
Sintia yang belum sempat melihat keadaan Dimas kini sudah berada di tempat parkir untuk mengantar Dini pulang.
"Padahal aku bisa pulang sendiri loh Sin!" ucap Dini pada Sintia.
"Daripada naik taxi kak!" balas Sintia.
"Taxi? aku biasa naik bis kok hehehe...." balas Dini terkekeh karena dia memang sangat jarang naik taxi jika tidak karena terpaksa.
"Tetep aja, mending Sintia anter!"
"Oke oke, makasih ya!"
Sintia mengangguk dan mulai melajukan mobil yang dikendarainya ke arah rumah Dini.
Sesampainya di rumah Dini, Sintia segera berpamitan. Ia harus ke kafe untuk menjemput Yoga, mengajaknya untuk menjenguk Dimas di rumah sakit.
*********************
Di rumah sakit, Dimas masih memegangi perutnya yang dipukul oleh papanya.
"Pa, Dimas lagi sakit loh ini!" gerutu Dimas.
"Iya tau, tapi yang kamu lakuin itu juga nyakitin Dini, tau?" balas Pak Tama, membuat Dimas mendelik kaget.
"Mm... maksud papa?"
"Dimas, kamu ini anak papa satu satunya, mama sama papa kasih kebebasan buat kamu bukan berarti kami nggak awasin kamu, kita tetep pantau kamu dari jauh, selama apa yang kamu lakukan masih wajar mama papa nggak akan ikut campur," jelas Pak Tama.
Dimas mengangguk anggukkan kepalanya.
"Kamu mau papa sebutin mantan mantan kamu?"
"Emang papa tau?"
"Yg pertama waktu SMP, namanya Putri Sofia, juara bertahan di kelas, yang kedua Alifa, langganan juara tiap olimpiade, yang ketiga Maria Anastasya anak wali kelas yang selalu dapat nilai tertinggi di sekolah, yang keempat........"
"Stop pa, udah udah, Dimas percaya!" ucap Dimas memotong penjelasan papanya yang seperti sedang mengabsen mantan mantannya.
"Loh, ini baru yang SMP Dim, yang SMA belum," protes papa Dimas.
"Papa mata matai Dimas ya?"
"Hahaha, kok mata mata sih!"
"Papa udah liat videonya ya?"
Pak Tama menggangguk.
"Jangan kasih tau mama ya pa?"
"Papa sih nggak akan kasih tau mama, tapi nggak tau kalau nanti mama tau sendiri."
Dimas membuang napas kasar, kecewa pada dirinya sendiri.
"Dimas bodoh pa, Dimas ngelakuin kesalahan yang sama terus terusan," ucap Dimas dengan mengusap wajahnya kasar.
"Kamu pasti punya alasan kan kenapa kamu ngelakuin itu?"
Dimas mengangguk.
"Jelasin itu sama Dini!"
"Dia pasti udah nggak mau dengerin penjelasan Dimas pa, ini bukan yang pertama kali, Dimas pasti udah ngecewain dia!"
"Sekarang papa tanya, apa tujuan awal kamu deketin Dini?"
"Dimas cuma mau minta maaf pa."
"Itu aja?"
"Awalnya itu aja, tapi semakin lama Dimas sama dia, Dimas sadar, dia yang selama ini Dimas cari, Dimas yakin dia masa depan Dimas," jawab Dimas penuh keyakinan.
"Kenapa kamu bisa seyakin itu? bukannya dia deket sama Andi?"
Dimas menoleh cepat ke arah papanya, tak di sangka ternyata papanya mengetahui banyak hal tentang kehidupan di sekitar Dimas.
"Mereka cuma sahabat, walaupun Dimas tau Andi suka sama Dini, tapi Dimas masih yakin kalau Dini memang untuk Dimas."
"Kenapa?"
"Maksud papa?"
"Kenapa kamu seyakin itu sama perasaan kamu?"
"Dimas nggak tau pa, Dimas cuma......"
"Itu dia, kamu nggak punya alasan apa apa kenapa kamu punya perasaan itu sama Dini karena cinta memang nggak butuh alasan apapun Dim, kalau Dini juga cinta sama kamu, dia juga nggak akan punya alasan buat benci sama kamu, kecewa, sakit hati itu wajar, tinggal bagaimana kalian saling menguatkan perasaan kalian masing masing," jelas Pak Tama.
"Makasih pa, Dimas tau apa yang harus Dimas lakuin sekarang!"
"Ini baru anak papa," ucap Pak Tama dengan meninju pelan lengan Dimas.
"Pa, Dimas ini sakit loh dari tadi dipukuli!" protes Dimas dengan mengusap usap lengannya.
"Hahaha, dasar lemah!"
Tak lama kemudian pintu ruangan Dimas terbuka, mama Dimas datang dengan raut wajah khawatir.
"Kamu kenapa sayang? apa yang sakit?" tanya mama Dimas yang langsung duduk di samping ranjang Dimas.
"Dimas baik baik aja kok ma, Dimas juga nggak tau kenapa sampe' dibawa ke rumah sakit!"
"Mama harus ketemu Dokter dulu!"
"Buat apa ma? papa udah ketemu Dokter kok tadi, Dokter bilang nggak ada yang serius, Dimas udah bisa pulang besok pagi," ucap Pak Tama pada istrinya.
"Beneran?" tanya mama Dimas meyakinkan.
Pak Tama mengangguk.
__ADS_1
"Kamu berantem lagi?"
"Enggak ma, cuma jatuh dari tangga hehehe...." jawab Dimas berbohong.
"Anita tau kamu di sini?"
"Kenapa bawa bawa Anita sih ma?" protes Dimas pada mamanya.
"Udah diem aja, mama hubungin dia biar ke sini, abis ini mama sama papa harus balik ke kantor ya sayang, kamu sama Anita aja!"
"Tapi Dimas......"
"Huussstttt, nggak ada tapi tapi!"
Pak Tama hanya geleng geleng kepala melihat tingkah istri dan anaknya.
Setelah memastikan Anita akan datang, mama dan papa Dimas segera meninggalkan rumah sakit dan kembali dengan kesibukan mereka.
Tak lama setelah mama dan papa Dimas keluar dari ruangan Dimas, Sintia dan Yoga datang.
"Kenapa lagi lo?" tanya Yoga pada Dimas.
"Ceritanya panjang, anter gue pulang ya, atau ke kafe aja deh, ya?" pinta Dimas memohon.
"Tapi om sama tante bilang kak Dimas baru pulang besok pagi!" balas Sintia.
"Kakak baik baik aja Sin, kakak nggak papa."
"Lo yakin?" tanya Yoga meyakinkan.
"Yakin banget, buruan sebelum ada yang dateng ke sini!"
"Siapa?"
"Udah, jangan banyak tanya ntar gue jelasin!"
"Jangan kak Yoga, om sama tante bilang kan harus pulang besok pagi, kalau kakak........"
"Please Sin, ini darurat, kakak harus pulang sekarang atau kakak bakalan dapet masalah baru!" ucap Dimas memohon pada Sintia.
"Ya udah deh, terserah kakak!" balas Sintia mengalah.
"Gue ngomong sama Dokter dulu!" ucap Yoga yang langsung keluar dari ruangan untuk bertemu Dokter.
Setelah menyelesaikan biaya administrasi, Yoga dan Sintia membantu Dimas untuk keluar dari rumah sakit dan mengantarnya pulang.
Anita yang baru sampai di rumah sakit sangat kecewa karena Dimas sudah meninggalkan rumah sakit sebelum dia datang.
Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam.
Dimas yang sedang belajar di kamarnya memutuskan untuk menutup bukunya dan menemui papanya di ruang kerja.
Dimas mengetuk pintu pelan.
"Pa, Dimas boleh masuk?" tanya Dimas sebelum membuka pintu ruang kerja papanya.
"Masuk Dim!"
"Pa, Dimas mau cerita," ucap Dimas pada papanya.
Pak Tama yang mendengar itu segera menutup laptopnya dan duduk di samping Dimas.
"Ada apa?"
"Menurut papa, wajar nggak kalau Andini nggak marah waktu liat video itu?" tanya Dimas serius.
"Mmmm, itu ada 2 kemungkinan, yang pertama dia nggak marah karena dia percaya sama kamu, yang kedua dia nggak marah karena dia udah nggak peduli sama kamu, apa lagi kamu bilang ini bukan yang pertama kali, iya kan?"
"Iiiiihhh, papa sok tau!"
"Loh kok sok tau sih, kamu pikir deh dia udah berkali kali liat kamu peluk Anita, awal awal dia marah, kecewa dan sekarang dia nggak marah sama sekali, bisa jadi dia udah nggak ada perasaan apa apa sama kamu, jadi bodo amat kamu mau pelukan sama siapa hahaha......"
"Papa jangan gitu dong!"
"Hahaha bisa jadi kamu cuma cinta monyetnya Dini hahaha......" ucap Pak Tama yang menertawai anaknya dengan puas lalu keluar dari ruang kerja.
*****************
Esok harinya Dimas menjemput Dini seperti biasa. Dimas tak segera menyalakan mesin mobilnya meski Dini sudah duduk di sebelahnya.
"Ayo berangkat!" ucap Dini pada Dimas.
"Aku mau tanya sesuatu sama kamu!"
"Tanya apa?"
"Soal video kemarin, kamu nggak marah?"
Dini menggeleng dengan tersenyum manis.
"Aku minta maaf Andini, aku udah ngecewain kamu lagi, aku......"
"Aku percaya sama kamu," ucap Dini dengan menggenggam tangan Dimas.
Dimas menoleh cepat, ia merasa lega karena sudah mendapat kepercayaan Dini.
"Aku nggak tau kenapa kamu sering peluk dia, tapi aku percaya kamu selalu punya alasan yang tepat untuk itu!"
"Aku akan ceritain semuanya sama kamu, aku nggak mau ada kesalahpahaman lagi."
Dini mengangguk.
"Kamu liat luka di wajah Anita kan? itu bukan luka karena dia jatuh dari tangga, itu karena Pak Sonny."
"Pak Sonny?"
"Iya, kepala sekolah kita yang keliatan bijaksana itu nyatanya selalu bersikap kasar sama Anita, kamu tau kan mama Anita udah meninggal, sejak saat itu Pak Sonny sering bawa perempuan muda ke rumahnya, bahkan ada salah satu dari perempuan muda itu yang akan dinikahinya dan Anita nggak setuju, Pak Sonny selalu nampar Anita setiap mereka bertengkar," jelas Dimas pada Dini.
"Kamu tau dari mana Dim?"
__ADS_1
"Kamu inget waktu aku bawa komik romance waktu kita belajar bareng? itu buat Anita, dia di rumah sakit waktu itu dan aku ketemu saudaranya yang kerja di rumah sakit itu, namanya Dokter Dewi, Dokter Dewi yang cerita semuanya sama aku!"
"Aku nggak nyangka Pak Sonny bisa ngelakuin itu sama Anita, dia anak satu satunya kan?"
"Iya dan parahnya lagi Anita pernah sampe' bunuh diri beruntung dia masih selamat setelah koma lebih dari seminggu dan Pak Sonny sama sekali nggak peduli sama Anita!"
"Bunuh diri? dia pasti udah depresi banget waktu itu."
"Iya sayang, aku takut kalau dia akan ngelakuin hal itu lagi."
"Padahal dia selalu keliatan ceria Dim, aku nggak tau kalau dia nyimpen masalah sebesar itu," ucap Dini iba.
"Nggak banyak yang tau tentang masalahnya ini, cuma aku, Andi sama kamu, aku peluk dia cuma buat tenangin dia aja, sebagai teman."
"Aku tau, aku percaya sama kamu."
"Makasih sayang," balas Dimas dengan mengusap pelan rambut Dini.
Merekapun berangkat ke sekolah. Banyak mata memandang mereka dengan tatapan yang susah untuk diartikan. Sebagian dari mereka mendukung Dimas dan Anita, sebagaian yang lain mendukung Dini yang bersama Dimas.
Dini dan Dimas tak mempedulikan mereka. Dimaspun sudah tak berniat untuk mencari perekam dan penyebar video itu karena yang paling penting baginya adalah Dini tetap percaya padanya.
Anita yang berangkat ke sekolah menggunakan taxi segera meminta sang supir untuk berhenti ketika ia melihat Andi berjalan seorang diri di trotoar.
Ia pun menghampiri Andi.
"Andi!" panggil Anita setengah berteriak.
Andi hanya menoleh lalu kembali melanjutkan langkahnya.
"Kamu marah?" tanya Anita pada Andi.
"Kamu tanya sama diri kamu sendiri Nit!" balas Andi dingin.
"Aku sama sekali nggak ada niat apa apa Ndi, kamu udah liat kan videonya, bukan aku yang mulai, Dimas yang narik aku, dia yang peluk aku, kenapa aku yang harus di salahin? ini nggak adil buat aku Ndi!"
Andi berhenti, menatap tajam ke arah Anita yang berdiri di sampingnya.
"Kamu suka sama dia?" tanya Andi.
Anita menggeleng meski sebenarnya ia ragu.
Andi tersenyum dan menggandeng tangan Anita.
"Kamu nggak bawa mobil?" tanya Andi.
"Masih di bengkel, pulang sekolah aku ambil, kamu udah nggak marah?"
Andi menggeleng.
"Kamu cemburu?"
"Aku nggak suka liat cowok lain peluk kamu!" jawab Andi datar.
"Itu namanya cemburu Ndi!"
"Enggak!"
"Iya, kamu cemburu!"
"Terserah kamu!"
Sesampainya di sekolah, Anita segera menemui Dini yang sudah berada di kelas bersama Dimas.
"Din, aku mau ngomong sama kamu," ucap Anita pada Dini.
"Ngomong aja," balas Dini.
"Ke kelasku ya?"
"Di sini aja!" balas Dimas dengan menggenggam tangan Dini.
"Nggak papa Dim, ayo Nit!" ucap Dini dengan melepaskan genggaman tangan Dimas.
Dimas mengalah dan membiarkan Dini pergi bersama Anita. Ia pun menghampiri Andi yang duduk di depan.
"Ndi, gue......"
"Sorry!"
"Gue cuma kasian sama keadaan Anita Ndi, gue udah jelasin semuanya sama Andini, gue......."
"Gue tau, yang penting Dini baik baik aja itu udah cukup buat gue!"
Di kelas Anita, Dini duduk berdua dengan Anita.
"Din, kamu nggak marah kan sama aku?"
"Enggak," jawab Dini singkat.
"Kamu juga jangan marah sama Dimas ya, aku juga nggak tau kenapa dia tiba tiba peluk aku, aku....."
"Aku sama Dimas baik baik aja kok," ucap Dini memotong perkataan Anita.
"Kamu udah liat videonya kan? dia duluan yang narik aku, dia yang peluk aku duluan, dia....."
"Aku udah liat Nit, kamu nggak perlu jelasin lagi!" ucap Dini yang mulai kesal.
"Aku minta maaf Din."
"Aku udah lupain, aku percaya sama Dimas," ucap Dini tegas.
"Aku balik ke kelas dulu ya!" lanjut Dini yang langsung berdiri dan keluar dari kelas Anita.
"kenapa dia bisa sesantai itu? dia nggak marah? mereka nggak berantem? apa Dini cuma pura pura? sial, aku pikir mereka bakalan berantem lagi, padahal ini kesempatan!" batin Anita kesal.
Dini berjalan ke kelasnya dengan perasaan campur aduk. Ia ingin marah, ia ingin menangis saat itu. Ia berbohong jika ia baik baik saja. Siapa yang tak akan hancur hatinya jika melihat orang yang dicintainya memeluk perempuan lain berkali kali.
Namun marah pun percuma, pada akhirnya ia akan tetap luluh pada Dimas. Hatinya tetap akan kembali pada Dimas sejauh apapun ia pergi.
__ADS_1
Ia lebih memilih untuk diam dan melupakan apa yang menyakitkan untuknya. Ia yakin Dimas tak akan mempermainkan perasaannya.
Di kelas, ia merasa lega karena melihat Dimas dan Andi yang kini sudah kembali akrab.