
Andi masih duduk di depan kamar kosnya. Memandang jauh, menyesapi pahitnya cinta terpendam yang ia rasakan selama ini. Jika saja cinta itu bukan pada sahabatnya, mungkin tak akan serumit itu jadinya.
Entah sudah berapa perempuan yang mencoba mendekatinya, tak ada satupun yang mampu merubah perasaannya pada Dini.
Anita, satu nama yang membuatnya berusaha untuk berpaling dari Dini, berpaling dari rasa yang sudah ia tau akhir buruknya.
Namun kenyataan tak pernah berpihak padanya, kenyataan yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya, kenyataan yang membuat sahabat yang dicintainya begitu terluka, kenyataan yang membuatnya memandang "jijik" pada Anita.
Andi menghembuskan napasnya pelan, menghilangkan perih di hatinya. Dinginnya malam itu seperti memeluknya erat, angin yang berhembus pelan seperti mentertawakan dirinya yang masih setia mencintai sahabatnya itu.
"Mikir apa lo?" tanya Nico yang tiba tiba datang, membuyarkan lamunan Andi.
Andi hanya menoleh dengan senyum tipis yang tergaris di bibirnya.
"Udahlah Ndi, ngaku aja, lo suka kan sama Dini?"
Andi mengangguk.
"Tuh kan, apa gue bilang lo pasti......."
"Dia sahabat gue, pastilah gue suka sama dia, gue sayang sama dia, sebagai sahabat!"
"Hmmmm, nggak ada perasaan kayak gitu Ndi, cewek sama cowok yang udah sahabatan lama dan nggak saling suka itu cuma mitos, yakin gue!"
"Kadang kebenaran memang hanya berakhir menjadi mitos," ucap Andi dengan memandang langit malam yang menyembunyikan cahaya bulan dan bintang.
"Sebelumnya, sorry ya kalau kata kata gue nyakitin, dari yang gue tangkap nih ya, lo suka sama Dini, tapi Dini cuma anggap lo sahabat, iya kan?"
"Hahaha, sok tau banget sih lo, udah kayak dukun aja!" balas Andi yang langsung masuk ke kamarnya.
"Gue masuk dulu ya!"
"Lo udah bener Ndi, ini yang terbaik buat hubungan kalian, walaupun menyakitkan buat lo, gue ikut bela sungkawa atas matinya hati lo buat cewek lain hahaha......" ucap Nico dari balik pintu kamar Andi yang tertutup, ia yakin Andi masih mendengarkannya.
Ya, Andi masih berdiri di balik pintunya. Ia mendengar dengan jelas ucapan teman barunya itu.
"iya, ini yang terbaik, buat kamu, juga aku!"
Andi lalu merebahkan badannya dan tertidur.
Sedangkan Dini, matanya begitu sulit untuk diajak terlelap, terpejam pun ia tak sanggup. Bayangan Dimas yang sudah lama ingin ia lupakan hadir begitu saja dalam pikirannya.
"tunangan? siapa? siapa perempuan yang mampu meluluhkan hati kamu Dimas? apa kamu mencintainya? apa kamu udah lupa sama semua yang kita lalui sama sama? iya, kamu udah lupa, bahkan sama perasaan di hati kamu juga kamu udah lupa, kamu nyebelin, kamu galak, kamu bukan Dimas yang selalu memandangku penuh cinta, sadar Dini, dia bos kamu sekarang, jangankan untuk memiliki, berharappun aku tak pantas!"
Dini mengambil ponselnya dan menghubungi Andi. Dengan malas, Andi melihat ponselnya yang berdering. Ia segera terbangun begitu melihat nama Dini di layar ponselnya.
"Halo Din, kamu belum tidur?"
"Aku nggak bisa tidur!"
"Tungguin bentar ya!"
"Oke!"
Andi segera mengenakan jaketnya dan membeli nasi goreng favorit Dini di dekat kosnya.
Nasi goreng yang buka dari malam hingga menjelang pagi itu selalu ramai pembeli, namun Andi tak perlu lama mengantre karena ia adalah pelanggan setia yang selalu diperlakukan spesial oleh si empunya nasi goreng.
Setelah mendapatkan nasi gorengnya, ia segera menuju ke kamar Dini.
"Waaahhh, kamu emang paling tau aku deh!" ucap Dini ketika melihat Andi membawa bungkusan yang sudah ia tau isinya.
"Kamu itu bukan nggak bisa tidur Din, tapi laper!"
"Hehehe, tau aja kamu!"
Dini lalu menyendokkan suapan pertamanya untuk Andi, lalu menyendokkan sendiri ke mulutnya. Begitu seterusnya hingga nasi goreng di hadapan mereka habis tak bersisa.
Dini bersandar di kaki tempat tidurnya, begitu juga Andi yang bersandar di sebelahnya.
"Din, are you okay?" tanya Andi pada Dini.
Dini mengangguk dan menyandarkan kepalanya di bahu Andi.
Andi mengenggam tangan Dini. Ia tau Dini sedang tidak baik baik saja saat itu.
"Aku selalu berusaha baik baik aja Ndi!"
"Lakuin apapun yang bikin kamu bahagia Din, aku selalu di sini nemenin kamu!"
Dini memeluk Andi erat tanpa menggeser kepalanya dari bahu Andi hingga tanpa sadar ia sudah terlelap. Andi segera memindahkan Dini ke ranjangnya, memakaikannya selimut dan mencium keningnya sebelum ia meninggalkan kamar Dini.
Di sisi lain, Anita yang mengetahui jika orangtua Dimas tidak berada di rumah segera pergi ke rumah Dimas. Ia segera menghubungi Dimas begitu ia sampai di depan rumahnya.
"Aku di depan rumah kamu!" ucap Anita ketika Dimas sudah menerima panggilannya.
"Ngapain Nit?"
"Aku dibiarin aja nih!"
Dimas segera mematikan panggilan Anita dan keluar dari kamarnya. Ia membuka pintu rumahnya dan mendapati Anita yang sudah berdiri di depannya.
"Kamu ngapain malem malem......."
__ADS_1
Cuuppppp
Kecupan Anita di bibir Dimas membuat Dimas menghentikan ucapannya.
"Aku anter kamu pulang!" ucap Dimas yang langsung menggandeng tangan Anita namun Anita segera melepasnya.
"Enggak, aku ke sini mau nemenin kamu!"
Tanpa permisi Anita masuk ke dalam dan merebahkan badannya di kamar Dimas.
"Kamar kamu nggak banyak berubah sayang!" ucap Anita tanpa rasa bersalah.
"Aku anter kamu pulang ya?"
"Kamu ngusir aku?"
"Enggak sayang, ini udah malem dan kamu........"
"Dulu di Singapura kamu sering tidur di apartemenku loh!"
Dimas menoleh cepat ke arah Anita dengan tatapan tak percaya.
"Jangan kaget gitu, kita nggak macem macem kok, aku bukan cewek gampangan Dimas!"
"Jadi kita......"
"Kecuali malam itu," ucap Anita dengan menundukkan kepalanya.
"Malam itu? kenapa?"
"Kamu mabuk, aku sengaja bawa kamu ke apartemenku karena aku takut mama sama om akan marahin kamu, tapi kamu malah maksa aku buat........." Anita menghentikan ucapannya, ia terisak.
Dimas mengerti, ia sudah melewati batas malam itu. Meski ia sama sekali tak bisa mengingat apa yang sudah dilakukannya malam itu, itu tak bisa menjadi alasan baginya untuk mencampakkan Anita begitu saja.
"Aku minta maaf," ucap Dimas pelan sambil memeluk Anita yang masih terisak.
"Kamu udah ambil semuanya Dimas, kamu ambil semuanya!" ucap Anita di tengah isak tangisnya.
Dimas semakin membenamkan Anita dalam pelukannya, membiarkan Anita menumpahkan tangisnya di dadanya.
"Aku akan bertanggung jawab Nit, aku janji!" ucap Dimas dengan membelai rambut Anita.
Anita lalu melepaskan pelukan Dimas dan mencium bibir Dimas lagi. Namun Dimas segera melepaskan Anita dan berdiri keluar dari kamar.
"Kamu mau ke mana?"
"Aku ambilin kamu minum!" jawab Dimas beralasan.
Jauh di dalam hatinya, ia merasa ada sesuatu yang salah. Tak ada getar getar cinta ketika ia bersama Anita, hatinya terasa kosong. Semua cerita Anita yang ia tulis di note booknya seperti hanya bualan baginya.
"Kamu mau tidur di sini apa di kamar tamu?" tanya Dimas pada Anita.
"Di sini aja ya!" jawab Anita dengan senyum nakalnya.
"Ya udah, aku yang tidur di kamar tamu!" ucap Dimas sambil membawa ponsel dan note book miliknya lalu segera meninggalkan kamarnya.
"Tapi Dim......."
Dimas menutup pintu kamarnya, tak mendengarkan ucapan Anita, membuat Anita kesal.
"sabar Nit, tinggal selangkah lagi buat kamu dapetin Dimas seutuhnya, dia nggak akan bisa lari dari kamu!"
Anita memejamkan matanya dan tertidur.
Pagi harinya, Anita memesan beberapa menu makanan dari aplikasi online dan membuatnya seolah olah ia telah memasak untuk Dimas, karena kebetulan asisten rumah tangga Dimas sedang tidak bekerja hari itu.
"Sayang, kamu belum bangun? aku udah selesai masak nih!" ucap Anita dari balik pintu kamar.
Tak ada jawaban, Anita mencoba untuk masuk tapi ternyata di kunci dari dalam.
"licik kamu Dimas!" umpat Anita kesal.
Tepat jam 7 Dimas keluar dari kamar, ia segera mandi dan berganti pakaian di kamarnya sendiri, tak lupa ia mengunci pintu kamarnya setiap ia berada di dalam kamar.
"Aku tunggu kamu di meja makan ya sayang!" ucap Anita dengan menahan kesal karena lagi lagi ia tak bisa masuk ke kamar Dimas.
"Iya sayang!"
Tak lama kemudian, Dimas keluar dengan pakaian rapi, siap untuk home schooling.
"Kamu mau kemana?" tanya Anita sambil menyendokkan nasi di piring.
"Home schooling, bentar lagi!"
"Oh, sarapan dulu ya, aku udah masak buat kamu!"
"Kamu masak sendiri?"
Anita mengangguk penuh percaya diri meski sebenarnya ia berbohong.
"Abis ini kamu pulang ya!"
"Kenapa dari kemarin kamu ngusir aku terus sih!" balas Anita dengan meletakkan sendoknya, nafsu makannya sudah hilang saat itu.
__ADS_1
"Bukan gitu sayang, kamu kan harus ngurus kuliah kamu, aku bentar lagi juga home schooling, abis itu ke kafe!" jelas Dimas pada Anita.
"Kamu emang nggak suka aku dateng ke sini, iya kan? kenapa? apa udah ada cewek lain yang........."
"Sayang, nggak gitu, nanti aku jemput kamu, kita ke kafe!" ucap Dimas dengan membelai lembut rambut Anita.
Anita menghembuskan napasnya pelan, lalu pergi meninggalkan Dimas.
Setelah selesai dengan kegiatan home schooling nya, Dimas segera menjemput Anita untuk diajak ke kafe.
"Kamu sebenernya sayang nggak sih sama aku?" tanya Anita pada Dimas.
Dimas diam beberapa saat, menimang nimang jawaban yang tepat untuk Anita.
"Aku yang selama ini selalu ada buat kamu Dimas, aku selalu sabar walaupun kamu selalu lupa sama aku, aku ninggalin papa buat bisa deket sama kamu dan sekarang aku ninggalin kuliahku buat kamu, apa itu masih nggak cukup buat yakinin kamu tentang perasaan aku?"
"Aku tau Nit, aku tau kamu sayang sama aku, maaf karena aku masih nggak bisa inget apa apa, aku......."
"Setidaknya kamu belajar buat cinta sama aku Dimas!"
"Aku minta maaf," ucap Dimas dengan menggenggam tangan Anita.
Anita hanya diam lalu masuk ke dalam mobil.
Sesampainya di kafe, Dimas dan Anita segera masuk ke ruang kerja Dimas. Tanpa sengaja, Tari yang sedang membawa minuman menabrak Anita, membuat pakaian Anita basah karenanya.
"Ma.... maaf, saya....."
"Nggak papa, lain kali hati hati ya!" ucap Anita dengan tersenyum ramah karena Dimas memperhatikannya.
"Kamu nggak papa sayang?" tanya Dimas pada Anita.
"Nggak papa, cuma basah!"
"Maaf Pak, saya nggak sengaja!" ucap Tari pada Dimas.
Dimas mengangguk dan menggandeng tangan Anita untuk masuk ke ruang kerjanya.
"Aku minta Yoga beliin kamu baju ya, kamu nggak papa kan pake' itu sementara?"
"Nggak papa kok!"
Tak lama setelah itu, Yoga pun datang dan membawa pakaian untuk Anita. Anita segera berganti pakaian di kamar mandi. Ketika ia melewati pantry, ia melihat Tari sedang menyiapkan minuman pesanan pelanggan. Tanpa basa basi Anita mendekatinya dan mengambil minuman dari tangan Tari lalu menyiramkannya dengan sengaja ke arah Tari.
"Uuups, sorry, nggak sengaja!" ucap Anita lalu menjatuhkan cup kosong yang dipegangnya dan meninggalkan Tari begitu saja.
Tari hanya menghembuskan napasnya kasar lalu membersihkan lantai dengan dibantu temannya.
"Pak Dimas pasti nggak tau tuh kelakuan tunangannya yang kayak gini!"
"Bener beber muka dua!"
Tari kemudian segera mengganti seragamnya dengan yang baru. Kafe itu memiliki 3 seragam dengan warna yang berbeda setiap 2 hari sekali. Karena ulah Anita, dengan terpaksa Tari mengenakan seragam yang berbeda dengan teman temannya hari itu.
Ketika Dimas keluar bersama Anita, ia melihat Tari yang mengenakan seragam berbeda, ia pun menanyakannya pada Tari.
"Tari, kenapa kamu pake' seragam ini?" tanya Dimas dengan membaca name tag yang tergantung di leher waiters nya itu.
"Mmmm, maaf Pak, tadi......"
"Tadi dia numpahin minuman lagi tapi kena bajunya sendiri!" ucap Anita memotong ucapan Tari.
"Bener?" tanya Dimas meyakinkan.
Tari melihat ke arah Anita, tatapan penuh intimidasi terlihat jelas dari sorot mata Anita.
"Iya Pak, bener!" jawab Tari membenarkan ucapan Anita, membuat Anita tersenyum penuh kemenangan.
"Lain kali lebih hati hati ya Tari!"
"Iya Pak!"
Dimas dan Anitapun keluar dari kafe, menuju ke tempat parkir. Bersamaan dengan itu, Dini dan Andi baru saja memasuki area kafe.
"Nanti jemput ya!" ucap Dini sebelum ia masuk ke dalam kafe.
"Siap tuan putri," jawab Andi dengan senyum manisnya.
Dini lalu masuk dan Andi segera pergi meninggalkan kafe.
Anita yang sudah berada di dalam mobil bersama Dimas tak sengaja melihat Andi yang berjalan keluar dari kafe.
"Andi? kenapa dia ada di sini? apa dia udah ketemu Dimas? apa dia udah cerita semuanya sama Dimas?"
"Ada apa sayang?" tanya Dimas yang melihat Anita sedang memperhatikan sesuatu dengan sangat serius.
"Eh, enggak, nggak papa!"
"Abis ini aku ada meeting, aku anter kamu pulang aja ya!"
"Iya!"
Dimas terpaksa berbohong pada Anita. Sebenarnya ia hanya tidak ingin berada dekat dengan Anita.
__ADS_1
Entah kenapa ia selalu memikirkan Dini. Nama "Andini" terasa tak asing lagi baginya. Menyebut namanya saja sudah membuatnya tersenyum, debaran jantungnya sudah terasa walau hanya dengan mendengar suaranya.
Meski masa lalunya telah hilang dari ingatannya, cinta di hatinya tak pernah bisa hilang begitu saja. Kebohongan Anita nyatanya tak mampu membuat Dimas benar benar memberikan hatinya pada Anita.