Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Ingatan Palsu


__ADS_3

Flashback 1 minggu setelah Dimas di Singapura


Seorang wanita paruh baya yang masih tampak cantik melenggang dengan anggunnya di keramaian Orchard Road, jalan yang dipenuhi dengan pusat perbelanjaan, restoran dan spa, surga dunia bagi mereka yang bergaya hidup konsumtif.


Berbeda dengan kebanyakan orang yang akan menghabiskan uangnya di jalan yang terkenal di Singapura itu, wanita paruh baya yang bernama Angel itu sama sekali tak tertarik untuk membelanjakan uangnya di sana.


Ia memasuki sebuah restoran dengan nama Kiseki Japanese Buffet, dengan desain interior yang menampilkan dekorasi kayu, restoran itu menawarkan berbagai makanan dan minuman Jepang di dalamnya.


Setelah memilih tempat duduk yang tak jauh dari pintu masuk, Angel mengambil ponsel dari tas mewahnya dan segera menghubungi seseorang.


Tak lama setelah itu, datang seorang laki laki yang usianya tidak jauh darinya. Dia adalah Dokter Richard, teman Angel sekaligus Dokter terbaik yang akan menangani Dimas.


"Bagaimana keadaan Dimas sekarang?" tanya Dokter Richard.


"Masih tetap sama," jawab Angel murung.


"Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk kesembuhan Dimas, kamu tenang saja!" ucap Dokter Richard, berusaha menenangkan teman lamanya itu.


"Semua Dokter akan berkata seperti itu kan?" balas Angel dengan tersenyum getir.


Dokter Richard menghela napas panjang. Ia tau betul bagaimana perasaan Angel saat itu karena ia sudah pernah kehilangan anak satu satunya karena kecelakaan.


"Ayo ikut aku, bantu Dimas keluar dari rumah sakit yang tidak berguna itu!" ucap Angel dengan menahan emosinya.


Ya, Dimas sekarang berada di salah satu rumah sakit yang terkenal di Singapura. Mama dan papa Dimas membawanya ke sana dengan harapan yang besar untuk kesembuhan Dimas, tapi nyatanya 1 minggu Dimas di rawat di sana, tak ada kemajuan yang terjadi sama sekali pada Dimas. Hal itu membuat Angel marah, kecewa dan frustrasi.


Niat awal mereka memang ingin membawa Dimas pada Dokter Richard, namun ketika mereka sampai di sana, Dokter Richard mendapat panggilan mendesak dari Kedubes RI yang berada di sana sehingga tidak bisa menemui mama dan papa Dimas untuk beberapa saat.


****************


Satu bulan berlalu, Dimas masih terbaring koma di ranjang rumah sakit.


"Saya sudah berusaha semaksimal mungkin, kita hanya bisa menunggu keajaiban yang akan membuatnya bangun!" ucap Dokter Richard pada mama dan papa Dimas.


"Terima kasih Dok!" ucap papa Dimas pada Dokter Richard.


Dokter Richard mengangguk dan keluar dari ruangan Dimas.


Selama Dimas di rawat di rumah sakit itu, ia mendapat pengawasan langsung dari Dokter Richard dibantu dengan beberapa perawat yang lain.


Biiippp biiippp biiippp


Ponsel mama Dimas berdering, terlihat nama Anita di layar ponselnya. Ia pun menggeser tanda panah hijau di layar ponselnya.


"Halo Nit, kamu udah nyampe'?"


"Udh ma, Anita di Changi Airport sekarang!" jawab Anita.


"Kamu tunggu di sana ya, mama jemput sekarang!"


"Nggak usah ma, Anita bisa ke sana sendiri kok, mama kasih alamatnya aja!"


"Kamu yakin?"


"Yakin ma!"


Setelah menerima alamat rumah sakit yang ditempati Dimas, Anita segera meluncur ke sana.


Di rumah sakit, mama dan papa Dimas masih bergantian untuk menjaga Dimas. Jika papa Dimas sedang bekerja, maka mama Dimas yang akan menjaganya di rumah sakit, begitu juga sebaliknya.


Kebetulan, perusahaan papa Dimas memiliki anak cabang di Singapura. Itu sebabnya mama dan papa Dimas masih bisa bekerja dan menghandle perusahaan mereka yang berada di Indonesia dari Singapura.


Ketika papa Dimas kembali ke kantor, tak lama kemudian Anita datang dan segera mencari mama Dimas.


"Gimana keadaan Dimas ma?" tanya Anita pada mama Dimas.


"Belum ada perubahan Nit!"


"Sabar ya ma, Anita yakin Dimas pasti kuat!"


Mama Dimas mengangguk pelan.


************


Anita memasuki apartemen yang akan ditempatinya. Sebuah apartemen mewah di daerah Orchard Road yang dikelilingi dengan banyak pusat perbelanjaan seperti Ion Plaza, Takashimaya, Tang Plaza dan Paragon serta beberapa restoran yang menyajikan makanan khas Indonesia.


Setelah merapikan barang barangnya ia segera merebahkan badannya di ranjang dan menghubungi papanya.


"Pa, mobil Anita kapan dateng?"


"Mungkin besok kalau nggak lusa, kamu udah nyampe' apartemen?"


"Udah pa, ya udah Anita mau tidur dulu, capek!"


Anita memejamka matanya dan segera tertidur lelap.


Sebelum berangkat ke Singapura, Anita sudah membuat kesepakatan bersama papanya agar ia diizinkan untuk melanjutkan kuliahnya di Singapura.

__ADS_1


Ia berjanji jika ia tidak akan menganggu hubungan Pak Sonny dengan wanita yang akan menjadi mama tirinya itu, asalkan Pak Sonny mengizinkan Anita untuk kuliah di Singapura termasuk memberinya biaya hidup yang bisa dibilang mewah di sana.


Pak Sonny pun menyetujuinya.


Esok harinya setelah mengurus pendaftaran di kampus barunya, Anita segera pergi ke rumah sakit.


Di sana sudah ada mama Dimas yang duduk di sofa panjang, berkutat dengan laptopnya.


"Hai Dim, gimana keadaan kamu sekarang?" pertanyaan yang sama yang selalu ia tanyakan pada Dimas yang masih koma.


Anita menggenggam tangan Dimas erat.


"bangun Dim, kita mulai semuanya dari awal, hanya ada aku sama kamu di sini," ucap Anita dalam hati.


Anita merasakan jari jari tangan Dimas bergerak pelan ketika ia menggenggamnya. Ia pun segera memanggil mama Dimas.


"Ma, Dimas sadar ma!" pekik Anita yang membuat mama Dimas segera mendekati anak semata wayangnya itu.


Ia melihat Dimas yang mulai menggerak gerakkan jarinya meski matanya masih tertutup. Mama Dimas segera memencet tombol merah yang berada di dekat ranjang Dimas agar Dokter Richard segera memeriksa keadaan Dimas.


Tak berapa lama setelah Dokter Richard memeriksa keadaan Dimas, ia keluar dengan senyum yang mengembang.


"Akhirnya keajaiban itu datang," ucap Dokter Richard dengan tersenyum.


"Maksud Dokter?" tanya Anita tak mengerti.


"Dia sudah sadar dari komanya, sebentar lagi dia akan bangun, sebaiknya kalian tunggu di dalam agar ketika dia bangun, dia bisa melihat orang orang yang dicintainya di sampingnya!"


"Baik Dok, terima kasih!" ucap Anita yang segera masuk dan duduk di samping Dimas, begitu juga mama Dimas.


Matahari mulai meninggalkan peraduannya, kerlip lampu kota mulai memenuhi gelapnya malam di kota itu.


Anita dan mama Dimas masih berada di ruangan Dimas, menunggu Dimas bangun dari tidur panjangnya.


Tak lama kemudian Dimas terlihat mengerjapkan matanya, melihat ke sekelilingnya dengan penuh tanda tanya.


"Dimas, kamu udah bangun sayang, ada yang sakit?" tanya mama Dimas dengan memegang tangan Dimas.


Dimas mencoba menggali ingatannya tentang wanita di hadapannya yang memanggilnya Dimas.


"Dimas? siapa?" batin Dimas bertanya tanya.


Tanda tanya dipikirkannya semakin besar ketika perempuan di sebelahnya juga memanggilnya dengan nama Dimas.


"Dimas, aku dari kemarin di sini nemenin kamu, mama sama papa kamu juga, mereka......"


"Dimas, ini nggak lucu, kita udah di sini dari......."


"Nit, kamu inget apa yang mama bilang waktu di rumah sakit dulu?" tanya mama Dimas pada Anita.


Air mata mama Dimas mulai menggenangi pelupuk matanya, menyadari apa yang terjadi pada Dimas.


"Dimas, ini mama sayang," ucap mama Dimas dengan suara tertahan, menahan tangis yang ingin pecah saat itu juga.


Dimas mencoba untuk mengingat wanita di hadapannya itu, tapi semakin ia berusaha untuk mengingat kepalanya terasa sakit, bahkan untuk mengingat siapa dirinya sendiri pun ia tak bisa.


"Aaaaaaaa!!" teriak Dimas dengan memegangi kepalanya yang merasakan sakit yang teramat sangat.


"Dimas, kamu kenapa sayang?" tanya mama Dimas yang kini terlihat khawatir.


Anita pun memencet tombol merah itu lagi dan tak lama kemudian Dokter Richard datang. Anita dan mama Dimas kembali menunggu di depan ruangan dengan cemas.


"Dimas kenapa Dok?" tanya Anita pada Dokter Richard.


"Saya rasa kecelakaan yang dialami Dimas menyebabkan penyumbatan pembuluh darah ke otak hal itu menyebabkan dia mengalami Transient Global Amnesia, dia akan kehilangan ingatannya secara keseluruhan dan kemungkinan besar ia akan sulit untuk membentuk ingatan baru karena parahnya cedera otak yang dialami Dimas," jelas Dokter Richard.


"Sulit membentuk ingatan baru? maksudnya dia tidak bisa mengingat apapun?" tanya mama Dimas.


"Dia akan bisa mengingat apa saja yang dilakukannya hari ini dan siapa saja orang orang yang dikenalnya hari ini, tapi itu tidak akan bertahan lama, pada kebanyakan kasus yang terjadi ketika dia bangun tidur di pagi hari, ia akan melupakan semua yang sudah terjadi hari kemarin," jawab Dokter Richard menjelaskan.


Mama Dimas terduduk dengan lemas mendengar jawaban Dokter Richard.


"Saya harap, kamu jangan terlalu memaksanya untuk mengembalikan ingatannya, saya khawatir itu akan membuatnya semakin depresi dan tertekan," ucap Dokter Richard pada mama Dimas.


"Apa tidak ada obat untuk menyembuhkannya?" tanya mama Dimas.


"Belum ada obat yang dapat menyembuhkannya Angel, saya hanya bisa memberinya suplemen vitamin untuk mencegah kerusakan sistem saraf yang lebih parah!"


"Saran saya, bawa dia pulang ke Indonesia, biarkan dia bertemu orang orang di masa lalunya yang......."


"Tidak, aku tidak akan membawanya kembali ke Indonesia, apapun alasannya!"


"Baiklah kalau itu keputusan kamu, besok ketika dia bangun, saya akan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi padanya, kamu bisa rekam ketika saya menjelaskannya dan setiap dia bangun tidur pagi, minta dia untuk melihat rekaman itu agar dia mengetahui apa yang dialaminya saat ini!"


Mama Dimas mengangguk pasrah. Hatinya yang hancur seperti kembali menyatu begitu melihat Dimas tersadar dari komanya, tapi hatinya kembali retak begitu mengetahui anak semata wayangnya menderita Transient Global Amnesia. Jenis amnesia yang lebih sering terjadi pada lansia, namun karena kecelakaan yang dialaminya, Dimas menderita salah satu jenis amnesia yang cukup langka itu.


************

__ADS_1


Hari berganti minggu, minggu berganti bulan.


Dimas sudah keluar dari rumah sakit meski dengan ingatan yang terbatas. Setiap pagi Dimas melihat catatan yang sengaja ditinggalkan mamanya di dekat tempat tidurnya.


Buka videonya ya sayang!


Dimaspun memutar video yang tersimpan di ponsel dekat dengan catatan itu ditulis.


Sebuah video ketika Dokter Richard menjelaskan tentang amnesia yang di deritanya, dalam video itu juga terlihat mama dan papa Dimas, serta Anita.


Saat ini, Dimas masih tinggal bersama kedua orangtuanya di satu apartemen yang mempunyai 2 kamar di dalamnya.


Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Dimas segera keluar dari kamarnya dan mendapati Anita yang sudah duduk di kursi panjang, sibuk dengan ponselnya.


"Anita!" panggil Dimas, untuk meyakinkan ingatannya.


"Pagi sayang," sapa Anita dengan senyum manisnya.


"Sayang?"


"Iya, kamu udah liat videonya kan?"


Dimas mengangguk pelan. Memorinya benar benar kosong, ia sama sekali tak bisa mengenali perempuan di hadapannya itu.


Anita mendengus kesal.


"Aku pacar yang selalu kamu lupain tiap hari!" gerutu Anita kesal.


"Maaf, aku nggak bermaksud lupain kamu, aku......"


"Nggak papa, aku ngerti," ucap Anita yang kembali tersenyum manis untuk Dimas.


"Mama sama papa?"


"Mereka udah berangkat ke kantor, nanti aku anter kamu ke sana!"


"Thanks!"


"Kamu kemarin janji mau anter aku ke kampus, jadi kan?" tanya Anita.


Dimas masih terlihat linglung karena tak mengingat apapun yang terjadi hari kemarin. Ia pun hanya mengikuti apa yang Anita bilang.


"Kamu selesai jam berapa?" tanya Dimas pada Anita.


"Jam 10, kamu biasanya nungguin aku di toko buku sana!" ucap Anita sambil menunjuk toko buku yang tak jauh dari kampusnya.


"Oh, ya udah aku ke sana dulu!" ucap Dimas lalu pergi meninggalkan Anita.


"hmmmm, cium dulu napa, nggak romantis banget sih!" gerutu Anita dalam hati.


Dimas membeli sebuah note book di toko buku itu untuk mencatat hal hal yang terjadi di setiap hari yang dilaluinya.


Jam sudah menunjukkan pukul 10 siang, Dimas segera kembali ke kampus untuk menjemput Anita, "pacar"nya.


"Udah dari tadi?" tanya Anita yang melihat Dimas sudah berdiri di samping mobilnya.


"Barusan!" jawab Dimas singkat.


"Mau aku anter ke kantor mama papa kamu?"


"Nggak usah, kita cari makan aja ya, aku laper!"


"Kamu belum makan dari pagi?"


Dimas menggeleng.


"Dimas, kamu emang amnesia, tapi ya jangan lupa makan juga dong!"


Dimas hanya tersenyum tipis menanggapi omelan Anita. Entah kenapa hatinya terasa kosong, tak ada gejolak apapun di hatinya ketika ia bersama Anita.


"Ya udah, ayo cari makan dulu!"


Anitapun mengajak Dimas ke salah satu restoran Indonesia yang berada di Orchard Road.


"Nit, kamu mau nggak cerita tentang hubungan kita, aku mau tulis di sini!" ucap Dimas sambil menunjuk note book yang baru ia beli.


"Dengan senang hati, tapi abis makan ya!"


Dimas mengangguk dengan senyum mengembang, berharap ia akan mengingat perjalanan "cinta" nya bersama Anita secara perlahan.


Setelah selesai makan, Anita mulai menceritakan cerita khayalannya pada Dimas. Cerita bohong yang sengaja ia ceritakan untuk mendapatkan cinta Dimas.


"Kita dulu satu SMA, kamu dulu nggak pendiam gini, kamu baik, ramah dan pinter, kamu juga romantis, kamu......."


"Romantis?"


"Iya, kamu dulu selalu antar jemput aku ke sekolah, waktu aku di rumah sakit, kamu selalu nemenin aku, aku sama kamu itu goals couple banget waktu di sekolah dulu, kamu itu idola satu sekolah, semua cewek cewek berusaha deketin kamu, tapi kamu milih aku, walaupun dulu kita sering berantem karena salah paham, tapi kita selalu baikan lagi, kamu nggak bisa lama lama marah sama aku!"

__ADS_1


Dimas mendengarkan cerita Anita dengan serius. Entah kenapa sulit baginya untuk percaya hal itu, tapi ia tetap menulisnya di note book miliknya.


__ADS_2