apa?"


"Kamu kan populer di sekolah, cewek-cewek juga banyak yang suka sama kamu, kamu tinggal pilih yang mana yang kamu mau, tapi kenapa kamu nggak punya pacar sampe' sekarang?"


"Aku maunya milih kamu, gimana dong?"


"Eh, itu mobil kamu!" ucap Dini mencoba mengalihkan pembicaraan.


Dimas hanya tersenyum melihat sikap Dini.


"aku serius Andini, aku cuma mau kamu," ucap Dimas dalam hati.


Sesampainya di taman, Dimas dan Dini duduk di tengah rumput yang lapang. Hari itu taman begitu sepi, tidak seramai hari biasanya.


"Andini, aku mau jujur tentang sesuatu sama kamu," ucap Dimas serius.


"Tentang apa?" tanya Dini penasaran.


"Kamu janji ya jangan marah!"


Dini mengangguk, meski ia tidak tau apa yang akan Dimas katakan padanya.


Dimas duduk menghadap Dini dan menggenggam kedua tangan Dini dengan tatapan serius.


"Andini, aku tau seburuk apa masa laluku buat kamu, aku janji akan perbaiki semuanya, kamu percaya kan sama aku?"


Dini mengangguk.


"Andini, aku nggak tau sejak kapan aku ngerasa kayak gini, yang pasti aku mulai takut kehilangan kamu Andini, aku mau kamu seutuhnya milikku, aku janji akan jadi yang terbaik buat kamu."

__ADS_1


"Dimas..."


"Aku tau mungkin ini terlalu cepet, tapi perasaanku ke kamu terus tumbuh tanpa aku bisa hentiin, aku akan lakuin apapun biar kamu bahagia sama aku."


"Aku minta maaf Dimas," balas Dini sambil menarik tangannya dari genggaman Dimas.


"Apa udah ada orang lain di hati kamu?"


"Enggak Dimas, bukan itu."


"Terus kenapa? kasih aku kesempatan buat buktiin ucapanku Andini."


"Aku nggak bisa Dimas, aku harus fokus sekolah, aku harus fokus belajar, aku takut belajarku terganggu kalau...."


"Aku akan nunggu kamu, sampe' kamu siap untuk buka hati kamu dan aku akan jadi yang pertama ada di hati kamu."


"Jangan Dimas, kamu bisa dapat yang lebih dari aku!"


"Enggak Andini, aku cuma mau sama kamu."


"Aku nggak bisa janji apapun sama kamu Dimas," ucap Dini yang mulai menahan air matanya, karena sebenarnya ia pun memiliki perasaan yang sama pada Dimas tapi ia tidak boleh goyah, ia harus ingat pesan ibunya agar hanya fokus belajar.


Melihat raut wajah Dini yang sedih, Dimaspun mendekatinya dan memeluknya.


"Aku sayang kamu Andini, aku akan selalu nunggu kamu."


Dini hanya diam menahan sesak di hatinya. Merekapun larut dalam perasaan cinta yang sama namun tak bisa bersatu.


Tiba-tiba rintik hujan mulai turun, Dini segera melepaskan pelukan Dimas dan lari untuk berteduh. Dimaspun mengejar Dini yang sudah lebih dulu berlari.


"Dimas," panggil Dini pelan dengan wajah yang sudah pucat.


"Hujan Dimas," ucap Dini dengan suara bergetar, ia takut akan pingsan di sini.


"Gerimis kecil kok, kamu pake' jaketku ya!" balas Dimas sambil melepaskan jaketnya dan memakaikan di badan Dini yang sedikit basah.


Dini hanya diam dengan wajah yang semakin pucat.


"Masih kedinginan sayang?"


Dini tak menjawab, ia malah menangis. Entah kenapa ia semakin takut dengan hujan. Trauma masa lalunya kembali berputar di ingatannya.


Dimaspun memeluk Dini.


"Dimas, aku takut."


"Aku di sini sayang," ucap Dimas yang semakin erat memeluk Dini.


Dimas tidak tau apa yang sebenarnya terjadi pada Dini. Ia melihat Dini begitu pucat. Beruntung gerimis kecil itu segera berhenti.


Dimas segera menggandeng tangan Dini untuk diajak masuk ke mobilnya. Namun badan Dini sangat lemah, ia pun hampir terjatuh jika Dimas tidak segera menahannya.


"Andini, kamu kenapa?"


"Diingiin Dimas," jawab Dini berusaha agar tidak kehilangan kesadaran.

__ADS_1


Dimaspun membopong Dini ke mobilnya, beberapa orang yang berada di sana hanya melihat Dimas dan Dini, beruntung ada seorang wanita paruh baya yang mau membantu membuka pintu mobilnya.


"Terimakasih Bu!" ucap Dimas pada wanita itu.


Dimas menggosok gosokkan tangannya dan menempelkan di kedua pipi Dini berharap bisa sedikit menghangatkan Dini.


"Kamu harus ganti baju Andini," ucap Dimas sambil mengambil seragam sekolahnya yang masih berada di kursi belakang mobilnya.


"Kamu pake' ini ya, buat sementara aja, abis ini kita langsung pulang."


Dini mengangguk.


"Kamu bisa ganti baju sendiri kan? aku tunggu di luar ya sambil cari minuman hangat buat kamu."


Dini hanya mengangguk dan segera melepaskan pakaiannya setelah Dimas keluar dari mobil. Ia pun memakai seragam sekolah Dimas.


"Dimas," panggil Dini sambil membuka kaca jendela mobil.


"Udah selesai?"


"Udah."


Dimas masuk ke mobilnya dan memberikan satu cup coklat hangat yang baru dia beli untuk Dini.


"Minum sayang!"


"Makasih Dimas."


"Kamu bikin aku khawatir Andini," ucap Dimas sambil mengusap lembut rambut Dini yang sedikit basah.


"Aku udah nggak papa kok."


Dimaspun memeluk Dini dengan erat. Ia takut jika kesalahan fatal yang ia lakukan dulu akan terulang lagi.


Penyesalan yang selama ini menghantuinya tidak benar-benar bisa hilang meski Dini sudah memaafkannya.


"aku minta maaf Andini," ucap Dimas dalam hati.


"Ayo pulang Dimas," ucap Dini membuat Dimas melepaskan pelukannya pada Dini.


"Iya sayang."


Dimaspun mengemudikan mobilnya menuju rumah Dini.


Sesampainya di depan rumah Dini, Dimas segera membuka pintu mobilnya untuk Dini.


"Makasih Dimas," ucap Dini setelah turun dari mobil.


"Cepet istirahat ya, jaga kesehatan kamu," ucap Dimas dengan mengusap lembut pipi Dini.


Dini tersenyum membuat Dimas semakin terbawa suasana.


Dimas melingkarkan tangannya di pinggang Dini dan menarik Dini agar lebih dekat dengannya.


Kini jarak mereka hanya terpaut 5 cm. Dini mencoba menenangkan jantungnya yang seperti melompat lompat di dadanya.

__ADS_1


Cuupp!!


Satu kecupan mendarat mulus di kening Dini malam itu membuat Dini seolah membeku seketika.


__ADS_2