Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Apapun Untukmu


__ADS_3

Andi hanya diam mendengar ucapan Dimas. Dimas memang benar jika Andi bukan benci, tapi cemburu dan takut kehilangan Dini.


Melihat Dimas yang berhasil meluluhkan hati Dini membuat Andi takut jika Dini akan meninggalkannya. Ya egonya saat ini sudah menang diatas logikanya.


Andi tidak peduli jika Dimas memang benar-benar berubah, ia hanya tidak mau jika Dimas mengambil Dini darinya.


"Pengecut lo Ndi!" umpat Dimas lalu berbalik dan pergi.


Andi masih tak menjawab, meski ia sangat marah saat itu, ia lebih memilih untuk meredam amarahnya dan berjalan pulang.


Dimas mengacak acak kasar rambutnya dan segera pulang.


Setelah mandi dan berganti baju, ia segera pergi ke rumah sakit. Di sana sudah ada Anita yang menunggu Dimas di ruangannya.


"Kenapa gelisah gitu sih?" tanya Dokter Dewi.


"Enggak kok, siapa yang gelisah," jawab Anita berusaha mengelak.


"Keliatan banget Nit, tenang aja bentar lagi juga datang."


"Aku nggak nungguin Dimas kok," ucap Anita yang berpura-pura sibuk membaca komik.


"Mbak kan nggak bilang Dimas, tuh kan ketahuan hahaha...." balas Dokter Dewi tertawa.


"Iiihhhhh, Mbak Dewi nyebelin banget sih, sana pergi aja!"


"Tadi disuruh nemenin sekarang disuruh pergi."


Tiba-tiba,


"Permisi, paket," ucap Dimas sambil menutup wajahnya dengan sebuket bunga warna warni.


"Dimas!" panggil Anita yang sudah sangat mengenal suara Dimas.


"Masuk Dim, Mbak keluar dulu kalau gitu," ucap Dokter Dewi.


"Loh, kok keluar Dok? Dimas ganggu ya?" tanya Dimas panik.


"Enggak, sana masuk, Anita udah nunggu kamu dari tadi," balas Dokter Dewi lalu segera keluar dari ruangan Anita.


"Iiiissshhh, siapa juga yang nunggu!" ucap Anita berpura-pura kesal.


"Ciiieee, ada yang nunggu aku nih," goda Dimas.


"Enggak, fitnah itu Mbak Dewi."


Dimas hanya tertawa melihat tingkah Anita dan Dokter Dewi.


"Kamu sekarang jualan bunga?" tanya Anita yang melihat berbagai macam bunga di tangan Dimas.


"Hahaha, iya, seperti biasa, kamu pilih satu sisanya aku jual."


"Kenapa nggak beli satu aja sih!"


"Kan aku nggak tau yang kamu suka Nit."


"Ya nanya dong Dimas."


"Nggak surprise dong kalau tanya dulu."


"Makasih ya Dimas," ucap Anita dengan senyum termanisnya.


"Yang penting kamu cepet sembuh biar bisa sekolah lagi."


"Mbak Dewi bilang, besok aku udah boleh pulang kok!"


"Jam berapa? aku jemput ya?"


"Boleh, pulang sekolah langsung ke sini ya!"


"Iya, pulang sekolah aku jemput."


"Makasih Dimas," ucap Anita sambil memeluk Dimas.


Karena selang infusnya sudah dilepas, Anita bisa dengan mudah memeluk Dimas.

__ADS_1


"Aku nggak bisa lama-lama ya Nit," ucap Dimas sambil melepaskan pelukan Anita.


"Ngerjain tugas kelompok lagi?"


"Mmmmm, aku ada janji sama Andini."


"Ooohh."


"Nggak papa kan? besok aku pasti jemput kamu!"


Anita mengangguk lalu merebahkan badannya.


"Kamu nggak baca komik?" tanya Dimas yang melihat raut wajah Anita menjadi sendu.


Anita tak menjawab, hanya menggeleng.


"Kamu marah?"


Anita hanya diam, entah kenapa ia ingin Dimas selalu bersamanya saat ini. Namun ia sadar, Dimas menyukai Dini jadi sudah pasti Dini yang akan menjadi prioritas untuknya.


"kenapa kamu kemarin cium keningku Dimas? maksud kamu apa?" tanya Anita dalam hatinya.


"Aku minta maaf Nit, aku udah janji sama Andini."


"Nggak papa," jawab Anita dengan tersenyum tipis.


"Jangan bilang nggak papa kalau kamu lagi nggak baik-baik aja."


Anita hanya diam tak menjawab.


"Oh iya, kamu yang ngerjain tugasku ya kemarin? makasih banyak ya Nit, berkat kamu kelompokku nggak dapat hukuman dari Pak Galih," lanjut Dimas.


Anita mengangguk.


"Sebagai bentuk terimakasih, kamu mau apa dari aku?" tanya Dimas berusaha memperbaiki suasana hati Anita.


"Aku boleh minta apa aja?"


"Iya apa aja asal kamu nggak marah lagi."


"Oke, kemana?"


"Kemana aja, bisa?"


"Bisa, hari minggu pagi aku jemput di rumah kamu ya!"


"Yeeeeyyy, liburaaann!" ucap Anita kegirangan.


Dimas lega karena Anita sudah terlihat baik-baik saja sekarang.


Tak terasa langit mulai gelap, cahaya terang mentari sudah digantikan oleh bulan yang selalu hadir bersama bintang-bintang.


Dimaspun segera berpamitan untuk menemui Dini.


"Aku balik dulu ya Nit!"


"Iya, take care Dimas."


"Kamu istirahat, besok sore aku jemput!"


Anita mengangguk dan tersenyum.


Tepat jam 7 malam Dimas sudah berada di rumah Dini. Dini yang sudah bersiap-siap segera keluar begitu mendengar mobil Dimas di depan rumahnya.


"Udah siap sayang?" tanya Dimas.


Dini tersenyum dan mengangguk.


"Kita kemana Dim?"


"Ikut aja!"


Dimas berencana mengajak Dini untuk membeli HP. Entah Dini akan menerimanya atau tidak, tapi Dimas tetap akan melakukannya.


Sesampainya di salah satu pusat perbelanjaan, Dimas segera mengajak Dini ke konter HP.

__ADS_1


"Kamu mau beli HP?" tanya Dini.


Dimas mengangguk dan tersenyum.


"Emang punya kamu yang sekarang kenapa? rusak?"


"Huuusssttt, jangan banyak tanya!" ucap Dimas sambil menempelkan jari telunjukknya ke bibir Dini.


"Menurut kamu bagus yang mana?" tanya Dimas.


"Yang penting itu fungsinya Dimas, bukan bagus apa enggaknya, lagian aku nggak ngerti soal gadget."


"Kamu suka yang ini?"


"Kok jadi nanya aku suka apa enggak!"


"Ya udah kak, saya ambil ini, tolong sekalian di setting ya kak!" ucap Dimas pada penjaga konter HP.


"Ditunggu bentar ya kak!"


"Siap kak."


Setelah menunggu beberapa lama, Dimaspun mendapat apa yang dia inginkan.


"Makan yuk!" ajak Dimas.


Dini hanya mengangguk dan berjalan mengikuti Dimas. Tiba-tiba Dimas menggandeng tangan Dini agar berjalan di sampingnya. Dini hanya diam tidak menolaknya.


Setelah memesan beberapa makanan dan minuman, Dimas dan Dinipun mencari tempat duduk.


"Buat kamu," ucap Dimas sambil memberikan HP yang baru saja dia beli.


"Buat aku?" tanya Dini tak percaya.


"Iya, buat kamu Andini."


"Kenapa buat aku?"


"Biar aku gampang hubungin kamu."


"Gitu aja?"


"Apa alasanku kurang kuat?"


"Enggak Dimas, aku nggak bisa nerima ini," ucap Dini sambil mendorong HP di hadapannya ke arah Dimas.


"Kenapa?"


"Ini mahal banget Dimas, aku nggak mungkin bisa gantiin sebelum aku kerja."


"Nggak usah kamu pikirin Andini, anggap aja ini sebagai permintaan maafku karena kemarin nggak jadi jemput kamu."


"Maaf Dimas, aku nggak bisa."


"Terus gimana, udah terlanjur dibeli."


"Dibalikin aja ya, kan baru aja belinya."


"Nggak bisa Andini," ucap Dimas pura-pura kesal.


"Jangan marah dong, aku nggak biasa nerima barang dari orang lain kayak gini."


"Mulai sekarang kamu harus biasa, karena aku akan kasih semua yang kamu mau Andini."


"Nggak bisa Dimas."


"Ya udah aku buang aja!" ucap Dimas sambil membawa HP nya ke tempat sampah namun segera dicegah oleh Dini.


"Jangan Dimas!"


"Kalau kamu nggak mau ya aku buang aja!"


"Ya udah iya, aku mau."


Dimaspun tersenyum lebar, usahanya berhasil untuk membujuk Dini agar menerima HP yang dia belikan.

__ADS_1


__ADS_2