
Anita masih terbaring di ranjangnya. Jika bisa, ingin ia mengusir Dini saat itu, namun itu tidak mungkin. Ia sudah muak dengan semua kepalsuan yang selama ini dilakukannya. Tapi ia harus tetap bersabar dan tak boleh gegabah.
"Aku ke kamar mandi bentar ya!" ucap Dini pada Dimas disusul anggukan kepala Dimas.
Kini hanya ada Dimas dan Anita di ruangan itu.
"Dimas, aku mau tanya sesuatu!" ucap Anita yang kini sudah duduk di ranjangnya.
"Tanya apa?"
"Kenapa kamu selalu bantuin aku?"
"Ya karena kamu minta tolong sama aku, selagi aku bisa ya pasti aku bantuin Nit, nggak cuma kamu, temen temen yang lain juga."
"Bohong!"
"Maksud kamu?"
"Kamu ada rasa kan sama aku? kamu peduli sama aku, kamu suka kan sama aku?"
"Nit, tolong jangan salah paham, aku ngelakuin ini sebagai teman, nggak lebih, kamu tau itu!"
"Apa salah kalau aku suka sama kamu lebih dari teman?"
Dimas diam, ia bingung harus memberikan jawaban apa agar Anita tak salah mengartikan sikapnya selama ini.
"Kenapa diem Dim? aku mau kok kalau kita jalanin hubungan kita diem diem, tanpa orang lain tau termasuk Dini sama Andi, aku nggak masalah, aku mau........"
"Hubungan apa yang kamu maksud Nit? aku sayang sama Andini, aku cinta sama dia dan selamanya nggak akan pernah bisa berubah, jadi tolong kamu ngerti posisi kamu, kamu liat Andi, kamu dulu yang deketin dia dan sekarang dia udah deket sama kamu kenapa kamu malah kayak gini?"
Anita diam, ia memeluk Dimas tiba tiba.
"Maafin aku Dim, aku bener bener kacau sekarang," ucap Anita dengan pelukannya yang semakin erat pada Dimas.
"Nggak papa Nit, aku ngerti," balas Dimas tanpa membalas pelukan Anita.
Dini yang baru saja masukpun melihat kejadian itu. Ia hanya tersenyum sinis melihatnya.
"Hari ini cerah ya!" ucap Dini yang membuat Dimas segera mendorong tubuh Anita.
"Ii... iyaa..." jawab Dimas terbata bata, takut Dini akan marah karena melihat kejadian itu.
"Aku pingin jalan jalan," ucap Dini dengan bersandar manja di bahu Dimas.
"Kamu mau ke mana?" tanya Dimas dengan menggenggam tangan Dini.
Belum sempat Dini menjawab, Andi sudah datang dan segera menghampiri Anita.
"Maaf aku baru dateng!" ucap Andi pada Anita.
Anita hanya mengangguk dan tersenyum kecut.
"Nah, berhubung lo udah dateng, gue sama Andini cabut dulu ya!" ucap Dimas pada Andi.
"Oh, oke!"
"Kita balik dulu ya Nit, cepet sembuh!" ucap Dini pada Anita.
Dini dan Dimaspun keluar dari ruangan Anita dengan bergandengan tangan, meninggalkan Anita dan Andi yang berdua di sana.
Di koridor rumah sakit, Dini melepas tangan Dimas yang menggandeng tangannya.
"Kenapa?" tanya Dimas tanpa rasa bersalah.
"Gandeng aja tuh tangan Anita!" ucap Dini kesal lalu berjalan cepat meninggalkan Dimas.
"Kok gitu? cemburu ya!" ucap Dimas yang sudah berada di sebelah Dini.
"Enggak!"
"Udah, ngaku aja!"
"Kamu emang hobi banget ya peluk Anita, nggak di taman, di kafe, di rumah sakit, pelukan mulu kayak teletubbies aja!"
"Sini aku peluk!"
"Peluk aja Anita!" balas Dini lalu segera masuk ke mobil Dimas.
Dimas hanya tersenyum senang melihat Dini yang sedang cemburu saat itu.
"Kamu cemburu ya!"
"Enggak!"
Dimas menggenggam tangan Dini berniat untuk menciumnya namun Dini segera menarik tangannya karena masih kesal.
Dimaspun tak kehilangan akal. Ia melepas seat belt yang sudah di pasangnya lalu mendekat ke arah Dini membuat Dini terpojok di kursinya.
"Dim, kamu mau ngapain?" tanya Dini gugup.
Dimas tak menjawab, hanya tersenyum nakal.
"Dimas, ini tempat parkir Dim!" ucap Dini dengan berusaha mendorong tubuh Dimas.
Dimas memegang kedua tangan Dini membuat Dini sudah benar benar terpojok dan tak dapat melakukan apapun.
"Dimas, jangan......."
Cuuppppp!
Satu kecupan mendarat mulus di bibir Dini membuat Dini terdiam seketika, sedangkan Dimas hanya tersenyum kecil lalu kembali ke tempat duduknya dan memasang seat belt nya kembali.
"Jadi, mau kemana kita?" tanya Dimas yang seolah olah tidak terjadi apa apa.
__ADS_1
Dini masih diam dengan menggigit bibir bawahnya sendiri. Detak jantungnya mulai menghilangkan fokusnya.
"Sayang!" panggil Dimas dengan memegang tangan Dini membuat Dini tersentak kaget.
"Iya, kenapa?" tanya Dini yang mulai bisa mengatur ritme jantungnya yang selalu tak terkontrol ketika Dimas menciumnya.
Dimas hanya tersenyum lalu melajukan mobilnya ke arah rumah Dini.
"Aku anter kamu pulang ya?"
Dini mengangguk meski sebenarnya ia sangat ingin menghabiskan waktunya bersama Dimas.
Sesampainya di depan rumah Dini, Dimas segera mengambil 1 kotak hadiah yang sudah ia siapkan untuk Dini.
"Apa ini?" tanya Dini membolak balikkan kotak yang ia pegang.
"Buka aja!"
Dinipun membukanya, sebuah handsfree terlihat di dalam kotak yang Dimas berikan padanya.
"Ini bisa kamu pake' buat dengerin lagu waktu hujan!"
"Makasih Dimas," balas Dini dengan senyum mengembang.
"Maafin aku ya, aku nggak tau apa apa soal kamu dibanding Andi, harusnya aku ngajak kamu turun waktu itu tapi aku malah......"
"Kamu yang terbaik buat aku!" ucap Dini yang langsung memeluk Dimas.
Dimas melepas pelukan Dini lalu mencium keningnya.
"Aku pulang dulu ya!"
Dini mengangguk dan segera masuk ke rumahnya begitu mobil Dimas mulai menghilang dari pandangannya.
***************
Setelah selesai sarapan, Dimas segera mengambil tas ranselnya bersiap untuk berangkat ke sekolah sebelum Anita tiba tiba saja muncul di depan pintu rumahnya.
"Anita!"
"Pagi Dim," sapa Anita dengan senyum manisnya.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Dimas keheranan.
Sebelum Anita menjawab, mama Dimas sudah lebih dulu menjelaskan.
"Mama yang minta dia ke sini buat jemput kamu, biar kalian bisa berangkat bareng!" jelas mama Dimas.
"Bukannya harusnya kamu di rumah sakit ya?" tanya Dimas pada Anita.
"Enggak kok, aku udah sehat!" balas Anita yang mulai terlihat ceria.
"Ya udah buruan berangkat, ntar keburu telat!" ucap mama Dimas.
Dimas hanya bisa mendengus kesal dengan akal akalan mamanya yang selalu mencoba untuk mendekatkan Anita padanya.
Trriiiiiing!!
Otak cerdas Dimas mulai mengerti apa yang harus di lakukan. Dimas tersenyum tipis lalu segera berpamitan untuk berangkat.
"Ya udah Dimas berangkat dulu ma!" ucap Dimas lalu mencium kening mamanya.
"Kunci mobilnya?" tanya Dimas pada Anita.
Anitapun memberikan kunci mobilnya pada Dimas, tanpa tau apa yang akan Dimas lakukan pasti membuatnya sangat kesal.
"Mama Angel sama papa Tama nggak berangkat bareng Dim?" tanya Anita pada Dimas.
"Papa nggak suka loh Nit kalau ada orang yang sok kenal gitu!" ucap Dimas tanpa menjawab pertanyaan Anita.
"Aku kan kenal deket sama keluarga kamu, aku...."
"Kamu emang deket sama mama, tapi bukan sama papa, aku udah bilang kan kalau kamu deket sama mama bukan berarti kamu deket juga sama papa!"
Anita hanya diam mendengar ucapan Dimas yang membuatnya kesal.
"Loh Dim, ini kan bukan arah ke sekolah!" protes Anita begitu menyadari jika Dimas tidak menuju ke sekolah.
"Emang, aku harus jemput Dini dulu!" jawab Dimas enteng.
"Tapi Dim, kita......"
"Kita masih ada waktu 15 menit, pasti cukup kok, tenang aja!" ucap Dimas dengan senyum jahat di wajahnya.
Anita hanya menghembuskan napasnya kasar. Lagi lagi ia sudah dibodohi oleh Dimas. Ingin marahpun tak bisa. Ia harus bisa menjaga citra baiknya.
Dini yang sudah menunggu Dimas begitu terkejut ketika melihat mobil Anita yang datang, terlebih ia melihat Dimas yang keluar dari balik kemudinya disusul oleh Anita yang juga keluar dari mobilnya.
"Hai Din!" sapa Anita dengan melambaikan tangan.
Dini hanya tersenyum tipis dan membalas lambaian tangan Anita.
"apa lagi ini Nit?" tanya Dini dalam hati.
Anita hanya berdiri di samping mobilnya, membiarkan Dimas menghampiri Dini.
"liat apa yang bisa aku lakuin Dim!" ucap Anita dalam hati.
"Sama Anita?" tanya Dini pada Dimas.
"Biasa, mama!"
"Tante Angel kayaknya mau jodohin kamu sama Anita deh," ucap Dini dengan tersenyum sinis.
__ADS_1
"Nggak ada yang bisa halangin aku buat milikin kamu," balas Dimas dengan memeluk Dini lalu mencium keningnya sebelum menggandeng tangannya untuk diajak masuk ke mobil.
Anita hanya memutar bola matanya karena jengah melihat kejadian itu. Ia pun segera masuk ke dalam mobil sebelum Dini berhasil duduk di samping kemudi.
"Nit, kamu di belakang ya!" ucap Dimas pada Anita.
"Aku aja yang di belakang, nggak papa!" ucap Dini pada Dimas.
"Tapi......"
"Pagi semuanyaaaa!" sapa Andi yang tiba tiba muncul.
"Gue aja yang nyetir!" ucap Andi dengan merebut kunci mobil yang dipegang Dimas.
"Eh, lo bisa?" tanya Dimas pada Andi.
"Lo ngeraguin gue?"
Anita yang melihat Andi datang hanya bisa mendengus kesal. Rencananya gagal lagi kali ini.
"Dia udah punya SIM A kok!" ucap Dini pada Dimas.
Tanpa banyak basa basi, Andi segera melajukan mobil Anita ke arah sekolah.
Meski hatinya kesal, Anita tak bisa menunjukkan hal itu pada orang lain. Ia harus bisa menyimpan rapat rapat kekesalannya saat itu.
"Kamu jemput Dimas?" tanya Andi pada Anita.
"Iya, mama Angel yang minta," jawab Anita.
Dini hanya tersenyum tipis mendengar Anita menyebut nama "mama Angel" di hadapannya.
Tak lama kemudian, mereka sampai di sekolah.
******************
Jam sudah menunjukkan pukul 2 siang, bel pulang sekolahpun berbunyi.
Anita meminta Dimas untuk menemuinya di tempat pembuangan di belakang kelas.
"aku tunggu di tempat pembuangan belakang kelas, penting!" -isi chat Anita pada Dimas-
Dimas mengabaikannya namun Anita terus terusan mengiriminya pesan itu. Dengan terpaksa Dimaspun menemuinya tanpa sepengetahuan Dini.
"Sayang, kamu pulang sama Andi ya, aku dijemput mama!" ucap Dimas yang berbohong pada Dini.
Dini mengangguk meski ia ragu.
Dimaspun pergi ke tempat pembuangan untuk menemui Anita. Tanpa ia tau, diam diam Dini mengikutinya.
Di sana sudah ada Anita yang menunggu kedatangan Dimas.
"Ada apa Nit?"
Anita hanya tersenyum lalu memeluk Dimas dengan erat.
"Lepasin Nit!"
Anita tak bergeming, ia masih memeluk Dimas dengan erat.
"Nit, apa apaan kamu ini!" ucap Dimas dengan suara yang terdengar emosi.
Anitapun melepaskan pelukannya pada Dimas.
"Aku suka sama kamu, aku cinta sama kamu!" ucap Anita berterus terang.
"Enggak Nit, nggak mungkin, aku tau kamu suka sama Andi, aku tau kamu......"
"Itu dulu Dim, sebelum kamu datang dan kasih perhatian kamu buat aku, apa aku salah kalau aku suka sama kamu?"
"Itu hak kamu buat suka sama siapapun, tapi hak aku juga buat nggak suka sama kamu, Andini temen kamu Nit, aku sayang sama dia!"
"Dia bukan temenku!"
"Udah cukup aku kasih waktu kamu buat ngakuin perbuatan jahat kamu sama dia, kamu harus jelasin semuanya sama Andini Nit, kamu nggak bisa sembunyiin ini terus terusan!"
"Enggak Dim, aku nggak akan pernah berhenti kasih ancaman buat dia sebelum aku bisa dapetin apa yang aku mau!"
"Kamu mau apa dari Andini? apa yang Andini punya dan kamu nggak punya? bukannya kamu selalu banggain diri kamu yang punya segalanya itu?"
"Asal kamu tau Dimas, aku berantem sama papa nggak cuma soal mama, tapi karena papa selalu banding bandingin aku sama Dini, sekeras apapun aku belajar, aku tetep nggak bisa lebih baik dari dia, aku iri sama Dini, dia pinter, dia punya Andi yang selalu belain dia, Andi yang selalu ada buat dia, dari awal niatku cuma mau ambil Andi dari Dini, aku mau Dini kehilangan satu satunya orang yang selalu nemenin dia!"
"Tapi kenapa kamu juga kasih ancaman buat dia? kamu udah deket sama Andi, kamu......"
"Aku nggak mau dia terus terusan jadi yang terbaik di sekolah ini, aku harus bisa ganggu dia dan sekarang kamu tiba tiba dateng buat Dini, awalnya aku nggak peduli, tapi sikap kamu bikin aku jatuh cinta sama kamu Dimas!"
"Sadar Nit, apa yang kamu lakuin itu udah keterlaluan!"
"Aku nggak peduli Dimas, aku nggak peduli lagi sama Dini atau Andi, aku cuma mau sama kamu, aku cuma mau kamu Dimas!"
"Sakit kamu Nit!" ucap Dimas lalu pergi namun Anita menahan tangannya dan memeluknya lagi.
"Jangan paksa aku kasar sama kamu Nit!"
"Aku nggak peduli!"
"Lepas, sebelum aku bener bener hilang kendali!"
"AKU NGGAK PEDULIIII" balas Anita dengan berteriak membuat Dimas mendorong tubuh Anita dengan kasar hingga Anita jatuh tersungkur.
"Apa kamu pikir Dini akan maafin kamu kalau dia tau soal surat ancaman itu? inget Dim, kamu udah nyembunyiin fakta soal surat ancaman itu dari Dini, kamu bohong sama Dini buat lindungin aku, apa kamu pikir Dini bisa nerima itu?"
Dimas terkesiap mendengar ucapan Anita. Anita benar, ia telah menyembunyikan kebenaran tentang surat ancaman itu dari Dini. Ia sudah berbohong pada Dini jika ia tak mengetahui apapun tentang surat itu bahkan ia meminta Dini untuk melupakan surat ancaman itu dan melarangnya untuk mencari tau lebih lanjut tentang surat ancaman yang sudah mengganggunya.
__ADS_1
"Dimas, aku mau jaga rahasia ini asal kamu mau jalanin hubungan ini sama aku, aku nggak masalah kalau kamu kita jalanin ini diem diem, nggak papa!" ucap Anita yang masih melancarkan aksinya untuk mendapatkan Dimas.
"Jangan harap!" balas Dimas lalu pergi meninggalkan Anita.