
Setelah menghabiskan waktu beberapa jam di dalam festival ice cream, Yoga dan Sintiapun keluar.
Biiippp biiippp biiippp
Ponsel Yoga berdering, nama Dimas terlihat di layar ponselnya.
"Halo, ada apa Dim?"
"Bisa ke kafe Ga?"
"Bisa, gue ke sana sekarang!"
Yoga memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku lalu menggandeng tangan Sintia untuk kembali ke dalam mobil.
"Kita mau ke mana kak? ke kafe?" tanya Sintia.
"Iya, Dimas minta kakak ke sana!"
Sintia mengangguk anggukan kepalanya.
Tak lama kemudian mereka sampai di kafe Dimas dan segera masuk. Yoga menggandeng tangan Sintia, membuat beberapa pegawai Dimas tak bisa mengelakkan pandangan mereka dari Yoga dan Sintia.
Yoga dan Sintia masuk ke ruangan Dimas.
"Ada apa Dim, penting banget kayaknya!"
"Gue mau ninggalin kafe lagi Ga, gue mau minta tolong sama lo!"
"Emang lo mau kemana?"
"Gue mau kuliah di Universitas X jadi gue nggak bisa handle kafe sendiri, lo bisa bantuin gue kan?"
"Enggak, kak......" Sintia menghentikan ucapannya ketika Yoga tiba tiba menggenggam erat tangannya, sebuah kode agar Sintia tidak melanjutkan ucapannya.
"Mmmmm, bisa bisa, tenang aja, lo bisa andalin gue!"
"Skripsi lo gimana?"
"Beres, minggu depan sidang, do'ain ya!"
"Oke!"
Setelah 1 jam membahas tentang kafe, Yoga dan Sintiapun keluar dari ruangan Dimas. Yoga harus mengantar Sintia pulang.
"Kak, kenapa kakak mau aja sih di suruh kak Dimas?"
"Di suruh apa?"
"Ya tadi itu, kakak kan udah punya bisnis sendiri, kenapa masih mau kerja sama kak Dimas, kakak....."
"Sayang, kakak cuma mau bantuin Dimas, kamu tau kan kakak sama Dimas udah kayak saudara, jadi mana mungkin kakak nolak dia, lagian Dimas bisa aja cari orang lain buat pegang kafenya lagi, tapi dia masih percaya sama kakak!"
"Sintia nggak ngerti!"
"Udah, nggak usah dipikirin, kamu terlalu banyak mikir sayang!"
***
Hari yang di tunggu tunggu tiba, Dimas sekarang sudah meninggalkan rumahnya dan tinggal di sebuah apartemen yang berada tak jauh dari kampusnya.
Mentari pagi itu bersinar terang menyambut hari pertamanya sebagai mahasiswa di Universitas X. Ia segera membawa mobil yang dikendarainya untuk masuk ke tempat parkir. Ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya, mencari nama Andi di penyimpanan kontaknya. Ya, hubungan mereka kini kembali hangat.
"Lo ke kampus jam berapa?"
"Ini udah di jalan, ada apa?"
"Gue tunggu di depan parkiran!"
"Oke."
Tak lama setelah menunggu, Andi dan Nico datang.
"Kalian ada kelas pagi?" tanya Dimas pada Andi dan Nico.
"Jam 9," jawab Andi.
"Lah ini masih jam 7 lebih 30 menit loh, semangat banget sih, udah kangen ya sama gue!"
"Apaan sih, gue sama Dini emang selalu berangkat pagi, ya kan Nic?"
"Betul, karena gue sahabat yang baik, jadi gue juga ikut berangkat pagi walaupun sebenernya masih ngantuk, hooaaamm," jawab Nico dengan menguap.
"Siapa juga yang minta lo berangkat pagi!"
"Nggak ada sih hahaha......."
"Oh ya Ndi, gue bisa ngomong berdua sama lo, soal Andini!" ucap Dimas pada Andi.
Andi menoleh ke arah Nico.
"Oke, take your time guys!" ucap Nico lalu melangkah meninggalkan Andi dan Dimas, namun Andi menarik tas ransel Nico dari belakang.
"Lo mau kemana, sini aja!"
"Pandangan mata lo nyuruh gue pergi duluan hahaha....."
"Sini aja!"
"Lo bisa tanyain apapun soal Dini sama gue, Nico udah banyak bantu gue, dia juga udah tau banyak soal kejadian itu, jadi lo nggak perlu sembunyiin apa apa dari Nico!" ucap Andi pada Dimas.
"Oh oke, sebelumnya thanks ya Nic lo udah bawa pindah Andini ke sini, walaupun gue nggak tau apa tujuan lo bawa dia pindah!"
"Gue bawa Dini pindah ke sini biar Andi gampang jenguk Dini, itu aja!" balas Nico.
Dimas mengangguk anggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Gue beberapa hari yang lalu udah coba buat ke sana, tapi nggak ada pasien atas nama Andini di sana, lo ngerjain gue Ndi?"
"Siapa yang ngerjain lo, lo salah alamat kali!"
"Enggak, di rumah sakit X kan?"
"Iya, gue....."
"Wait wait, lo nyari Dini di sana?" tanya Nico.
"Iya, kenapa?"
"Gue emang sengaja sembunyiin Dini di sana, cuma gue sama Andi yang bisa ketemu dia, lo tenang aja dia udah di pantau sama dokter ahli dan juga ada 2 orang gue yang jagain ruangannya 24 jam!" jelas Nico.
"Kenapa?"
"Gue cuma nggak mau kalau ada orang jahat yang coba cari Dini, lagian gue nggak tau 2 orang laki laki yang dimaksud polisi itu siapa, makanya gue takut 2 orang itu nyari Dini lagi, eh ternyata lo orangnya!"
"Kalau gitu, lo bisa anter gue ke sana?"
Nico menoleh ke arah Andi sebelum memberi jawaban. Andi mengangguk pelan.
"Oke!" jawab Nico, membuat senyuman indah tergaris di bibir Dimas.
***
Di sisi lain, Anita sudah bersiap untuk pergi ke rumah Dimas. Ia masih belum tau jika Dimas sudah memutuskan untuk kuliah dan tinggal terpisah dengan kedua orangtuanya. Karena belum boleh menggunakan mobil, ia pergi ke rumah Dimas dengan menggunakan taksi.
Sesampainya di sana, ia dicegah oleh satpam ketika ia akan masuk ke rumah Dimas.
"Bapak nggak tau saya siapa?"
"Maaf mbak, tapi ibu pesen kalau nggak menerima tamu," jawab pak satpam.
Ya, mama Dimas sudah berpesan pada pak satpam untuk melarang Anita masuk. Mama Dimas memberikan foto Anita pada pak satpam.
"Saya ini tunangan Dimas loh pak, bapak mau dipecat?"
"Maaf mbak, tapi ini perintah!"
Anita tak mempedulikan larangan pak satpam, ia berlari ke arah pintu masuk rumah Dimas dengan pak satpam yang masih mengejarnya.
"Maaf mbak, tolong jangan mempersulit pekerjaan saya!" ucap pak satpam dengan menarik tangan Anita.
Bersamaan dengan itu mama dan papa Dimas keluar dari rumah untuk berangkat ke kantor, begitu juga Sintia yang sudah bersiap untuk berangkat ke sekolah.
"Ada apa ini ribut ribut?" tanya papa Dimas.
"Maaf pak......."
"Ma, pak satpam ini ngelarang Anita masuk," ucap Anita merajuk pada mama Dimas.
Mama dan papa Dimas saling pandang sebelum memberi respon.
"Hati hati pa," balas mama Dimas.
"Hati hati ya om," ucap Anita dengan dibalas anggukan kepala oleh papa Dimas.
"Kamu ada apa ke sini?" tanya mama Dimas pada Anita.
"Anita mau ketemu Dimas ma, Dimas ada? apa udah berangkat ke kafe?"
"Kak Dimas kan kuliah, masak kakak nggak tau sih, kan kakak tunangannya, katanya!" ucap Sintia dengan menekankan kata "katanya".
"Kuliah? kuliah dimana ma, bukannya dia......"
"Duh, mama nggak punya banyak waktu Anita, mama harus berangkat sekarang, kamu bisa hubungin Dimas kalau mau tanya tanya, oke?" ucap mama Dimas lalu melangkah meninggalkan Anita diikuti Sintia.
"Kasian weeekk," ucap Sintia pelan dengan menjulurkan lidahnya mengejek Anita.
"Iiisshh, nyebelin banget sih!" ucap Anita dengan menghentak hentakkan kakinya ke lantai.
Sebelum meninggalkan rumah, mama Dimas berpesan pada Pak satpam untuk mengusir Anita.
"Mari mbak, silahkan keluar!" ucap Pak satpam sopan.
"Sekali lagi bapak usir saya, saya akan pastiin bapak yang diusir dari rumah ini!" ucap Anita lalu keluar dari rumah Dimas.
*****
Di kampus,
Berita tentang apa yang menimpa Dika sudah ramai diperbincangkan. Bersamaan dengan beredarnya berita itu, papa Dika yang menjadi dosen di sana mengundurkan diri dari kampus.
Tentu saja teman teman Dini sangat mengkhawatirkan keadaan Dini, pasalnya mereka tau jika Dini dan Dika tengah berpacaran saat itu dan sejak beberapa hari yang lalu Dini juga belum terlihat di kampus.
Mereka mulai menghubung hubungkan sebab kematian Dika, Bela dan fakultas Seni. Bahkan salah satu dari mereka menyimpulkan jika fakultas seni adalah fakultas. horor yang meminta tumbal. Ya, mereka hanya tau jika Dika meninggal karena terjatuh dari lantai 3 sebuah rumah tak berpenghuni di pinggiran kota, mereka tidak tau apa yang sebenarnya terjadi sebelum hal itu menimpa Dika.
Sebelum mereka membawa nama Dini dalam kasus kematian Dika, Andi menjelaskan pada Cika jika Dini tidak ada sangkut pautnya dengan hal itu. Dini tidak datang ke kampus karena dia ada masalah keluarga yang harus dengan cepat ia selesaikan. Andi menjelaskan jika Dini sengaja menonaktifkan ponselnya karena ia ingin masalah yang dihadapinya cepat selesai dan segera kembali ke kampus. Dengan begitu, Cika akan dengan cepat menyebarkan berita yang ia dapat dari Andi agar Dini tidak lagi dibawa bawa dalam kasus kematian Dika.
Jam 1 siang, Dimas, Andi dan Nico pergi ke rumah sakit dimana Dini dirawat.
Sesampainya di sana, Dimas segera masuk ke ruangan Dini. Nico yang hendak masuk di tahan oleh Andi, ia menggeleng pelan.
Meski tak mengerti, Nico menurut. Mereka membiarkan Dimas berada dalam ruangan itu berdua dengan Dini.
Dimas menggenggam erat tangan Dini. Ia bahagia dan sedih bersamaan. Ia bahagia karena bisa mengingat semua masa lalunya bersama Dini, ia bahagia karena bisa menggengam tangan Dini lagi. Tapi ia juga sedih melihat keadaan Dini. Hatinya terasa sakit melihat Dini yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
"Maafin aku sayang, maaf karena nggak bisa jagain kamu dengan baik, aku sayang sama kamu, sayang banget bahkan waktu ingatanku hilangpun rasa di hati aku nggak pernah hilang, aku mohon kamu bangun sayang, ayo kita mulai semuanya dari awal," ucap Dimas dengan mencium tangan Dini.
Tiba tiba jari jari Dini mulai bergerak pelan. Dimas segera melepaskan tangan Dini dari genggamannya dan segera keluar.
"Ada apa Dim?" tanya Andi yang melihat Dimas tiba tiba keluar.
"Andini sadar Ndi, dia bangun, dia......"
__ADS_1
Andi segera berdiri dari duduknya dan melangkah masuk namun Dimas menahan tangannya.
"Tolong jangan bilang dia kalau gue di sini," ucap Dimas memohon.
Andi mengangguk lalu kembali melangkah masuk.
Ia melihat mata Dini yang mulai mengerjap. Ia segera memencet tombol merah di dinding samping ranjang Dini. Tak lama kemudian Dokter masuk dan memeriksa keadaan Dini lalu kembali keluar dan berbicara pada Nico.
Dini melihat ke sekelilingnya. Ia masih merasakan sakit di sekujur tubuhnya.
"Andi,"
"Iya, kamu jangan banyak gerak dulu ya, luka kamu belum sembuh!" ucap Andi pada Dini.
"Dimas mana? dia disini kan?"
Andi diam beberapa saat sebelum memberikan jawaban.
"Nggak ada, dia nggak di sini, cuma ada aku sama Nico," jawab Andi berbohong.
"Nico?"
"Iya, dia yang bantuin kamu pindah ke sini!"
"Ndi, ibu nggak tau soal ini kan?"
"Tenang aja, nggak ada yang tau soal ini, termasuk temen temen kamu, aku bilang sama Cika kalau kamu cuti kuliah karena ada masalah keluarga," jelas Andi.
"Dimas baik baik aja kan Ndi? apa dia udah inget semuanya?"
"Dia baik baik aja kok, kamu jangan mikirin yang lainnya dulu ya, kamu harus cepet sembuh!"
Dini mengangguk pelan.
"Dimas, kamu dimana sekarang? kenapa kamu panggil aku sayang waktu itu? apa kamu udah inget semuanya?"
"Aku akan ke sini tiap hari, kamu tenang aja, nggak ada yang bisa ganggu kamu di sini," ucap Andi.
"Makasih Ndi,"
Andi hanya tersenyum dan mengusap lembut pipi Dini.
Di luar ruangan Dini, setelah mendengarkan penjelasan dari dokter, Nico kembali duduk di sebelah Dimas.
"Kalian ini ternyata satu SMA? lo, Andi sama Dini?" tanya Nico pada Dimas.
"Iya, kita satu kelas," jawab Dimas.
"Gimana ceritanya lo bisa ada sama Dini kemarin?"
"Gue nggak sengaja baca pesan Andi di HP nya Dini yang jatuh, kebetulan kita ada di satu tempat dan gue liat Dini masuk ke mobilnya Dika, jadi gue ikutin mereka!"
"kalau gue boleh tau, lo ada hubungan apa sih sama Dini?"
"Gue...."
Biiipp biiipp biiippp
Ponsel Dimas berdering, ia segera mengambil ponselnya dari saku celana dan menerima panggilan dari Anita.
"Halo, ada apa Nit?"
"Kamu dimana sekarang?"
"Aku.... Mmmm.... aku di....."
"Aku dari rumah kamu dan Sintia bilang kamu kuliah, kenapa nggak cerita apa apa sama aku?"
"Maaf, aku lupa!"
"Lupa? kamu dimana sekarang, aku ke sana!"
"Aku di kampus, bentar lagi ada kelas," jawab Dimas berbohong.
"Kamu ini anggap aku apa sih Dim? aku ini tunangan kamu loh, tapi aku bahkan nggak tau dimana kamu kuliah!"
"Aku kuliah di Universitas X, puas?"
"Universitas X? kenapa kamu harus jauh jauh kuliah di sana Dim, kenapa....."
Tuuuttt tuuuuttt tuuutttt
Dimas mematikan sambungan ponselnya. Ia sudah muak dengan Anita, dengan seperti ini mungkin Anita akan berpikir ribuan kali untuk tetap melanjutkan hubungannya bersama Dimas. Dimas memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana setelah sebelumnya menonaktifkan ponselnya. Jika nanti ketika ponselnya sudah aktif dan Anita menelepon, ia akan bilang jika ponselnya lowbatt.
"Nic, gue balik duluan ya!"
"Oh oke, take care ya!"
Dimas mengangguk lalu segera meninggalkan rumah sakit.
Dimas kembali ke apartemennya, lalu merebahkan badannya di tempat tidur. Ia mengambil ponsel Dini yang tergeletak di meja belajarnya, ia mengambil sim card dari ponsel itu lalu mengaktifkan ponsel itu. Dengan begitu, tak ada yang dapat menghubungi Dini meski ponselnya sudah aktif karena Dimas sendiri tidak tau harus menjawab apa jika ada yang menanyakan keberadaan Dini.
Beruntung, ponsel Dini bisa dibukanya dengan mudah karena tidak memakai password. Ia mulai membuka galeri yang tersimpan di ponsel Dini, menggesernya ke atas untuk melihat adakah dirinya dalam galeri ponsel Dini.
Ia harus menelan kekecewaan karena pikiran narsisnya, nyatanya tak ada sama sekali foto dirinya yang Dini simpan. Hanya ada fotonya bersama Andi dan beberapa teman temannya yang lain.
"kamu udah bener bener lupain aku Andini? apa kehadiranku masih kamu harapkan dalam hidup kamu? apa keputusan ku untuk kembali udah bener? atau aku hanya akan mengoyak luka di hati kamu yang sudah hampir sembuh? apa aku egois karena masih mengharapkan kamu? apa aku egois karena masih berjuang setelah semua sakit yang aku berikan sama kamu? apa aku egois karena aku masih sangat berharap sama kamu? apa aku egois karena masih memiliki perasaan ini sama kamu? apa aku egois karena hanya memikirkan kamu? apa aku egois Andini?" batin Dimas bertanya tanya.
Ia masih mengutak atik ponsel Dini. Ia membuka menu catatan. Di sana Dini menulis banyak sekali catatan. Dimas mulai membukanya satu per satu.
*Dimas, hari ini aku tau semua fakta yang menyakitkan buat aku. Aku seneng karena kamu baik baik aja, tapi aku juga sedih karena ternyata kamu hilang ingatan dan yang lebih menyedihkan lagi, perasaan di hati aku ternyata nggak pernah mati buat kamu, meski aku udah bersusah payah buat kubur dalam dalam perasaan itu, meski aku tersakiti karena sikap kamu, tapi nyatanya perasaan itu masih hidup dan terus tumbuh di hati aku*
*Dimas, kamu miliknya sekarang. Kehadiran kamu seperti garam yang sengaja jatuh di luka hatiku, perih, tapi biarlah, biarkan rasa ini hilang dengan segala kepedihan yang menyelimutinya*
*Dimas, apa kamu ingat semuanya? apa perasaan kamu nggak pernah hilang meski ingatan kamu hilang? kenapa sikap kamu bikin aku bingung, kenapa sikap kamu bikin aku bimbang? kamu sudah ada yang memiliki, aku harus ingat itu*
__ADS_1