Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Apakah mudah?


__ADS_3

Anita begitu terkejut melihat Andi dan Dini.


Andi dan Dini yang mendengar namanya disebut secara bersamaan menoleh ke sumber suara.


"Anita," ucap Andi dan Dini yang tak kalah terkejutnya dengan Anita.


Beruntung, sebelum Anita datang, Andi sudah melepaskan pelukannya pada Dini, sehingga Anita tidak melihat hal itu. Setidaknya pelukan Dini dapat sedikit melegakan hatinya. Sekarang ia berusaha untuk mengubur dalam-dalam rasa yang tak boleh ia rasakan itu. Meski hatinya menolak, meski hatinya terasa sakit, melihat Dini bahagia saja sudah cukup untuknya. Meskipun suatu saat nanti kebahagiaan Dini tidak bersamanya, ia berusaha merelakannya.


"Kalian ngapain berdua disini?" tanya Anita.


"Aku tadi ke rumah kamu Ndi, tapi kamu nggak ada," lanjut Anita.


"Aku dari tadi disini, kamu ngapain ke rumahku?"


"Ini, aku cuma mau ngasih undangan ini buat kamu sama Dini," jawab Anita sambil menyodorkan 2 lembar undangan bertuliskan Sweet Seventen


"Kenapa nggak di sekolah aja sih?" tanya Andi.


"Aku emang sengaja dateng ke rumah temen-temen kok," jawab Anita dengan senyum termanisnya.


"Aku sama Dini mau pulang, kamu mau disini aja?"


"Eh, anterin aku pulang dong Ndi!" pinta Anita.


Andi melirik ke arah Dini, Dini mengangguk pelan. Sejak kedatangan Anita, Dini memang tak banyak bicara.


"Nggak bisa, aku nggak punya motor apalagi mobil," jawab Andi sambil berlalu meninggalkan Anita dan menarik tangan Dini agar mengikutinya turun.


Anita mengejar Andi dan menarik tangannya.


"Anter aku sampe' jalan raya depan aja, jalan kaki juga nggak papa."


Dinipun melepaskan tangannya dari genggaman tangan Andi.


"Anter aja Ndi, aku bisa pulang sendiri," ucap Dini lalu segera pergi meninggalkan Andi dan Anita.


"Din!" panggil Andi dengan berteriak.


Namun Dini tak menjawab, bahkan menoleh pun tidak. Entah kenapa ia merasa kesal.


"Hati-hati ya Din!" ucap Anita yang melihat Dini semakin jauh.


Diperjalanan mengantar Anita, Andi tak banyak bicara. Ia merasa bersalah karena membiarkan Dini pulang seorang diri.


"Andi!" panggil Anita.


"Hmmmm!"


"Kamu kenapa diem aja sih?"


"Nggak papa."

__ADS_1


"Oh iya soal proposal yang kamu bahas waktu rapat kemarin keren banget loh, papa pasti setuju."


Andi tak menjawab, ia berjalan cepat agar semakin cepat juga ia bertemu dengan Dini.


"Andi, pelan-pelan dong jalannya."


"Buruan, udah malem."


Sesampainya di jalan raya, Andi berniat untuk segera pulang, tapi Anita mencegahnya.


"Tunggu sampe' aku dapet taxi ya!"


Andi hanya bisa menghela napas panjang. Sebenarnya ia bisa saja meninggalkan Anita saat itu. Namun nalurinya sebagai laki-laki menolaknya. Ia tak mungkin membiarkan seorang perempuan yang ia kenal sendirian di pinggir jalan raya, terlebih hari sudah sangat larut.


"Andi, aku boleh tanya sesuatu nggak?"


"Apa?"


"Kamu kenal sama Dini udah berapa lama?"


"Udah dari bayi."


"Kamu suka sama dia?"


"Kenapa tanya gitu?"


"Ya setauku kalian deket banget, dari pengalaman temen-temenku dalam sebuah persahabatan kalau salah satu ada yang suka ujung-ujungnya malah bikin persahabatan hancur."


Andi hanya diam, ia tau akan hal itu. Perasaan yang seharusnya membahagiakan ini justru bisa menghancurkan.


"Maksud kamu?" tanya Andi tak mengerti.


"Gini, misalnya kamu sekarang suka sama Dini, padahal Dini sahabat kamu, nggak mungkin kan kamu ungkapin perasaan kamu ke dia, karena resikonya kamu akan kehilangan dia dan hubungan kalian nggak akan baik-baik aja, jadi kamu harus move on, coba liat dan perhatiin cewek lain di sekitar kamu biar kamu nggak terpaku sama perasaan kamu ke Dini, kamu bisa membuka hati kamu buat cewek lain," jelas Anita panjang.


"Apa semudah itu?"


"Emang nggak gampang, cukup kamu buka sedikit aja celah di hati kamu biar ada cewek lain selain Dini di hati kamu, perlahan-lahan kamu pasti bisa mengalihkan perasaan kamu ke cewek itu."


"Jadi aku harus punya pacar?"


"Enggak harus pacar, mulai menerima seseorang yang baru aja udah bagus kok. Biar kamu nggak hanya terfokus pada Dini."


Andi mengangguk angguk.


"Andi, semakin kamu mencoba menghilangkan perasaan itu, perasaan itu akan makin kuat dan semakin menyiksa kamu, itu kenapa kamu harus pelan-pelan," lanjut Anita.


Andi terdiam, ia memikirkan kata-kata Anita. Selama ini Andi hanya melihat Dini, tanpa ia sadari banyak perempuan lain yang ada di sekitar nya. Bahkan beberapa dari mereka berusaha mendekati Andi dengan berbagai cara. Namun Andi hanya diam tak pernah merespon sama sekali. Sikapnya begitu dingin.


"Andi, kamu itu ganteng loh, baik, pinter, ketua OSIS lagi, banyak temen-temenku yang suka sama kamu tapi kamunya cuek banget."


"Aku harus gimana?"

__ADS_1


"Tetep jadi diri kamu sendiri, tapi yang lebih ramah hehehe."


Andi tersenyum.


Ia mulai sedikit mengurangi sikap cueknya. Kalau saja ia lebih ramah pasti akan banyak perempuan-perempuan cantik yang menggodanya. Sikap dinginnya memang membuat sebagian dari mereka tertarik pada Andi, namun setelah mencoba mendekatinya, mereka menyerah. Andi benar-benar tak pernah melihat perempuan lain selain Dini.


Bersama Dini, Andi begitu hangat dan ceria tapi bersama perempuan lain, ia sangat jauh berbeda.


"Andi."


"Hmmmmm,"


"Tuh kan, cuek banget."


"Iya iya sorry, kenapa?"


"Apa selama ini kamu nggak pernah pacaran?"


"Enggak, buat apa pacaran?"


"Ya buat penyemangat mungkin."


"Dini aja udah cukup kok buat aku," jawab Andi dengan tersenyum kecil.


"Andiiii," panggil Anita setengah berteriak.


"Hahaha, aku itu nggak ngerti kenapa orang-orang pingin banget punya pacar, tujuannya apa aku nggak ngerti."


"Terus selama ini nggak ada satu orangpun yang kamu suka?"


"Suka gimana maksudnya?"


"Ya sayang, takut kehilangan gitu lah pokoknya."


"Ada."


"Ada? siapa?"


Andi hanya tersenyum. Satu-satunya alasan yang membuatnya tak pernah melihat perempuan lain adalah Dini. Dini segalanya untuk Andi, tak seharipun ia lalui tanpa Dini. Itu kenapa perlahan rasa sayang itu datang tanpa ia sadari. Semakin lama ia sadar, rasa itu semakin tumbuh dengan cepatnya tanpa ia bisa hentikan.


"Andiiiiiii."


"Iya iya, jangan teriak-teriak dong!"


"Kamu ngelamun aja sih."


"Aku ngantuk."


"Eh, kalau kamu mau milih, kamu milih siapa buat jadi pacar kamu?"


"Siapa? mana ada yang mau sama aku, aku bukan orang kaya, bisa sekolah aja karena dapat beasiswa penuh kayak Dini."

__ADS_1


"Jangan kamu anggap semua perempuan itu hanya mandang materi ya Ndi, aku itu kagum sama kamu karena kamu itu pinter, bertanggung jawab, dewasa pemikirannya."


"Kamu kagum apa suka sama aku?"


__ADS_2