
Dimas membawa Dini keluar dari kota, mengajaknya ke pantai dengan jarak tempuh 1 jam dari kafe.
"Kenapa bapak ajak saya ke sini?" tanya Dini ketika mereka mulai duduk di bibir pantai.
"Dimas, di luar kafe, panggil saya Dimas, saya yakin usia kita sama atau hanya selisih beberapa tahun!"
Dini mengangguk.
"Kamu tau keadaan saya?"
"Maksudnya?"
"Kamu tau saya amnesia?"
Dini mengangguk pelan.
"Saya perhatiin kamu deket sama Toni sama Yoga, jadi pasti kamu tau tentang keadaan saya, kamu udah lama kenal sama mereka?"
"Lumayan."
"Oh iya, nama kamu Dini?"
Dini mengangguk dengan tersenyum manis.
"Andini?"
Dini menoleh cepat ke arah Dimas karena hanya Dimas yang memanggilnya dengan nama itu, Dimas yang selalu memberinya cinta dan perhatian, Dimas yang selalu membuatnya bahagia meski kadang kecewa.
Raut wajah Dini berubah seketika, bayangan kebersamaan indahnya bersama Dimas kembali memutari pikirannya.
Dini hanya diam dengan mata berkaca kaca.
"Kamu baik baik aja Andini?"
"Dini, nama saya Dini!" ucap Dini tegas, seakan enggan mendengar nama itu lagi.
"Tapi nama panjang kamu Andini kan?"
"Jangan pernah panggil nama itu lagi, nama saya DINI, BUKAN ANDINI!" ucap Dini dengan nada tinggi, lalu berlari meninggalkan Dimas.
Dini berlari hingga membuat cipratan air yang mengenai Dimas. Tiba tiba bayangan masa lalunya kembali muncul.
Seorang perempuan terjatuh pingsan di hadapannya, di bawah guyuran hujan, Dimas membopongnya ke UKS. Di tempat yang penuh dengan rimbun pohon, ia melihat perempuan itu pingsan ketika hujan dan samar samar ia mendengar seseorang menjelaskan padanya tentang fobia hujan yang di alami perempuan itu.
Perempuan itu tampak lemah dengan wajah pucat pasi karena guyuran hujan. Entah kenapa Dimas merasa dadanya begitu sesak, ia merasa sedih melihat perempuan itu terbaring lemah tak berdaya.
Dimas semakin menggali ingatannya lebih dalam, tapi wajah perempuan itu masih terlihat samar. Ia berusaha memaksa ingatannya meski kepalanya semakin terasa sakit. Ia terduduk bersimpuh di bibir pantai dengan memegangi kepalanya, membiarkan setengah badannya basah terkena ombak yang semakin pasang.
Dini yang melihat hal itu dari kejauhan segera kembali dan mendekati Dimas.
"Dimas, kamu kenapa?"
Dimas tak menjawab, ia masih memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit.
"Andini, aku......."
Brruukkkkk
Dimas ambruk di pangkuan Dini. Karena hari itu hari kerja, pantai itu sangat sepi, hanya ada Dimas dan Dini yang berada di sana. Dini ingin meminta tolong pada warga, namun Dini juga tak mungkin meninggalkan Dimas di tepi pantai dalam keadaan pingsan.
Ia berteriak meminta tolong, beruntung ada seorang penjual es kelapa muda yang menghampirinya dan segera membantu Dini untuk membawa Dimas ke puskesmas terdekat.
Karena Dimas tak kunjung sadar, Dini memutuskan untuk menghubungi Yoga.
Setelah satu jam menunggu, Yoga pun datang dan segera membawa Dimas ke rumah sakit.
"Kamu ikut aku, mobil Dimas biarin aja, nanti ada yang ambil!"
"Iya kak!"
"Kenapa Dimas bisa pingsan Din? apa kamu minta dia ingat masa lalunya?"
"Enggak kak, aku juga nggak tau kenapa, aku liat dia kayak kesakitan sambil pegang kepalanya terus pingsan!"
"Din, aku mohon ya sama kamu, jangan maksa Dimas untuk ingat masa lalunya, aku yakin pelan pelan Dimas akan ingat semuanya!"
"Iya kak."
"aku nggak pernah maksa Dimas kak, buat aku ini lebih baik daripada dia ingat masa lalunya dan tetap bertahan sama aku walaupun mamanya nggak setuju!"
"Kak, aku izin nggak kerja ya?"
"Iya Din, santai aja, kamu mau aku anter pulang?"
"Nggak usah kak, aku pulang sendiri aja!"
"Kamu yakin?"
"Iya, kabarin aku ya kak kalau ada apa apa!"
Yoga mengangguk dan membiarkan Dini pergi, meningglkan rumah sakit.
Jam masih menunjukkan pukul 7 malam, Dini sudah berada di kamar kosnya sekarang. Sibuk dengan tumpukan buku di hadapannya.
Biiippp biiippp biiippp
Ponsel Dini berdering, terlihat nama Andi di layar ponselnya.
"Halo Din, kamu dimana, Nico bilang kamu udah pulang!"
"Iya, aku udah di kos kok," jawab Dini tak bersemangat.
"Dianter Dimas lagi?"
"Enggak, aku pulang sendiri!"
"Aku ke kamar kamu ya!"
"Oke!"
Andi mematikan panggilannya pada Dini dan segera menuju ke kamar Dini dengan satu bungkus nasi goreng di tangannya.
"Kamu udah makan?" tanya Andi ketika Dini sudah membuka pintu kamarnya.
"Belum, kamu bawa apa?"
"Kesukaan kamu," ucap Andi sambil membuka bungkus nasi gorengnya.
"Hmmmm, aku kenal banget ini baunya!"
__ADS_1
"Hidung kamu emang peka banget soal makanan, sana ambil sendok!"
Dini mengambil sendok dan memberikan suapan pertamanya pada Andi.
"Kamu pulang sendiri?" tanya Andi mengulang pertanyaan.
"He'em!" balas Dini dengan mengunyah nasi goreng di mulutnya.
"David kemana? sibuk lagi?"
"Udah putus!"
"Haahhh, serius?"
"He'em!"
"Kenapa? belum ada seminggu Din, kamu......"
Haappp
Dini menyuapkan satu sendok penuh nasi goreng pada Andi, membuatnya menghentikan kata katanya.
"Makan dulu, jangan gosip!"
Andi mengunyah nasi gorengnya lalu kembali bertanya tentang David sebelum Dini kembali memenuhi mulutnya dengan suapan nasi goreng.
"Ini aku beli buat kamu loh Din!" protes Andi masih dengan mengunyah nasi gorengnya.
"Iya, makasih ya Andi sayaaang," balas Dini dengan mengusap usap kepala Andi seperti kucing.
"Cium dong!"
Dini menguncupkan tangannya dan menempelkan di pipi Andi.
"Muuuaaahhh," ucap Dini membuat Andi tersipu.
"Muka kamu kok merah sih, baper ya hahaha....."
"Apaan sih Din, ini nasi gorengnya panas tau'," balas Andi beralasan.
Ini bukan kali pertamanya ia merasa jantungnya berdebar kencang ketika bersama Dini, itu kenapa ia bisa dengan mudah mengendalikan situasi agar tak terasa canggung.
"Tapi aku masih penasaran Din, kenapa kamu putus sama David?"
"Dia bohongin aku!"
"Bohong kayak gimana yang bikin kalian putus?"
"Dia bilang nggak bisa nganter aku ke kafe karena mamanya kan, tapi waktu aku sama Dimas ke D'First Cafe aku liat dia sama cewek, mesra!"
"Dia selingkuh?"
"Maybe!"
"Terus terus?"
"Ya aku datengin dia, dia kayak bingung gitu terus Dimas ngajak aku keluar dari kafe."
"Tunggu tunggu, kamu sama Dimas?"
Dini mengangguk.
"Ngapain?"
Dini mengehentikan ucapannya dan segera mengambil ponselnya, mencari nama Yoga.
"Halo kak, gimana keadaan Dimas kak?" tanya Dini ketika Yoga sudah menerima panggilannya.
"Dia udah sadar kok, dia baik baik aja, tapi dia baru bisa pulang besok pagi," jawab Yoga.
"Apa besok dia ke kafe?"
"Mungkin enggak Din, dia harus istirahat dulu di rumah!"
"Oh, iya kak!"
Dini mematikan panggilannya.
"Ada apa?" tanya Andi penasaran.
"Dimas di rumah sakit," ucap Dini dengan raut wajah sedih.
Andi mendekat, bersiap untuk memeluk Dini namun Dini segera mendorong tubuh Andi.
"Mau modus ya?"
"Yaaaahh, ketahuan hahaha......"
Mereka berdua tertawa dan segera menghabiskan nasi goreng yang mereka makan.
*****************
Dimas bangun dari tidurnya, bau rumah sakit terasa tidak asing lagi baginya. Matanya menyapu ruangan yang ia tempati.
Seorang laki laki terlihat tertidur di sofa panjang di ruangannya.
Dimas masih merasa kepalanya sedikit pusing. Ia melepas infus yang terpasang di tangannya dan segera keluar dari rumah sakit diam diam.
"Andini."
Satu nama yang Dimas ingat saat itu. Ia berjalan ke sembarang arah untuk menemui Dini.
Di sisi lain, Yoga baru bangun dari tidurnya begitu terkejut mendapati ranjang Dimas yang kosong, ia mencari ke kamar mandi, ke sekitar rumah sakit, nihil, ia tak menemukan Dimas dimanapun.
Yoga bertanya pada beberapa petugas rumah sakit, mereka juga tak mengetahui keberadaan Dimas. Yoga meminta pihak rumah sakit untuk memutar CCTV rumah sakit, terlihat Dimas yang berjalan keluar dari rumah sakit.
Setelah menyelesaikan biaya administrasi, Yoga segera menghubungi Dini.
"Kamu dimana Din?"
"Di kampus kak, masih ada kelas."
"Dimas hilang Din!"
"Haahhh, kok bisa? bukannya masih di rumah sakit sama kak Yoga?"
"Iya, om sama tante masih di luar kota selama satu minggu itu kenapa mereka minta aku buat selalu ngawasin Dimas, tapi waktu aku bangun dia udah nggak ada, dia keluar dari rumah sakit sendiri Din!"
Dini mematikan panggilan Yoga dan segera keluar dari kelas.
__ADS_1
"Mau kemana Din?" tanya Cika.
Dini tak menjawab, beruntung dosen belum memasuki kelas ketika Dini keluar.
"Pasti ketemu sama om om lah, kemana lagi!" ucap Bela menjawab pertanyaan Cika.
Cika hanya diam tak mempedulikan Bela karena dosen baru saja memasuki ruangan mereka.
Dini berlari ke arah rumah sakit, matanya mengelilingi setiap jalan yang di laluinya. Beberapa kali ia terjatuh dan segera berdiri lagi, tak mempedulikan siku dan lututnya yang sudah terluka, ia melanjutkan langkahnya dengan harapan segera bertemu Dimas.
Di persimpangan jalan yang tak jauh dari rumah sakit, Dini melihat Dimas, begitu juga Dimas yang melihat Dini.
"Andini,"
Dimas berjalan pelan ke arah Dini, begitu juga Dini. Dimas memeluk Dini begitu erat. Rasa yang tidak Dimas mengerti memenuhi hati dan perasaannya saat itu. Rasa nyaman dan tak ingin kehilangan ketika ia memeluk Dini.
"Dimas, kamu......."
"Jangan bicara apapun Andini, biarin aku peluk kamu!"
Dini diam dan membalas pelukan Dimas. Namun Dini segera melepas pelukan Dimas ketika ia menyadari sesuatu.
"semalem Dimas di rumah sakit, kalau kak Yoga bangun setelah Dimas pergi, itu artinya Dimas belum liat video yang selalu dia liat setiap pagi kan? tapi kenapa dia......."
"Dimas, kamu inget......"
"Dini!" panggil Yoga yang berlari ke arahnya.
"Aku udah cari dia kemana mana Din, kamu......." Yoga menghentikan ucapannya ketika melihat Dimas mengenggam erat tangan Dini.
"Dia siapa?" tanya Dimas pada Dini, membuat Dini mengerutkan keningnya karena ia pikir ingatan Dimas sudah kembali.
"Dimas, kamu inget aku?"
"Maksud kamu apa?" tanya Dimas tak mengerti.
"Aku tau aku salah, maaf karena udah bikin kamu marah kemarin, aku nggak akan panggil kamu Andini lagi," lanjut Dimas.
Ya, Dimas mengingat Dini, hanya Dini.
"Ada apa ini Din?" tanya Yoga yang semakin tidak mengerti dengan situasi saat itu.
"Dimas, kamu inget kamu punya kafe?" tanya Dini pada Dimas.
"Kenapa kamu selalu tanya pertanyaan aneh sih? kamu Dini, waiters di kafe, iya kan? apa kamu pikir aku sebodoh itu?"
"Maaf Pak!"
"Dimas, kamu bodoh apa pikun sih, di luar kafe panggil saya Dimas, saya bukan bapak kamu!"
Dini mengangguk dengan senyum mengembang di bibirnya. Dimas kembali menjadi Dimas yang menyebalkan, tapi itu membuat Dini senang karena ia tak melihat raut wajah sedih Dimas seperti tadi ketika ia berjalan dan memeluknya.
"Din, ini ada apa? kenapa Dimas......"
"Aku juga nggak tau kak!" jawab Dini yang juga tidak mengetahui keadaan Dimas yang sebenarnya.
"Ikut gue ke rumah sakit!" ucap Yoga sambil menarik tangan Dimas namun dengan cepat Dimas menarik kembali tangannya.
"Lo siapa?" tanya Dimas yang terlihat emosi.
"Kita ke rumah sakit ya!" ucap Dini pada Dimas.
"Kenapa ke rumah sakit, aku sehat!"
Dini menarik tangan Dimas dan menunjukkan bekas infus di tangannya.
"Kamu kabur dari rumah sakit Dimas, ayo!"
Dimaspun mengikuti ucapan Dini untuk kembali ke rumah sakit meski ia tidak bisa mengingat apa yang menyebabkan dia berada di rumah sakit.
Setelah di periksa oleh Dokter, Dokter menjelaskan keadaan Dimas pada Yoga dan Dini.
Amnesia yang dialaminya sedikit demi sedikit akan membaik. Keterbatasan ingatannya sekarang sudah lebih baik jika dibanding sebelumnya.
Ia masih bisa mengingat apa saja yang dilakukannya kemarin, tapi ia masih belum mampu mengingat dengan siapa saja ia berinteraksi, hanya seseorang yang benar benar terpatri jauh di dalam hatinya yang bisa dengan cepat ia ingat dan dia adalah Dini.
Dimas juga belum bisa mengingat masa lalunya, hanya hal hal yang terjadi sebelum dia pingsan di pantai yang bisa di ingat.
Dini dan Yoga segera keluar dari ruangan Dokter setelah mereka mendengar penjelasan Dokter.
"Dia cuma inget sama kamu Din!" ucap Yoga pada Dini.
"Iya kak, tapi dia cuma inget aku sebagai waiters di kafenya," balas Dini dengan tersenyum tipis.
"Sabar ya Din!"
Dini mengangguk dan tersenyum.
Yoga segera memperlihatkan video yang biasa Dimas lihat setiap hari. Video yang membuat Dimas mengerti tentang keadaannya saat itu.
"Sorry, gue......."
"Nggak papa Dim, gue ngerti!"
"Tapi Andini, gue bisa inget dia!"
"Iya, Dokter bilang itu kemajuan besar buat lo, gue yakin bentar lagi lo akan inget semaunya!"
Dimas mengangguk dengan senyum bahagianya. Entah kenapa memikirkan Dini saja sudah membuat hatinya berbunga bunga.
"Tapi lo jangan paksain diri buat inget semuanya, karena itu cuma akan memperburuk keadaan lo!"
"Iya, gue ngerti, Andini mana?"
"Dia udah balik ke kampus!"
"Dia kuliah?"
"Iya, dia kerja jam 3 sampe' jam 10."
"Gue harus pulang sekarang, lo tau rumah gue kan?"
"Tau lah, ayo!"
Yoga pun mengantarkan Dimas pulang dan memberikan note book yang selalu Dimas baca setiap hari.
Dimas membolak balik setiap halaman note book nya. Dan begitu terkejut ketika ia menyadari jika dirinya sudah bertunangan dengan Anita.
"Anita? tunangan? nggak mungkin!"
__ADS_1
Dimas melanjutkan membaca, ia mengutuk dirinya sendiri begitu ia tau alasannya bertunangan dengan Anita.
"bodoh banget kamu Dim, kenapa bisa?"