
Pagi hadir tanpa sapaan sang mentari. Meski jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi, tak ada kehangatan sinar mentari yang menemani. Langit tampak sedang tak bersemangat hari itu.
Tak seperti biasa, Dini pergi ke kampus dengan berjalan kaki seorang diri. Ia sengaja berangkat lebih pagi dari biasanya.
Ndi, aku berangkat duluan ya! -isi pesan Dini pada Andi-
Andi yang baru saja selesai mandi melihat pesan itu hanya bisa menjawab dengan satu kata, oke.
Setelah selesai bersiap, Andi keluar dari kamarnya. Sudah ada Aletta yang menunggu di depan kamarnya.
"Selamat pagi manusia kutub ku," sapa Aletta dengan senyum manisnya.
"Selamat pagi juga cewek barbar ku," balas Andi dengan mengacak acak rambut Aletta.
"Kebiasaan deh, bisa nggak sih nggak acak acak rambutku?" tanya Aletta kesal sambil merapikan kembali rambutnya.
"Nggak bisa, udah jadi hobi baru hehe....." balas Andi dengan kembali mengacak acak rambut Aletta lalu berlari menjauh.
"ANDIIII!!" panggil Aletta dengan setengah berteriak dan mengejar Andi.
Merekapun berangkat bersama.
"Dini udah berangkat duluan ya?" tanya Aletta.
"Kamu tau?"
"Iya, ketemu tadi pas berangkat, berantem lagi sama Dimas?"
"Nggak tau, dia nggak cerita apa apa!"
"Ndi, kita kok nggak pernah berantem ya?" tanya Aletta.
"Pertanyaan kamu aneh banget sih!"
"Hehe, lupain aja!"
Setelah sampai di kampus, mereka berpencar. Andi yang melihat Dini sedang duduk seorang diripun menghampirinya.
"Cika mana?" tanya Andi lalu duduk di samping Dini.
"Belum berangkat kayaknya," jawab Dini yang tampak tak bersemangat.
"Are you okay Din?" tanya Andi yang melihat Dini tampak murung.
Dini hanya mengangguk dengan memaksakan senyumnya pada Andi.
"Din, kamu nggak bisa bohong sama aku!"
"Aku baik baik aja Ndi," ucap Dini dengan menundukkan kepalanya.
Andi lalu bangkit dari duduknya dan berdiri di hadapan Dini. Ia memegang kedua pipi Dini dan membawa pandangan Dini ke arahnya.
"Kamu, kenapa?" tanya Andi dengan penuh penekanan.
Saat itu, tak jauh dari tempat Dini dan Andi, ada 2 pasang mata yang memperhatikan dengan rasa cemburu dalam hati mereka.
Aletta dan Dimas lalu saling pandang dan hanya tersenyum kecil melihat pemandangan pagi yang "menyegarkan" mata mereka.
"Gue duluan Dim!" ucap Aletta lalu pergi meninggalkan Dimas.
Dimas hanya mengangguk lalu menghampiri Dini dan Andi.
"Eheemmm!" seru Dimas berdehem dengan kencang, membuat Dini dan Andi kompak menoleh ke arah Dimas.
Andi lalu melepaskan tangannya dari wajah Dini dan duduk di samping Dini.
"Orang bisa nyangka kalian ini pacaran loh!" ucap Dimas pada Andi dan Dini.
"Bilang aja lo cemburu," balas Andi.
"Siapa bilang? gue bukan pencemburu!" balas Dimas.
Sedangkan Dini hanya diam lalu meninggalkan dua laki laki di hadapannya.
"Andini, tunggu!" panggil Dimas dengan berteriak.
"Siap siap deh, perang dunia lagi hahaha......" sahut Andi lalu berlari pergi.
"Sialan lo!" balas Dimas lalu mengejar Dini.
Dimas menarik tangan Dini ke dalam genggamannya ketika mereka sudah berjalan berdampingan, namun Dini melepas tangannya.
"Ini kampus," ucap Dini datar.
"Oke," balas Dimas.
**
Di tempat lain, Anita sudah kembali bekerja di butik.
"Kamu udah sehat Anita? Dewi bilang kamu di rawat di rumah sakit lagi!"
"Anita udah sehat tante, maaf karena Anita sering libur," jawab Anita.
"Nggak papa Nit, saya mengerti kok, mungkin kamu belum terbiasa tinggal sendiri, lama lama kamu pasti terbiasa kok!"
"Terima kasih pengertiannya tante."
"Sama sama Anita."
Ketika Anita sedang membersihkan kaca, Ivan datang dan memeluknya dari belakang. Anita meronta tanpa bersuara, ia takut jika mama Ivan melihat hal itu.
"Lepas Ivan!" ucap Anita dengan suara pelan namun terdengar sangat kesal.
Ivan hanya diam, ia masih memeluk Anita dengan erat.
"Ivan, lepas!"
__ADS_1
"Aku akan lepas, tapi aku mau minta bayaranku nanti malem!" balas Ivan.
"Oke, tapi lepasin aku sekarang!"
"Janji ya!"
"Iya janji, lepas atau aku...."
Brruuukkkk
Tiba tiba sebuah manekin tanpa pakaian jatuh.
"Ini manekinnya udah rusak kayaknya, harus diganti," ucap mama Ivan yang tanpa Ivan dan Anita tau sudah berdiri lama memperhatikan Ivan dan Anita.
Anita dan Ivan hanya saling pandang dengan salah tingkah.
"Ini nanti kamu bawa ke gudang ya Anita!" lanjut mama Ivan.
"Ii..... iya tante," jawab Anita gugup.
Mama Ivan lalu kembali ke mejanya dan mengecek CCTV. Sebuah senyum tersungging dari bibirnya ketika mengecek rekaman CCTV kejadian yang terjadi baru saja.
Anita lalu mengangkat manekin yang terjatuh hendak membawanya ke gudang, namun Ivan mencegahnya dan merebut manekin itu dari tangan Anita.
Ivan membawa manekin itu ke gudang, sedangkan Anita kembali melanjutkan membersihkan kaca.
"Uuuhhh, so sweet," ucap mama Ivan yang masih memperhatikan rekaman di CCTV.
Tak lama kemudian Ivan datang menghampiri mamanya.
"Mama tadi ngapain?" tanya Ivan.
"Mama? ngapain? mama lagi kerja," jawab mama Ivan sekenanya.
"Mama ngintipin Ivan ya?"
"Ngintipin apa? emang kamu ngapain sampe' mama harus ngintipin kamu?"
"Udah deh ma, jujur aja!"
"Hehehe, kamu pacaran ya sama Anita?"
"Enggak, ini nggak kayak yang mama pikirin, mama jangan berpikir yang terlalu jauh, oke?"
"Walaupun mama nggak denger apa yang kalian bicarain, tapi liat sikap kalian kayaknya kalian emang pacaran, bener kan?"
"Enggak ma, enggak!"
"Kemarin kamu bilang luka kamu itu karena nolongin temen kamu, nolongin Anita ya? iya kan?"
"Terserah mama aja deh, Ivan pergi dulu!"
"Tunggu, mama belum selesai ngomong!"
"Apa lagi ma?"
"Ma, mama salah paham ma, apa yang mama pikirin itu nggak bener!"
"Udah deh Van, ngaku aja kenapa sih, mama dukung kalian kok, mama liat Anita baik, apa lagi dia keponakan temen baik mama juga!"
"Terserah mama aja, Ivan pergi dulu ma!"
Ivan lalu pergi dari butik dan meninggalkan sang mama yang masih tersenyum senang melihat putra semata wayangnya akhirnya jatuh cinta, setidaknya itu lah yang dipikirkan mama Ivan.
"Jam 7 aku ke apartemen kamu, aku harap kamu nggak bikin aku marah lagi!" ucap Ivan pada Anita.
Anita hanya mengangguk tanpa menoleh ke arah Ivan. Mau tak mau ia harus mengikuti kemauan Ivan. Tanpa ia sadar, ia sudah masuk ke dalam jurang yang sengaja Ivan gali untuknya. Ia sudah masuk terlalu dalam dan mungkin tak ada pilihan lain selain terus masuk ke dalam tanpa bisa kembali naik ke atas.
Ia merasa jika Ivan sudah banyak membantunya untuk bisa kembali pada Dimas, meski dengan cara yang tidak diharapkan olehnya.
**
Di kampus, Dini dan Dimas berjalan berdampingan namun saling membisu. Dimas merasa jika Dini mengabaikannya. Ia mencoba untuk memikirkan kesalahannya namun ia tidak bisa, ia tidak merasa telah melakukan kesalahan pada Dini kecuali satu, ketika ia bersama Anita semalam dan Dini tidak mengetahui hal itu, itu yang ia pikirkan.
"Sayang, kamu marah sama aku?" tanya Dimas.
"Ada yang mau aku tanyain!"
"Apa?"
"Jangan di sini!"
Dini lalu mengajak Dimas ke area jogging track. Sesampainya di sana, mereka duduk berdua di sebuah kursi kayu di bawah pohon yang rindang.
"Ada yang mau kamu ceritain sama aku?" tanya Dini pada Dimas.
"Soal apa?"
"Apapun!"
"Kamu tanyain apapun yang mengganggu pikiran kamu, aku akan jawab dengan jujur," ucap Dimas.
Dini hanya menggeleng dengan senyum yang dipaksakan.
"Sayang, tolong jangan kayak gini, kamu bilang sama aku, kamu kenapa?"
"Aku pingin kamu cerita sama aku apa aja yang kamu lakuin sama Anita!"
"Aku nggak ngelakuin apa apa, aku cuma...." Dimas menghentikan ucapannya, ia menyadari sesuatu. Ia baru menyadari jika mungkin saja Dini tau apa yang ia lakukan dengan Anita ketika mereka berada di apartemen semalam.
"Kamu dapet foto lagi?" tanya Dimas pada Dini.
"Nggak cuma foto, ada video juga," jawab Dini tanpa menoleh ke arah Dimas.
"Jika kalian bisa sedeket itu, apa kamu masih bisa jaga hati kamu buat aku Dim?" tanya Dini.
"Sayang, tolong jangan pernah raguin aku, percaya sama aku seperti aku percaya sama kamu!"
__ADS_1
Dini lalu mengambil ponsel dari tasnya dan memperlihatkan sebuah foto dan video Dimas dengan Anita.
"Andi sama Anita beda Dim, Andi sahabat aku dari kecil, sedangkan Anita perempuan yang dengan segala cara berusaha buat memiliki kamu!" ucap Dini.
"tapi Andi juga mencintai kamu Andini," batin Dimas dalam hati.
"Aku minta maaf sayang," ucap Dimas dengan membawa tangan Dini ke dalam genggamannya.
"Jelasin semuanya sama aku, aku akan berusaha percaya sama kamu," balas Dini.
"Aku kasian sama dia, aku berusaha buat nggak peduli tapi aku nggak bisa, dia sendirian di sini, nggak ada sosok orangtua yang peduli sama dia, nggak ada seseorang yang mengisi kekosongan hatinya, aku....."
"Kamu mau ngisi kekosongan hatinya?"
"Enggak sayang, bukan itu maksudku, aku cuma nggak tega liat keadaannya kayak gini, kadang ada saat dimana kita merasa berada di titik terbawah dalam hidup, dan dia lagi berada di titik itu sekarang, aku ngelakuin semua itu cuma karena aku nggak tega dan kasian sama dia, kamu percaya kan sama aku?"
Dini mengangguk.
"Aku percaya sama kamu, aku tau gimana rasanya merasa sendiri dan aku beruntung karena aku punya sahabat yang selalu ada buat aku," ucap Dini yang membuat Dimas semakin frustrasi.
"Maaf karena aku nggak sebaik Andi," ucap Dimas dengan melepaskan Dini dari genggaman tangannya.
"Justru kamu jauh lebih baik dari Andi, karena kamu terlalu baik banyak orang yang manfaatin itu dari kamu dan kamu nggak pernah sadar akan hal itu!"
"Kamu mau aku gimana Andini? kasih tau aku gimana caranya biar aku bisa bahagian kamu!"
"Jadi diri kamu sendiri aja Dimas, aku sayang dan cinta sama kamu dengan semua kekurangan dan kelebihan kamu, aku akan berusaha buat selalu baik baik aja," jawab Dini.
Dimas hanya diam, jawaban Dini membuatnya semakin merasa bersalah.
"Aku pingin ice cream," ucap Dini dengan menggenggam tangan Dimas.
Dimas lalu menarik tangan Dini dan menciumnya.
"Ayo, aku tau ice cream paling enak di sini!"
Dini mengangguk, mereka lalu berjalan dengan bergandengan tangan ke arah tempat parkir.
Mereka sudah sama sama dewasa sekarang. Masalah yang datang silih berganti semakin menguatkan cinta dalam hati mereka. Kecewa dan cemburu bisa mereka redam dengan kesabaran dan cinta yang semakin tertanam kuat dalam hati mereka.
Dimas mengajak Dini ke sebuah kafe yang tak jauh dari kampus. Kafe dengan desain interior bergaya Eropa itu memang terkenal dengan ice creamnya yang menjadi best seller di tempat itu.
**
Di tempat lain, Aletta, Andi dan Nico sudah bersiap untuk pulang dari kampus bersama.
"Gue mau ke perpustakaan dulu Nic, lo sama Aletta pulang duluan aja nggak papa!" ucap Andi pada Nico.
"Ke perpustakaan lagi?" tanya Aletta.
"Iya, kamu duluan aja sama Nico, nggak papa kan?"
"Lo akhir akhir ini makin betah aja sih di perpustakaan, apa ada seseorang yang lo incer ya? hahaha....." seloroh Nico.
"Ada, buku psikologi hahaha...." balas Andi.
"Lo kenapa nggak masuk psikologi aja sih kalau suka baca tentang psikologi? salah jurusan lo?"
"Enggak Nic, udah sana pulang!"
Nico dan Alettapun pulang bersama, meninggalkan Andi yang kembali sibuk dengan tumpukan buku di perpustakaan.
"Andi kayaknya nggak cocok deh sama lo Al!" ucap Nico pada Aletta.
"Kenapa?"
"Iya, dia cocoknya pacaran sama perpustakaan aja hahaha....."
"Dia lagi cari cara buat sembuhin fobianya Dini, that's way dia akhir akhir ini banyak ngabisin waktu di perpustakaan buat baca buku psikologi," jelas Aletta.
"Kenapa dia nggak bilang sama gue aja, gue bisa kenalin dia sama psikolog terbaik di sini buat bantuin Dini!"
"Masalahnya Dini nggak mau ketemu psikolog atau psikiater!"
"Hmmmm, susah juga sih, Dini emang introvert banget anaknya, cuma bisa cerita sama orang orang tertentu aja yang bikin dia nyaman!"
"Iya bener."
"Lo nggak cemburu Al?"
"siapa yang nggak cemburu Nic kalau pacar kita lebih pentingin sahabatnya daripada pacarnya sendiri," batin Aletta dalam hati.
"Enggaklah, ngapain cemburu!" jawab Aletta berbohong.
"Serius?"
"Serius lah," jawab Aletta mencoba untuk meyakinkan.
"Kalau lo cemburu, lo bisa putus sama Andi terus pacaran sama gue hahaha....."
"Dih, ogah banget!"
Satu jam, dua jam, Andi masih berkutat dengan tumpukan buku di hadapannya. Ia hanya mampu membeli beberapa buku, sisanya ia hanya bisa membacanya dari perpustakaan. Ia ingin Dini segera terbebas dari fobianya.
**
Kembali pada Dini dan Dimas.
Mereka duduk di sudut kafe dengan beberapa ice cream di hadapan mereka.
"Hmmmm, wangi kebahagiaan," ucap Dini ketika ia mencium wangi khas ice cream di kafe itu.
"Buat kamu semua, aku ke kamar mandi bentar ya sayang!" ucap Dimas diikuti anggukan kepala Dini.
Dimas lalu pergi ke kamar mandi, ketika ia melewati sebuah meja, matanya menangkap sebuah ponsel yang terbalik dengan softcase bertuliskan huruf V di bagian belakangnya.
"kayak pernah liat," batin Dimas dalam hati.
__ADS_1
Di kamar mandi, ia masih memikirkan ponsel yang baru saja ia lihat. Entah kenapa ponsel itu begitu menarik perhatiannya hingga ia berusaha menggali ingatannya tentang ponsel itu.