Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Minggu Kelabu


__ADS_3

Hangat pelukan mentari sudah terasa. Minggu pagi itu langit begitu cerah, seolah memberikan semangat pada mereka yang tetap harus sibuk meski di hari libur.


Setelah turun dari kamar Dini, Andi segera menemui Aletta di lantai satu dengan terburu buru.


"Buru buru banget, mau kemana?" tanya Aletta yang melihat Andi berlari ke arahnya.


"Mau ketemu kamu, mau jelasin semuanya sama kamu, aku semalem....."


"Aku udah tau, Dimas udah cerita semuanya," ucap Aletta yang sengaja memotong ucapan Andi. Ia tidak ingin Andi mengulangi cerita yang malah menyakiti hatinya.


"Aku minta maaf Ta, aku nggak bisa ninggalin Dini gitu aja," ucap Andi yang merasa bersalah. Ia tau perempuan mana yang tidak cemburu dan marah jika lelakinya tidur semalaman bersama perempuan lain.


"Aku tau Ndi, nggak usah dibahas lagi!" ucap Aletta lalu berdiri berniat untuk meninggalkan Andi. Telinganya sudah panas mendengar cerita Andi tentang Dini.


Aletta bukannya tidak menyukai Dini, ia juga tidak membenci Dini, hanya saja ia cemburu. Wajar bukan jika ia merasa cemburu?


"Aku sayang sama kamu Ta," ucap Andi dengan menahan tangan Aletta.


Aletta hanya diam di tempatnya, ia tidak menoleh ataupun menarik tangannya. Andi lalu berdiri dan memeluk Aletta dari belakang. Ia merasa bersalah atas apa yang sudah ia lakukan. Ia tau Aletta tak akan marah padanya, tapi ia juga tau jauh di dalam hatinya, Aletta pasti marah padanya.


"Aku minta maaf," ucap Andi dengan masih memeluk Aletta, namun Aletta segera melepaskan dirinya dari pelukan Andi.


"Kenapa?" tanya Andi.


"Jangan ikut ikut Dimas, aku bukan Dini yang mudah luluh dengan pelukan!" ucap Aletta lalu kembali duduk di teras.


"Aku nggak ikut ikut Dimas kok, aku emang mau peluk kamu, nggak boleh?"


Aletta menggeleng.


"Kenapa?"


"Aku nggak suka dipeluk kalau lagi bad mood!"


"Kamu lagi bad mood apa lagi cemburu?" goda Andi.


"Ngapain cemburu? emang kamu ngapain aja sama Dini di kamar?"


"Aku nggak ngelakuin apa apa lah Ta, kamu pikir aku....."


"Ya terus apa yang harus dicemburuin Andi, jangan kamu kira aku ini anak kecil yang gampang cemburu!"


"Oke oke, gadisku ini emang bukan anak kecil," balas Andi dengan mengacak acak rambut Aletta hingga berantakan.


Tanpa mereka tau, sepasang mata memperhatikan Andi dan Aletta dengan senyum di bibirnya. Senyum manis yang mengandung kepahitan.


Di kamar Dini, setelah Dimas memastikan keadaan Dini baik baik saja, ia lalu berpamitan pulang.


"Aku harus ke kafe sayang, mau ketemu Yoga!" ucap Dimas yang diikuti anggukan kepala Dini.


Dimas lalu memeluk Dini dan mencium keningnya sebelum pergi meninggalkan kamar Dini.


**


Di tempat lain, Anita sedang mengenakan pakaian serba panjangnya untuk menutupi luka di hampir seluruh tubuhnya. Sedangkan Ivan menyiapkan sarapan untuk Anita dan dirinya.


Biiiippp Biiippp Biiippp


Ponsel Ivan berdering, sebuah panggilan dari nomor yang dikenalnya.


"Halo bro, ada apa nih?" tanya Ivan setelah ia menerima panggilan itu.


"Gue tunggu part dua nya V!" jawab teman Ivan yang memanggilnya "V".


"Nggak ada part dua, ntar gue cari yang lain!"


"Yaaaahh, kok yang lain sih, gue suka yang kemarin, anak anak juga lebih suka yang kemarin loh!"


"Nggak bisa, dia udah nggak bisa dipake' lagi, yang baru nanti pasti jauh lebih baik, gue jamin!"


"Gue bakalan bayar lebih buat part duanya, dua kali lipat, gimana?"


"Nggak bisa bro, sorry!"


"Kenapa nggak bisa sih? apa lo udah jatuh cinta sama dia?"


"Jatuh cinta? hahaha.... mana mungkin!"


"Kalau gitu gue tunggu part duanya atau gue sama anak anak bakalan cabut dari grup lo!"


"Eh jangan gitu dong, halo.... halo... "


Tuuuuttt Tuuuuttt Tuuuuttt


Sambungan terputus.


"Aaarrgghhh, sial!"


Anita yang melihat Ivan sedang emosi hanya bisa bersembunyi di balik pintu kamarnya, ia takut akan menjadi pelampiasan kekesalan Ivan.

__ADS_1


Ivan yang menyadari keberadaan Anita di balik pintu lalu memanggil Anita.


"Sarapan udah siap Nit, ayo keluar!" ucap Ivan namun tak ada jawaban.


Ivan lalu melangkahkan kakinya ke arah kamar Anita, namun Anita segera menutup pintu kamarnya.


"Ada apa Nit? aku udah siapin sarapan buat kamu!"


"Aku.... aku... takut," jawab Anita dari balik pintu yang tertutup.


"Takut kenapa? aku nggak akan nyakitin kamu sayang, ayo keluar, kamu harus sarapan, abis itu aku obatin luka kamu!"


Perlahan, Anita membuka pintu kamarnya. Dilihatnya Ivan yang berdiri dengan senyum manisnya. Ia lalu menarik tangan Anita dan membawanya ke ruang tamu untuk sarapan bersama.


Setelah selesai sarapan, Ivan mengoleskan obat pada luka di tubuh Anita.


"apa aku harus ngelakuin itu lagi? enggak, nggak boleh, aku udah janji aku nggak mungkin nyakitin dia lagi, aku akan cari cara lain, secepatnya!" ucap Ivan dalam hati.


"Abis ini aku mau keluar dulu, ada yang harus aku selesaiin," ucap Ivan yang dibalas anggukan kepala oleh Anita.


**


Di kafe, Dimas sedang berada di ruang kerja bersama Yoga.


"Dia udah mulai bawa Andini Ga," ucap Dimas pada Yoga.


"Dini kenapa?"


"Semalem dia mabuk dan Ivan yang udah rencanain semua itu, Andini mabuk di gang sempit deket kosnya, lo bayangin aja Ga, gimana kalau sampe orang jahat yang lewat dan..... arrrghhhh ngebayanginnya aja udah bikin gue takut!"


"Lo harus cepet bertindak Dim, jangan sampe' dia ngelakuin hal yang lebih jauh lagi!"


"Iya, gue udah baca data datanya di HP dan kayaknya gue tau kenapa dia nyerang kafe, dia balas dendam sama bokap."


"balas dendam? persis kayak yang om Tama pernah bilang, balas dendam." batin Yoga dalam hati.


"Lo yakin Dim?"


"Yakin Ga, dia balas dendam karena kematian bokapnya, gue nggak tau apa masalah sebenarnya tapi dari yang gue baca bokap gue penyebab bokapnya Ivan meninggal, itu kenapa dia nyerang kafe dan gue yakin dia udah rencanain banyak hal gila lagi setelah penyerangan kafe," jelas Dimas.


"Lo harus omongin ini sama bokap lo Dim!"


"Iya Ga, pasti!"


**


Dengan segera pak satpam memberikan kue itu pada majikannya.


"Waaahh, Dimas emang paling tau kalau mama lagi pingin kue ini," ucap mama Dimas setelah membuka kotak kue itu.


Tanpa pikir panjang, mama Dimas segera memakan kue yang ia pikir adalah pemberian Dimas. Karena yang mengetahui jika ia menyukai kue itu hanyalah sang suami dan Dimas. Jika pak Tama yang membelikannya, pasti sudah langsung diberikan padanya. Jika melalui kurir seperti itu, pasti Dimas yang membelikannya karena posisi Dimas yang jauh dari rumah.


"Kue kesukaan mama tuh!" ucap papa Dimas yang baru saja keluar dari kamar.


"Papa jangan minta ya, ini cuma buat mama!"


"Iya iya, papa nggak akan ganggu deh!"


Setelah menghabiskan semua kue itu, mama Dimas sudah bersiap untuk berangkat ke kafe tempat ia akan bertemu teman temannya dan papa Dimaspun sudah bersiap untuk berangkat ke kantor meski itu adalah hari Minggu, ia harus bertemu klien penting yang memang hanya bisa dijumpai pada hari Minggu. Sedangkan Sintia sudah berangkat ke rumah temannya terlebih dahulu.


Tepat ketika akan memasuki mobil, mama Dimas merasa mual dan pusing yang luar biasa.


"Mama kenapa ma?" tanya papa Dimas sebelum ia meninggalkan rumah.


Mama Dimas hanya menggeleng, ia sudah memuntahkan semua isi perutnya saat itu juga.


"Kita ke rumah sakit sekarang ma!"


"Mama bisa sama supir Pa, papa harus berangkat ke kantor buat meeting," balas mama Dimas.


"Papa bisa reschedule lagi ma, papa harus anter mama ke rumah sakit!"


"Jangan pa, itu klien penting, jangan sampe'.........."


Bruuukkkk


Mama Dimas pingsan, beruntung papa Dimas bisa menahan tubuh istrinya dengan cepat. Tanpa banyak bicara, papa Dimas segera membawa istrinya ke rumah sakit. Ia memutuskan untuk menjadwal ulang meeting nya bersama klien dari luar negeri itu.


Papa Dimas segera menghubungi Dimas untuk memberi tahu keadaan mamanya.


"Halo Dim, kamu dimana?" tanya pak Tama setelah Dimas menerima panggilannya.


"Di kafe sama Yoga pa!"


"Kamu bisa ke rumah sakit X sekarang? mama masuk rumah sakit!"


"Mama? Dimas kesana sekarang pa!"


Tanpa banyak bertanya lagi, Dimas dan Yoga meninggalkan kafe untuk pergi ke rumah sakit yang disebutkan Pak Tama.

__ADS_1


Tanpa mereka tau, hari Minggu yang seharusnya menjadi hari libur itu menjadi hari bagi Ivan melancarkan rencananya untuk memporak porandakan keluarga Adhitama.


Sepeninggalan Dimas dan Yoga. Perlahan semua bangku kafe penuh. 30 menit berlalu, hampir seluruh pengunjung kafe tiba tiba mual dan bahkan pingsan. Hal itu tentu saja membuat Tari, sebagai kepala waiters di sana menjadi begitu panik dan takut. Ia segera menghubungi Yoga dan menceritakan apa yang sedang terjadi di kafe.


"Siapa penanggung jawabnya di sini?" tanya salah seorang pengunjung di sana.


Tari lalu keluar dan menjelaskan jika atasannya akan segera datang.


"Perkenalkan saya Profesor William, jika diperbolehkan saya akan membawa beberapa sampel dari makanan dan minuman di sini untuk saya periksa, saya khawatir mereka semua keracunan!" ucap seorang pengunjung yang ternyata adalah seorang profesor.


"Saya.... saya nggak bisa memutuskan apa apa, saya harus menunggu atasan saya!"


Tiba tiba beberapa ambulance datang dan membawa semua pelanggan yang mual dan pingsan untuk di bawa ke rumah sakit. Setelah semua ambulance pergi, datang mobil polisi yang entah siapa yang menghubunginya Tari pun tak tau.


Kini tinggal beberapa orang yang berada di kafe, mereka yang masih tampak sehat, termasuk profesor William dan juga para petugas kepolisian.


"Siapa yang bertanggung jawab di sini?" tanya salah seorang pihak kepolisian.


"Saya!" jawab Yoga yang tiba tiba datang.


"Baiklah, kamu, salah satu pegawai kamu dan salah satu pelanggan harus ikut kami ke kantor polisi dan yang lain tetap berada di sini untuk kami interogasi secara terpisah!"


"Baik pak!"


Yoga, Tari dan profesor William pun pergi ke kantor polisi menggunakan mobil polisi.


Sesampainya di kantor polisi, mereka di interogasi secara terpisah.


"Penyelidikan masih berlanjut dan kafe kamu harus berhenti beroperasi sebelum terbukti jika kafe kamu tidak bersalah!" ucap pihak kepolisian pada Yoga.


Yoga hanya bisa menerima keputusan pihak kepolisian tanpa melawan. Tak berapa lama menunggu, pihak kepolisian mendapat kabar jika dalam makanan dan minuman yang di sajikan oleh kafe mengandung bakteri jahat yang berbahaya bagi tubuh. Selain itu, di pantry terdapat beberapa bahan makanan yang sudah kadaluwarsa dan tak layak untuk di konsumsi.


Semua CCTV sudah di cek dan tak ada yang masuk ke dalam pantry selain para pegawai kafe sendiri. Yoga pun sudah mengecek kamera tersembunyi yang hanya ia sendiri yang dapat melihatnya. Ia tidak menemukan siapapun yang mencurigakan di sana.


Kini semua tuduhan sudah mengarah padanya, semua bukti sudah menunjukkan jika kafe yang Yoga pegang memang bersalah.


"Apa ada selain kamu yang terlibat dalam hal ini?" tanya salah seorang pihak kepolisian pada Yoga.


"Jawaban saya nggak berubah pak, saya yang bertanggung jawab sama kafe itu dan saya akan buktikan kalau kafe saya tidak bersalah!"


"Semua bukti sudah jelas, kamu dan semua pegawai kamu yang akan mendapat hukuman atas semua kejadian ini!"


Yoga hanya diam. Ia akan bertanggung jawab pada kafe dan membiarkan Dimas menghentikan rencana buruk Ivan.


**


Di rumah sakit, Dokter menjelaskan jika mama Dimas mengalami keracunan makanan.


"Pagi ini mama kamu belum makan apa apa selain kue pemberian kamu!" ucap pak Tama pada Dimas.


"Kue? Dimas nggak ngasih apa apa sama mama!"


"Bukannya kamu yang ngasih kue kesukaan mama lewat kurir tadi pagi?"


"Enggak Pa, Dimas nggak ngasih apa apa!"


"Berarti ada orang lain yang sengaja mau celakain mama kamu Dim!"


"kafe tiba tiba bermasalah, mama tiba tiba masuk rumah sakit, Ivan? apa aku harus cerita sama papa sekarang? iya, aku harus cerita sama papa sebelum Ivan bertindak lebih jauh lagi!"


**


Di tempat lain, Dini sedang bersiap siap, ia akan mencari pekerjaan sampingan. Ia sengaja tidak mengajak Andi karena ia tau Andi sedang bersama Aletta dan ia tidak ingin menganggunya.


"Mau kemana Din?" tanya Andi.


"Ke mini market bentar," jawab Dini berbohong.


"Bawa tas?" tanya Aletta.


"Sekalian ngembaliin buku di rumah Cika," jawab Dini beralasan.


"Mau dianter?" tanya Andi.


"Enggak, bentar aja kok!" jawab Dini lalu pergi meninggalkan Andi dan Aletta.


Dini berjalan keluar dari area kosnya. Beberapa hari yang lalu ia menerima sebuah selebaran lowongan pekerjaan di sebuah kafe yang tak jauh dari kosnya. Ia segera mendatanginya karena ia tidak ingin terlambat lagi seperti yang sudah sudah.


Hampir 15 menit Dini berjalan, ia merasa ragu dengan jalan yang ia tuju. Peta dari selebaran itu mengarah ke sebuah jalan yang sangat sepi.


"apa bener di sini ada kafe? kenapa daerahnya sepi banget, nggak papa lah coba aja dulu!"


Tak lama kemudian sebuah mobil berhenti di sebelahnya, seorang perempuan turun dari dalam mobil dengan membawa sebuah kertas yang sama dengan yang Dini bawa.


"Kak, ini bener ya alamatnya?" tanya si perempuan sambil menunjukkan selebaran yang sama seperti milik Dini.


Ketika Dini mendekat dan melihat selebaran itu, seseorang dengan cepat membekap Dini dengan sapu tangan yang sudah diberi obat bius, membuat Dini pingsan seketika.


Perempuan dan seorang laki laki yang membiusnya dengan cepat membawanya masuk ke dalam mobil. Sebuah senyum penuh kepuasan tampak dari seseorang yang berada di balik kemudi.

__ADS_1


__ADS_2