
Anita masih diam, ia belum menjawab pertanyaan Dimas.
"Sayang, tolong kamu jujur sama aku, apa yang sebenernya........."
"Nggak ada Dimas, aku nggak ada masalah apa apa sama Dini, kamu juga, kita nggak pernah kenal sebelumnya, aku cuma nggak suka kamu belain dia terus!"
"Aku cemburu," lanjut Anita dengan menundukkan kepalanya.
Dimas menghela napas pelan dan menggenggam tangan Anita.
"Aku sayang sama kamu, kamu percaya kan sama aku?"
"Aku nggak mau kamu deket deket sama dia," balas Anita.
"Hubungan aku sama dia nggak lebih dari seorang pemilik kafe sama waitersnya, kamu tau itu!"
"Tapi kamu belain dia, kamu peduli sama dia, kamu......"
"Aku peduli sama semua pegawai ku sayang, nggak cuma Andini, aku juga nggak belain dia, aku cuma nggak suka kamu mandang rendah orang lain, gimanapun juga dia pegawai ku, kamu ngerti maksud aku kan?"
Anita mengangguk pelan.
Dimas mendekat dan memeluk Anita.
"Jangan terlalu berpikir jauh, oke?"
Anita kembali mengangguk.
Dalam hati, Dimas hanya ingin Anita berhenti mengganggu Dini. Mungkin dengan sikapnya yang manis pada Anita, itu akan membuat Anita menghilangkan rasa cemburunya pada Dini. Setidaknya itulah yang dipikirkan Dimas saat itu.
Di sisi lain, Dika mengajak Dini untuk berhenti di sebuah mini market. Ia harus membeli banyak snack untuk Andi dan Nico.
"Kamu yakin beli sebanyak ini?" tanya Dini yang melihat keranjang belanjanya sudah penuh dengan berbagai macam snack.
"Iya, kamu mau yang mana?"
"Aku ini aja!" jawab Dini sambil mengambil coklat favoritnya.
" Kamu suka coklat?"
Dini mengangguk. Dika kemudian mengambil semua stok coklat yang ada di rak mini market itu dan memasukkan ke dalam keranjang belanjanya.
"Kenapa diambil semua?"
"Buat kamu," jawab Dika dengan senyum manisnya.
"Nggak perlu sebanyak ini, kamu mau gigi aku ompong?" balas Dini dengan mengeluarkan coklat coklat itu dari keranjang belanja dan mengembalikannya pada tempatnya, menyisakan satu untuknya dalam keranjang.
"Hahaha, kamu ompong pun aku masih suka sama kamu!"
Dini hanya tersenyum tipis lalu berjalan meninggalkan Dika.
Setelah selesai membayar, Dika dan Dini segera kembali ke mobil dan menuju ke tempat kos Dini.
"Dika, kamu yakin mau nunggu aku?" tanya Dini tiba tiba.
"Yakin, kamu masih ragu?"
"Aku takut kamu kecewa!"
"Enggak Din, enggak akan, aku tau batas harapan aku sama kamu!"
"Kamu mau aku gimana sekarang?"
Dika menepikan mobilnya dan berhenti. Ia menggenggam tangan Dini.
"Aku mau kamu jadi pacar ku, aku akan bikin kamu lupain masa lalu kamu, aku akan jadi satu satunya di hati kamu, terima aku buat jadi pacar kamu dan aku akan selalu bahagiain kamu!" ucap Dika bersungguh sungguh.
Dini menganggukkan kepalanya dengan tersenyum manis.
"Kamu serius?" tanya Dika memastikan.
"Kamu mau aku bercanda?"
"Enggak, aku mau kamu serius!"
Dika menarik tangan Dini dan berniat menciumnya namun Dini segera menarik tangannya.
"Maaf, aku....."
"Nggak papa, aku ngerti, yang penting sekarang kamu milikku, Andini Ayunindya Zhafira kamu sekarang milik Mahardika Purnama, nggak ada yang boleh deketin kamu selain aku!"
"Gimana sama Andi?"
"Andi sahabat kamu, dia yang bantuin aku deket sama kamu, aku tau betul gimana hubungan kalian!"
Dini mengacungkan jari jempolnya. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan.
Sesampainya di tempat kos, sudah ada Andi dan Nico yang seperti sudah menunggu kedatangan Dika dan Dini. Dini dan Dika keluar dari mobil dengan membawa kantong belanja yang berisi bermacam macam snack, mereka akan pesta MSG malam itu.
"Gila, lo mau kita jadi generasi micin Dik?" protes Nico yang melihat isi kantong belanja penuh dengan snack.
"Daripada generasi bucin?" balas Dika yang di sambut tawa mereka ber empat.
Dini kemudian naik ke kamarnya setelah mengambil coklat miliknya.
"Good night sayang!" ucap Dika sambil melambaikan tangannya pada Dini yang sudah berjalan menaiki tangga.
Dini hanya tersenyum dan membalas lambaian tangan Dika.
"Sukses nih kayaknya!" ucap Andi.
"Sukses dong, thanks ya Ndi!"
"Awas aja kalau lo bikin dia nangis, habis lo sama gue!" balas Andi dengan mengepalkan tangannya di depan Dika.
"Hahaha, santai Ndi, gue tau apa yang harus gue lakuin!"
Merekapun bercanda dan tertawa hingga lewat tengah malam.
********
Esok paginya, Dika menjemput Dini. Mereka berangkat ke kampus berdua, tanpa Andi.
Sesampainya di kampus, Bela yang melihat Dini keluar dari mobil Dika segera menghampirinya.
"Kalian pacaran?" tanya Bela pada Dini dan Dika.
"Iya, ada masalah?" balas Dika.
__ADS_1
"Kamu pasti sakit ya, kamu demam?" tanya Bela sambil meletakkan telapak tangannya pada kening Dika namun segera dilepas oleh Dila.
"Lo apa apaan sih!" protes Dika.
"Kamu nggak tau ya, pacar kamu ini sugar baby loh, simpenan om om," ucap Bela dengan melirikkan matanya ke arah Dini.
Dini tak menghiraukan ucapan Bela, ia berlalu begitu saja meninggalkan Bela dan Dika, ia juga tak peduli jika Dika mempercayai ucapan Bela.
"Jaga ucapan lo sebelum gue rusak mulut busuk lo itu!" balas Dika lalu segera mengejar Dini.
"Dini, tunggu!" panggil Dika setengah berteriak.
Dini menoleh, lalu kembali melanjutkan langkahnya.
"Dia sering gangguin kamu ya?" tanya Dika pada Dini.
"Udah biasa," jawab Dini.
"nggak akan ada yang bisa nyakitin kamu selama kamu punya aku Din!" ucap Dika dalam hati.
"Aku duluan ya, udah ditunggu Cika!"
"Oh, oke, nanti aku anter ke kafe ya!"
Dini mengangguk dan segera berlari ke arah Cika.
"Siapa lagi Din?" tanya Cika yang melihat Dini bersama seorang laki laki.
"Baru lagi dong!" jawab Dini dengan senyum manisnya.
"Daebak, angkat aku jadi muridmu suhu!"
"Hahaha, apaan sih, ayo masuk!"
************
Jam 3 tepat Dini sudah berada di kafe. Dika segera pulang setelah ia mengantar Dini.
"Pacar kamu nggak nungguin kamu lagi Din?" tanya Tari pada Dini.
"Enggak kak, dia kan juga punya kesibukan sendiri!"
"Iya juga sih!"
Ketika Dini membersihkan pantry, salah satu temannya saling berbisik.
"Eh, aku tadi liat pacarnya pak Yoga ke sini!"
"Serius? anak SMA itu?"
"Iya, bajunya sexi banget, pantesan Pak Yoga mau, pasti mereka udah......"
"Sssssttttttt, jangan dilanjutin, kalian nggak tau kalau di ruangan ini ada penyadap suara?" ucap Dini berbohong, ia merasa risih mendengar temannya bergosip tentang Sintia dan Yoga.
"Hah, serius? kamu tau dari mana?"
"Aku denger waktu Pak Dimas ngobrol sama pak Yoga," jawab Dini asal membuat teman temannya segera menutup mulut mereka.
Dini hanya terkekeh dan meninggalkan pantry. Ia melihat keluar untuk mencari Sintia dan benar saja, terlihat Sintia berjalan ke arah pintu kafe.
"Kak Dini, kakak kok disini? pake seragam kafe lagi, kakak....."
"Iya, aku kerja di sini," ucap Dini sebelum Sintia menyelesaikan ucapannya.
"Aku baik, kamu gimana?"
"Baik juga, aku baru pulang dari Thailand kak, kepala sekolah nunjuk aku buat ikut pertukaran pelajar di Thailand," cerita Sintia.
"Waaahh, keren!" balas Dini sambil bertepuk tangan kecil.
Mereka berdua duduk di bangku yang tak jauh dari pintu, mereka saling bertukar cerita dan tertawa bersama.
"Kakak udah tau soal kak Dimas ya?" tanya Sintia berhati hati.
Dini mengangguk pelan.
"Maafin Sintia ya kak, Sintia nggak bermaksud buat sembunyiin ini dari kakak, tapi......."
"Nggak papa, lupain aja!"
"Kakak udah ketemu sama kak Dimas?"
"Tiap hari!"
"Kak Dimas nggak inget kakak?"
"Nggak ada yang dia ingat Sin!"
"Sabar ya kak, Sintia yakin kak Dimas tetep akan sama kakak di masa depan nanti!"
"Kenapa kamu bisa seyakin itu?"
"Nggak tau yakin aja hehehe....."
"Semuanya udah beda Sin, udah nggak kayak dulu lagi!"
"Iya juga sih, oh iya, kak Yoga ada di dalem?"
"Nggak ada, kak Yoga sekarang jarang di kafe, Dimas sendiri yang pegang kafenya!"
"Yaaahh, kak Yoga jadi pengangguran dong!"
"Hahaha, enggak lah!"
Dimas yang melihat Dini sedang berbincang dengan seseorang segera mendekatinya dan menegurnya.
"Andini, kamu nggak tau ini masih jam kerja?"
"Eh, maaf pak, saya......"
"Balik ke tempat kamu!"
"Baik pak!"
"Kak, tunggu, aku mau minta tolong!" ucap Sintia menahan tangan Dini yang akan pergi.
"Minta tolong apa?"
"Tolong hubungin kak Yoga, kak Yoga nggak tau kalau Sintia udah pulang, Sintia mau kasih surprise buat kak Yoga!" jawab Sintia dengan berbisik di telinga Dini.
__ADS_1
"Kalian tau, berbisik di depan orang lain itu nggak sopan, kalian........" belum sempat Dimas melanjutkan ucapannya, Sintia sudah memotongnya.
"Bapak Dimas yang terhormat, saya ini pelanggan loh di sini, bapak yang ramah dong sama pelanggan, jangan nggak sopan gini!" ucap Sintia sinis. Ia tau keadaan Dimas, jadi dia sudah tidak terkejut dengan sikap Dimas yang berubah padanya.
"Mohon maaf dek, tapi ini masih jam kerja dan apa yang kalian lakukan di depan saya tadi sangat tidak sopan!"
"Dek? hahaha adek? hahaha......." Sintia tak bisa menahan tawanya mendengar ucapan Dimas, ia tertawa terpingkal pingkal hingga air matanya menggenang di sudut matanya.
"Sintia, kamu jangan cari masalah," ucap Dini pelan dengan menggenggam tangan Sintia.
"Dia lucu banget kak, dia......."
Dimas segera menarik tangan Sintia dan memaksanya keluar dari kafe.
"Hei, pembeli adalah raja tau!" protes Sintia.
"Dan saya dewa disini!" balas Dimas lalu menarik tangan Dini untuk dibawa masuk.
"Bener bener keterlaluan, makhluk tampan kejam, ngeselin, jahat, biadab, nggak bermoral, ib........" Sintia menghentikan ucapannya ketika seseorang memeluknya dari belakang.
"Sumpah serapah kamu itu terlalu kejam gadis kecil," ucap seseorang yang memeluknya.
Sintia segera berbalik dan memeluk laki laki di hadapannya.
"Sintia kangen," ucap Sintia sambil memeluk erat Yoga.
"Kakak juga kangen banget, kenapa kamu nggak bilang kalau udah pulang, kakak kan bisa jemput kamu!"
"Sintia mau kasih kejutan buat kakak, Sintia pikir kakak di sini!"
"Sini duduk," ajak Yoga sambil menarik kursi untuk duduk.
"Kamu mau minum apa?"
"Nggak usah kak!"
"Kamu tadi kenapa marah marah kayak gitu, marah sama siapa?"
"Siapa lagi kalau bukan dewa pemilik kafe ini!" balas Sintia kesal.
"Dimas? kamu udah ketemu sama dia?"
"Udah, kak Dimas jahat kak, dia ngusir Sintia dari kafe!"
"Emang apa yang kamu lakuin sampe' dia ngusir kamu?"
"Sintia cuma ngajak ngobrol kak Dini, eh kak Dimas datang ngomel ngomel kayak emak emak, terus Sintia diusir!"
"Sini ikut kakak!" ajak Yoga sambil menarik tangan Sintia.
"Kemana?"
"Kenalan sama dewa pemilik kafe, ayo!"
"Nggak mau, dia galak banget!"
"Tapi tampan kan?"
"Makhluk tampan yang kejam!"
"Ayo, kan ada kakak!"
Sintiapun mengikuti Yoga. Beberapa waiters masih memandang sinis ke arah Sintia yang sedang digandeng Yoga.
"Hai Dim!" sapa Yoga berbasa basi.
"Hai Ga, ada apa?" jawab Dimas dengan masih memandang ke arah laptopnya.
"Gue mau kenalin calon istri gue!" jawab Yoga membuat Sintia membulatkan matanya tak percaya.
Sintia tidak menyangka jika ia akan memperkenalkan dirinya pada Dimas sebagai calon istri. Pasalnya, selama ini hubungan mereka tak pernah ada kejelasan, mereka saling mencintai namun Yoga tak pernah menganggapnya pacar.
Dimas segera mengarahkan pandangannya pada perempuan di sebelah Yoga. Seorang gadis kecil dengan pakaian sexi nya yang baru saja dia usir, ternyata adalah calon istri Yoga.
"Calon istri? yang bener aja Ga, lo mau jadi pedofil?" balas Dimas tak percaya.
"Tuh kan kak, dasar mahkluk tampan kejam!" seloroh Sintia yang masih emosi.
"Hahaha, sabar dong sayang, kamu ngertiin lah keadaan dia sekarang!"
"Tapi kak....."
Yoga menggengam tangan Sintia erat.
"Dia masa depan gue, ada masalah?" tanya Yoga pada Dimas.
"Enggak, tapi dia masih kecil Ga, dandanannya aja yang kayak tante tante!"
"Tahan tangan Sintia kak, Sintia udah gatal pingin nampar makhluk tampan tapi kejam ini!" ucap Sintia pelan dengan menahan emosinya.
"Sabar sayang!" balas Yoga sambil mencium kening Sintia, membuat emosinya luruh begitu saja.
"Yang penting, gue udah kenalin dia sama lo, jadi tolong kalau dia kesini jangan usir dia, oke?"
"Oke, gue harap lo pikir baik baik keputusan lo Ga!" jawab Dimas lalu kembali sibuk dengan laptopnya.
"Tuh kan kak, dia masih nyebelin!"
"Sini," Yoga menarik tangan Sintia dan mengajaknya duduk di sofa depan meja kerja Dimas.
"Kenapa kita malah duduk di sini sih kak, Sintia mau pulang!"
"Kamu mau balas dendam sama makhluk tampan di sana itu?"
"Mau mau!" jawab Sintia antusias.
Yoga memegang kedua pipi Sintia dan mulai mendekatkan bibirnya ke arah Sintia. Sintia hanya diam hingga bibir mereka saling bersentuhan, menarikan lagu rindu yang sudah lama mereka tahan. Mereka hanya merasa dunia milik mereka berdua.
Dimas yang tanpa sengaja melihat hal itu segera menutup laptopnya dan keluar dari ruangan kerjanya.
"Yoga bener bener gila!" batin Dimas dalam hati.
Sintia segera menarik dirinya begitu menyadari Dimas keluar dari ruangan.
"Kenapa?" tanya Yoga.
"Kak Dimas udah keluar, kakak mau balas dendam apa emang modus?"
Yoga tak menjawab, ia mendekat dan memeluk Sintia erat. Meluruhkan rindu yang sudah beberapa bulan menyiksanya.
__ADS_1
"Kakak kangen banget sama kamu, lain kali kakak akan ikut kemana pun kamu pergi!" ucap Yoga.
"mana bisa? kakak kan pengangguran sekarang, kasian kak Yoga, gara gara makhluk tampan yang kejam itu kak Yoga jadi pengangguran!" batin Sintia.